Abdul Gaffar, M.Th.I
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Ilmu
pengetahuan dan teknologi yang hingga saat ini menjadi kunci yang paling
mendasar dari kemajuan yang diraih umat manusia, tentunya tidak datang begitu
saja tanpa ada sebuah dinamika atau diskursus ilmiah. Proses untuk mendapatkan
ilmu pengetahuan itulah lazim dikenal dengan istilah epistemologis.[1]
Secara etimologis, Epistemologi
merupakan bentukan dari dua kata dalam bahasa Yunani, yaitu Episteme yang
berarti pengetahuan dan Logos yang juga berarti pengetahuan atau informasi.[2] Dari
pengertian secara etimologis tersebut di atas dapatlah dikatakan bahwa
Epistemologi merupakan pengetahuan tentang pengetahuan.
Pengertian dari segi terminologi, The
Liang Gie dalam bukunya Pengantar Filsagfat Ilmu mendefenisikan bahwa:
“Epistemologi adalah teori pengetahuan
yang membahas berbagai segi pengetahuan seperti kemungkinan, asal mula sifat
alami, batas-batas, asumsi dan landasan, validitas dan realibilitas
sampai soal kebenaran”.[3]
Lebih lanjut Ahmad Tafsir mengungkapkan
bahwa Epistemologi membicarakan sumber ilmu pengetahuan dan bagaimana cara
memperoleh ilmu pengetahuan.[4]
Oleh
karena itu, epistemologis ini menempati posisi yang sangat strategis, karena ia
membicarakan tentang cara untuk mendapatkan pengetahuan yang benar. Mengetahui
cara yang benar dalam mendapatkan ilmu pengetahuan berkaitan erat dengan hasil
yang ingin dicapai yaitu berupa ilmu pengetahuan. Pada kelanjutannya kepiawaian
dalam menentukan epistimologis, akan sangat berpengaruh pada warna atau jenis
ilmu pengetahuan yang dihasilkan.[5]
Sejarah
telah mencatat bahwa peradaban Islam pernah menjadi kiblat ilmu pengetahuan
dunia sekitar abad ke-7 sampai abad ke-15. Setelah itu, masa keemasan itu mulai
melayu, statis, bahkan mundur hingga abad ke-21 ini.[6]
Hal
itu terjadi, karena Islam dalam kajian pemikirannya paling tidak menggunakan beberapa
aliran besar dalam kaitannya dengan teori pengetahuan (epistemologi).
Setidaknya ada tiga model sistem berpikir dalam Islam, yakni bayani, irfani dan
burhani yang masing-masing mempunyai pandangan yang berbeda tentang pengetahuan.
Ketiga sistem atau pendekatan tersebut dikenal juga tiga aliran pemikiran epistemologi
Barat dengan bahasa yang berbeda, yakni empirisme, rasionalisme dan intuitisme.
Semen tara itu, dalam pemikiran filsafat Hindu dinyatakan bahwa kebenaran bisa
didapatkan dari tiga macam, yakni teks suci, akal dan pengalaman pribadi.[7]
Selain
sebagai instrumen untuk mencari kebenaran, ketiga epistemologi tersebut juga
bisa digunakan sebagai sarana identifikasi cara berfikir seseorang. Pemahaman
paling sederhana pada ketiga epistemologi ini adalah jawaban dari pertanyaan,
“Dengan apakah manusia mendapatkan kebenaran?”.[8]
Seorang
filosof dengan corak berfikir burhani akan menjawab bahwa sumber kebenaran itu
dari akal atau panca indera. Dengan kedua sarana ini manusia memunculkan dua
dikotomi antara apa yang disebut rasional dan irrasional. Rasional adalah
sebuah kebenaran, sebaliknya irrasional adalah sebuah kesalahan.[9]
Selanjutnya
orang yang memiliki corak berfikir bayani akan menjawab bahwa sumber kebenaran
itu dari teks. Rasio tidak memiliki tempat dalam pembacaan mereka terhadap
kebenaran. Ketercukupan golongan ini terhadap teks memasukkan mereka pada
golongan fundamental literalis. Sedangkan orang yang memiliki corak berfikir
irfani akan menjawab bahwa sumber kebenaran itu dari wahyu, ilham, wangsit dan
sejenisnya. Pola berfikir demikian akan membangun sebuah struktur masyarakat
yang memiliki hirarki atas bawah.[10]
B.
Rumusan Masalah
Berdasarkan
latar belakang masalah yang telah dipaparkan di atas, dapat dibuat rumusan
masalah sebagai berikut:
1.
Apa sebenarnya yang
dimaksud dengan epistemologi bayani, burhani dan irfani?
2.
Bagaimana sejarah
kemunculan dan perkembangan epistemologi bayani, burhani dan irfani?
3.
Apa saja keunggulan dan
keterbatasan epistemologi bayani, burhani dan irfani?








