Tampilkan postingan dengan label FILSAFAT. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label FILSAFAT. Tampilkan semua postingan

Rabu, 28 September 2011

EPISTEMOLOGI BAYANI, BURHANI DAN IRFANI



Abdul Gaffar, M.Th.I
BAB I
PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang Masalah
Ilmu pengetahuan dan teknologi yang hingga saat ini menjadi kunci yang paling mendasar dari kemajuan yang diraih umat manusia, tentunya tidak datang begitu saja tanpa ada sebuah dinamika atau diskursus ilmiah. Proses untuk mendapatkan ilmu pengetahuan itulah lazim dikenal dengan istilah epistemologis.[1]
Secara etimologis, Epistemologi merupakan bentukan dari dua kata dalam bahasa Yunani, yaitu Episteme yang berarti pengetahuan dan Logos yang juga berarti pengetahuan atau informasi.[2] Dari pengertian secara etimologis tersebut di atas dapatlah dikatakan bahwa Epistemologi merupakan pengetahuan tentang pengetahuan.
Pengertian dari segi terminologi, The Liang Gie dalam bukunya Pengantar Filsagfat Ilmu mendefenisikan bahwa:
“Epistemologi adalah teori pengetahuan yang membahas berbagai segi pengetahuan seperti kemungkinan, asal mula sifat alami, batas-batas, asumsi dan landasan, validitas dan realibilitas sampai soal kebenaran”.[3]
Lebih lanjut Ahmad Tafsir mengungkapkan bahwa Epistemologi membicarakan sumber ilmu pengetahuan dan bagaimana cara memperoleh ilmu pengetahuan.[4]
Oleh karena itu, epistemologis ini menempati posisi yang sangat strategis, karena ia membicarakan tentang cara untuk mendapatkan pengetahuan yang benar. Mengetahui cara yang benar dalam mendapatkan ilmu pengetahuan berkaitan erat dengan hasil yang ingin dicapai yaitu berupa ilmu pengetahuan. Pada kelanjutannya kepiawaian dalam menentukan epistimologis, akan sangat berpengaruh pada warna atau jenis ilmu pengetahuan yang dihasilkan.[5]
Sejarah telah mencatat bahwa peradaban Islam pernah menjadi kiblat ilmu pengetahuan dunia sekitar abad ke-7 sampai abad ke-15. Setelah itu, masa keemasan itu mulai melayu, statis, bahkan mundur hingga abad ke-21 ini.[6]
Hal itu terjadi, karena Islam dalam kajian pemikirannya paling tidak menggunakan beberapa aliran besar dalam kaitannya dengan teori pengetahuan (epistemologi). Setidaknya ada tiga model sistem berpikir dalam Islam, yakni bayani, irfani dan burhani yang masing-masing mempunyai pandangan yang berbeda tentang pengetahuan. Ketiga sistem atau pendekatan tersebut dikenal juga tiga aliran pemikiran epistemologi Barat dengan bahasa yang berbeda, yakni empirisme, rasionalisme dan intuitisme. Semen tara itu, dalam pemikiran filsafat Hindu dinyatakan bahwa kebenaran bisa didapatkan dari tiga macam, yakni teks suci, akal dan pengalaman pribadi.[7]
Selain sebagai instrumen untuk mencari kebenaran, ketiga epistemologi tersebut juga bisa digunakan sebagai sarana identifikasi cara berfikir seseorang. Pemahaman paling sederhana pada ketiga epistemologi ini adalah jawaban dari pertanyaan, “Dengan apakah manusia mendapatkan kebenaran?”.[8]
Seorang filosof dengan corak berfikir burhani akan menjawab bahwa sumber kebenaran itu dari akal atau panca indera. Dengan kedua sarana ini manusia memunculkan dua dikotomi antara apa yang disebut rasional dan irrasional. Rasional adalah sebuah kebenaran, sebaliknya irrasional adalah sebuah kesalahan.[9]
Selanjutnya orang yang memiliki corak berfikir bayani akan menjawab bahwa sumber kebenaran itu dari teks. Rasio tidak memiliki tempat dalam pembacaan mereka terhadap kebenaran. Ketercukupan golongan ini terhadap teks memasukkan mereka pada golongan fundamental literalis. Sedangkan orang yang memiliki corak berfikir irfani akan menjawab bahwa sumber kebenaran itu dari wahyu, ilham, wangsit dan sejenisnya. Pola berfikir demikian akan membangun sebuah struktur masyarakat yang memiliki hirarki atas bawah.[10]
B.   Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dipaparkan di atas, dapat dibuat rumusan masalah sebagai berikut:
1.      Apa sebenarnya yang dimaksud dengan epistemologi bayani, burhani dan irfani?
2.      Bagaimana sejarah kemunculan dan perkembangan epistemologi bayani, burhani dan irfani?
3.      Apa saja keunggulan dan keterbatasan epistemologi bayani, burhani dan irfani?


Rabu, 13 Juli 2011

HAKIKAT ILMU PENGETAHUAN


 
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
            Ilmu pengetahuan merupakan produk kegiatan berfikir manusia untuk meningkatkan kualitas kehidupannya dengan jalan menerapkan ilmu pengetahuan yang dipperoleh. Karena itulah ilmu pengetahuan akan melahirkan pendekatan baru dalam berbagai penyelidikan. Hal ini menunjukkan studi tentang keilmuan tidak akan berhenti untuk dikaji bahkan berkembang sesuai dengan ilmu pengetahuan dan teknologi. Harus pula diakui bahwa sejarah perkembangan ilmu pengetahuan, tidak terlepas dari sejarah perkembangan filsafat ilmu, sehingga muncullah ilmuan yang digolongkan sebagai filosof dimana mereka meyakini adanya hubungan antara ilmu pengetahuan dan filsafat ilmu.
            Filsafat ilmu yang dimaksud disini adalah sistem kebenaran ilmu sebagai hasil dari berfikir radikal, sistematis dan universal. Oleh karena itu, filsafat ilmu hadir sebagai upaya menata kembali peran dan fungsi ilmu pengetahua dan teknologi sesuai dengan tujuannya, yakni mengfokuskan diri terhadap kebahagiaan umat manusia. Dengan demikian kemajuan ilmu pengetahuan selama satu setengah abad terakhir ini, lebih banyak dari pada selama berabad-abad sebelumnya. Hal ini dikarenakan semakin berkembanya zaman, semakin berkembang pula sains dan teknologi.[1]. Fenomena ini merupakan kebangkitan kesadaran manusia untuk mengkaji ilmu pengetahuan.
            Dengan demikian, pada hakikatnya upaya manusia dengan memperoleh pengetahuan hanya didasarkan pada tiga masalah pokok, yakni : apa yang ingin diketahui? Bagaimana memperoleh ilmu pengetahuan itu dan apakah nilai atau manfaat pengetahuan itu?.[2] Ketiga persoalan ini akan menjadi kajian dalam proses mengetahui ilmu pengetgahuan. Karena ketiga ilmu pengetahuan diperoleh tanpa memperhatikan apa sebenarya apa yang akan diketahui, Bagaimana barusaha untuk mengetahuinya dan bagaimana ilmu pengetahuan itu bermanfaat baik pada diri sendiri maupun kepada orang lain.
            Menyadari akan sangat luasnya uraian tentang ilmu pengetahuan dan kaitannya uraian-uraian di atas maka masalah pokok yang dikaji dalam makalah ini adalah: apa ontologi ilmu pengetahuan dalam perspektif filsafat ilmu? Bagaimana epistimologi ilmu pengetahuan dalam perspektif filsafat ilmu? Dan apa aksiologi ilmu pengetahuan dalam perspektif filsafat ilmu?
B. Rumusan Masalah
            Berdasarkan latar belakang diatas maka yang menjadi rumusan masalah dalam makalah ini adalah :
  1. Apa ontologi ilmu pengetahuan dalam perspektif filsafat ilmu?
  2. Bagaimana epistimologi ilmu pengetahuan dalam perspektif filsafat ilmu?
  3. Apa aksiologi ilmu pengetahuan dalam perspektif filsafat ilmu?

Sabtu, 28 Mei 2011

ILMU DAN PERTIMBANGAN NILAI

BAB I
PENDAHULUAN
A.                Latar Belakang  Masalah
Manusia merupakan makhluk yang berpikir yang selalu memiliki dorongan keingin tahuan, apakah masalah-masalah realitas alam, masalah teologi, dan bahkan manusia memikirkan potensi dirinya.[1] Dari dorongan rasa ingin tahu manusia, maka pada perkembangan terkemudian ia dikenal dengan Filsafat.[2]
Para ahli logika mengatakan bahwa ketika seseorang menanyakan pengertian (hakikat) sesuatu, sesungguhnya ia telah bertanya tentang bermacam-macam perkara. Kadang-kadang seseorang mempertanyakan konseptual sepatah kata. Maksudnya ketika ia bertanya apakah sesuatu itu, ia sebenarnya sedang menanyakan pengertian kata itu sendiri.[3] Dari sinilah manusia mulai merumuskan berbagai teori tentang kebenaran ilmiah terhadap suatu ilmu atau pengetahuan.
Perkembangan filsafat sejak zaman Yunani kuno  sampai sekarang, telah banyak aliran filsafat yang memiliki  ciri khas masing-masing, sesuai dengan metode yang dipergunakan dalam rangka memperoleh kebenaran. kecenderungan aliran filsafat dalam menerapakan metodenya masing dan menganggap bahwa satu-satunya cara yang paling tepat untuk berfilsafat sehingga terkadang menimbulkan pertentangan sengit diantara para penganut  aliran filsafat tersebut. Dalam satu aliran terdapat kelemahan-kelemahan dan ketika muncul aliran sebelumnya dan, bahkan  mengoreksi aliran filsafat tersebut.[4]
Perdebatan filosofis diantara filosof terjadi sekitar pengetahaun manusia yang menduduki pusat permasalahan didalam filsafat, terutama filsafat modern. Pengetahuan manusia adalah titik tolak  kemajuan filsafat,, untuk membina filsafat yang kukuh tentang alam semesta (universe) dan dunia. Jika sumber-sumber pemikiran manusia, kriteria-kriteria, dan nilai-nilainya tidak ditetapkan, tidaklah  mungkin melakukan studi apa pun, bagaimana pun bentuknya.
Salah satu perdebatan besar itu ialah diskusi yang mempersoalkan sumber-sumber dan asal usul ilmu pengetahuan. Hal ini didasari oleh pertanyaan-pertanyaan: Bagaimana ilmu pengetahuan itu muncul dalam diri manusia? Bagaiman kehidupan intelektualnya tercipta, termasuk konsep-konsep (nations) yang muncul sejak dini? Dan apakah sumber yang memberikan manusia arus pemikiran dan pengetahuan?
Setiap manusia  tentu mengetahui berbagai hal dalam kehidupan, dan dalam dirinya terdapat bermacam-macam pemikiran dan pengetahuan. Permasalahannya adalah bagaimana kita “meletakkan tangan kita diatas garis primer” pemikiran dan atas sumber umum pengetahuan pada umumnya.[5]
Dari perkembangan selanjutnya, pengetahuan manusia kemudian dirumuskan menjadi sebuah istilah yang disebut “ilmu”. Istilah ini dalam filsafat menjadi perdebatan panjang antara istilah pengetahuan yang disebut “ilmu” dan “sains”.
Menurut Muliadi Kartanegara, pembahasan tentang epistemology[6] (teori pengetahuan) dimulai dengan penjelasan tentang  definisi “sains” yang biasanya dibedakan dengan pengetahuan (knowledge). Namun, itu dianggap tidak pernah jelas, misalnya, apakah sains (scince) itu sama atau berbeda dengan ilmu (‘ilm). Istilah ini dipandang sama dengan sains , tetapi kadang justru disamakan dengan knowledge atau pengetahuan. Istilah ilmu pengetahuan terkadang dipakai untuk merujuk sains yang dibedakan dengan pengetahuan (knowledge).[7]
Pada awalnya ilmu dan sains mempunyai pengertian yang sama, bahkan juga lingkup yang sama. Namun, kemudian sains membatasi dirinya  pada dunia fisik (dengan segala kompleksitasnya), sedangkan ilmu masih tetap meliputi tidak hanya bidang fisik, tetapi juga bidang matematika dan metafisika.[8]
Dari sekian abad perkembangan ilmu pengetahuan, ilmu merupakan sesuatu yang paling penting bagi manusia, karena dengan Ilmu semua kebutuhan atau keperluan manusia bisa tecapai lebih cepat dan lebih mudah. Dan merupakan kenyataan yang tidak bisa dipungkiri bahwa peradaban manusia sangat berhutang pada ilmu pengetahuan. Ilmu telah banyak merubah wajah dunia seperti hal memberantas penyakit, kelaparan, kemiskinan, dan berbagai wajah kehidupan yang sulit lainnya. Dengan kemajuan iImu juga manusia bisa merasakan kemudahan lainnya seperti transportasi, pemukiman, pendidikan, komunikasi, dan lain sebaginya. Singkatnya ilmu merupakan sarana untuk membantu manusia dalam mencapai tujuan hidupnya.[9]
Kemudian timbul pertanyaan, apakah ilmu merupakan berkah dan penyelamat bagi manusia? Dan memang sudah terbukti dengan kemajuan Ilmu pengetahuan, manusia dapat menciptakan berbagi macam bentuk teknologi. Misalnya, pembuatan bom yang pada awalnya untuk memudahkan kerja manusia, namun kemudian dipergunakan untuk hal-hal yang bersifat negatif. Di sinilah ilmu diletakkan secara proporsional dan memihak pada nilai-nilai kebaikan dan kemanusiaan . Sebab, jika ilmu tidak berpihak pada nilai-nilai, maka yang terjadi adalah bencana dan malapetaka.[10] Di pihak lain perkembangan ilmu pengetahuan seiring dengan perkembangan dan kebutuhan manusia, namun justru sebaliknya manusialah yang akhirnya menyesuaikan diri dengan teknologi.[11]
B.                 Rumusan Masalah    
Dari latar belakang diatas dapat dirumuskan permasalahan yang akan dibahas dalam makalah ini, sebagai berikut :
1.      Pengertian Ilmu?
2.      Sumber dan cara memperoleh ilmu pengetahuan
3.      Ilmu dan perimbangan nilai (aksiologi)?

Minggu, 22 Mei 2011

AL GHAZALI


BABI
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Dalam khasanah pemikiran Islam, al-Ghazali terkenal sebagai seorang Teolog, Filosof, Sifi dan ulama besar yang dipandang sanggup menyelesaikan berbagai persoalan besar dihadapi oleh umat Islam pada zamannya, dan sanggup melakukan kompromi antara syari’at dan hakekat atau tasawuf menjadi bangunan baru yang cukup memuaskan, baik dikalangan ulama fiqhi, terlebih-lebih dikalangan para sufi.
Diantara persoalan-persoalan yang besar yang dihadapi oleh al-Ghazali, adalah goncangan kepercayaan umat Islam terhadap paham filsafat yang cenderung memandang dalil akli, sebagai dalil yang penting pasti dilalahnya dan paham idiologi kaum Syi’ah Bathiniyah yang mengharuskan percaya kepada imam-imam yang dipandang ma’sum, dan juga dalam paham sufisme yang menyimpang dari kaedah-kaedah agama dengan paham ittihat, hulul,dan wushul, disamping itu masalah yang amat pelik yang diakibatkan oleh pemahaman dan pengalaman agama yang terlalu rasionalis dan hukmiah, sehingga terasa kering dari citra spritualitas keagamaan.[1]
Kehadiran filsafat Islam dikalangan Umat Islam, merupakan karya para filosof muslim yang berhasil mempertemukan antara filsafat Yunani dengan semangat pada ajaran Islam. Meskipun para filosof muslim banyak mengutip pemikiran filosof Yunani. Namun mereka tetap mempunyai corak pemikiran para filosof menggunakan akalnya semata.
Imam al-Ghazali adalah ulama besar yang sanggup mengkombinasikan antara syari’at dan hakikat atau tasawuf menjadi bangunan baru yang cukup memuaskan kedua belah pihak, baik dari kalangan syar’i ataupun lebih-lebih kalangan para sufi. Al-Ghazali sanggup menggiat tasawuf dengan dalil-dalil wahyu baik ayat al-Quran  atau pun hadis. Dari judul karyanya yang paling monumental adalah Ihya’ulum al-din (menghidupkan ilmu-ilmu agama), nampak betapa besar jasa al-Ghazali, yakni maupun menyusun bangunan yang dapat membangunkan kegairahan dan motivasi umat Islam mempelajari ilmu-ilmu agama, dan mengamalkan dengan penuh ketekunan, dengan demikian apa yang dicita-citakan al-Ghazali dapat tercapai, yakni menghidupkan dan mendalamkan kualitas keimanan umat Islam dan memantapkannya, sehingga terpancar dalam kegairahan dalam mempelajari dan mengamalkan ajaran agama mereka.
Kedalaman spritual yang ditimbulkan tasawuf bisa didayagunakan untuk mendukung kegairahan dalam mempelajari ilmu-ilmu agama beserta pengalamannya. Sebaliknya dengan keterikatan yang ketat dan berbagai pengalaman tasawufnya mulai mendapatkan hati dari pihak ulama ahli syari’at, dan diterimanya sebagai salah satu cabang ilmu keislaman yang paling kaya raya kerohanian dan tuntunan moral. Dengan demikian tasawuf berfungsi sebagai obat yang paling mujarab untuk membebaskan umat Islam dari kekuatan dan kekeringan rasionalisme fiqhiyah dari penyakit spekulatipisme ilmu kalam. Itulah diantara unsur-unsur positif pengembangan tasawuf dalam mendukung menghidupkan dan memantapkan keyakinan agama, serta menyuburkan kegairahan dalam ketekunan pengalaman agama.
Dalam dunia tasawuf, al-Ghazali sangat terkenal dan populer dengan konsep al-ma’rifah, walau diakui bahwa faham al-ma’rifah pertama kalinya dibawa oleh Zunnun al-Misri. Tetapi dalam pandangan umat Islam secara umum, nampaknya telah terbentuk suatu opini bahwa tasawuf dalam bentuk al-ma’rifah yang dikembangkan al-Ghazali dapat diterima dan diakui oleh ahlu sunnah wal jama’ah. Dapat dikatakan bahwa konsep al-ma’rifah amat berpengaruh pada dunia tasawuf terutama umat Islam yang menganut faham ahlu sunnah wal Jama’a.[2]
Relevansinya dari beberapa pemaparan di atas, maka makalah ini mencoba mengemukakan pokok-pokok bahasan antara lain sekilas riwayat al-Ghazali, corak pemikiran filsafat dan kritiknya terhadap filsafat termasuk corak pemikiran ajaran tasawufnya serta pengarunhnya dalam dunia Islam. Disamping makalah ini mempunyai muatan akademis, juga diharapkan dapat mendatangkan suatu manfaat bagi mereka yang ingin mendalami dunia tasawuf.
B.     Rumusan dan Batasan Masalah
Bertolak dari beberapa uraian di atas, maka penulis dapat mengemukakan masalah pokok yaitu:”Bagaimanakah pemikiran filsafat al-Ghazali termasuk kritik al-Ghazali terhadap filsafat serta konsep tasawuf yang diinginkannya dan pengaruhnya terhadap perkembangan dunia Islam”. Untuk mempermudah pembahasan di atas dijabarkan dalam dua sub pokok masalah yaitu:
1.      Bagaimana pemikiran filsafat al-Ghazali dan sejauhmana kritik al-Ghazali terhadap filsafat?
2.      Bagaimana corak tasawuf al-Ghazali dan pengaruhnya terhadap perkembangan dunia Islam?

Sabtu, 21 Mei 2011

TEORI-TEORI EPISTEMOLOGI


(Fenomenologi dan Intuisionisme)

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
            Secara umum epistemologi dapat dijelaskan sebagai cabang dari filsafat yang membahas ruang lingkup dan batas-batas pengetahuan, epistemologi adalah suatu cabang filsafat yang bersangkut paut dengan teori pengetahuan. Studi ini mencari jalan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan mendasar yang meliputi pengkajian sumber-sumber watak dan kebenaran pengetahuan, yaitu apakah yang diketahui oleh akal manusia? Darimanakah kita memperoleh pengetahuan yang diandalkan atau kita harus puas dengan pendapat-pendapat dan sangkaan? Apakah kemampuan kita terbatas dalam mengetahui fakta pengalaman indera, atau kita dapat mengetahui lebih jauh daripada apa yang diungkapkan oleh indera?
            Sebelum sampai pada pembahasan teori epistemologi fenomenologi dan intuisionalisme, kita klasifikasikan terlebih dahulu persoalan-persoalan dalam bidang epistemologi. Menurut Prof. Dr. Juhaya S.Praja, terdapat tiga persoalan dalam bidang epistemologi, yaitu :
  1. Apakah sumber-sumber pengetahuan itu? Darimana pengetahuan yang benar itu datang, dan bagaimana kita dapat mengetahui? Ini semua adalah problem asal (origin)
  2. apakah watak dari pengetahuan? Apakah dunia yang riil diluar akal itu ada, kalau ada, dapatkah kita mengetahuinya?
  3. apakah pengetahuan kita itu benar (valid)? Bagaimana kita membedakan antara kebenaran dan kekeliruan? Ini adalah problema mencoba kebenaran(verification).[1] 
                  Dalam perkembangan pemikiran tentang persoalan-persoalan epistemologi diatas, telah muncul berbagai teori, dari yang menggunakan rasio, kemampuan inderawi manusia, sampai dengan kekuatan dibalik kemampuan indera manusia.
                  Diantara teori-teori yang telah membuka wawasan kita tentang persoalan epistemologi adalah teori Fenomenologi dan intuisionalisme. Teori ini telah membuka tabir kebenaran pengetahuan dalam filsafat.
B. Rumusan Masalah
Untuk mengenal lebih jauh epistemologi  Fenomenologi dan intuisionalisme, penulis akan membahasnya dalam 2 pokok permasalahan:
1.      Apa pengertian fenomenologi dan bagaimana pandangan tokohnya dalam memperoleh pengetahuan?.
2.      bagaimanakah pandangan intuisionalisme  tentang cara memperoleh pengetahuan?

Kamis, 19 Mei 2011

AL FARABI


(Riwayat Hidup, Teori Emanasi, Filsafat Jiwa, Filsafat Kenabian dan Teori Politik al-Madhinah al-Fadhillah)




BAB 1

PENDAHULUAN

A.Latar Belakang Masalah
            Pembicaraan tentang filsafat Islam tidak biasa terlepas dari filsaat secara umum. Berfikir filsafat merupakan hasil usaha manusia yang saling berkesinambungan diseluruh jagad raya ini. Akan tetapi, dalam berfikir filsafat dalam rti berfikir bebas dan mendalam radikal yang tidak dipengaruhi oleh dokmatis dan tradisi, disponsori oleh filosof-filosof Yunani.
            Aristoteles adalah salah satu filosof dan ilmu besar didunia dimasa lampau.dia dilahirkan diota Stagira, Macedonia, pada tahun 384 M. Dia menelopori penyelidikan mengenai logika, memperkaya hampir setiap cabang filsafat dan memberi sejumlah besar sumbangan terhadap ilmu pengetahuan.[1] Buah pikiran banyak membawa pengaruh  pada filosof Islam dan berabad abad lamanya menguasai cara berpikir Barat.
            Dalam abad 1X Morang orang arab mengenal baik sejumlah besar warisan ilmu alam, maupun filsafat alam yunani kuno dan roma kuno. Mereka sangat gemar Akan filsafat Aristoteles dan pengaruh abadi Aristoteles dalam masalah masalah ilmu Alam dan logika.
Pada masa pemerintahan Bani Umayyah, pengaruh kebudayaan yunani dalam dunia Islam belum nampak jelas walaupun orang orang yang duduk di pemerintahan pusat tidak lagi di dominasi oleh kalangan bangsa Arab, melainkan juga terdapat orang Persia  yang banyak berkecinambungan  dengan budaya yunani.
Penerjemahan karya karya filsafat dari berbagai bahasa kebahasa Arab baru mendapat perhatian yang begitu besar oleh Dinasti Abbasiyyah.Usaha tersebut dilakukan pertama kali oleh Al-Mansub dan diteruskan oleh anak cucunya. Sejumlah besar karya logika yunani yang diarabkan disambut dengan penuh gairah negeri berbaasa arab karena beberapa alasan. Pertama, penerjemahan kajian-kajian logika dalam bahasa Arab membuat bahasa ini bias dipakai untuk perbedaan rasional dengan orang-orang non muslm dalam rangka mengajak mereka menganut islam. Kedua, penggunaan bahasa Arab sesuai dangan peroyek penerjemahan berbagai manuskrip ilmiah karena logika dapat menyusun cara berfikir dan ilmu-ilmu alam dengan menyusun penomena alam secara sistematis.[2]
Filsafat klasik Islam bukan sekedar filsafat Yunani yang diberi baju Islam. filsafat yunani.mengalami pengembangan atau Islamisi ditangan para filsuf muslim. Jadi filsafat Islam merupakan bagian dari berbagai implikasi peralanan (sejarah) Islam itu sendiri.
Akan tetapi, apabila dilihat dari sejarah peradaban umat Islam, filsafat dalam dunia Islam merupakan gejala dari perkembangan keilmuan dalam masyarakat Islam itu sendiri. Pengetahuan mengenai metafisika, Tuhan, Jiwa dan manusia  yang pada mulanya diterima begitu saja, kemudian diperluas dan dikembangkan dengan memadukan kebenaran wahyu dan akal. berdasarkan realitas tersebut, maka bermunculan para filosof Islam Arab khususnya dan negeri-negeri Islam pada umumnya, di antaranya al-kindi, al-farabi, Ibnu Sina dan pemikir Islam lainnya.
Di sini mengemukakan emanasi ini tampaknya Al-Farabi ingin menegaskan tentang keesaan Allah, bahkan melebihi Al-Kindi. Allah bukan bukan hanya dinegasikan dalam artian ‘aniah dan mahiah,[3] tetapi juga lebih jauh lagi. Allah adalah Esa sehingga tidak mungkin berhubungan dengan yang tidak esa atau yang banyak. Andaikan alam diciptakan secara langsung oleh Allah, maka mengakibatkan ia berhubungan dengan yang tidak sempurna dan ini akan menodai keesaannya. Oleh sebaba itu, dari hanya Allah timbul satu, yakni akal pertama. Akal pertama ini mengandung arti banyak, bukan banyak jumlah, tetapi merupakan sebab dari pluralitas. Dari itu akal pertama berfungsi sebagai mediator antara yang Esa dan yang banyak sehingga dapat dihindarkan hubungan langsung antara yang Esa dan yang banyak.   
Jika Aristoteles, peletak dasar ilmu logika, dikenal sebagai ‘Guru pertama’ (al-Muallim al-Awwal), maka al-farabi dalam dunia intelektual Islam dinilai sebagai’ Guru Kedua’(al-Muallim al-Tsani). Gelar ini diberikan kepadanya, terutama karena perhatiannya yang sangat besar terhadap logika, serta pemahaman dan komentar-komentarnya yang sangat baik atas kitab-kitab Aristoteles.[4]                           
            Al-Farabi merupakan Filsuf terkemuka pada zamannya. AL-Farabi selalu berpindah tempat dari waktu ke waktu. Dimasa kecil ia dikenal rajin belajar dan memiliki otak yang cerdas. Setelah besar beliau berpindah dari farab ke bagdad. Disana ia memperdalam filsafat, logika, matematika, etika ilmu politik, musik dan lain sebaainya. Diantara karangannya:
1.Magala fi aghradhi ma ba’da al-tabiah. Buku ini menjelaskan tujuan dan metafisika Aristoteles.
2. Ihsha u al-ulum (statistik ilmu)
3. Aljam’u baina ra’yai al-hakimain (mempertemukan pendapat kedua filosof)
4. Ara-u ahl-il madinah al fadlillah (pikiran –pikiran warga Negara kota utama)
5. Uyun al-masail (pokok-pokok persoalan)
6. Tahsil as- sa’adah (mencari kebahagian)
            Dalam makalah ini penulis akan menguraikan Tentang riwayat hidup al-Farabi, pemikirannya tentang emanasi (al-faydh), filsafat al-Nafs, filsafat kenabian dan teori politik (al-Madinah al- fadillah).                          
B. Rumusan Masalah
            Adapun pokok persoalan yang akan dibahas dalam makalah ini adalah:
1.      Bagaimana Riwayat hidup al-farabi?
2.      Teori Emanasi?
3.      Filsafat Jiwa?
4.      Filsafat Kenabian?
5.      Teori Politik?  

Rabu, 18 Mei 2011

MONISME DAN PLURALISME KEBENARAN DALAM ISLAM



BAB I
PENDAHULUAN
     A.    Latar Belakang Masalah
Islam merupakan agama yang benar yang diturunkan oleh Allah SWT untuk manusia untuk menjadi aturan hidup kita. Segala sesuatu yang berasal dari agama Islam adalah merupakan suatu kebenaran yang tidak bisa diragukan lagi, karena merupakan ciptaan dari yang menciptakan manusia. Allah SWT telah menetapkan kebenarannya melalui penyampaiannya melalui Al-Qur’an yang telah diwahyukan kepadaRasul pilihannya.
Segala sesuatu yang dibutuhkan oleh manusia telah dituangkan dalam suatu kitab suci yaitu Al-Qur’an dan Hadis Nabi sebagai penjelas terhadap aturan-aturan yang tertuang dalam Al-Qur’an.
Al-Qur’an dan Hadis merupakan sumber hukum Islam yang harus ditaati oleh pemeluknya. Sebagai risalah  yang telah diturunkan oleh Allah SWT melalui perantara Malaikat dan Rasul pilihannya untuk menjadi pegangan hidup dalam mengarungi kehidupan didunia ini. Al-Qur’an dan Hadis ini memberikan pengetahuan kita tentang suatu kebenaran yng mesti kita yakini dan mengamalkan pesan-pesan yang terkandung didalamnya.
Segala seuatu yang datang dari Allah SWT . adalah merupakan kebenaran yang mutlak serta tidak dapat diintervensi. Tidak sama dengan produk-produk hasil olah pikiran manusia. Akan tetapi, manusia tidak dibatasi untuk tidak menggunakan potensi yang ada dalam dirinya. Islam memerintahkan kepada pemeluknya agar senantiasa mempergunakan akal pikirannya dalam setiap aktivitasnya. Akal dianugerahkan oleh Allah agar manusia menggunakannya sebagai ukuran untuk menilai sesuatu. Agar manusia didalam melakukan sesuatu berada pada koridornya. Namun, disamping mempergunakan akalnya , harus juga merujuk kepada sumber pokok Islam sebagai produk yang terlepas dari kesalahan.
Berdasar dari uraian diatas, muncul suatu pertanyaan, Bagaimana pandangan Islam mengenai kebenaran yang satu itu, dan bagaimana kebenaran yang beraneka ragam menurut tinjauan Islam.  Apakah kebenaran itu hanya satu atau kebenaran itu majemuk atau plural. Maka dalam makalah ini akan dipaparkan mengenai “Monisme kebenaran dan pluralisme kebenaran menurut perspektif Islam ?
B.     Rumusan Masalah
Untuk menghindari meluasnya pembahasan, maka dalam makalah penulis merumuskan beberapa rumusan masalah sebagai berikut :
1.      Pengertian monoisme dan pluralisme suatu kebenaran ?
2.      Pandangan Islam tentang monoisme dan pluralisme suatu kebenaran ?

Kamis, 12 Mei 2011

Islamisasi Ilmu Pengetahuan


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
Seiring dengan perkembangan kemajuan sains dan teknologi di Barat, nilai-nilai agama berangsur-angsur bergeser bahkan bersebrangan dengan ilmu. Bagi kalangan ilmuwan Barat, agama adalah penghalang kemajuan karena beranggapan jika ingin maju agama tidak boleh lagi mengurus masalah-masalah yang berkaitan  dengan dunia seperti politik dan sains.
Revolusi industri di Inggris dan revolusi sosial politik di Perancis pada paruh ke-dua abad ke-18,  merupakan titik awal pencerahan (renaissance) di Eropa menuju peradaban modern. Hal inilah yang  mengantarkan Barat mencapai sukses luar biasa dalam pengembangan  teknologi masa depan. Sedangkan ummat Islam malah mengalami kemunduran-kemunduran sistematik dalam alur peradabannya. Praktis dunia Islam dewasa ini merupakan kawasan bumi yang paling terbelakang di antara penganut-penganut agama besar di dunia dikarenakan begitu rendahnya kemajuan yang diraih dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Bahkan ummat Islam menjadi penonton bahkan terbuai oleh kenikmatan semu yang disuguhkan oleh Barat dengan kecanggihan teknologinya.
Sejak terjadinya pencerahan di Eropa, perkembangan ilmu-ilmu rasional dalam semua bidang kajian sangat pesat dan hampir keseluruhannya dipelopori oleh ahli sains dan cendikiawan Barat. Akibatnya, ilmu yang berkembang dibentuk dari acuan pemikiran filsafah Barat yang dipengaruhi oleh sekularisme dan materialisme. Sehingga konsep, penafsiran dan makna ilmu itu sendiri tidak bias terhindarkan dari pengaruh pemikirannya. Ummat Islam mempelajari sains barat tanpa menyadari kaitan temali historis Barat dan ilmu-ilmu Barat, sehingga ummat Islam pun terjatuh dalam hegemoni Barat dan proses ini mengakibatkan esensi peradaban Islam semakin tidak berdaya di tengah kemajuan peradaban Barat yang sekuler.
Menghadapi keadaan yang demikian itu, ummat Islam mencari sebab-sebabnya. Sebab-sebab tersebut yang utama di antaranya karena ummat Islam tertinggal dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi serta adanya perpecahan. Di kalangan ummat Islam paling kurang timbul sikap menghadapi keterbelakangan dalam bidang ilmu pengetahuan tersebut sebagai berikut:
1.      Sikap  yang didasarkan pada asumsi bahwa ilmu pengetahuan yang berasal dari Barat sebagai ilmu pengetahuan yang sekuler. Karena itu ilmu tersebut harus ditolak.
2.      Sikap yang didasarkan pada asumsi bahw ailmu pengetahuan Barat sebagai ilmu yang bersifat netral. Karenanya ilmu tersebut harus diterima apa adanya tanpa disertai rasa curiga dan sebagainya.
3.      Sikap yang diadasarkan pada asumsi bahwa ilmu pengetahuan yang berasal dari Barat sebagai ilmu yang bersifat sekuler dan materialisme. Namun diterima oleh ummat Islam dengan terlebih dahulu dilakukan proses Islamisasi.[1]
          Islamisasi ilmu pengetahuan telah menjadi tema dan term popular di kalangan intelektual Islam, di Indonesia maupun di negara-negara lain. Hal tersebut tidak lepas dari kesadaran ber-Islam di tengah pergumulan dunia global yang sarat dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Di Ameriaka istilah ini telah menjadi simbol dari sebuah keinginan besar untuk member warna Islam pada berbagai disiplin ilmu.      Dengan sebuah konsep bahwa ummat Islam akan maju dan dapat menyusul Barat mana kala mampu mentransformasiakan ilmu pengetahuan dalam memahami wahyu atau memahami wahyu dalam mengembangkan ilmu pengetahuan.[2]
          Hal inilah yang memunculkan untuk mempertemukan kelebihan-kelebihan di antara keduanya, sehingga lahir keilmuan baru yang modern tetapi tetap bersifat relegius dan bernafaskan tauhid, gagasan ini kemudian dikenal dengan istilah Islamisasi Ilmu Pengetahuan.
B.     Rumusan Masalah
          Berdasarkan paparan dari latar belakang masalah di atas, penulis merumuskan permasalahan sebagai berikut:
1.      Apa yang melatar belakangi  adanya Islamisasi Ilmu Pengetahuan?
2.      Bagaimana telaah Ontologis, Epistemologis, dan Aksiologi Islamisasi Ilmu Pengetahuan?
3.      Bagaimana tantangan ilmu-ilmu keIslaman di tengah perkembangan ilmu pengetahuan modern?

Kamis, 05 Mei 2011

IBNU BAJJAH DAN FILSAFATNYA

Oleh: Muh. Anas RA, S.Th.I

PENDAHULUAN

Latar belakang

Di dunia islam perkembangan filsafat dan ilmu pengetahuan di dorong oleh ajaran al-qur’an dan hadis yang menganjurkan kepada umatnya supaya menghargai kekuatan akal dan mencari ilmu pengetahuan dimanapun saja. Filsafat islam dibagian timur dunia islam(masyriqi) berbeda dengan filsafat islam di maghribi(bagian barat dunia islam).di timur terdapat tiga orang filosof terkemuka, al-kindi, al-farabi dan ibnu sina, di barat juga terdapat tiga orang filosof kenamaan, ibn bajjah, ibn thufail dan ibn rusyd. Filsafat islam lebih dulu muncul di timur sebelum di barat, sebagai akibat adanya peradaban yang berpusat di syam dan Persia setelah sebelumnya berpusat di Athena dan iskandariyah. Munculnya filsafat di kawasan maghribi terlambat dua abad lamanya dibanding dengan kehadiranya di kawasan masyriqi, setelah pemerintahan bani umayyah berdiri mantap, tidaklah sukar bagi orang arab menerjemahkan buku filsafat , kegiatan ini di lakukan orang suryan atas dorongan para khalifah dan para penguasa arab.

Pada pertengahan abad ke-4 H, beberapa orang andalus pergi ke kawasan masyriqi untuk menuntut ilmu pengetahuan . karena kebutuhan pembangunan di andalus, orang mulai banyak menuntut ilmu matematika dan ilmu falak. Keadaan seperti itu tetap berlangsung selama dua abad, makin lama kebutuhan akan buku-buku filsafat terasa semakin mendesak, di samping kebutuhan akan buku-buku ilmu pengetahuan. Dengan demikian maka lahirlah pemikir-pemikir filsafat. Dalam suasana perkembangan ilmu seperti tersebut di atas muncullah seorang filosof andalus bernama abu bakar Muhammad bin yahya ibn bajjah. Filsafat ibnu bajjah banyak terpengaruh oleh pemikiran islam dari kawasan di timur, seperti al-farabi dan ibnu sina. Hal ini di sebabkan kawasan islam di timur lebih dahulu melakukan penelitian ilmiah dan kajian filsafat dari kawasan islam di barat (andalus). Dan inilah yang mendasari penulis untuk mengkaji bagaimana sosok ibn bajjah dalam memberikan perhatian dan kontribusi yang sangat besar terhadap dunia filsafat.

Rumusan Masalah

Sebagai tindak lanjut dari latar belakang di atas , kami akan memulai pembahasan berangkat dari rumusan masalah sebagai berikut:

1. siapa sebenarnya sosok ibn bajjah itu?
2. Bagaimana pemikiran ibn bajjah tentang filsafat?

FACEBOOK COMENT

ARTIKEL SEBELUMNYA

 
Blogger Templates