Tampilkan postingan dengan label ISLAMIC HISTORY. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ISLAMIC HISTORY. Tampilkan semua postingan

Selasa, 28 Januari 2014

TURKI USMANI


Oleh : Muhammad Ismail, S.Th.I

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
        Setelah Khilafah Abbasiyah di Baghdad runtuh akibat serangan tentara Mongol, kekuatan politik Islam mengalami kemunduran secara drastis. Wilayah kekuasaannya tercabik-cabik dalam beberapa kerajaan kecil yang satu sama lain bahkan saling memerangi. Beberapa peninggalan budaya dan peradaban Islam banyak yang hancur akibat serangan bangsa Mongol itu. Namun kemalangan tidak berhenti disitu, Timur Lenk pun menghancurkan pusat-pusat kekuasaan Islam yang lain.[1]        
            Dalam suasana infreoritas seperti itu, muncul kesadaran politik umat Islam secara kolektif, kesadaran kolektif ini mengalami kemajuan dengan ditandai oleh berdirinya tiga kerajaan besar, Usmani di Turki, Mughal di India, dan Safawi di Persia. Kerajaan Utsmani inilah yang paling pertama berdiri dan paling lama bertahan dibandingkan dua lainnya.[2]
            Dalam perjalannya, Turki Utsmani dijalankan oleh tidak kurang dari 38 sultan dengan berbagai macam corak kepamimpinnya masing-masing. Salah satu serangan dan penaklukan terpenting yang dilakukannya adalah penaklukan Konstantinopel. Walau demikian, hukum sejarah sebagai sunnatulla>h juga belaku, bahwa masa pertumbuhan yang diiringi dengan kejayaan-kejayaan pun akan habis dengan datang masa kemunduran dan kehancuran.
            Sehubungan dengan hal diatas, sejarah yang ditulis didalam buku-buku sejarah Islam tentang kerajaan Turki Utsmani di Indonesia memang sering tidak mendapatkan porsi sebanyak yang diperoleh diperoleh Dinasti Umayyah dan Abbasiyah. Bila dilihat dari budaya yang telah dipersembahkan dipermukaan, kerajaan Turki Utsmani memang tidak bisa disamakan dengan kedua dinasti diatas, akan tetapi melihat perannya dalam menangkal ekspansi dan serangan bangsa Eropa ke Timur, maka apa yang dilakukan oleh Turki Utsmani tidaklah bisa ditinggalkan begitu saja dalam kajian sejarah.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka penulis akan mengangkat tema pokok dalam pembahasan makalah ini sebagai berikut :
1.    Bagaimana asal-usul terbentuknya Kerajaan Turki Usmani?
2.    Bagaimana kemajuan dan kemunduran Kerajaan Turki Usmani?

Kamis, 09 Juni 2011

NABI MUHAMMAD SAW SEBAGAI PEMIMPIN AGAMA dan KEPALA NEGARA



BAB I
PENDAHULUAN
A.     Latar Belakang Masalah
Menjelang pertengahan abad keenam sesudah Masehi, dunia berada dalam keadaan gelap dan parah dengan keadaan spiritual yang merusak kehidupan spiritual manusia. Keserakahan dan tirani telah menjarah kesejahteraan moralnya, dan penindasan telah melumpuhkan mayoritas penduduknya. Bangsa-bangsa yang dulunya pernah merdeka dan produktif , peradaban tertua di dunia , seperti Assyria, Phunisia dan Mesir, kini tidak berkutik dibawah ancaman dan cengkraman Serigala Romawi. Sementara peradaban Babilonia yang menderita akibat dominasi Persia yang sama-sama tiranisnya,hanya dibolehkan hidup Marginal (pas-pasan) sementara semua kekayaan negerinya, tanah subur antara dua sungai (Eufrat dan Tigris) disedot untuk memenuhi perbendaharaan para kaisar Persia dan kaki tangannya.
Bangsa Arab yang tanahnya terletak antar Imperium Persia dan Romawi, merupakan sebuah negeri yang menyedihkan. Agama mereka yang sebenarnya merupakan Monoteisme paling murni, yakni Agama Nabi Ibrahim telah diselewengkan oleh generasi demi generasi.
Ketika manusia melupakan sumber mulia kehidupan batinnya dan secara tamak sibuk dengan kehidupan dunia dan kemegahannya, seorang Rasul diutus Oleh Allah untuk menunjukkan kepada jalan yang telah dilupakannya, dan memperingatkan mereka akan ajaran yang telah dilalaikan atau diabaikannya. Tetapi selama jangka waktu yang lama tidak terlihat tanda-tanda dan terdengar firman Allah. Zaman itu menjadi titik nadir (terendah) dalam pemikiran manusia.[1]
Karena banyaknya ramalan tentang kedatangnnya, setiap orang menunggu kedatangan Nabi Muhammad SAW di era kegelapan sejarah manusia, manusia menunggu orang yang akan menghancurkan keingkaran dan akan meniupkan kehidupan baru kedunia ini. Yudaisme dan Kristen, yang aslinya adalah agama samawi (berasal dari Allah), tak bisa menyangkal. Orang-orang mempelajari kitab-kitab lama tanpa prasangka, khususnya Pendeta Bahira sedang menunggu kedatangannya.
Berkata Karlil Mengenai Muhammad : “Kelahiran Muhammad adalah merupakan sumber cahaya yang menerangi kegelapan”.[2]
 Dan berkata Sir Muyer : ”belum ada usaha perbaikan yang lebih sulit dan lebih jauh jangkaunnya dari pada saat munculnya Muhammad. Tapi kita belum melihat suatu keberhasilan dan perbaikan yang sempurna sebagaimana  yang telah ditinggalakan olehnya saat meninggal Dunia”.[3]
Dan berkata Leonardo : “kalau diatas bumi ini ada orang yang benar-benar mengerti tentang Allah, kalau di atas bumi ini ada orang yang berlaku ikhlas terhadapnya dan meninggal dalam berkhidmat  kepadanya dengan tujuan yang mulia, dan dengan dorongan yang besar, maka sesungguhnya orang itu adalah Muhammad. Tanpa ragu lagi , seorang Nabi dari bangsa Arab”. Tersebut dalam ensiklopedia Britania “Sesungguhnya Muhammad mempunyai keberhasilan yang belum pernah dicapai oleh seorang Nabi atau oleh pembangun agama diseluruh jaman”.
Dan berkata Buzurth : “bahwa sesungguhnya Muhammad adalah mutlak pembangun terbesar tanpa ada pertentangan pendapat”.[4]
Adapun  Muhammad dalam pandangan Umat Islam, adalah seorang pahlawan utama. Sedang menurut pandangan para pemikir dari agama-agama lain dia adalah pembangun umat terbesar, diakui mutlak. Oleh karena itu tidak patut kita berbicara tentang kepahlawanan  tanpa mendahulukan tentang kepahlawanan Muhammad Saw.
B.     permasalahan
Berdasarkan latar belakang permasalahan di atas penulis dapat menfokuskan permasalahan sebagai berikut: 
1.      bagaimana kondisi masyarakat jahiliyah sebelum datangnya Islam (lahirnya Nabi Muhammad Saw)?
2.      Sejauh manakah rintangan dan penolakan masyarakat terhadap pelaksanaan dakwah Nabi Muhammad Saw?
3.      Bagaimana strategi dakwah Nabi Muhammad Saw sebagai pemimpin agama?
4.      Bagaimana kedudukan Nabi sebagai kepala Negara?

Senin, 06 Juni 2011

DUNIA ISLAM ABAD XIX-XX



(Kebangkitan Dunia Islam dan Upaya Pembebasan dari Kolonialisasi Barat)
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
            Kemenangan dan kekalahan, kemajuan dan kemunduran dikonversikan Tuhan kepada umat manusia, tak terkecuali kepada umat Islam. Itulah undang-undang ‘baja’ sejarah yang tidak bisa dibantah oleh siapa pun. Sejarah mencatat bahwa, umat Islam pernah menjadi umat yang terdepan dalam segala hal di dunia ini. Umat Islam pernah menjadi kiblat dalam bidang ilmu pengetahuan, kebudayaan, bidang bangunan dan arsitektur. Bahkan umat Islam pernah menjadi pemimpin dunia dengan luas wilayah kekuasaan yang dimilikinya, terbentang dari Barat ke Timur. Bukan saja wilayah kekuasaannya cuma meliputi Jasirah Arabiyah-tempat diturunkannya agama Islam-tetapi, meliputi sebagian bangsa Eropa, Afrika dan bahkan sampai sebagian besar daratan Asia.
            Seiring dengan berjalannya waktu, umat Islam sedikit demi sedikit mengalami kemunduran. Hal ini mencapai puncaknya ketika adanya serbuan brutal yang dilakukan oleh bangsa Mongol, sebagai mana yang telah dijelaskan pada makalah-makalah sebelumnya. Ditambah lagi ketika bangsa-bangsa Eropa sudah mengalami kemajuan dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, menggeliatlah usaha-usaha mereka untuk mengadakan ekspansi kekuasaan, serta usaha untuk menguasai bangsa-bangsa lain (termasuk bangsa-bangsa kaum Muslimin) dijadikan sebagai negara jajahan sekaligus sebagai lumbung untuk memperoleh modal guna melakukan pembangunan di negaranya.
            Memasuki periode modern dalam sejarah Islam yang dimulai sekitar tahun 1800 M. secara politis umat Islam masih dibawah penetrasi kolonialisme. Baru pada pertengahan abad 20 M. dunia Islam bangkit memerdekakan negerinya dari penjajahan yang dilakukan oleh bangsa Barat. Manipestasi dari kebangkitan dunia Islam tersebut menurut Lothrop, berupa tumbuhnya potensi luar biasa bagi pembentukan dunia baru Islam.[1] Sedangkan menurut Badri Yatim, kebangkitan dunia Islam adalah bangkitnya nasionalisme di dunia Islam dan tumbuhnya gerakan multi partai yang memperjuangkan kemerdekaan negaranya.[2]
            Latar belakang sehingga munculnya penetrasi dan semangat umat Islam untuk merdeka adalah, karena negara-negara Islam ketika takluk di bawah kekuasaan dan cengkraman negara-negara Eropa, mengalami kemerosotan dan kemunduran dalam berbagai bidang. Terutama dalam bidang politik, sosial, ekonomi serta bidang pendidikan dan ilmu pengetahuan. Keadaan ini mengakibatkan umat Islam menjadi kelompok marginal dan lepas dari gelanggang perpolitikan dunia, yang tentunya juga sangat sulit untuk bisa tampil kembali mengambil alih kepimpinan dunia. Walaupun demikian, karena dorongan yang kuat dari agamanya, umat Islam seakan memiliki kewajiban memperhitungkan dengan cermat akhlak bangsa-bangsa merasa berkewajiban menuntun seluruh umat manusia ke jalan bahagia menuju pembentukan Negara ‘Baldatun Toyyibatun wa Rabbun Gafur’.
            Dengan semangat reformasi pada diri umat Islam inilah, mereka menjadikan ‘kejahilan’ Eropa sebagai musuh yang harus ditaklukkan. Semangat seperti ini telah melahirkan kesadaran umat Islam. Kesadaran itu berkembang menjadi gerakan untuk membebaskan diri dari penguasa asing. Gerakan penentuan nasib sendiri dan kemerdekaan mencapai puncaknya sesudah perang dunia II. Gerakan dan kesadaran nasionalisme[3] bukan sekedar memerangi penjajah. Nasionalisme lebih merupakan bagian terpenting bagi kebangkitan dunia Islam modern menjelma dalam bentuk Negara-nagara nasional. Penjajahan dalam arti sempit hanya dalam masa kurang dari setengan abad, lenyap di dunia Islam. Beberapa bagian wilayah dunia yang amat strategis dan merupakan garis hidup (life-line) bagi Negara-negara industry Barat kini ditempati oleh umat Islam yang merdeka dan berdaulat.[4]
Terlepas dari uraian tersebut di atas, dunia Islam hingga masa kini masih tergolong terbelakang  terutama dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Namun dibalik keterbelakangannya, dunia Islam mempunyai potensi. Dengan jumlah penduduk cukup signifikan, merupakan potensi besar untuk dapat bangkit kembali dan memimpin peradaban dunia dalam berbagai bidang.
B. Rumusan Masalah
            Mengingat begitu luasnya tema dari makalah ini, penulis tidak mungkin mengungkapkan permasalahan dunia Islam secara menyeluruh dari satu negeri ke negeri yang lain. Pembahasan dalam makalah ini, terbatas pada negara-negara yang penduduknya mayoritas muslim yang pokoknya menyangkut kebangkitan umat Islam pada abad XIX dan XX, dengan beberapa permasalahan sebagai berikut;
1.      Faktor apakah yang melatar belakangi bangkitnya kembali dunia Islam abad XIX-XX?
2.      Bagaimanakah upaya perlawanan umat Islam terhadap kolonialisme?
3.      Bagaimana pengaruh semangat nasionalisme bisa melahirkan negara-negara nasional  dalam dunia   Islam?
           

Minggu, 22 Mei 2011

DINASTI MAMLUK


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Mesir dun Syiria tergolong protinsi Timur Tengah yang pertama tereakup dalam wilayah kekhalifahan muslim Arab Kedua wilayah di ditaklukkan pada tahun 641 M. penduduknya dengan cepat mengadopsi bahasa Arab, meskipun meraka cukup lambang menerima Islam. Pada periode khalifah Umayyah dan awal Abbasiyah, Mesir merupakan sebuah profinsi yang kurang penting dalam imperium muslim, tetapi sejak pertengahan abad IX Mesir menunjukkan tanda-tanda awal untuk menjadi sebuah wilayah yang independent. ‘lentara-tentara budak yang diangkat oleh khalifah Abbasiyah mendirikan beberapa dinasti yang berusia pendek. Dinasti Tuluniyah menguasai Mesir pada tahun 868-905 dan dinasti lkhsyidiyah meriguasai Mesir dun tahun 935-969. Pada tahun 969, Fatimiyah menaklukkan negeri mi dan mendirikan sebuab khàlifah baru yang berlangsung hingga tahun 1171 M.[1] Kernudian, sebagai pengganti Fatimiyah muncul dinasti Ayyubiyah dan dinasti mi kemudian ditaklukkan oleh dinasti Mamluk pada tahun 1250-151 7.[2]
Mamluk adalab adalah sebuab dinasti para budak yang berasal dan berbagai ras kemudian membentuk suatu pemerintahan oligarki militeristik di tanah perantauan.[3] Orang-orang dan dinasti mamluk di pada awalnya tidak terdidik, tetapi penghargaan terhadap seni dan arsitektur pada masanya merupakan modal bagi dinasti yang menggantikannya, dan mampu menciptakan Kairo sebagai salah satu kota yang terindah dalam dunia Islam. Sistem pergantian sultan tidak berdasarkan keturunan dengan pengangkatan seorang putra mahkota sebelumnya. Siapapun yang sanggup merebut kekuasan atau mampu mempengaruhi para arnir untuk memilihnya, maka dialafi yang menjadi sultan. Para budak yang kemudian muncul sebagai penguasa kesultanan Mamluk terdiri dan dua golongan besar, yaitu: kelompok Mamluk Hahn dan kelompok Mamluk Burji.
Periode kerajuan mamluk dianggap sebagai zarnan paling cemerlang dan paling makmur dalam sejarah Islam.[4] Dengan berbagai kemajuan dan perkembangan, hal tersebut dapat tercapai berkat kepribadian dan wibawa sultan yang tinggi, solidaritas sesama militer yang kuat dan stabilitas negara yang aman dan gangguan. Akan tetapi ketika faktor-faktor tersebut menghilang, dinasti Mamluk sedikit demi sedikit mengalami kemunduran, terutama setelah kelompok Burji berkuasa. Pada kerajaan iniiah Mesir dapat selamat dan kehancuran akibat serangan-serangan dan bangsa Mongol, baik serangan Kulagu Khan maupun Timunlenk.



B.     Rumusan Masalah
Berdasar latar belakang masalah di atas, maka penulis merumuskan beberapa masalah yang akan inenjadi pembahasan dalam makalah mi, yaitu:
1.      Bagaimana sejarah terbentuknya dinasti Mamluk?
2.      Bagaimana kemajuan yang dicapai oleh dinasti Mamluk?
3.      Apa penyebab kemunduran dan kehancuran dinasti Mamluk?

Jumat, 20 Mei 2011

PERTIMBANGAN ETIKA AGAMA DALAM APLIKASI ILMU


BAB I
PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang
Dewasa ini ilmu pengetahuan mengalami perkembangan yang amat pesat. Perkembangan tersebut melahirkan kemajuan teknologi yang sangat maju sehingga manusia dapat merasakan berbagai kemudahan dan kenikmatan hidup. Hanya saja kemajuan yang dimaksud tidak merata di berbagai belahan bumi sehingga kualitas hidup manusia pun tidak merata. Di satu sisi ada negara yang sangat maju, sedang di sisi lain ada negara yang sangat terbelakang. Kondisi yang lebih memprihatinkan lagi, negara maju kurang memperlihatkan kesungguhan untuk membantu negara terbelakang. Bahkan beberapa negara berkembang merasakan pahit getir penderitaan berkepanjangan dalam mengangkat harkat dan martabat rakyatnya dari berbagai aspek kehidupan yang ditimbulkan oleh negara-negara maju terlebih dahulu meraih kemajuan melalui jalur imperialism dalam beragam bentuknya.
Kemajuan ilmu agaknya tidak selalu diiringi dengan kesadaran akan nilai-nilai kemanusiaan yang tinggi. Masyarakat di negara maju pun tidak luput dari persoalan yang ditimbulkan oleh kemajuan ilmu dan teknologi. Masyarakatnya cenderung bersifat materialistis, individualism, dan lebih longgar di dalam menerapkan nilai-nilai moral keagamaan. Ada benarnya ungkapan yang menyatakan bahwa “kendati pun ilmu dan teknologi mungkin menyumbang pada usaha perbaikan kualitas kehidupan manusia namun bukan pula sumber yang mewakili kemampuan apalagi kemutlakan berlakunya-sesuatu nilai’. Dominasi negara-negara maju terhadap negara-negara berkembang berlangsung terus hingga sekarang.
Meskipun disadari bahwa tidak semua yang datang dari barat itu baik, namun pengaruh budaya dari negara maju semakin sulit dielakkan. Dikatakan bahwa arus pengaruh globalisasi yang sedang melanda kemanusiaan di seantero jagad memancar terutama dari pusat yang kuat terhadap lingkaran yang lemah. Ilmu berkembang pesat di negara maju. Namun seperti dikatakan Kuntowijoyo, hampir semua cabang ilmu pengetahuan yang berkembang di barat muncul dari pendekatan non agama, jika bukan anti agama. Hanya dirasakan oleh  masyarakat di Barat saja, namun menjalar ke berbagai belahan bumi.[1]
Pertimbangan “etika agama dalam aplikasi limu” perlu dipikirkan dan diusahakan untuk menata kehidupan lebih baik. Ilmu-ilmu yang mampu mengangkat kualitas hidup manusia secara lahiriah perlu diintegrasikan dengan ilmu-ilmu yang membawa kepada kesejahteraan batin, melainkan akan membahas secara ringkas landasan untuk melakukan hal tersebut, terutama dari sudut pandang kitab suci sebagai pedoman hidup umat Islam, yaitu al-Qur’an.
B.  Rumusan Masalah
Berbagai latar belakang di atas, maka dirumuskan beberapa masalah yang akan dibahas makalah ini, sebagai berikut:
1.    Bagaimana definisi etika, agama, dan ilmu?
2.    Bagaimana pertimbangan etika agama dalam aplikasi ilmu?

Selasa, 17 Mei 2011

SAFAWI DAN MUGHAL


 BAB I
PENDAHULUAN

A.Latar Belaang
            Sejarah mencatat bahwa dunia Islam mengalami masa kemunduran setelah bangsa Mongol mengadakan serangan kewilayah barat. Satu demi satu wilayah-wilayah Islam jatuh ketangan mereka.Transoxiana dan khawarizm dikalahkannya pada 1219 M, Gasna pada 1221 M, Azerbaijan pada 1224 M dan saljuk di Asia kecil pada 1243 M. Setiap daerah yang dilaluinya juga hancur, bangunan- bangunan yang bernilai sejarah, Sekolah-sekolah, gedung-gedung dan mesjid-mesjid musnah dibakar. Demikian pula pembantaian terjadi secara besar-besaran.
            Serangan yang dilakukan oleh bangsa Mongol tidak hanya sampai di sana, tetapi juga Baghdad sebagai pusat kebudayaan dan peradaban Islam yang sangat kaya dengan khasanah ilmu pengetahuan juga hancur dibumi hanguskan pada 1258 M.[1] Kehancuran kota Baghdad ini merupakan pukulan telak yang menentukan bagi peradaban Islam selanjutnya.
            Ekspansi terakhir yang dilakukan bangsa Mongol terjadi pada permulaan abad XV dipimpin oleh Timur Lenk yang terkenal bengisnya. Pada waktu itu bangsa Mongol yang ada diwilayah barat telah memeluk Islam. Akan tetapi, hal itu tidak membawa perubahan pada tingkah laku mereka termasuk Timur Lenk. Kebiadaban tampak dalam usahanya menumpuk tengkorak nanusia sebanyak 70.000 setelah serbuan ke kota ispahan di Persia. Kerajaan Timurlah yang di bangun Timur Lenk terpecah belah pada akhir abad XV, hingga akhirnya runtuh. Wilayah kerajaan tersebut kemudian diperebutkan oleh dua suku Turki, yaitu Kara Koyunlu dan Ak Koyunlu.
            Pada kurun waktu 1500-1800 M, pasca keruntuhan dinasti bangsa Mongol, muncul tiga kerajaan besar. Tiga kerajaan tersebut adalah kerajaan Turki Usmani di Turki, kerajaan Safawi di Persia dan kerajaan Mughal di India. Ketiga kerajaan ini kemudian mencapai kemajuannya dan kejayaanya masing-masing. Meskipun umat Islam pada masa ini meraih kemajuan diberbagai bidang, tapi belum dapat menyaingi kemajuan yang dicapai pada masa Dinasti Abbasiyah, khususnya pada bidang Ilmu pengetahuan. Namun menarik untuk dikaji, karena kemajuan pada masa ini terwujud setelah dunia Islam mengalami kemunduran beberapa abad lamanya.[2]
            Sedangkan Islam di perkirakan masuk ke India pada abad ke-7 melalui jalur perdagangan. Dalam rangka perluasan wilayah Islam, Khalifah Umar bin Khattab dan Usman bin Affan pernah merencanakan untuk menaklukkan India. Namun rencana itu baru bisa dilaksanakan secara efektif pada masa pemerintahan bani Umayyah yang berpusat di Damaskus. Pada masa itu awal dari kekuasaan Islam di India. Barulah gubernur Irak yang bernama Hajjaj bin Yusuf As-Saqifi pada masa khalifah Umayyah, al-Walid bin Abdul Malik yang mengirimkan eksepedisi untuk menangani perampokkan kapal yang di lakukan oleh suatu kelompok yang di lakukan Raja Dahir (salah seorang penguasa di Sind) pada tahun 706 di Dybut (dekat karachi sekarang). Kapal-kapal yang dirampok tersebut berisi hadiah tanda persahabatan Raja Sri Lanka kepada khalifah al-Walid bin Abdul Malik. Eksedisi yang di pimpin oleh seorang jendral perang yang berusia delapan belas tahun bernama Muhammad bin Qasim dan sejak, itu Muhammad bin Qasim berhasil menguasai Dibul dan membebaskan para sandra. Bahkan Raja Dhahir sendiri terbunuh dalam pertempuran tersebut. Kemudian pada 713, wilayah Multan di kuasai Muhammad Qasim dan sejak itu Muhammad Qasim menjadi seorang gubernur Sind untuk pemerintahan Umayyah. Kecakapannya memimpin Sind mendorong banyak orang India masuk Islam.
Setelah Muhammad bin Qasim, ada 10 gubernur dari pemerintahan Umayyah dan 30 dari gubernur dari pemrintahan Abbasiyah yang melanjutkan kekuasaan Islam di India sejak itu melalu kontak senjata antara penguasa Hindu India dan penguasa Islam di berbagai wilayah dekat India, secara bertahap bermunculan berapa wilayah kekuasaan Islam di daerah ini. Sebagai contoh ialah keberhasilan Dinasti Gasnawi menguasai wilayah India, antara lain Wahid Mulatan, Nardin, Thanisar, Barn, Mathura, setelah Gazanawi muncul sejumlah penguasa Islam lainnya seperti Dinasti Guri di India yang berlangsung dari 1173 hingga 1556. Kesultanan Delhi ini tercatat ada beberapa Dinasti yang berkuasa yaitu Dinasti Mamluk (1206-1290), Dinasti Khalji (1206-1320), Dinasti Tugluq (1320-1413), Dinasti Sayid (1414-1451), dan Dinasti Lody (1451-1526). Penguasa Dinasti Lody yang berakhir adalah Ibrahim Lody, tidak dapat memprtahankan kekuasaannya berbagai pemberontakan dan pertentangan Interen keluarga. Penguasa, Kabul, Bubur, saat itu berhasil menyelesaikan kericuhan dalam Dinasti Lody, sehingga pada 1526 ia berhasil menegakkan Dinasti Mogul di anak benua India.[3]                 
B. Rumusan Masalah
            Berdasarkan uraian di atas, maka pembahasan makalah ini dibatasi pada kerajaan Safawi di Persia yang dipokuskan pada tiga masalah utama, yaitu masa pembentukan, masa kemajuan, dan masa kemunduran. Adapun rumusan masalahnya adalah sebagai berikut:
  1. Bagaimana proses pembentukan kerajaan Safawi dan Pembentukan Kerajaan Mughal ?
  2. Bagaimana kemajuan yang di capai kerajaan Safawi dan Perkembangan dan Kemajuan Kerajaan Mughal  ?
  3. Bagaimana kemunduran kerajaan Safawi dan Kemunduran dan Kehancuran Kerajaan Mughal ?

Senin, 16 Mei 2011

SERANG-SERANGAN BANGSA MONGOL



BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang.
Bersamaan dengan berakhirnya kekuasaan Bani Umayyah, Abdullah As-Saffah ibn Muhammad ibn Ali ibn Abdullah ibn Abbas, membangun dinasti Abbasiyah. Di masa kekuasaan dinasti mereka, dunia Islam mengalami masa kejayaan. Mulai dari Cordoba di Spanyol sampai ke Multan di Pakistan, mengalami pengembangan di segala bidang, khususnya bidang Ilmu Pengetahuan dan Seni. Kala Barat masih bergelut dengan kegelapan, kebodohan dan primitif, asyik dengan jampi-jampi dan  dewa-dewa, dunia Islam sudah sibuk dengan penelitian di laboratorium dan observatorium. Ajaran agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad Saw ini, telah mendorong lahirnya suatu kebudayaan baru yaitu kebudayaan Islam. Sehingga menggerakkan terciptanya ilmu-ilmu pengetahuan dalam lapangan agama (ilmu naqli). Kemudian ketika umat Islam keluar dari Jazirah Arab, dan bersentuhan dengan perbendaharaan Yunani, akhirnya menimbulkan dorongan munculnya berbagai Ilmu  Pengetahuan di bidang akal (ilmu aqli).[1]
Namun ketika kejayaan itu sudah dalam genggaman, kala kemewahan telah menjadi keniscayaan dalam kekuasaan, maka lahirlah sebuah era pemerintahan dari para penguasa (khalifah) yang lemah. Hedonisme menjadi tujuan hidup, sehingga aspek penting pembangun keutuhan kekuasaan – yakni memberikan pelayanan yang adil kepada rakyat – tidak lagi menjadi prioritas. Ketika semua faktor internal tersebut terakumulasi, akhirnya muncullah senjata pamungkas yang meruntuhkan kekhalifahan dalam bentuk serbuan kaum barbar (Mongol dan Tartar).[2]
Ratusan ribu mayat tanpa kepala berserakan dan tumpang tindih memenuhi jalan-jalan, parit-parit dan lapangan-lapangan. Di sekitarnya bangunan-bangunan yang megah dan indah tinggal puing-puing dan rongsokan. Asap masih mengepul dari bangunan-bangunan yang di bakar. Tentara dari pangkat rendah sampai tinggi sibuk memenggal kepala ribuan manusia, kemudian memisahkan kepala yang terpisah dari tubuhnya itu menurut kelompok : kepala wanita, anak-anak, orang tua, dipisahkan antara satu dengan lainnya. Sungai Dajlah atau Tigris berubah menjadi hitam disebabkan tinta dari ribuan manuskrip yang dilemparkan ke dalamnya. Perpustakaan, rumah sakit, masjid, madrasah, tempat permandian dan rumah para bangsawan, tokoh dan rumah makan – semuanya dihancurkan.
Demikianlah, kota yang selama beberapa abad menjadi pusat terbesar peradaban Islam itupun musnah dalam sekejap mata. Setelah puas, pasukan penakluk itupun, pergi tanpa penyesalan sedikitpun. Mereka hanya sibuk mengumpulkan barang-barang jarahan yang berharga: timbunan perhiasan yang tak ternilai harganya, berkilo-kilo batangan emas dan uang dinar, intan berlian – semuanya dimasukkan ke dalam ratusan karung dan diangkut dalam iringan gerobak dan kereta yang sangat panjang.
Demikianlah gambaran sekilas kebengisan dan teror yang dilakukan tentara Mongol dilebih separo daratan Asia dan Eropa Timur sejak awal sampai pertengahan abad ke-13 Masehi. Timbul pertanyaan: jenis manusia dan bangsa macam apakah orang-orang Mongol pada abad ke-13 itu? Mengapa mereka tiba-tiba muncul menjadi kekuatan yang menggemparkan dunia beradab dan dapat menaklukan wilayah yang sangat luas. Dari ujung timur negeri China sampai ujung barat Polandia, dari batas utara Rusia sampai batas selatan teluk Parsi – semua ditundukkan dan dikuasai hanya dalam waktu kurang lebih 40 tahun.
B. Rumusan Masalah
Sebagaimana latar belakang yang dikemukakan di atas, maka dapat dirumuskan beberapa masalah pokok dalam makalah ini yaitu :
1.  Bagaimanakah sejarah kepribadian Jenghis Khan dan bangsa Mongol pada umumnya?
2.  Bagaimana bangsa Mongol berperang melawan negeri Islam?
3.  Bagaimana Penyerbuan yang dilakukan Timur Lenk?

Selasa, 10 Mei 2011

ABU BAKAR DAN UMAR BIN KHATTAB


oleh : Muhammad Irham. S. Th. I
BAB I
PENDAHULUA
  1. Latar Belakang
Setelah Nabi Muhammad saw., di Madinah pada tahun 11 H atau 632 M, tugas-tugas keagamaan dan pemerintahan diteruskan para penggantinya (khulafa>). Diantara empat khalifah itu, dua diantaranya merupakan mertua Nabi Muhammad saw., dan dua lainnya merupakan menantu Nabi Muhammad saw. Keempat khali>fah tersebut dalam sejarah Islam lebih dikenal dengan sebutan al-Khulafa> al-Ra>syidu>n, yang berarti para khali>fah yang terpercaya atau yang mendapat petunjuk, sesuatu gelar yang berkaitan dengan kepemimpinan dan kapasitas mereka sebagai kepala pemerintahan dan kepala agama dalam mempertahankan kemurnian agama Islam dalam berbagai aspek kehidupan sebagaimana telah dicontohkan Nabi Muhammad saw. dalam mewujudkan kemashlahatan umat.
Keempat khali>fah tersebut memerintah selama kurang lebih tiga puluh tahun, mulai dari 11-40 H (632-661 M). Khali>fah Abū Bakar al-Şiddīq memerintah dari tahun 11-13 H, khali>fah  'Umar Ibn Khaţţa>b dari tahun 13-23 H, khali>fah  'Usma>n dari tahun 23-35 H dan khali>fah  'Ali> dari tahun 35 sampai 40 H.
Dalam makalah ini, penulis akan membatasi pokok pembahasan seputar dua dari empat khali>fah tersebut, yaitu khali>fah Abū Bakar al-Şiddīq dan 'Umar Ibn Khaţţa>b, yang menjadi tugas dari pemakalah ini.
Pembahasan mengenai kedua tokoh ini berkisar seputar biografi; yang mencakup nama lengkap, nasab, sifat, sikap dan kedudukannya, dan peranan kedua tokoh tersebut sebagai khali>fah; mengungkapkan seputar masa suksesi, pidato perdana, terobosan khalifah baik internal maupun eksternal.
  1. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut, maka pembahasan ini akan menyingkap dua hal:
1.      Bagaimana biografi  Abū Bakar al-Şiddīq dan 'Umar Ibn Khaţţa>b?
2.      Bagaimana  peranan  Abū Bakar al-Şiddīq dan 'Umar Ibn Khaţţa>b sebagai
      khali>fah?

KERAJAAN SAFAWI & MUGHAL



 BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belaang
            Sejarah mencatat bahwa dunia Islam mengalami masa kemunduran setelah bangsa Mongol mengadakan serangan kewilayah barat. Satu demi satu wilayah-wilayah Islam jatuh ketangan mereka.Transoxiana dan khawarizm dikalahkannya pada 1219 M, Gasna pada 1221 M, Azerbaijan pada 1224 M dan saljuk di Asia kecil pada 1243 M. Setiap daerah yang dilaluinya juga hancur, bangunan- bangunan yang bernilai sejarah, Sekolah-sekolah, gedung-gedung dan mesjid-mesjid musnah dibakar. Demikian pula pembantaian terjadi secara besar-besaran.
            Serangan yang dilakukan oleh bangsa Mongol tidak hanya sampai di sana, tetapi juga Baghdad sebagai pusat kebudayaan dan peradaban Islam yang sangat kaya dengan khasanah ilmu pengetahuan juga hancur dibumi hanguskan pada 1258 M.[1] Kehancuran kota Baghdad ini merupakan pukulan telak yang menentukan bagi peradaban Islam selanjutnya.
            Ekspansi terakhir yang dilakukan bangsa Mongol terjadi pada permulaan abad XV dipimpin oleh Timur Lenk yang terkenal bengisnya. Pada waktu itu bangsa Mongol yang ada diwilayah barat telah memeluk Islam. Akan tetapi, hal itu tidak membawa perubahan pada tingkah laku mereka termasuk Timur Lenk. Kebiadaban tampak dalam usahanya menumpuk tengkorak nanusia sebanyak 70.000 setelah serbuan ke kota ispahan di Persia. Kerajaan Timurlah yang di bangun Timur Lenk terpecah belah pada akhir abad XV, hingga akhirnya runtuh. Wilayah kerajaan tersebut kemudian diperebutkan oleh dua suku Turki, yaitu Kara Koyunlu dan Ak Koyunlu.
            Pada kurun waktu 1500-1800 M, pasca keruntuhan dinasti bangsa Mongol, muncul tiga kerajaan besar. Tiga kerajaan tersebut adalah kerajaan Turki Usmani di Turki, kerajaan Safawi di Persia dan kerajaan Mughal di India. Ketiga kerajaan ini kemudian mencapai kemajuannya dan kejayaanya masing-masing. Meskipun umat Islam pada masa ini meraih kemajuan diberbagai bidang, tapi belum dapat menyaingi kemajuan yang dicapai pada masa Dinasti Abbasiyah, khususnya pada bidang Ilmu pengetahuan. Namun menarik untuk dikaji, karena kemajuan pada masa ini terwujud setelah dunia Islam mengalami kemunduran beberapa abad lamanya.[2]
            Sedangkan Islam di perkirakan masuk ke India pada abad ke-7 melalui jalur perdagangan. Dalam rangka perluasan wilayah Islam, Khalifah Umar bin Khattab dan Usman bin Affan pernah merencanakan untuk menaklukkan India. Namun rencana itu baru bisa dilaksanakan secara efektif pada masa pemerintahan bani Umayyah yang berpusat di Damaskus. Pada masa itu awal dari kekuasaan Islam di India. Barulah gubernur Irak yang bernama Hajjaj bin Yusuf As-Saqifi pada masa khalifah Umayyah, al-Walid bin Abdul Malik yang mengirimkan eksepedisi untuk menangani perampokkan kapal yang di lakukan oleh suatu kelompok yang di lakukan Raja Dahir (salah seorang penguasa di Sind) pada tahun 706 di Dybut (dekat karachi sekarang). Kapal-kapal yang dirampok tersebut berisi hadiah tanda persahabatan Raja Sri Lanka kepada khalifah al-Walid bin Abdul Malik. Eksedisi yang di pimpin oleh seorang jendral perang yang berusia delapan belas tahun bernama Muhammad bin Qasim dan sejak, itu Muhammad bin Qasim berhasil menguasai Dibul dan membebaskan para sandra. Bahkan Raja Dhahir sendiri terbunuh dalam pertempuran tersebut. Kemudian pada 713, wilayah Multan di kuasai Muhammad Qasim dan sejak itu Muhammad Qasim menjadi seorang gubernur Sind untuk pemerintahan Umayyah. Kecakapannya memimpin Sind mendorong banyak orang India masuk Islam.
Setelah Muhammad bin Qasim, ada 10 gubernur dari pemerintahan Umayyah dan 30 dari gubernur dari pemrintahan Abbasiyah yang melanjutkan kekuasaan Islam di India sejak itu melalu kontak senjata antara penguasa Hindu India dan penguasa Islam di berbagai wilayah dekat India, secara bertahap bermunculan berapa wilayah kekuasaan Islam di daerah ini. Sebagai contoh ialah keberhasilan Dinasti Gasnawi menguasai wilayah India, antara lain Wahid Mulatan, Nardin, Thanisar, Barn, Mathura, setelah Gazanawi muncul sejumlah penguasa Islam lainnya seperti Dinasti Guri di India yang berlangsung dari 1173 hingga 1556. Kesultanan Delhi ini tercatat ada beberapa Dinasti yang berkuasa yaitu Dinasti Mamluk (1206-1290), Dinasti Khalji (1206-1320), Dinasti Tugluq (1320-1413), Dinasti Sayid (1414-1451), dan Dinasti Lody (1451-1526). Penguasa Dinasti Lody yang berakhir adalah Ibrahim Lody, tidak dapat memprtahankan kekuasaannya berbagai pemberontakan dan pertentangan Interen keluarga. Penguasa, Kabul, Bubur, saat itu berhasil menyelesaikan kericuhan dalam Dinasti Lody, sehingga pada 1526 ia berhasil menegakkan Dinasti Mogul di anak benua India.[3]                 
B. Rumusan Masalah
            Berdasarkan uraian di atas, maka pembahasan makalah ini dibatasi pada kerajaan Safawi di Persia yang dipokuskan pada tiga masalah utama, yaitu masa pembentukan, masa kemajuan, dan masa kemunduran. Adapun rumusan masalahnya adalah sebagai berikut:
  1. Bagaimana proses pembentukan kerajaan Safawi dan Pembentukan Kerajaan Mughal ?
  2. Bagaimana kemajuan yang di capai kerajaan Safawi dan Perkembangan dan Kemajuan Kerajaan Mughal  ?
  3. Bagaimana kemunduran kerajaan Safawi dan Kemunduran dan Kehancuran Kerajaan Mughal ?

FACEBOOK COMENT

ARTIKEL SEBELUMNYA

 
Blogger Templates