Minggu, 22 Mei 2011

TOLERANSI DALAM PERSPEKTIF HADIS NABI Saw

Oleh: Muhammad Zulkarnain Mubhar
Pendahuluan
Agama yang dengannya Allah Swt mengutus Muhammad Saw merupakan agama penutup dan penyempurna dari agama-agama terdahulu, dia merupakan risalah terakhir yang dittujukan kepada jin dan manusia hingga akhir zaman, maka wajar jika risalah ini memiliki karakteristik yang unik yang menjadikannya senantiasa relevan pada setiap tempat dan zaman kepada seluruh umat manusia di atas bumi, diantara karakteristik utama agama ini adalah toleransi dan kemudahan baik antar muslim maupun kepada non muslim dalam setiap sendi-sendi kehidupan mulai dari ibadah, interaksi sosial, akhlak dan adab.
Toleransi terhadap non muslim merupakan pembahasan ilmiyah yang telah menyita perhatian para ilmuan Islam sejak dahulu. Diantara contoh-contoh kajian para ulama tentang hal ini adalah karya al-Khilal yang berjudul "Hukum toleransi antar agama" dan karya Ibnul Qayyim yang berjudul "Hukum Ahli Zimmah", jika kita merujuk kepada kedua karya ini, maka kita akan menemukan pembahasan yang sangat terperinci dan ilmiyah tentang toleransi antar umat beragama.
Oleh karena itu melalui tulisan ini penulis berusaha untuk mengkaji tentang toleransi ditinjau dari hadis Nabi Saw berdasarkan masalah berikut: Apa itu toleransi ? dan Bagaimana toleransi dalam Islam berdasarkan Hadis Nabi Saw?

ASPEK PENGENALAN DIRI DALAM TASAWUF

oleh : Imam Zarkasyi Mubhar. S. Th. I
Aspek Akal dan Kedudukannya
Kemajuan peradaban manusia pada starata materi telah mencapai puncaknya. Terbentang dari masa lampau akan sederhananya perangkat pergerakan  manusia sampai mata dapat melihat gemerlapnya dunia di atas kecanggihan teknologi saat ini. Kesemuanya itu terjadi diakibatkan oleh bingkai ekspresi dan imajinasi akal yang dimiliki oleh manusia.
Sebagaimana yang disepakati bahwa fungsi akal adalah mendefenisikan segenap materi yang ditangkap melalui penginderaan manusia di alam nyata. Dengan sebab itulah pada saat bersamaan akal pun memiliki desakan untuk mengeksplorasi secara progresif dan kritis terhadap bentuk dan pola hidupnya.
Walaupun dalam kemajuan materi yang sangat tinggi dan kehidupan  dengan finansial berada dalam taraf yang mapan, manusia pada akhirnya tetap lebih banyak yang menemukan kebahagiaan dan ketenangan hidup, padahal mereka sangat membutuhkan hal tersebut. Kenyataan ini telah menjadi telah menjadi pemandangan yang sangat nyata bagi sebuah peradaban moderen yang di ciptakan oleh manusia. Padahal dalam falsafah hidup manusia moderen tingkat kemajuan materi dalam sebuah garus seiring dan sejalan dengan semakin sempurnanya kebahagiaan yang  mereka peroleh, akan tetapi kenyataannya tidak demikian.[1]

Sabtu, 21 Mei 2011

ISLAM DAN DINAMIKA

oleh : Amrullah, S.Th.I
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
            Dinamika[1] adalah suatu proseses terjadinya perubahan dalam tatanan kehidupan bermasyarakat yang meliputi perubahan sikap,  pola pikir, dan tingkah laku[2]. Dengan dinamika tersebut cenderung berakeses pada terjadinya pergeseran-pergeseran nilai dalam tatanan kehidupan masyarakat, yang berimplikasi pada tercipatanya sebuah tatanan baru dalam kehidupan. Dinamika tersebut merupakan suatu konsekuensi yang dialami dan mesti terjadi dalam suatu kelompok masyarakat bahkan kepada seluruh manusia.
            Masyarakat[3] memiliki kecenderungan selalu berubah dan berkembang, dan perubahan tersebut akan selalu berlaku pada semua masyarakat manusia, setiap saat di manapun mereka hidup dan berada. Kadangkala perubahan itu berlangsung secara tiba-tiba dan serentak, misalnya suatu sistem pemerintahan dihancurkan oleh revolusi dan kemudian digantikan oleh pemerintahan yang berbeda dengan tatanan atau orde sebelumnya. Kadangkala secara lambat gradual yang sukar diterima masyarakat, malahan anggota masyarakat tersebut tak sadar atau tak memperhatikan akan berlakunya perubahan yang telah melanda kehidupan mereka.
            Manusia yang hidup bermasyarkat ialah subyek serta obyek perubahan. Proses perubahan mungkin berlangsung  dalam berbagai jenis kemajuan, yang lambat-sedang dan yang cepat, atau secara evolusi dan revolusi.
            Perubahan dapat menyangkut tentang berbagai hal, perubahan fisikal oleh proses alami dan perubahan kehidupan manusia oleh dinamika kehidupan itu sendiri.[4]
            Apabila ditinjau dalam perspektif Islam, Muhammad sebagai pembawa risalah dengan melakukan berbagai perubahan-perubahan dalam masyarakat Jahiliyah, dari masyarakat yang polities (sebagai penyembah berhala)[5] ke monoteis (menyembah hanya kepada Allah), dan selanjutnya berlanjut dari masa ke masa hingga sekarang. Perjalanan dari waktu ke waktu tersebut dengan proses terjadainya perubahan adalah merupakan sebuah dinamika.
            Perjalanan waktu dengan berbagai peristiwa yang terjadi di dalamnya adalah merupakan dinamika yang secara mutlak akan terjadi dan mengisi kehidupan umat manusia itu sendiri.
            Oleh karena itu, dalam makalah ini, penulis akan mencoba mengkaji suatu pokok masalah yaitu Dinamika Masyarakat Modern dalam Perspektif Islam, dengan sub hahasan; (1) dinamika dalam masyarakat Islam, (2) dinamikan dalam masyarakat modern, dan (3) implikasi kemajuan modern terhadap masyarakat Islam

TEORI-TEORI EPISTEMOLOGI


(Fenomenologi dan Intuisionisme)

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
            Secara umum epistemologi dapat dijelaskan sebagai cabang dari filsafat yang membahas ruang lingkup dan batas-batas pengetahuan, epistemologi adalah suatu cabang filsafat yang bersangkut paut dengan teori pengetahuan. Studi ini mencari jalan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan mendasar yang meliputi pengkajian sumber-sumber watak dan kebenaran pengetahuan, yaitu apakah yang diketahui oleh akal manusia? Darimanakah kita memperoleh pengetahuan yang diandalkan atau kita harus puas dengan pendapat-pendapat dan sangkaan? Apakah kemampuan kita terbatas dalam mengetahui fakta pengalaman indera, atau kita dapat mengetahui lebih jauh daripada apa yang diungkapkan oleh indera?
            Sebelum sampai pada pembahasan teori epistemologi fenomenologi dan intuisionalisme, kita klasifikasikan terlebih dahulu persoalan-persoalan dalam bidang epistemologi. Menurut Prof. Dr. Juhaya S.Praja, terdapat tiga persoalan dalam bidang epistemologi, yaitu :
  1. Apakah sumber-sumber pengetahuan itu? Darimana pengetahuan yang benar itu datang, dan bagaimana kita dapat mengetahui? Ini semua adalah problem asal (origin)
  2. apakah watak dari pengetahuan? Apakah dunia yang riil diluar akal itu ada, kalau ada, dapatkah kita mengetahuinya?
  3. apakah pengetahuan kita itu benar (valid)? Bagaimana kita membedakan antara kebenaran dan kekeliruan? Ini adalah problema mencoba kebenaran(verification).[1] 
                  Dalam perkembangan pemikiran tentang persoalan-persoalan epistemologi diatas, telah muncul berbagai teori, dari yang menggunakan rasio, kemampuan inderawi manusia, sampai dengan kekuatan dibalik kemampuan indera manusia.
                  Diantara teori-teori yang telah membuka wawasan kita tentang persoalan epistemologi adalah teori Fenomenologi dan intuisionalisme. Teori ini telah membuka tabir kebenaran pengetahuan dalam filsafat.
B. Rumusan Masalah
Untuk mengenal lebih jauh epistemologi  Fenomenologi dan intuisionalisme, penulis akan membahasnya dalam 2 pokok permasalahan:
1.      Apa pengertian fenomenologi dan bagaimana pandangan tokohnya dalam memperoleh pengetahuan?.
2.      bagaimanakah pandangan intuisionalisme  tentang cara memperoleh pengetahuan?

Jumat, 20 Mei 2011

PERTIMBANGAN ETIKA AGAMA DALAM APLIKASI ILMU


BAB I
PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang
Dewasa ini ilmu pengetahuan mengalami perkembangan yang amat pesat. Perkembangan tersebut melahirkan kemajuan teknologi yang sangat maju sehingga manusia dapat merasakan berbagai kemudahan dan kenikmatan hidup. Hanya saja kemajuan yang dimaksud tidak merata di berbagai belahan bumi sehingga kualitas hidup manusia pun tidak merata. Di satu sisi ada negara yang sangat maju, sedang di sisi lain ada negara yang sangat terbelakang. Kondisi yang lebih memprihatinkan lagi, negara maju kurang memperlihatkan kesungguhan untuk membantu negara terbelakang. Bahkan beberapa negara berkembang merasakan pahit getir penderitaan berkepanjangan dalam mengangkat harkat dan martabat rakyatnya dari berbagai aspek kehidupan yang ditimbulkan oleh negara-negara maju terlebih dahulu meraih kemajuan melalui jalur imperialism dalam beragam bentuknya.
Kemajuan ilmu agaknya tidak selalu diiringi dengan kesadaran akan nilai-nilai kemanusiaan yang tinggi. Masyarakat di negara maju pun tidak luput dari persoalan yang ditimbulkan oleh kemajuan ilmu dan teknologi. Masyarakatnya cenderung bersifat materialistis, individualism, dan lebih longgar di dalam menerapkan nilai-nilai moral keagamaan. Ada benarnya ungkapan yang menyatakan bahwa “kendati pun ilmu dan teknologi mungkin menyumbang pada usaha perbaikan kualitas kehidupan manusia namun bukan pula sumber yang mewakili kemampuan apalagi kemutlakan berlakunya-sesuatu nilai’. Dominasi negara-negara maju terhadap negara-negara berkembang berlangsung terus hingga sekarang.
Meskipun disadari bahwa tidak semua yang datang dari barat itu baik, namun pengaruh budaya dari negara maju semakin sulit dielakkan. Dikatakan bahwa arus pengaruh globalisasi yang sedang melanda kemanusiaan di seantero jagad memancar terutama dari pusat yang kuat terhadap lingkaran yang lemah. Ilmu berkembang pesat di negara maju. Namun seperti dikatakan Kuntowijoyo, hampir semua cabang ilmu pengetahuan yang berkembang di barat muncul dari pendekatan non agama, jika bukan anti agama. Hanya dirasakan oleh  masyarakat di Barat saja, namun menjalar ke berbagai belahan bumi.[1]
Pertimbangan “etika agama dalam aplikasi limu” perlu dipikirkan dan diusahakan untuk menata kehidupan lebih baik. Ilmu-ilmu yang mampu mengangkat kualitas hidup manusia secara lahiriah perlu diintegrasikan dengan ilmu-ilmu yang membawa kepada kesejahteraan batin, melainkan akan membahas secara ringkas landasan untuk melakukan hal tersebut, terutama dari sudut pandang kitab suci sebagai pedoman hidup umat Islam, yaitu al-Qur’an.
B.  Rumusan Masalah
Berbagai latar belakang di atas, maka dirumuskan beberapa masalah yang akan dibahas makalah ini, sebagai berikut:
1.    Bagaimana definisi etika, agama, dan ilmu?
2.    Bagaimana pertimbangan etika agama dalam aplikasi ilmu?

FACEBOOK COMENT

ARTIKEL SEBELUMNYA

 
Blogger Templates