BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang Masalah
Menjelang pertengahan abad keenam sesudah Masehi, dunia berada
dalam keadaan gelap dan parah dengan keadaan spiritual yang merusak kehidupan
spiritual manusia. Keserakahan dan tirani telah menjarah kesejahteraan
moralnya, dan penindasan telah melumpuhkan mayoritas penduduknya. Bangsa-bangsa
yang dulunya pernah merdeka dan produktif , peradaban tertua di dunia , seperti
Assyria, Phunisia dan Mesir, kini tidak berkutik dibawah ancaman dan cengkraman
Serigala Romawi. Sementara peradaban Babilonia yang menderita akibat dominasi
Persia yang sama-sama tiranisnya,hanya dibolehkan hidup Marginal (pas-pasan)
sementara semua kekayaan negerinya, tanah subur antara dua sungai (Eufrat dan
Tigris) disedot untuk memenuhi perbendaharaan para kaisar Persia dan kaki
tangannya.
Bangsa
Arab yang tanahnya terletak antar Imperium Persia dan Romawi, merupakan sebuah
negeri yang menyedihkan. Agama mereka yang sebenarnya merupakan Monoteisme
paling murni, yakni Agama Nabi Ibrahim telah diselewengkan oleh generasi demi
generasi.
Ketika
manusia melupakan sumber mulia kehidupan batinnya dan secara tamak sibuk dengan
kehidupan dunia dan kemegahannya, seorang Rasul diutus Oleh Allah untuk
menunjukkan kepada jalan yang telah dilupakannya, dan memperingatkan mereka
akan ajaran yang telah dilalaikan atau diabaikannya. Tetapi selama jangka waktu
yang lama tidak terlihat tanda-tanda dan terdengar firman Allah. Zaman itu
menjadi titik nadir (terendah) dalam pemikiran manusia.[1]
Karena
banyaknya ramalan tentang kedatangnnya, setiap orang menunggu kedatangan Nabi
Muhammad SAW di era kegelapan sejarah manusia, manusia menunggu orang yang akan
menghancurkan keingkaran dan akan meniupkan kehidupan baru kedunia ini.
Yudaisme dan Kristen, yang aslinya adalah agama samawi (berasal dari Allah),
tak bisa menyangkal. Orang-orang mempelajari kitab-kitab lama tanpa prasangka,
khususnya Pendeta Bahira sedang menunggu kedatangannya.
Berkata
Karlil Mengenai Muhammad : “Kelahiran Muhammad adalah merupakan sumber cahaya
yang menerangi kegelapan”.[2]
Dan berkata Sir Muyer : ”belum
ada usaha perbaikan yang lebih sulit dan lebih jauh jangkaunnya dari pada saat
munculnya Muhammad. Tapi kita belum melihat suatu keberhasilan dan perbaikan
yang sempurna sebagaimana yang telah
ditinggalakan olehnya saat meninggal Dunia”.[3]
Dan
berkata Leonardo : “kalau diatas bumi ini ada orang yang benar-benar mengerti
tentang Allah, kalau di atas bumi ini ada orang yang berlaku ikhlas terhadapnya
dan meninggal dalam berkhidmat kepadanya
dengan tujuan yang mulia, dan dengan dorongan yang besar, maka sesungguhnya
orang itu adalah Muhammad. Tanpa ragu lagi , seorang Nabi dari bangsa Arab”.
Tersebut dalam ensiklopedia Britania “Sesungguhnya Muhammad mempunyai
keberhasilan yang belum pernah dicapai oleh seorang Nabi atau oleh pembangun
agama diseluruh jaman”.
Dan
berkata Buzurth : “bahwa sesungguhnya Muhammad adalah mutlak pembangun terbesar
tanpa ada pertentangan pendapat”.[4]
Adapun Muhammad dalam pandangan Umat Islam, adalah
seorang pahlawan utama. Sedang menurut pandangan para pemikir dari agama-agama
lain dia adalah pembangun umat terbesar, diakui mutlak. Oleh karena itu tidak
patut kita berbicara tentang kepahlawanan
tanpa mendahulukan tentang kepahlawanan Muhammad Saw.
B.
permasalahan
Berdasarkan
latar belakang permasalahan di atas penulis dapat menfokuskan permasalahan
sebagai berikut:
1.
bagaimana kondisi masyarakat jahiliyah sebelum datangnya Islam (lahirnya
Nabi Muhammad Saw)?
2.
Sejauh manakah rintangan dan penolakan masyarakat terhadap
pelaksanaan dakwah Nabi Muhammad Saw?
3.
Bagaimana strategi dakwah Nabi Muhammad Saw sebagai pemimpin agama?
4.
Bagaimana kedudukan Nabi sebagai kepala Negara?




