(Riwayat Hidup,
Teori Emanasi, Filsafat Jiwa, Filsafat Kenabian dan Teori Politik al-Madhinah
al-Fadhillah)
BAB 1
PENDAHULUAN
A.Latar Belakang Masalah
Pembicaraan
tentang filsafat Islam tidak biasa terlepas dari filsaat secara umum. Berfikir
filsafat merupakan hasil usaha manusia yang saling berkesinambungan diseluruh
jagad raya ini. Akan tetapi, dalam berfikir filsafat dalam rti berfikir bebas
dan mendalam radikal yang tidak dipengaruhi oleh dokmatis dan tradisi, disponsori
oleh filosof-filosof Yunani.
Aristoteles
adalah salah satu filosof dan ilmu besar didunia dimasa lampau.dia dilahirkan
diota Stagira, Macedonia, pada tahun 384 M. Dia menelopori penyelidikan
mengenai logika, memperkaya hampir setiap cabang filsafat dan memberi sejumlah
besar sumbangan terhadap ilmu pengetahuan.[1]
Buah pikiran banyak membawa pengaruh
pada filosof Islam dan berabad abad lamanya menguasai cara berpikir
Barat.
Dalam
abad 1X Morang orang arab mengenal baik sejumlah besar warisan ilmu alam,
maupun filsafat alam yunani kuno dan roma kuno. Mereka sangat gemar Akan
filsafat Aristoteles dan pengaruh abadi Aristoteles dalam masalah masalah ilmu
Alam dan logika.
Pada masa pemerintahan Bani
Umayyah, pengaruh kebudayaan yunani dalam dunia Islam belum nampak jelas
walaupun orang orang yang duduk di pemerintahan pusat tidak lagi di dominasi
oleh kalangan bangsa Arab, melainkan juga terdapat orang Persia yang banyak berkecinambungan dengan budaya yunani.
Penerjemahan karya karya
filsafat dari berbagai bahasa kebahasa Arab baru mendapat perhatian yang begitu
besar oleh Dinasti Abbasiyyah.Usaha tersebut dilakukan pertama kali oleh Al-Mansub
dan diteruskan oleh anak cucunya. Sejumlah besar karya logika yunani yang
diarabkan disambut dengan penuh gairah negeri berbaasa arab karena beberapa
alasan. Pertama, penerjemahan kajian-kajian logika dalam bahasa Arab membuat
bahasa ini bias dipakai untuk perbedaan rasional dengan orang-orang non muslm
dalam rangka mengajak mereka menganut islam. Kedua, penggunaan bahasa Arab
sesuai dangan peroyek penerjemahan berbagai manuskrip ilmiah karena logika
dapat menyusun cara berfikir dan ilmu-ilmu alam dengan menyusun penomena alam
secara sistematis.[2]
Filsafat klasik Islam bukan
sekedar filsafat Yunani yang diberi baju Islam. filsafat yunani.mengalami
pengembangan atau Islamisi ditangan para filsuf muslim. Jadi filsafat Islam
merupakan bagian dari berbagai implikasi peralanan (sejarah) Islam itu sendiri.
Akan tetapi, apabila dilihat
dari sejarah peradaban umat Islam, filsafat dalam dunia Islam merupakan gejala
dari perkembangan keilmuan dalam masyarakat Islam itu sendiri. Pengetahuan
mengenai metafisika, Tuhan, Jiwa dan manusia
yang pada mulanya diterima begitu saja, kemudian diperluas dan
dikembangkan dengan memadukan kebenaran wahyu dan akal. berdasarkan realitas tersebut,
maka bermunculan para filosof Islam Arab khususnya dan negeri-negeri Islam pada
umumnya, di antaranya al-kindi, al-farabi, Ibnu Sina dan pemikir Islam lainnya.
Di sini mengemukakan emanasi
ini tampaknya Al-Farabi ingin menegaskan tentang keesaan Allah, bahkan melebihi
Al-Kindi. Allah bukan bukan hanya dinegasikan dalam artian ‘aniah dan mahiah,[3]
tetapi juga lebih jauh lagi. Allah adalah Esa sehingga tidak mungkin
berhubungan dengan yang tidak esa atau yang banyak. Andaikan alam diciptakan
secara langsung oleh Allah, maka mengakibatkan ia berhubungan dengan yang tidak
sempurna dan ini akan menodai keesaannya. Oleh sebaba itu, dari hanya Allah
timbul satu, yakni akal pertama. Akal pertama ini mengandung arti banyak, bukan
banyak jumlah, tetapi merupakan sebab dari pluralitas. Dari itu akal pertama
berfungsi sebagai mediator antara yang Esa dan yang banyak sehingga dapat
dihindarkan hubungan langsung antara yang Esa dan yang banyak.
Jika Aristoteles, peletak dasar
ilmu logika, dikenal sebagai ‘Guru pertama’ (al-Muallim al-Awwal), maka al-farabi
dalam dunia intelektual Islam dinilai sebagai’ Guru Kedua’(al-Muallim al-Tsani).
Gelar ini diberikan kepadanya, terutama karena perhatiannya yang sangat besar
terhadap logika, serta pemahaman dan komentar-komentarnya yang sangat baik atas
kitab-kitab Aristoteles.[4]
Al-Farabi
merupakan Filsuf terkemuka pada zamannya. AL-Farabi selalu berpindah tempat
dari waktu ke waktu. Dimasa kecil ia dikenal rajin belajar dan memiliki otak
yang cerdas. Setelah besar beliau berpindah dari farab ke bagdad. Disana ia
memperdalam filsafat, logika, matematika, etika ilmu politik, musik dan lain
sebaainya. Diantara karangannya:
1.Magala fi
aghradhi ma ba’da al-tabiah. Buku ini menjelaskan tujuan dan metafisika
Aristoteles.
2. Ihsha u
al-ulum (statistik ilmu)
3. Aljam’u
baina ra’yai al-hakimain (mempertemukan pendapat kedua filosof)
4. Ara-u
ahl-il madinah al fadlillah (pikiran –pikiran warga Negara kota utama)
5. Uyun
al-masail (pokok-pokok persoalan)
6. Tahsil
as- sa’adah (mencari kebahagian)
Dalam
makalah ini penulis akan menguraikan Tentang riwayat hidup al-Farabi, pemikirannya
tentang emanasi (al-faydh), filsafat
al-Nafs, filsafat kenabian dan teori politik
(al-Madinah al- fadillah).
B. Rumusan Masalah
Adapun
pokok persoalan yang akan dibahas dalam makalah ini adalah:
1. Bagaimana Riwayat
hidup al-farabi?
2. Teori Emanasi?
3. Filsafat Jiwa?
4. Filsafat Kenabian?
5. Teori Politik?




