Kamis, 22 September 2011

PROBLEMATIKA DAN FORMAT DAKWAH DALAM ERA GLOBALISASI

Oleh   :   H.Abd.Rahim Arsyad .


                 الحمد لله الذى أمرنا  بتبليغ شريعته با لمنهج الذى رسمه في كتابه المبين ,  والصلاة والسلام على
 سيد نا محمد المبعوث رحمة للعالمين  ,   وعلى اله  وأصحابه أجمعين  ,  ومن دعى بدعوته الى يوم الدين . أما بعد.
       Pembangunan bangsa pada masa kini  akan dihadapkan pada banyak masalah dalam berbagai kehidupan manusia.  Masalah itu pada dasarnya bersumber dari perngaruh era globalisasi yang tidak dapat dihindari.


            Era globalisasi muncul bersamaan dengan terjadinya revolusi komunikasi dengan berbagai macam perwujudannya. Fenomena tersebut kemudian dikenal dengan nama kemajuan (kecanggihan) tekhnologi komunikasi dan informasi ( ICT ). Permasalahan manusia pada masa ini semakin komplex . dan diperkirakan akan semakin meningkat dimasa yang akan datang , hal tersebut harus disikapi seecara bijaksana oleh seluruh komponen masyarakat, karena hal tersebut , tidak   mudah  dihadapi apa lagi jika pandangan ditujukan kepada seluruh problema yang berkaitan dengan dakwah.
Kemajuan iptek pada era globalisasi ini pasti akan mewarnai pembangunan yang membawa fenomena transpormasi sosio cultural disemua Negara dan bangsa. Semua orang menjadi kosmopolit dan hampir  tidak ada lagi kejadian  sekecil apapun disebuah negara kecuali segera menyebar dipelosok dunia. Batas-batas system nasional disemua Negara hampir hilang dan orang diseluruh dunia saling mempengaruhi meskipun tidak bertemu muka. Apatah lagi saat sekarang  ini sudah marak situs-situs jejaring social seperti facebook, twitter dan lain sebagainya.
Globalisasi merupakan hasil dari kemajuan iptek sebgai kelanjutan  dari revolusi industri., memang telah banyak memberikan kemudahan dan kenyamanan bagi kehidupan manusia. Namun disisi lain manusia semakin tidak tenteram dan tidak ada kedamaian dalam kehidupannya akibat dari perasaan cemas dari dampak negative yang ditimbulkan oleh globalisasi. Dimana bencana dan bahaya setiap saat dapat mengancam kehidupan mereka. Ditambah lagi dengan terjadinya pergeseran cara pandang tentang nilai, dekandensi moral yang cenderung melahirkan generasi yang hedonistic  dimana masyarakat nampak kian memburu barang komsumsi yang  dinilai bisa memuaskan. Esensi kecemasan disini adalah mereka-mereka yang tidak mampu menggapai secara professional. Sehingga dapat melahirkan praktek-praktek tidak sehat seperti merampok, mencuri, menodong dan praktek-praktek lain yang bertentangan dengan agama dan kemanusiaan. Dampak social seperti criminal, kini kian menguat dan canggih dan boleh jadi kian meningkat dari segi kualitas dan kuantitasnya dimasa yang akan datang.
Dari sekian gejala social yang ditimbulkan oleh globalisasi diatas, ada fenomena umum yang dapat dirasakan atau dilihat dewasa ini apabila dikaitkan dengan dakwah, maka hal tersebut merupakan tantangan dan juga “pekerjaan rumah” bagi para da’i (juru dakwah). Artinya para da’i harus tampil dengan jurus-jurus jitu dalam menyampaikan bahasa agama pada kehidupan masyarakat yang sudah terkontaminasi dengan era globalisasi itu. Bila para da’i masih tampil dengan gaya lama, sementara kondisi kekinian tampil dengan problema globalisasi yang serba menantang, maka mau tidak mau, suka tidak suka pasti gaya lama akan “tergusur”. Akibatnya upaya-upaya untuk membumikan ajaran  islam ditengah-tengah masyarakat, baik masyarakat kota maupun masyarakat pedesaan pasti mengalamai hambatan.
Bila kita amatai dikawasan industri dan masyarakat perkotaan misalnya, berdomisili banyak ilmuan dari berbagai disiplin ilmu serta para usahawan yang sukses. Namun mereka haus ketenangan batin atau kertenangan jiwa. Iptek yang dimilikinya tidak mampu memberikan kepuasan batin dan ketenangan jiwa, sehingga mereka berusaha menemukan itu melalui pendekatan ajaran spiritual keagamaan. Mereka berusaha memadukan antara disiplin ilmu yang ditekuninya dengan ajaran-ajaran agama yang diyakininya , sehingga agama terasa dan terbukti semakin rasional dan menyentuh. Lain halnya dipedesaan ini sangat memperihatinkan, disamping terjadi kesenjangan social dan kelemahan ekonomi yang melilit mereka, ditambah lagi pengetahuan agama yang minim, juga materi dakwah yang sampai pada mereka tidak menyentuh kebutuhan yang didambakannya dan tidak menyelesaikan problema yang mereka hadapi.
Seiring dengan perkembangan  zaman dimana masyarakat semakin dinamis dan keritis tantangan dakwah islam semakin kompleks tid . oleh karena itu perlu dilakukan sebuah analisa yang akurat tentang problematika dakwa untuk mencari solusinya sehingga  dakwah yang disampaikan mampu menyentuh obyek dakwah dengan menyadari kondisi ,posisi dan peran yang harus dimainkan ummat islam  baik secara individu maupun kolektif  dimasa kini .                                                                                                         
            Era globalisasi dan kemoderenan pada dasarnya adalah suatu hal yang netral . Artinya perkembangan tersebut dapat dimanfaatkan kejalan yang baik  tidak terkecuali dalam pengembangan dakwah, namun dapat juga berdampak negative  jika hal tersebut tidak disikapi jadi perkembangan tersebut tergantung pada sikap manusia bagaimana menghadapinya  . Menyendiri atau lari dari globalisasi bukanlah solusi yang terbaik , tapi bagaimana memanfaatkan berbagai fasilitas yang ditawarkan  era globalisasi ini kejalan yang baik sesuai dengan tuntunan dan ajaran agama islam .Melihat kenyataan hidup di era globalisasi  memang penuh tantangan karena persoalan tidak sederhana bahkan semakin kompleks. Kenyataan hidup tersebut sangat mendambakan “juru selamat” yang dapat merubah mereka menuju kehidupan yang penuh kedamaian, ketentraman lahir dan batin. Masyarakat perlu dibentengi dengan nilai-nilai islam, sehingga nilai tersebut dapat melembaga dalam dirinya, dan tidak mudah goyah dengan berbagai fenomena alam kemoderenan yang sangat menantang ini.
Dalam situasi dan kondisi demikian, kehadiran syari’at islam sebagai pembawa misi rahmat untuk semuanya (rahmatan lil ‘alamin) dianggap penting dalam kehidupan bermasyarakat. Oleh karena itu perlu “dimasyarakatkan” dan dijelaskan melalui dakwah, agar masyarakat dapat memahami, menghayati dan mengamalkan ajaran itu dengan konsisten dan benar.Hal yang mendesak untuk dilakukan adalah merumuskan kembali menejmen dakwah sesuai dengan problematika yang dihadapi oleh masyarakat . Oleh karena itu  dalam pedato pengukuhan ini  saya ingin mengetengahkan  ;          
“  Bagaimana format dakwah dalam menyelesaikan problematika dakwah  diera globalisasi ini ”
                                                                                                                                   Membuat format dakwah yang tepat untuk menyuguhkan konsep dakwah dalam masyarakat sekarang ini tidaklah mudah , bahkan dakwah sendiri menghadapi sejumlah problema yang semakin kompleks oleh karena itu  pelaku dakwah perlu bersama-sama memikirkan solusi terbaik dalam menyelesaikan problema tersebut agar penyelenggaraan dakwah islamiyah dapat efektif dan mencapai sasaran yang diinginkan .Yaitu mulai dari persiapa-persiapan program yang matang dan terencana , mengadakan/menyiapakan pelaku/juru dakwah , materi dakwah yang realistis, actual  sesuai dengan kebutuhan , sampai kepada metode dan media dakwah yang digunakan begitupula  dana yang digunakan  dan lain-lain yang bertalian dengan suksesnya dakwah itu .
Mengenai penyelenggaraan dakwah islam pada umumnya dan khususnya di daerah kita ini masih menghadapi sejumlah problematika mendasar. Hal mana perlu dipikirkan bersama oleh para pakar dakwah untuk mendapatkan solusi dan rumusan terbaik agar segera diatasi antara lain :
1.       Pelaku-pelaku  dakwah belum memprogramkan dakwah secara konseptual.
Pada umumnya pelaku-pelaku dakwah baik lembaga-lembaga  maupun perorangan   belum pernah membuat program khusus yang sistimatik mengenai dakwah yang akan dilakukannya. Hal ini tercermin dari tidak adanya pelaksanaan dakwah secara terencena  dan kontinyu oleh  Pelaku-pelaku  dakwah yang ada. Karena tidak terprogramnya, maka pengaturan pembagian tugas dan penjadwalan serta penetapan para da’i dan  materi yang diberikan tidak terprogramkan dengan matang , juga menyangkut kesejahteraan pengelolah atau pengurus. Bagaimana pelaku-pelaku dakwah  bisa  mengurusi orang lain, sementara dirinya tidak terurus  “ Faqidu al-syay-i la yu’ thihi  “ demikian qaedah mengatakan .
Diera globalissi ( masa kini ) setiap lembaga keagamaan harus ditangani secara professional bukan lagi dengan cara amatiran . Karenanya disamping pengurusnya harus memiliki skill yang cukup , lembaga itu sendiri harus menyiapkan dana untuk kelancaran tugas-tugas dan program yang akan dilaksanakan khusus pengadaan tenaga –tenaga da’i yang berkualifikasi .Oleh karena kalau tidak demikian maka dakwah islam akan ketinggalan jauh terbelakang dibanding dengan lembaga-lembaga missionary keristen . sehingga objek –objek dakwah dipedesaan dan daerah terpencil menjadi sasaran empuk bagi mereka dengan mempergunakan segala macam cara untuk mempengaruhi mereka mengikuti missinya .
2.      Sistem dakwah belum dilaksanakan dan ditata secara professional .

Dewasa ini kita sering mendengar istilah  Dakwah bil-lisan dakwah bil-qalam dan dakwah bil-hal tiga jenis dakwah ini sudah diketahui bentuk dan caranya tetapi ketiganya belum pernah dirumuskan kedalam suatu system yang mapan , hal ini tidak terlepas dari mas’alah pertama diatas ,yakni belum terprogramnya dakwah itu sendiri  akibat belum adanya sistem yang baku mencakup ketiga jenis dakwah tersebut .itu yang mengakibatkan pelaksanaan dakwah sering bersifat antagonistic dan paradoksal .

3.      Tujuan dakwah belum relevan dengan permasalahan Ummat .

Pada umumnya lembaga-lembaga dakwah dan pelaku dakwah dilapangan masih menjadikan dakwah sebagai kegiatan yang bersifat rutinitas tampa menentukan tujuan yang akan dicapai . Kalaupun ada tujuannya tidak relevan dengan problema yang dihadapi masyarakat .Relevansi antara tujuan dakwah dengan permasalahan ummat menjadi keharusan sebab dakwah itu pada dasarnya merupakan upaya untuk    membawa umat mengahadapi hidup dan menyelesaikan permasalahannya secara islami sehingga mereka dapat merasakan islam sebagai rahmatan lilalamin .Tampa merumuskan tujuan tertentu yang akan dicapai , penentuan materi dakwah juga tidak mungkin dilakukan dengan baik dan tepat . Dalam keadaan seperti itu masyarakat akan memperoleh suguhan dakwah yang mungkin tidak sesuai dengan kebutuhannya ini terjadi karena materi yang disajikan kepada mereka terasa tidak membantu menyelesaikan permasalahan yang dihadapi . Bahkan sering kali suatu materi dakwah justeru menimbulkan permasalahan baru bagi umat . Hal ini sesuai dengan pernyataan Quraesy Syihab bahwa sering seorang da’i keliru memahami kondisi masyarakat yang dihadapinya baik dari segi perkembangan pergerseran nilai-nilai maupun keadaan pendengarnya sendiri yang memang berbeda , dari kekeliruan ini timbul kekeliruan yang lain  seperti  ;

a.       Materi yang disampaikan tidak  sesuai dengan harapan pendengar .
b.      Materi yang disampaikan belum saatnya disampaikan ketika itu , akibatnya timbul perbedaan pendapat dan perpecahan sangat mungkin terjadi .
c.       Materi terlalu teoritis sehingga pendengar tidak mengetahui maksud dan tujuan .Pendengarpun tidak dapat mengambil hikmah dan lain sebagainya .

Oleh karena itu ada baiknya jika saat sekarang lembaga-lembaga dakwah dan para pelaku dakwah dilapangan mengidentifikasi masalah yang sedang dihadapi umat , kemudian menyusun materi dakwah yang sesuai dengan permasalahan umat dan menurut skala perioritas . Materi-materi itulah yang akan disampaikan oleh para pelaku dakwah baik dalam bentuk billisan ,bilqalam maupun dalam bentuk bilhal . Hal ini sangat mrmbutuhkan kecermatan tersendiri dari para pelaku dakwah yang akan tampil ditengah masyarakat yang sangat hetrogen dan punya kebutuhan yang beragam .disini diharapkan lembaga –lembaga dakwa berfungsi secara maksimal dalam membina dan membangun umat  sesuai dengan arah pembangunan nasional atau otonomi daerah setempat serta siap mengahadapi segala perobahan yang terjadi .

4.      Belum ada kesamaan sikap para da’i  dalam mengembangkan tugas dakwah .
Secara kuantitas jumlah lembaga dakwah dan muballig kita sudah cukup mamadai telepas dari soal berkualitas dengan  atau tidak professional, tetapi melaksanakan tugasnya seringkali terjadi perbedaan pendapat dan pandangan antara satu dengan lainnya . Hal ini tentunya menimbulkan distabilisasi umat, kita boleh berbeda pendapat tapi cara penyampaian perbedaan itu harus dengan dasar berpikir yang jelas dan terarah dan memakai bahasa yang santun.  Ada gejala yang kita lihat sekarang orang-orang termasuk para da’i  yang ilmu agamanya kurang mamadai atau spotong sepotong ikut-ikutan memberi cap kepada kelompok lain  yang tidak sealiran
Dengannya sebagai pelaku bid’ah  atau sesat . Akibatnya dapat kita rasakan betapa sinis dan tidak berdasarnya ungkapan-ungkapan yang mereka lontarkan betapa mudah sesama muslim saling mengkafirkan /sesat menyesatkan  .Gejalah  ini terjadi karena belum adanya  kesamaan sikap para da’i yang cenderung berdakwah menurut seleranya masing-masing paling tidak menurut selera golongannya sehingga dapat menimbulkan ekses negative bagi kepentingan umat . Untuk itu lembaga dakwah harus berbuat sesuatu untuk menyatukan sikap dan langkah dalam menghadapi setiap persoalan dan memecahkan secara bersama pula .
5.      Terputus komunikasi antara pemikir dakwah /Pembuat kebijakan dan pelaku dakwah dilapangan.
Bila ini terjadi maka dakwah sebagai sebuah sistem sukar dilaksanakan dengan baik dan tepat karena ia melaksanakan dakwah sendiri-sendiri  menyebabkan kebijakan yang dibuat oleh para pemikir dakwah  diperguruan tinggi dan lembaga-lembaga dakwah lainnya tidak terakomodasi oleh pelaku dakwah dilapangan , karena  mereka tidak ada komunikasi maka masing-masing jalan sendiri yang membuat kebijakan berjalan dengan kebijakannya dan pelaku dakwah dilapangan berjalan sesuai dengan seleranya .
6.      Kerisis ulama dan kehilangan panutan masyarakat .
Yang dimaksud ulama dalam tulisan ini bukanlah ulama ( ilmuan) dalam arti umum seperti orang yang mendalam ilmunya terlepas dari apapun disiplin ilmu yang dimiliki .baik saint ,sastra  maupun ekskta  karena ulama dalam pengertian  seperti ini tidak akan terjadi kerisis malah bisa  terjadi inflasi melihat luaran-luaran perguruan tinggi baik umum maupun agama dari tahun ketahun semakin bertambah  jumlahnya .begitu pula muballig-muballig  sarjana agama semakin banyak . Karenanya yang dimaksud dengan ulama dalam tulisan ini , adalah pengertian khusus yang diberikan oleh masyarakat yaitu orang yang mendalam  ilmunya dibidang syari’at, mereka hidup ditengah-tengah masyarakat dan menyampaikan dakwahnya baik melalui lisan maupun melalui pemberian contoh pengamalan agama terhadap masyarakat disamping itu ia memiliki kharisma dan keistimewaan luar biasa sehingga menjadi rujukan bagi masyarakat bila menemukan problema dalam kehidupannya  ulama-ulama seperti ini semankin langkah ditengah masyarakat .
Hal ini bukan karena kepergian mereka satu demi satu menghadap tuhannya dan tidak ada penggantinya semata , tetapi juga karena kualifikasi ulama yang diperlukan tidak sesederhana seperti yang sudah dihasilkan inilah dilemma yang sangat memperhatinkan banyak kalangan dengan timbulnya apa yang disebut kerisis ulama . oleh karena itu penulis yakin semakin maju manusia tinggi lmu pengetahuan dan teknologi  peran ulama sebagai pelaku dakwah yang dianggap penentu dan berpengaruh itu pasti berperan serta untuk mengantar masyarakat pada suatu kehidupan penuh keceriaan dan kedamaian . Melihat pengertian ulama yang diberikan oleh masyarakat sungguh beralasan karena masyarakat menginginkan agar seorang ulama harus berperan sebagai pewaris nabi . keinginan ini sesuai dengan sabda rasulullah saw  “  Sesungguhnya Ulama itu adalah pewaris nabi  “  berbicara masalah pewaris nabi maka ada beberapa hal harus diembannya  :  1) menyampaikan sekaligus menjelaskan ajaran agama melalui dakwah  ( Q.S. 16 : 35 dan  125. 2) Menyelesaikan masalah dan problema yang dihadapi  masyarakat  ( Q.S. 2 : 213 \. 3) Memberikan contoh pengamalan  ( Q.S. 41 : 33 . dan 4) . Alquran dan hadits dijadikan sebagai rujukan bertingkah laku .( Q.S. 6 :90 dan  S. 59 :
Kehadiran ulama  memang tidak bisa dipisahkan dari komunitas islam , yaitu komunitas kaum beriman yang diikat oleh kesamaan pandangan tentang keimanan, moral dan spiritual . Ulama merupakan tokoh sentral sebab dipundak merekalah cita-cita umat disanggah dan dilestarikan . Disamping itu juga ulama diharapkan berperan sebagai perumus keilmuan terutama menyangkut masalah agama  termasuk dalam pemberian makna makna teks alqur’an  dan sunnah nabawiyah dalam konteks yang selalu berobah dan dan berkembang .
Untuk problematika dakwah perlu usaha-usaha untuk mengatasinya dan perlu penyelesaian dengan pendekatan jangka pendek dan jangka panjang , melalui tahapan-tahapan dengan melihat skala prioritas. Ada beberapa hal sebagai format dakwah  yang perlu diperhatikan dan dilaksanakan  antara lain :
1.      Membentuk Akademi Dakwah / Ma’had ‘Ali / Pusat Studi Dakwah atau apapun namanya  yang terbuka mandiri dan bebas dari pengaruh golongan  Akademi Dakwah ini diharapkan berfungsi untuk : a. Pengadaan tenaga da’i  yang memiliki kualifikasi baik keilmuan  maupun teori dan seni berdakwah dan bisa menjadi panutan masyarakat .Keberhasilan dakwah tidak cukup diandalkan pada keahlian bicara (retorika) tetapi dakwah harus memperhatikan kenyataan yang dihadapi ,begitupula  keberhasilan dakwah juga banyak dipengaruhi oleh kualitas pribadi para da’inya dan pemberian teladan dan tuntunan dan bukan hanya sebagai tontonan , karena saat ini bukanlah problema pada ilmu akan tetapi pengamalan ilmu itu sendiri.
b. Membuat program kerja yang realistis dan rasional baik jangka pendek maupun jangka panjang yang disesuaikan dengan tujuan dakwah itu sendiri.Dakwah harus mempunyai tujuan yang jelas  ya’ni mengubah keadaan masyarakat dari kurang baik menjadi lebih baik secara syari’ah maupun kemasyarakatan .Sasaran dakwah harus mencakup semua aspek kehidupan terutama yang menjadi pusat perhatian masyarakat banyak .
c. Membuat peta dakwah sekaligus menyiapkan materi dakwah sesuai kebutuhan
    masyarakat  dimana masyarakat itu hidup .
d.Mengepaluasi pelaksanaan dakwah dan melakukan perbaikan dan pembenahan dimana ditemukan  titik kelemahan dalam penyelenggaraannya .
e. menyiapkan dana secukupnya baik kepada pengurusnya maupun pelaku dakwah dilapangan sebagai ujung tombak sehingga tidak lagi menjadi pertimbangan balas kasihan dari masyarakat .
  
2.      Perlunya hubungan terbuka dan kerja sama antara lembaga-lembaga dakwah untuk menyatukan visi dan persepsi serta bersama membentuk format dakwah yang terpadu terkordinasi dan sesuai dengan kekinian .
3.      Perlu komunikasi antara pemikir dakwah diperguruan tinggi / lembaga-lembaga
Dan pelaku dakwah dilapangan minimal saling memberi informasi tentang pelaksanaan dakwah untuk memudahkan mengadakan evaluasi .
4.      Perlu partisipasi aktif /keterlibatan /kerjasama dengan unsur penguasa/pemda setempat ,  pengusaha dan pelaku dakwah .
5.      Setiap melaksanakan kegiatan dakwah  perlu kerja sama dengan instansi yang terkait terutama bila dilaksanakan dalam bentuk bil hal .

                 Demikianlah  pidato pengukuhan ini ,  kepada Allah saya memohon agar kita senantiasa mendapat taufiq hidyah dan memberkahi kita semuanya, dan semoga Allah memberikan kekuatan lahir batin  kepada saya sehingga beban guru besar ini dalam bidang Ilmu Dakwah dan Tafsir dapat saya pikul  dengan sebaik- baiknya , baik sebagai pemikir dakwah diperguruan tinggi maupun sebagai praktisi dakwah dilapangan , Akhirnya  saya memohon maaf kalau ada yang kurang berkenan dan mengucapkan banyak terima kasih .
                      ان أريد الا صلاح ما ا ستطعت و ما توفيقفي الا با لله عليه توكلت واليه انيب .
                                والسلام  عليكم ورحمة الله وبركا ته

0 komentar:

Poskan Komentar

apakah anda tidak menemukan yang anda cari??? silahkan tuliskan sesuatu yang anda cari itu....

FACEBOOK COMENT

ARTIKEL SEBELUMNYA

 
Blogger Templates