Minggu, 26 Juni 2011

ISTIFHAM dalam AL QURAN


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Kebesaran Allah swt dapat dilihat melalui tanda-tanda yang diperlihatkan kepada manusia, ini yang sering disebut dengan istilah aya>tullah, terkadang tanda-tanda tersebut dapat dilihat pada alam raya ini, tanda-tanda seperti ini sering disebut dengan ayat al-kauniyah, terkadang juga tanda-tanda kebesaran Allah swt dapat diketahui dengan cara mendalami isi kandungan al-Qur’an, yang sering diistilahkan dengan aya>t al-Qur’a>niyah.
Satu diantara ayat-ayat al-Qur’an yang menjelaskan tentang kebesaran Allah adalah bahwa ia menciptakan perbedaan bahasa dan kulit, (واختلاف السنتكم والوانكم ( dari perbedaan bahasa dan kulit diharapkan akan menjadi pelajaran kepada manusia terutama orang-orang terpelajar.
Di dunia ini lebih dari ratusan ribu bahasa logat, diantara ratusan ribu bahasa yang ada hanya bahasa arab yang mendapatkan keistimewaan, karena  dipakai oleh Allah swt sebagai bahasa perantara untuk menyampaikan firmannya kepada manusia dengan al-Qur’an, hal ini sudah pasti bukan faktor kebetulan saja, bahasa arab dipakai sebagai bahasa al-Qur’an karena mempunyai keistimewaan yang tidak dimiliki oleh bahasa lain, karena untuk memahami bahasa arab maka diperlukan ilmu bantu lain diantaranya ilmu shorof yang berhubungan perubahan kata, ilmu nahwu yang berhubungan perubahan harakat pada akhir kata, Ilmu balagah, al-baya>n dan al-ma’a>ni} yang berkaitan segi keindahannya dan lain sebagainya.
Seseorang yang ingin memahami Al-Qur’an dan menafsirkannya secara utuh maka syarat utama yang harus dimiliki adalah kemampuan dalam menguasai dan memahami kaidah-kaidah bahasa arab, dan salah satu diantara kaidah-kaidah bahasa arab  tersebut adalah qaidah istifha>m dalam al-Qur’an.

B.    Rumusan Masalah
Dari pembahasan ,diatas maka pembahasan utama dalam makalah ini akan dibatasi pada rumusan masalah berikut:
1.      Apa  pengertian dari Qawa>id al-istifha>m fi> al-Qur’an
2.      Apa saja adawa>t  (alat bantu yang dipakai dalam istifha<m)
3.      Ada berapa Pembagian istifham
4.      Bagaimana kaidah-kaidah istifham dalam al-Qur’an serta aplikasinya


BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian Istifha>m
Kata Istifha>m berasal dari kata- فهما  فهم – يفهم  yang bererti pengetahuan terhadap sesuatu dengan menggunakan hati, Imam Sibawaihi menambahkan yaitu sesuatu pengatahuan dengan menggunakan hati dan akal[1], Kemudian  ia berubah menjadi fi’il al-Mazi>d (kata kerja yang ketambahan huruf dari huruf aslinya) dengan ketambahan tiga huruf pada awal katanya yaitu ا س ت  (al-suda>si) yang mempunyai arti al-t}alab (permintaan), jadi istifham menurut bahasa adalah  meminta pengetahuan,
Adapun pengertian istifha>m menurut  istilah, menurut al-Zarka>syi> istifha>m adalah mencari pemahaman tentang suatu hal yang tidak diketahui.[2] sedangkan menurut al-Suyu>t}i>, istifha>m dengan berbagai maknanya, memiliki suatu maksud pokok yaitu mencari pemahaman tentang suatu hal.[3]

B.    Adawa>t al-Istifham dan maknanya
Adapun adwat al-istifham secara garis besar ada tiga
1.       همزة          : digunakan untuk menanyakan kepada atau tentang suatu benda atau orang
Contoh, Al-Anbiya>, 58
قَالُوا أَأَنْتَ فَعَلْتَ هَذَا بِآَلِهَتِنَا يَا إِبْرَاهِيمُ
Terjemahan:                 
Apaka kamu yang melakukan pererusakan terhadap tuhan sesembahan kami wahai Ibrahim

Sedangkan contoh pada benda, QS. Al-Anbiya,36
أَهَذَا الَّذِي يَذْكُرُ آلِهَتَكُمْ
                        Terjemahan:
                        Apakan ini orang yang mencela tuhanmu
2.       هل : Digunakan untuk menanyakan keadaan
Contoh, QS. Al-Ga>siyah: 1
هَلْ أَتَاكَ حَدِيثُ الْغَاشِيَة
           Terjemahannya:
           Apakah telah sampai kepadamu tentang hari kiamat
3.       من dan من ذ: Keduanya digunakan untuk menanyakan terhadap sesuatu yang berakal.[4]
Contoh,   من  QS. Hud: 63
فَمَنْ يَنْصُرُنِي مِنَ اللَّهِ إِنْ عَصَيْتُه
Terjemahan:
Maka siapaka yang akan menolongku dari azab Allah jika saya mendurhakainya
Contoh  من ذ  QS. Al-Hadi>d:11
مَنْ ذَا الَّذِي يُقْرِضُ اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا
Terjemahan:
Siapa memminjamkan kepada Allah dengan pinjaman yang baik
4.      ما dan ماذا  : Digunakan untuk menanyakan terhadap sesuatu yang tidak berakal, baik terhadap hewan,tumbuh tumbuhan, benda mati, realitas sesuatu dan sifat, baik sesuatu tersebut berakal atau tidak.[5]
Contoh  ما, QS. Al-Muddas\s\ir: 42-43,
مَا سَلَكَكُمْ فِي سَقَرَ.  قَالُوا لَمْ نَكُ مِنَ الْمُصَلِّينَ.
Terjemahnya:
“Apa yang menyebabkan kamu masuk ke dalam (neraka) Saqar?” Mereka menjawab, “Dahulu kami tidak termasuk orang-orang yang melaksanakan salat
                        Contoh ماذا , QS. Yunus:32
فَمَاذَا بَعْدَ الْحَقِّ إِلَّا الضَّلَالُ
                       Terjemahan:
                       Maka apakah setelah kebenaran kecuali kesesatan
Contoh, QS. Al-Kahfi: 19
قَالَ قَائِلٌ مِنْهُمْ كَمْ لَبِثْتُمْ قَالُوا لَبِثْنَا يَوْمًا أَوْ بَعْضَ يَوْمٍ
Terjemahan:
Salah seorang bertanya: sudah berapa lama kamu tinggal disini, mereka menjawab, kami berada disini sehari atau setengah hari

5.       كيف: Digunakan untuk menanyakan  keadaan keadaan sesuatu.[6]
Contoh: QS.al-Baqarah: 260
وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ أَرِنِي كَيْفَ تُحْيِي الْمَوْتَى
Terjemahan:
Dan ingatlah ketika Ibrahim berkata: ya tuhanku perlihatkan kepada saya bagaimana kamu menghidupkan sesuatu yang telah mati

6.      أنى :  Sama artinya dengan كيف.[7]
Contoh, QS. Al-Baqarah: 259
قَالَ أَنَّى يُحْيِي هَذِهِ اللَّهُ بَعْدَ مَوْتِهَا
Terjemahan:
Ia berkata bagaimana Allah menghidupkan sesuata yang telah mati

7.      كم  : digunakan untuk menanyakan jumlah.[8]
Contoh, QS. Al-Baqarah: 211
سَلْ بَنِي إِسْرَائِيلَ كَمْ آَتَيْنَاهُمْ مِنْ آَيَةٍ بَيِّنَة
Terjemahan:
Tanyakan kepada bani Israil sudah berapakah bukti/tanda yang jelas yang telah kami berikan  kepada mereka

8.      اي  : Digunakan untuk meminta menentukan/mengkhususkan sesuatu.[9]
Contohnya, QS. Al-An‘a>m: 81
.. فَأَيُّ الْفَرِيقَيْنِ أَحَقُّ بِالأَمْنِ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ.
Terjemahnya: 
… manakah dari kedua golongan itu yang lebih berhak mendapatkan keamanan (dari malapetaka), jika kamu mengetahui
9.      اين : Digunakan untuk menanyakan tempat yang menguraikan sesuatu.[10]
Contoh, QS. Al-Qiya>mah: 75
يَقُولُ الْإِنْسَانُ يَوْمَئِذٍ أَيْنَ الْمَفَرُّ
Terjemahan:
Manusia pada hari itu (hari kiamat) berkata: kemana tempat lari
10.     أنى          :Digunakan untuk menanyakan asal usul. Contohnya, Surah contoh, ٍَ           QS. Maryam: 8
قَالَ رَبِّ أَنَّى يَكُونُ لِي غُلاَمٌ وَكَانَتِ امْرَأَتِي عَاقِرًا وَقَدْ بَلَغْتُ مِنَ الْكِبَرِ عِتِيًّا.
Terjemahnya:
Dia (Zakaria) berkata, “Ya Tuhanku, bagaimana aku akan mempunyai anak, padahal isteriku seorang yang mandul dan aku (sendiri) sesungguhnya sudah mencapai usia yang sangat tua

11.  متى            : digunakan untuk menanyakan waktu, baik yang lampau maupun yang akan datang.[11]
Contohnya, QS. Al-Baqarah: 214, Allah swt. sebagai berikut:
... مَتَى نَصْرُ اللَّهِ أَلاَ إِنَّ نَصْرَ اللَّهِ قَرِيبٌ.
Terjemahnya:
"Kapankah datang pertolongan Allah?" Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat

12.  أيان : digunakan untuk menanyakan sesuatu berkenaan dengan waktu mendatang. [12]
Contohnya, QS. Al-Qiya>mah: 6
يَسْأَلُ أَيَّانَ يَوْمُ الْقِيَامَةِ
Terjemahnya:
Dia bertanya, “Kapankah hari kiamat itu

C.    Pembagian istifha>m
Pembagian istifham secara umum dibagi dua yaitu istifham yang bermakna khabar dan istifham bermakna insya>’[13]
1.      Istifham bermakna al-khabar, ada dua
a.       Istifham al-inka>ri} yaitu :
-          apabila ada huruf nafyi yang jatuh setelah huruf istiha>m. contohnya QS. Al-Ahqa>f: 35
فَهَلْ يُهْلَكُ إِلَّا الْقَوْمُ الْفَاسِقُون
Terjemahannya:
Maka tidak ada yang dibinasakan kecuali orang-orang fasik

-          atau diatafkan dengan kalimat yang dinafikan, contoh QS>. Al-Ru>m: 29
فَمَنْ يَهْدِي مَنْ أَضَلَّ اللَّهُ وَمَا لَهُمْ مِنْ نَاصِرِين
Terjemahan:
Maka siapakah yang member petunjuk terhadaporang-orang yang telah disesatkan oleh Allah, dan tidak ada seseorangpun yang menjadi penolong buat mereka

b.      Istifha>m al-taqri>ri}: yaitu suatu pern yataan yang membawa seseorang kepada suatu kepastian.[14]contoh, QS. Al-Fajr: 5
هَلْ فِي ذَلِكَ قَسَمٌ لِذِي حِجْر
Terjemahan:
Adakah pada demikian itu terdapat sumpah bagi orang-orang berakal
Ada beberapa macam istifham al-taqri>ri
1.      Sekedar penguat atau penetapan
2.      Ungkapan kepastian yang mengandung kesombongan. Contoh QS. Al-Zukhruf, 51
وَنَادَى فِرْعَوْنُ فِي قَوْمِهِ قَالَ يَا قَوْمِ أَلَيْسَ لِي مُلْكُ مِصْرَ وَهَذِهِ الْأَنْهَارُ تَجْرِي مِنْ تَحْتِي أَفَلَا تُبْصِرُونَ
Terjemahannya:
Fir’aun berseru kepada kaumnya dan berkata: wahai kaumku bukankah aku yang memiliki kerajaan mesir, dan sungai-sungai yang mengalir dibawahku, apakah kamu tidakmelihat

3.      Mengandung celaan.  contoh, QS: al-Nasa: 97
قَالُوا أَلَمْ تَكُنْ أَرْضُ اللَّهِ وَاسِعَةً فَتُهَاجِرُوا فِيهَا
Terjemahan:
Mereka berkata bukankah bumi allah itu luas maka berhijralah
4.      Mengandung Itab (teguran). Contohnya, QS. Al-hadi>d, 16
أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آَمَنُوا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهوَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقّ
Terjemahannya:
Belum tibakah waktunya orang-orang beriman untuk secara khusyu’ mengingat Allah dan mematuhi kebenaran yang telah diturunkan kepada mereka
5.      Al-Tabki>t (celaan). Contoh. QS Al-Maidah, 116
وَإِذْ قَالَ اللَّهُ يَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ أَأَنْتَ قُلْتَ لِلنَّاسِ اتَّخِذُونِي وَأُمِّيَ إِلَهَيْنِ مِنْ دُونِ اللَّه
Allah berkata wahai Isa bin Maryam apakah kamu berkata kepada manusia jadikan saya dan ibuku tuhan selain Allah

6.      Al-Taswiyah yaitu ayat yang dimulai dengan lafaz سواء على  , contoh,QS: Yasi>n, 10
وَسَوَاءٌ عَلَيْهِمْ أَأَنْذَرْتَهُمْ أَمْ لَمْ تُنْذِرْهُمْ لَا يُؤْمِنُون
Terjemahan:
Sama saja buat mereka apakah kamau memberikan peringatan atau tidak  meraka tidak akan beriman

7.      Al-Ta’z}i>m (pengagungan), contoh. QS>: Al-Baqarah, 255
مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِه
Terjemahan:
Siapakah yang bias membeikan syafaat disisnya tanpa izin Allah
8.      Al-Tahwi<l (mengintimidasi, menakut-nakuti),  contoh, QS: Al-Ha>qqah, 1-3
الْحَاقَّةُ , مَا الْحَاقَّةُ, وَمَا أَدْرَاكَ مَا الْحَاقَّة
Terjemahan:
Hari kiamat ,apakah hari kiamat itu, tahukah kamu apakah hari kiamat itu

9.      Al-Tashi>l dan Takhfi>f (memudahkan,meringankan).  contoh, QS.  Al-Nisa, 39
وَمَاذَا عَلَيْهِمْ لَوْ آَمَنُوا بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآَخِرِ وَأَنْفَقُوا مِمَّا رَزَقَهُمُ اللَّهُ
            Terjemahan:
            Dan kenapa bagi mereka jika mereka beriman kepada Allah swt dan hari kemudian dan menginfakkan sebagian rezki yang telah diberikan Allah kepadanya

2.      Istifham bermakna al-Insya>, ada beberapa macam:
a.       Al-Amr bermakna perintah, contoh QS. Al-Nur, 22
أَلَا تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُم
Terjemahan:
Apakah kamu tidak suka Allah mengampuni kamu
b.      Al-Nahy bermakna larangan
Contoh, QS. Al-Infit}a>r: 6
يَا أَيُّهَا الْإِنْسَانُ مَا غَرَّكَ بِرَبِّكَ الْكَرِيم
Terjemahannya:
Wahai manusia apakah yang telah memperdaya kamu (sehingga berbuat durhaka) terhadap tuhanmu yang mulia

c.       Al-tahzi>r (peringatan)
Contoh, QS. Al- Mursala>t,16
َلَمْ نُهْلِكِ الْأَوَّلِين
Terjemahannya:
Bukankah kami telah membinasakan orang-orang terdahulu

d.      Al-Tazki>r (pengingat)
Contoh, QS. Yusuf, 89
قَالَ هَلْ عَلِمْتُمْ مَا فَعَلْتُمْ بِيُوسُفَ وَأَخِيهِ إِذْ أَنْتُمْ جَاهِلُون
Terjemahannya:
Tusuf berkata: Tahukah kamu apa yang telah kamu perbuat terhadap Yusuf dan saudaranya, karena kamu tidak menyadari akibat dari perbuatanmu

e.       Al-Tanbi>h
Contoh,QS. Al-Fi>l: 1
أَلَمْ تَرَ كَيْفَ فَعَلَ رَبُّكَ بِأَصْحَابِ الْفِيل
Terjemahannya
Tidakkah engkapa perhatikan bagaiman Allah membinasakan pasukan bergajah
f.        Al-Targi>b
Contoh,QS. Al-Sa}>f: 10
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا هَلْ أَدُلُّكُمْ عَلَى تِجَارَةٍ تُنْجِيكُمْ مِنْ عَذَابٍ أَلِيم
Terjemahannya:
Wahai orang-orang beriman maukah kamu saya tunjukkan sesuatu perdagangan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih

g.      Al-Tamanni} (pengharapan)
Contoh, QS. Al-A’ara>f:53
فَهَلْ لَنَا مِنْ شُفَعَاءَ فَيَشْفَعُوا لَنَا
Terjemahannya:
Maka apakah ada pemberi syafaat bagi kami yang akan memberi pertolongan kepada kami

h.      Al-Istibt}a>’
Contoh, QS. Al-Baqarah: 214
حَتَّى يَقُولَ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ آَمَنُوا مَعَهُ مَتَى نَصْرُ اللَّهِ أَلَا إِنَّ نَصْرَ اللَّهِ قَرِيبٌ
Terjemahannya:
Rasul beserta orang orang beriman yang bersamanya bertanya kapan datang pertolongan Allah, ketahuilah bahwa pertolongan Allah sudah dekat


D.    Kaidah Istifham
Kaidah Pertama
الإستفهام عقيب ذكر المعايب أبلغ من الأمر بتركها
Artinya:
Ungkapan istifham yang diikuti dengan penyebutan sesuatu yang tercela, maka ungkapan tersebut lebih fasih (bali>g)/ lebih jelas daripada perintah untuk meninggalkannya,

Maksud dari kaidah ini adalah ketika ada itifham yang  sebelumnya ada rangkain penejelasan tentang sesuatu yang tercela, maka akan lebih mudah dimengerti dari pada perintah untuk meninggalkannya.
Contoh, QS. Al-Ma>idah: 90-91
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْأَنْصَابُ وَالْأَزْلَامُ رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ (90) إِنَّمَا يُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَنْ يُوقِعَ بَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَاءَ فِي الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ وَيَصُدَّكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَعَنِ الصَّلَاةِ فَهَلْ أَنْتُمْ مُنْتَهُونَ[15]
Terjemahannya
Wahai orang-orang beriman, sesungguhnya minuman keras, judi, berkurnan untuk berhala serta undian nasib adalah perbuatan yang tercela dan merupakan perbuatan setan, maka jauhilah, semoga kalian beruntung, setan itu menghendaki diantara kalian adanya permusuhan dan kebencian sebab minumkhamar dan judi   sertab  menghalangi kamu dari mengingat Allah dan melaksanakan salat, maka apakah kamu sudah berhenti

Pada ayat pertama ini merupakan ayat yang menegaskan tentang keharaman khamar, perjudian, berkorban untuk berhala dan mengundi nasib, kerena semuanya itu merupakan sesuatu yang jelek dan perbuata setan, kemudian ayat kedua, Allah menjelaskan ketika seseorang terperosot kedalam perbuatan mabuk-mabukan dan perjudian maka akan menyebabkan permusuhan dan saling membenci  satu sama lain serta akan menjauhkan diri dari Allah swt. Maka diakhir ayat Allah swt. menutup dengan ungkapan istifha>m  فَهَلْ أَنْتُمْ مُنْتَهُونَ  , menurut kaidah ini penggunakan bentuk istifham semacam ini lebih baik dari pada menggunakan bentuk kata perintah untuk meninggalkan sesuatu yang dilarang, Abu Hayyan al-Andalusi berpendapat dalam tafsirnya bahr al-muhit,} bentuk istifham semacam ini merupakan salah satu bentuk larangan yang kuat, seakan-akan Allah swt. berkata “apakah kalian sudah mau berhenti ataukan masih tetap dengan kebiasaan kalian minum khamar yang kalian sudah mengetahui dampak negatif dari khamar tersebut”.
Menurut pendapat yang  lain bahwa penggunaan bentuk istifham semacam ini (فَهَلْ أَنْتُمْ مُنْتَهُونَ) mengandung arti perintah, sehingga bermakna انتهوا (berhentilah), maka Umar bin Khattab, menurut suatu riwayat ketika mendengar ayat ini Ia langsung berkata انتهينا يا رب (tuhan, kami sudah berhenti)[16]
Contoh kedua dari kaidah pertama ini pada surah al Imra>n ayat 20
فَإِنْ حَاجُّوكَ فَقُلْ أَسْلَمْتُ وَجْهِيَ لِلَّهِ وَمَنِ اتَّبَعَنِ وَقُلْ لِلَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ وَالأُمِّيِّينَ أَأَسْلَمْتُمْ فَإِنْ أَسْلَمُوا فَقَدِ اهْتَدَوْا وَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّمَا عَلَيْكَ الْبَلاَغُ وَاللَّهُ بَصِيرٌ بِالْعِبَادِ.
Terjemahnya:
Kemudian jika mereka membantah engkau (Muhammad) katakanlah, “Aku berserah diri kepada Allah (dan demikian pula) orang-orang yang mengikutiku.” Dan katakanlah kepada orang-orang yang telah diberi Kitab dan kepada orang-orang yang buta huruf, “Sudahkah kamu masuk Islam?” Jika mereka masuk Islam, berarti mereka telah mendapat petunjuk, dan jika mereka berpaling, maka kewajibanmu hanyalah menyampaikan. Dan Allah Mahamelihat akan hamba-hamba-Nya.[17]
Menurut abu Hayyan kata-kata أأسلمتم mengandung arti perintah أسلموا sedangkan menurut ibn At}iyah bahwa bentuk istifham semacam ini adalah pilihan antara islam atau tidak,[18]
Sedangkan menurut al-Zamakhsyari dalam menafsirkan ayat ini ia berkata: dia telah memberikan kalian keterangan tentang hal-hal yang diwajibkan oleh Islam dan menuntut buktinya, tidak boleh tidak; Apaka  kalian sudah masuk islam atau masih dalam kekafiran  sesudah menerima keterangan?
Dan ungkapan (ءأَسْلَمْتُمْ)  ini seperti ungkapan seseorang  terhadap orang yang diberi suatu kesimpulan mengenai permasalahan tertentu dan tidak ada lagi cara lain dalam memberi keterangan dan penjelasan kecuali anda menempuh cara itu. Apakah kalian sudah faham? [19]
Kaidah Kedua
إستفهام الإنكاري يكون مضمنا معنى النفي
Artinya:
Istifha>m inka>ri mengandung  arti nafi} (pengingkaran)
maksud dari kaidah ini jelas, bahwa bila suatu redaksi menggunnakan  istifhan inka>ri} maka dengan sendirinya ia mengandung arti meniadakan
Contoh, QS. Al-Maidah, 50
أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ 
Terjemahannya:
Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki, maka hukum siapakah yang lebih baik dari hukum Allah bagi orang-orang yang yakin

Yang menjadi pembahasan disini adalah istifham yang kedua ( ..... وَمَنْ أَحْسَنُ ( 
Menurut kaidah ini bahwa tidak ada hukum yang  lebih baik kecuali hukum ِِِِِِِِAllah, dengan kata lain bahwa hukum Allah lebih baik daripada hukmul-Wad}iyah (hukum yang dibuat oleh manusia) sehingga ayat ini dapat ditakdirkan  حكما لا احد أحسن من الله   
Sedangkan menurut Abu Hayyan bahwa istifham disini bermakna  penguatan yang mermakna bahwa hukum Allah adalah hukum yang paling baik dan paling adil, serta bentuk istifham yang dipergunakan disini juga  mengandung sifat “sombong” kepada mereka yahudi (bahwa hukumAllah lebih baik dari hukum yang dibuat oleh orang-orang yahudi atau yang lainnya)
Contoh kedua, dapat dilihat dalam QS. Al-Baqarah: 114, sebagai berikut:
وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنْ مَنَعَ مَسَاجِدَ اللَّهِ أَنْ يُذْكَرَ فِيهَا اسْمُهُ وَسَعَى فِي خَرَابِهَا أُولَئِكَ مَا كَانَ لَهُمْ أَنْ يَدْخُلُوهَا إِلاَّ خَائِفِينَ لَهُمْ فِي الدُّنْيَا خِزْيٌ وَلَهُمْ فِي الآَخِرَةِ عَذَابٌ عَظِيمٌ.
Terjemahnya:
Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang melarang masjid-masjid Allah untuk menyebut nama-Nya, dan berusaha untuk merobohkannya? Mereka itu tidak pantas memasuknya kecuali dengan rasa takut (kepada Allah). Mereka mendapat kehinaan di dunia dan di akhirat mendapat azab yang berat.[20]
Menurut ibn ‘Atiyah dalam tafsirnya mengatakan bahwa arti dari وَمَنْ أَظْلَمُ adalah لا أحد أظلم (tidak ada yang lebih zalim). Kemudian terjadi perbedaan pendapat terdapa siapa yangf zalim ini, ibnu Abbas berpendapat yaitu orang Nasrani yang menyakiti orang-orang yang salat di baitul maqdis serta melempari mereka dengan kotoran,  pendapat lain mengatakan orang-orang kafir Quraisy yang mencegah Rasulullah masuk ke Masjjd Haram, sementara yang lainnya mengatakan pasukan Romawi yang membantu salah satu suku untuk menghancurkan Baitul Maqdis setelah Bani Israil membunuh nabi Zakriyah.[21]     

Kaidah Ketiga
إذا أخبر الله تعالى عن نفسه بلفظه "كيف" فهو إستخبار على طريق التنبيه للمخاطب أو التوبيخ
Artinya:
Apabilah Allah swt. Menjelaskan dirinya dengan menggunakan lafaz “kaifa” maka itu merupakan bentuk pemberitahuan dengan cara peringatan atau celaan kepada lawan bicara

Menurut kaidah ini apabila ada lafadz “كيف” yang bermaksud untuk menjelaskan zat allah maka maka itu merupakan bentuk peringatan atau celaan.

Contoh, QS. A<li ‘Imra>n: 86:
كَيْفَ يَهْدِي اللَّهُ قَوْمًا كَفَرُوا بَعْدَ إِيمَانِهِمْ وَشَهِدُوا أَنَّ الرَّسُولَ حَقٌّ وَجَاءَهُمُ الْبَيِّنَاتُ وَاللَّهُ لاَ يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ.
Terjemahnya:
Bagaimana Allah akan memberi petunjuk kepada kaum yang kafir setelah mereka beriman, serta mengakui bahwa Rasul (Muhammad) itu benar-benar (rasul), dan bukti-bukti yang jelas telah sampai kepada mereka? Allah tidak memberi petunjuk orang-orang yang zalim.[22]
Menurut Ibn ‘A<syu>r, istifha>m inka>ri> pada ayat ini maksudnya mengingkari bahwa mereka akan mendapat hidayah secara khusus, yaitu hidayah yang timbul dari pertolongan atau ke-Mahalembut-an Allah kepada hambanya
Menurut abu Hayyan bahwa lafaz كيف disini menenyakan tentang keadaan, yaitu kondisi kekufuran mereka setelah mendapatkan keimanan,  bagaimana mungkin mendapatkan keimanan yang sebelumnya mereka dalam keadaan beriman kemudian mengingkarinya, hidayah yang dimaksud disini adalah keimanan dan mengikuti yang benar, [23]
Sedangkan menurut al-Zamakhsyari} bagaiman mungkin berlaku lembut kepada mereka, setelah Allah mengetahui ketetapah hati mereka dalam kekufuran, tanda-tandanya yaitu kekufuran setelah sebelumnya dalam keadaan beriman, mereka mengetahui bahwa nabi Muhammad saw adalah benar, dan telah diperlihatkan mukjizat-mukjizat kenabian untuk menguatkan kenabian nabi Muhammad saw.[24]



Kaidah Keempat
إذا دخلت همزة الإستفهام على "رأيت" امتنع ان تكون رؤية البصر او القلب وصار بمعنى اخبرني
Artinya:
Apabila hamzah istifham masuk kedalam lafaz رأيت maka ia tidak bermakna lagi melihat dengan penglihatan atau hati tapi bermakna akhbirni  (pemberitahuan)

Kata  أرأيت dalam beberapa ayat berulang al-Qur’an sebanyak 10 kali.[25]
Contoh. QS. Al-Ma>u>n: 1
أَرَأَيْتَ الَّذِي يُكَذِّبُ بِالدِّين
Terjemahannya
Tahukah kalian orang yang mendustakan agama
Dalam surah al-Maun ini dimulai kata أرأئت  yang menurut kaidah ini bermakna beritahukan kepada saya أخبرنى)) tentang siapakah orang-orang yang mendustakan agama, sehingga jawaban dari permintaan ini ada pada ayat-ayat berikutanya

Kaidah Kelima
اذا دخل حرف الإستفهام على فعل الترجي افاد تقرير ماهو متوقع, واشعر بأنه كائن
Artinya:
Apabila huruf istifha>m masuk kekata kerja yang mempunyai arti harapan maka ia akan berfaidah pemantapan/pengukuhan terhadap sesuatu yang akan datang, dan memberitahukan bahwa ia akan terjadi (ada)

Adapun kata kerja raja> (harapan) berupa (عَسَى – حَرَى – إِخْلَوْلَقَ). Kata- kata tersebut mengandung arti keinginan/kemauan  kuat pada perkara yang disukai, yaitu keinginan pada kebaikan dan takut pada keburukan.[26]
Makna raja> (harapan) pada perkataan manusia atau makluk lainnya menunjukkan kepada arti aslinya yaitu arti harapan, karena keterbatasan ilmu mereka, tapi jika dihubungkan dengan Allah, maka akan mengandung arti kepastian dan keyakinan.[27]
Diantara  huruf  istifhmam yang bergandengan dengan fi’il al-tarajji} dalam al-Qur’an hanyaهل  itupun hanya ada pada dua tempat, yaitu pada surah al-baqarah:246 dan surah Muhammad:22
Contoh, QS. Al-Baqarah: 246

قَالَ هَلْ عَسَيْتُمْ إِنْ كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ أَلَّا تُقَاتِلُوا
Terjemahan:
Nabi mereka menjawab, “ jangan sampai diwajibkan atasmu berperang, kamu tidak akan berperang juga?”[28]
Ayat ini menjelaskan tentang permintaan kaum bani Israil kepada nabi mereka supaya diutus seorang raja yang diharapkan akan memimpin dalam berbagai peperangan, tapi nabi pesimis dengan janji mereka sesuai dengan ungkapan ayat diatas, dan pada kenyataannya mereka ingkar, ini sesuai dengan kesepakatan awal dengan nabi, yaitu ketika peperangan diwajibkan mereka justru ingkar dan tidak mau ikut dalam peperangan.
Contoh kedua dari kaedah ini dapat pula dilihat dalam QS. Muhammad: 22, sebagai berikut:
فَهَلْ عَسَيْتُمْ إِنْ تَوَلَّيْتُمْ أَنْ تُفْسِدُوا فِي الأَرْضِ وَتُقَطِّعُوا أَرْحَامَكُمْ.
Terjemahnya:
Maka apakah sekiranya kamu berkuasa, kamu akan berbuat kerusakan di bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan

Sebagaimana keterangan pada contoh pertama dari kaidah kelima, bahwa tafsiran lafal (عَسَيْتُمْ) menunjukkan makna yang lebih tinggi yaitu makna kepastian dan keyakinan.

Kaidah Keenam
جميع الأسإلة المتعلقة بتوحيد الربوبية استفهامات تقرير
Artinya:
Semua pertanyaan yang berkaitan dengan ketuhanan adalah istifham taqriri

Menurut kaidah ini apabila ada dalam al-Qur’an huruf istifham yang menerangkan tentang ketauhidan maka jawaban dari isifham tersebut adalah menekankan atau menguatkan   
Contoh, QS. Al-Zukhruf, 87
وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَهُمْ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ
            terjemahannya
            Dan apabila menanyakan kepada mereka siapakyang menciptakan mereka, maka mereka akan mengatakan Allah.

Menurut kaidah ini bahwa istifham yang dipergunakan disini adalah istifham yang berkaitan dengan penciptaan makhluk oleh Allah, maka tujuan atau maksud dari pertanyaan ini adalah untuk memberikan penekanan bahwa yang menciptakan manusia dan alam ini adalah Allah swt, menurut Fakhruddin al-Ra>zi bahwa pada hakikatnya semua manusia baik muslim atau non muslim atau ateispun mengakui bahwa ada tuhan (Allah) yang menciptakan alami ini, seperti ungkapan nabi Musa kepada Fir’aun pada surah al-isra:100
قَالَ لَقَدْ عَلِمْتَ مَا أَنْزَلَ هَؤُلَاءِ إِلَّا رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ بَصَائِرَا
Terjemahannya:
Nabi Musa berkata: sesungguhnya kamu (Firaun) telah mengetahui, bahwa  tidak ada yang menurunkan mukjizat-mukjizat tersebut  kecuali tuhan langit dan bumi sebagai bukti yang nyata

Juga pada ayat lain al-Naml:14
وَجَحَدُوا بِهَا وَاسْتَيْقَنَتْهَا أَنْفُسُهُمْ ظُلْمًا وَعُلُوًّا
Terjemahan:
Dan mereka mengingkarinya karena kezaliman dan kesombongan, padahal hati mereka meyakininya
















BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Berdasarkan beberapa penjelasan di atas mengenai kaidah-kaidah ‘at}f , maka dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut:
1.      Adapun adwat al-istifham ada 12
1.       همزة          : digunakan untuk menanyakan kepada atau tentang suatu benda atau orang
2.       هل : Digunakan untuk menanyakan keadaan
3.      من dan من ذ: Keduanya digunakan untuk menanyakan terhadap sesuatu yang berakal.[29]
4.      ما dan ماذا  : Digunakan untuk menanyakan terhadap sesuatu yang tidak berakal, baik terhadap hewan,tumbuh tumbuhan, benda mati, realitas sesuatu dan sifat, baik sesuatu tersebut berakal atau tidak.

5.       كيف: Digunakan untuk menanyakan  keadaan keadaan sesuatu.
6.      أنى :  Sama artinya dengan كيف.
7.      كم  : digunakan untuk menanyakan jumlah.
8.      اي  : Digunakan untuk meminta menentukan/mengkhususkan sesuatu.
9.      اين : Digunakan untuk menanyakan tempat yang menguraikan sesuatu.
10.  أنى :Digunakan untuk menanyakan asal usul.
11.  متى: digunakan untuk menanyakan waktu, baik yang lampau maupun yang akan datang.
12.  أيان : digunakan untuk menanyakan sesuatu berkenaan dengan waktu mendatang.



2.      Pembagian istifha>m
a.       Istifham bermakna al-khabar, ada dua
1          Istifham al-inka>ri}
2          Istifha>m al-taqri>ri}
3.      Daintara kaidah-kaidah Istifham adalah
a.         Ungkapan istifham yang diikuti dengan penyebutan sesuatu yang tercela, maka ungkapan tersebut lebih fasih (bali>g)/ lebih jelas daripada perintah untuk meninggalkannya.

b.         Istifha>m inka>ri mengandung  arti nafi} (pengingkaran) 
c.         Apabilah Allah swt. Menjelaskan dirinya dengan menggunakan lafaz كيف" maka itu merupakan bentuk pemberitahuan dengan cara peringatan atau celaan kepada lawan bicara.

d.         Apabila hamzah istifham masuk kedalam lafaz ”رأيت” maka ia tidak bermakna lagi melihat dengan penglihatan atau hati, tapi bermakna akhbirni  (pemberitahuan).

e.         Apabila huruf istifha>m masuk kekata kerja yang mempunyai arti harapan maka ia akan berfaidah sebagai pemantapan/ pengukuhan terhadap sesuatu yang akan datang, dan memberitahukan bahwa ia akan terjadi (ada).

f.          Semua pertanyaan yang berkaitan dengan keesaan tuhan adalah istifham taqriri









DAFTAR PUSTAKA

Departemen Agama RI. Al-Qur’an dan Terjemahnya. Cet. X; Bandung: CV Penerbit Diponegoro, 2005 M
Al-Sabt, Kha>lid ibn Us\ma>n. Qaw>aid al-Tafsi>r Jam’an  wa Dira>satan. cet. I. t.t.. Da>r ibn ‘affa>n. 1997 M.
Ibn ‘At}iyah, abu Muhammad ibn Abd al-Haq ibn Ga>lib, al-Muh}arrar al-Waji>z fi> Tafsi>r al-Kita>b al-‘Azi>z (Bairut: Da>r al-Kutub al-Ilmiyah, 2001)
Ibn Manz}u>r, Lisa>n al-arab, Cet. III (Bairut: Da>r ih}ya> al-Tura>s| al-‘Arabi, 1999)
Al-Zarka>syi, Badruddin Muhammad ibn Abdullah, al-Burha>n fi> Ulu>m al-Qur’an, Cet. III  (Kairo: Da>r al-Tura>s|, 1984) 
Jala>l al-Di>n al-Suyu>t}i>, al-Itqa>n fi> ‘Ulu>m al-Qur’a>nI (Beirut: Da>r al- Fikr, t.th.)
Abu> al-Baraka>t Abdurrahman bin mahamman bib abu sa’id, Asra>r al-Arabiyah (Damaskus: al-Majma’ al-‘Ilmi” al-‘Arabi’)
Abu> H}ayyan, Muhammad ibn Yusuf al-Andalu>si}, Tafsi>r Bah}r al-Muhit} (Bairut: Da>r al-Kutub al-‘Ilmiyah, 1993)
al-Zamakhsyari, abu> al-Qa>sim Mahmu>d ibn ‘Umar}, al-Kasysya>f (Riyad, Makatabah Ubaikan, Cet.I,1997)
Must}a>fa> Gala>yaiyni}, Ja>mi’ al-Duru>s al-‘Arabiyah (Bairut: al-maktabah al-‘as}riyah, 1993)



[1] Ibn Manz}u>r, Lisa>n al-arab, Cet. III (Bairut: Da>r ih}ya> al-Tura>s| al-‘Arabi, 1999) Jil. 10 h. 343
[2] Al-Zarka>syi, al-Burha>n fi> Ulu>m al-Qur’an, Cet. III  (Kairo: Da>r al-Tura>s|, 1984) jil. II h. 326
[3]Jala>l al-Di>n al-Suyu>t}i>, al-Itqa>n fi> ‘Ulu>m al-Qur’a>nI (Beirut: Da>r al- Fikr, t.th.) Jil. I, h. 148.
[4] Must}a>fa> Gala>yaiyni}, Ja>mi’ al-Duru>s al-‘Arabiyah (Bairut: al_maktabah al-“as}riyah, 1993) Jil. 1 h. 139
[5] Mustafa, h.140
[6] Mustafa, 143
[7] Mustafa, 144
[8] Mustafa, 144
[9] Mustafa, 144
[10] Mustafa, h. 142
[11] Mustafa, 142
[12] Mustafa, 143
[13] Al-Zarkasyi},al-burha>n fi> ‘Ulum al-Qur>an, h
[14] Al-Burha>n fi> Ulum al-Qur’an, h.j.II,h. 331
[15] Al-Ma>idah, 90-91
[16] Abu> H}ayyan al-Andalu>si}, Tafsir Bahr al-Muhit} (Bairut: Da>r al-Kutub al-Ilmiyah, 1993) jjilid 4 h. 17-18
[17]Departemen Agama RI., op. cit., h. 52.
[18] Abu Hayyan, Juz II, h. 429
[19] Abu> al-Qa>sim Mahmu>d ibn ‘Umar al-Zamakhsyari}, al-Kasysya>f (Riyad, Makatabah Ubaikan, Cet.I,1997) Jil. I,h 539
[20]Departemen Agama RI., op. cit., h. 18.
[21] Abu Muhammad ibn Abd al-Haq ibn Ga>lib ibn ‘At}iyah, al-Muh}arrar al-Waji>z fi> Tafsi>r al-Kita>b al-‘Azi>z (Bairut: Da>r al-Kutub al-Ilmiyah, 2001) Jil. I. H. 199
[22]Departemen Agama RI., op. cit., h. 61.
[23] Abu Hayyan, h. 541
[24] Al-Zamakhsyari}, Jil. I h. 578
[25] Lihat QS. 18:63, QS. 19:77, QS. 25: 43, QS. 26:205, QS. 45:23, QS. 53:33, QS. 96:9, QS, 96: 11, QS. 96:13, QS. 107:1
[26] Al-Sabt, Kha>lid ibn Us\ma>n. Qaw>aid al-Tafsi>r Jam’an  wa Dira>satan. cet. I. t.t.. Da>r ibn ‘affa>n. 1997 M. h. 543
[27] Ibid
[28]Ibid., h. 40.
[29] Must}a>fa> Gala>yaiyni}, Ja>mi’ al-Duru>s al-‘Arabiyah (Bairut: al_maktabah al-“as}riyah, 1993) Jil. 1 h. 139

SILAHKAN DOWNLOAD :
MEDIAFIRE
ZIDDU

2 komentar:

Anonim mengatakan...

Alhamdulillah, terima kasih.
Ini sangat bermanfaat untuk ana yang sedang mulai belajar

mohfauzan fathullah mengatakan...

saya minta izin makalahnya saya jadikan perbandingan dengan yang dibuku atau yang pada footnotenya.

Poskan Komentar

apakah anda tidak menemukan yang anda cari??? silahkan tuliskan sesuatu yang anda cari itu....

FACEBOOK COMENT

ARTIKEL SEBELUMNYA

 
Blogger Templates