Rabu, 04 Mei 2011

TANGGUNG JAWAB SEORANG PEMIMPIN

Kajian Analisis Tematik atas Sabda Nabi;
Kullukum Ra'in wa Kullukum Mas'ulun 'an Ra'iyyatihi

 
BAB I
PENDAHULUAN
    
    A. Latar Belakang
Secara universal, manusia adalah makhluk Allah yang memiliki potensi kemakhlukan yang paling bagus, mulia, pandai, dan cerdas. Mereka mendapatkan kepercayaan untuk menjalankan dan mengembankan titah-titah amanat-Nya serta memperoleh kasih sayang-Nya yang sempurna.[1]
Sebagai wujud kesempurnaannya, manusia diciptakan oleh Allah setidaknya memiliki dua tugas dan tanggung jawab besar. Pertama, sebagai seorang hamba ('abdulla>h)[2] yang berkewajiban untuk memperbanyak ibadah kepada-Nya sebagai bentuk tanggung jawab 'ubudiyyah terhadap Tuhan yang telah menciptakannya.[3] Kedua, sebagai khali>fatulla>h yang memiliki jabatan ilahiyah sebagai pengganti Allah dalam mengurus seluruh alam.[4] Dengan kata lain, manusia sebagai khali>fah berkewajiban untuk menciptakan kedamaian, melakukan perbaikan, dan tidak membuat kerusakan, baik untuk dirinya maupun untuk makhluk yang lain.[5]
Tugas dan tanggung jawab itu merupakan amanat ketuhanan yang sungguh besar dan berat. Oleh karena itu, semua yang ada di langit dan di bumi menolak amanat yang sebelumnya telah Allah tawarkan kepada mereka. Akan tetapi, manusia berani menerima amanat tersebut, padahal ia memiliki potensi untuk mengingkarinya.
$¯RÎ) $oYôÊttã sptR$tBF{$# n?tã ÏNºuq»uK¡¡9$# ÇÚöF{$#ur ÉA$t6Éfø9$#ur šú÷üt/r'sù br& $pks]ù=ÏJøts z`ø)xÿô©r&ur $pk÷]ÏB $ygn=uHxqur ß`»|¡RM}$# ( ¼çm¯RÎ) tb%x. $YBqè=sß Zwqßgy_ ÇÐËÈ
"Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, Maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh"[6]
Ibn 'Abbas sebagaimana dikutip oleh Ibn Kasir dalam tafsirnya "Tafsi>r al-Qur'a>n al-'Az}i>m" menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan amanat pada ayat di atas adalah ketaatan dan penghambaan atau ketekunan beribadah.[7] Ada juga yang memaknai kata amanah sebagai al-takli>f atau pembebanan, karena orang yang tidak sanggup memenuhinya berarti membuat utang atas dirinya. Adapun orang yang melaksanakannya akan memperoleh kemuliaan.[8]
Dari sekian banyak penafsiran ulama tentang amanah, dapat ditarik sebuah "benang merah" yang dapat menghubungkan antara satu dengan yang lain, yaitu al-mas'uliyyah (tanggung jawab) atas anugerah Tuhan yang diberikan kepada manusia, baik berupa jabatan (hamba sekaligus khalifah) maupun nikmat yang sedemikian banyak. Dengan kata lain, manusia berkewajiban untuk menyampaikan "laporan pertanggungjawaban" di hadapan Allah atas limpahan karunia Ilahi yang diberikan kepadanya. Hal ini juga berarti bahwa pemimpin bukan hanya orang yang memiliki jabatan organisasi/instansi dan atau lembaga tertentu tetapi setiap manusia adalah pemimpin skala paling kecil.
Hanya saja kebanyakan manusia tidak memiliki skill dan keterampilan dalam menjalankan amanah tersebut sehingga "LPJ-nya" ditolak yang berdampak pada kerusakan serta ketidakaturan, baik dirinya maupun alam raya ini. Padahal, Rasulullah saw, sudah sangat jelas mengingatkan umatnya mengenai eksistensi mereka di dunia. Ibarat penggembala yang bertugas memelihara, mengawasi, dan melindungi gembalaannya.
Oleh karena itu, penulis, di dalam makalah ini mengajak pembaca untuk merenungi dan menganalisa lebih jauh mengenai tanggung jawab pemimpin dalam perspektif hadis Nabi, sebagai sumber kedua ajaran Islam sekaligus gambaran personifikasi Rasulullah dalam mewujudkan kepemimpinan yang amanah.
Hanya saja, pembahasan makalah ini dibatasi pada salah satu hadis Rasulullah yang driwayatkan oleh al-Bukhari dari Abdullah ibn Umar, yaitu:
عن عبد الله بن عمر رضي الله عنهما: أن رسول الله صلى الله عليه و سلم قال: ألا كلكم راع وكلكم مسؤول عن رعيته فالإمام الاعظم الذي على الناس راع وهو مسؤول عن رعيته والرجل راع على أهل بيته وهو مسؤول عن رعيته والمرأة راعية على أهل بيت زوجها وولده وهي مسؤولة عنهم وعبد الرجل راع على مال سيده وهو مسؤول عنه ألا فكلكم راع وكلكم مسؤول عن رعيته
"…… Abdullah bin Umar r.a. berkata bahwa Rasulullah saw telah bersabda, “Ketahuilah: kalian semua adalah pemimpin (pemelihara) dan bertanggung jawab terhadap rakyatnya. Pemimpin akan dimintai pertanggungjawabannya tentang rakyat yang dipimmpinnya. Suami adalah pemimpin bagi keluarganya dan akan dimintai pertanggungjawabannya tentang keluarga yang dipimpinnya. Isteri adalah pemelihara rumah suami dan anak-anaknya. Budak adalah pemelihara harta tuannya dan ia bertanggung jawab mengenai hal itu. Maka camkanlah bahwa kalian semua adalah pemimpin dan akan dituntut (diminta pertanggungjawaban) tentang hal yang dipimpinnya”[9]  
B. Rumusan Masalah
Sesuai dengan judul makalah ini, yaitu upaya memahami tanggung jawab pemimpin berdasarkan hadis Nabi kullukum ra>'in wa kullukum mas'u>lun 'an ra'iyyatihi, maka permasalahan pokok yang akan diangkat sebagai kajian utama tergambar dalam rumusan musalah berikut:
1.      Bagaimana Takhri>j al-H{adi>s\  tersebut?
2.      Bagaimana Biografi Perawi al-a'la> dari hadis tersebut?
3.      Bagaimana syarh} al-H{adi>s\  tersebut?
C. Metode Penelitian
1.      Sumber penelitian.
Sumber utama penelitian ini adalah sembilan kitab standar hadis yang dikenal dengan al-Kutub al-Tis’ah. yang didalamnya terdapat hadis-hadis Nabi Muhammad SAW. yang berkaitan dengan berbagai persoalan termasuk tanggung jawab pemimpin.
Selain itu, untuk memperdalam pemahaman tentang hadis-hadis, dipergunakan pula sumber pendukung lainnya berupa kitab-kitab syarh} al-h}adi>s\ dan kitab-kitab lain yang berbicara mengenai tema tersebut.
2.      Jenis penelitian.
Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif,[10] yang berusaha untuk menghasilkan data dekskriptif berupa kata-kata (sabda) Rasululah SAW yang berkaitan dengan tanggung jawab pemimpin. Penelusuran terhadap sabda-sabda Rasulullah SAW SAW dilakukan dengan memakai metode lafz}i> (kata perkata) untuk menemukan grand concept  tentang tanggung jawab pemimpin tersebut.
Untuk menemukan teks-teks hadis yang dimaksud, maka diadakan takhri>j al-h}adi>s\.
Karena takhri>j al-h}adi>s\ mempunyai pengertian yang bermacam-macam, maka terlebih dahulu harus ditetapkan pengertian takhri>j al-h}adi>s yang digunakan dalam penelitian ini.
Takhri>j al-h}adi>s yang dikehendaki dalam penelitian ini adalah pencarian teks-teks hadis tentang pemimpin dengan menelusuri term-term al-ra>'in maupun term lain tapi mengandung makna kepemimpinan.
Untuk memudahkan pencarian hadis pada kitab-kitab hadis, penulis hanya menggunakan satu kamus al-Mu’jam al-Mufahras li alfa>z} al-H{adi>s\ al-Nabawi> karya Arnold John Wensinck.[11]
3.      Langkah-langkah yang dilakukan.
Sesuai dengan jenis dan metode penelitian yang telah ditetapkan, maka langkah-langkah yang dilakukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1.      Melakukan penelusuran dengan mengumpulkan hadis-hadis yang berkaitan dengan tema tersebut.
2.      Melakukan pembahasan dan uraian mengenai segala sesuatu yang berkaitan dengan makna hadis baik secara teksual maupun kontekstual, sampai pada penjelasan maksud-maksud tertentu hadis.
3.      Menyusun dan merumuskan konsep-konsep mengenai tanggung jawab pemimpin, berdasarkan hadis-hadis yang telah dibahas disertai dengan penjelasan beberapa ayat hadis lain yang terkait.



BAB II
TANGGUNG JAWAB PEMIMPIN
A. Takhri>j al-H{adi>s\
Dalam penelitian hadis, langkah awal yang mesti dilakukan adalah takhri>j al-h}adi>s\[12]. Karena dengannyalah, seorang peneliti hadis dapat mengetahui eksistensi suatu hadis apakah benar bahwa hadis yang ingin diteliti terdapat dalam buku-buku hadis atau tidak. Peneliti juga dapat mengetahui sumber otentik suatu hadis dari buku hadis apa saja didapatkan, serta dapat mengetahui tempat hadis tersebut dengan sanad yang berbeda di dalam kitab-kitab hadis. Dan yang lebih penting dengan takhri>j, peneliti dapat mengetahui kualitas hadis (diterima atau ditolak)[13]. Karena pengetahuan tersebut sangat berpengaruh dalam kehujjaan suatu hadis sebagai salah satu sumber hukum Islam.
Sehubungan dengan judul makalah ini –"Tanggung Jawab Pemimpin dalam Perspektif Hadis Nabi; Kajian Analisis Tematik Terhadap Hadis Kullukum Ra>'in wa Kullukum Mas'u>lun 'an Ra'iyyatihi"- setelah mengadakan penelusuran hadis berdasarkan metode lafal (lafz}i>) dengan term راع ، أمير ،  dan مسؤول , penulis menemukan bahwa setidaknya hadis tersebut diriwayatkan oleh lima Imam hadis yang termasuk penulis al-kutub al-tis'ah yaitu al-Bukhari, Muslim, Abu Daud, al-Turmuzi, dan Ahmad ibn Hanbal. Hanya saja, mereka meriwayatkan dengan lafal yang sedikit berbeda, namun tetap semakna. Dengan kata lain, hadis tersebut diriwayatkan secara maknawi (al-riwa>yah bi al-ma'na>).
Berikut ini disebutkan penjelasan A.J. Wensinck mengenai letak dari masing-masing hadis tersebut dalam karyanya "al-mu'jam al-mufahras li alfa>z} al-h}adi>s\ al-nabawi>":
·        Untuk term أمير :
فالأمير الذي على الناس راع ...... خ عتق 17، نكاح 90،، م إمارة 20،، د إمارة 1، 4، 5،، ت جهاد 27،، حم 2، 4، 45 ،،  [14]
·        Untuk term راع :
وعبد الرجل راع على مال سيده ...... خ أحكام 1، استقراض  20، عتق 19، وصايا 9،، م إمارة 20،، حم 3، 111،،  [15]
والرجل راع في أهله وهو مسؤول عن رعيته ....... خ جمعة 11، أحكام 1،، م إمارة 20،، حم 2، 54، 55، 111،،  [16]
كلكم راع وكلكم مسؤول عن رعيته ........ خ جمعة 11، جنائز 32، استقراض 20، وصايا 9، عتق 17، 19، نكاح 81، 90، أحكام 1،، م إمارة 20،، د إمارة 1، 13،، ت جهاد 27،، حم 2، 5، 54، 55108، 111، 121،،  [17]
·        Untuk term مسؤول :
كل راع مسؤول عن رعيته ....... حم 2، 108، 5، 54، 55، 111، 121،، خ جمعة 11، جنائز 32، عتق 17، 19، أحكام 1، وصايا 9، استقراض 20، نكاح 81، 90،، م إمارة 20،، د إمارة 1،، ت جهاد 27،،  [18]
·        Untuk term إمام :
الإمام راع ومسؤول عن رعيته ........ خ 11، إستقراض 20، عتق 19، وصايا 9، نكاح 81، أحكام 1،، ت أحكام 6، حم 3، 191،، [19]
Namun untuk lebih jelasnya mengenai perbedaan itu, berikut ini ditampilkan riwayat-riwayat dari masing-masing perawi tersebut.
1.    Hadis Riwayat al-Bukhari
·        حدثنا أبو اليمان أخبرنا شعيب عن الزهري قال أخبرني سالم بن عبد الله عن عبد الله عبد الله بن عمر رضي الله عنهما: أنه سمع رسول الله صلى الله عليه و سلم يقول  كلكم راع ومسؤول عن رعيته فالإمام راع وهو مسؤول عن رعيته والرجل في أهله راع وهو مسؤول عن رعيته والمرأة في بيت زوجها راعية وهي مسؤولة عن رعيتها والخادم في مال سيده راع وهو مسؤول عن رعيته. قال فسمعت هؤلاء من رسول الله صلى الله عليه و سلم وأحسب النبي صلى الله عليه و سلم قال والرجل في مال أبيه راع وهو مسؤول عن رعيته فكلكم راع وكلكم مسؤول عن رعيته [20]
·        حدثنا مسدد حدثنا يحيى عن عبيد الله قال حدثني نافع عن عبد الله رضي الله عنه: أن رسول الله صلى الله عليه و سلم قال: كلكم راع فمسؤول عن رعيته فالأمير الذي على الناس راع عليهم وهو مسؤول عنهم والرجل راع على أهل بيته وهو مسؤول عنهم والمرأة راعية على بيت بعلها وولده وهي مسؤولة عنهم والعبد راع على مال سيده وهو مسؤول عنه ألا فكلكم راع وكلكم مسؤول عن رعيته [21]
·        حدثنا بشر بن محمد السخيتاني أخبرنا عبد الله أخبرنا يونس عن الزهري قال أخبرني سالم عن ابن عمر رضي الله عنهما قال: سمعت رسول الله صلى الله عليه و سلم يقول: كلكم راع ومسؤول عن رعيته والإمام راع ومسؤول عن رعيته والرجل راع في أهله ومسؤول عن رعيته والمرأة في بيت زوجها راعية ومسؤولة عن رعيتها والخادم في مال سيده راع ومسؤول عن رعيته. قال وأحسب أن قد قال: والرجل راع في مال أبيه [22]
·        حدثنا أبو النعمان حدثنا حماد بن يزيد عن أيوب عن نافع عن عبد الله: قال النبي صلى الله عليه و سلم: كلكم راع وكلكم مسؤول فالإمام راع وهو مسؤول والرجل راع على أهله وهو مسؤول والمرأة راعية على بيت زوجها وهي مسؤولة والعبد راع على مال سيده وهو مسؤول ألا فكلكم راع وكلكم مسؤول [23]
·        حدثنا عبدان أخبرنا عبد الله أخبرنا موسى بن عقبة عن نافع عن ابن عمر رضي الله عنهما قال: عن النبي صلى الله عليه و سلم قال: كلكم راع وكلكم مسؤول عن رعيته الأمير راع والرجل راع على أهل بيته والمرأة راعية على بيت زوجها وولده فكلكم راع وكلكم مسؤول عن رعيته [24]
·        حدثنا إسماعيل حدثني مالك عن عبد الله بن دينار عن عبد الله بن عمر رضي الله عنهما: أن رسول الله صلى الله عليه و سلم قال ( ألا كلكم راع وكلكم مسؤول عن رعيته فالإمام الأعظم الذي على الناس راع وهو مسؤول عن رعيته والرجل راع على أهل بيته وهو مسؤول عن رعيته والمرأة راعية على أهل بيت زوجها وولده وهي مسؤولة عنهم وعبد الرجل راع على مال سيده وهو مسؤول عنه ألا فكلكم راع وكلكم مسؤول عن رعيته [25]
2.    Hadis Riwayat Muslim
·        حدثنا قتيبة بن سعيد حدثنا ليث ح وحدثنا محمد بن رمح حدثنا الليث عن نافع عن ابن عمر: عن النبي صلى الله عليه و سلم أنه قال ( ألا كلكم راع وكلكم مسئول عن رعيته فالأمير الذي على الناس راع وهو مسئول عن رعيته والرجل راع على أهل بيته وهو مسئول عنهم والمرأة راعية على بيت بعلها وولده وهي مسئولة عنهم والعبد راع على مال سيده وهو مسئول عنه ألا فكلكم راع وكلكم مسئول عن رعيته [26]
3.    Riwayat Abu Daud
·        حدثنا عبد الله بن مسلمة عن مالك عن عبد الله بن دينار عن عبد الله بن عمر أن رسول الله -صلى الله عليه وسلم- قال « ألا كلكم راع وكلكم مسئول عن رعيته فالأمير الذى على الناس راع عليهم وهو مسئول عنهم والرجل راع على أهل بيته وهو مسئول عنهم والمرأة راعية على بيت بعلها وولده وهى مسئولة عنهم والعبد راع على مال سيده وهو مسئول عنه فكلكم راع وكلكم مسئول عن رعيته [27]
4.    Riwayat al-Turmuzi
·        حدثنا قتيبة حدثنا الليث عن نافع عن ابن عمر عن النبى -صلى الله عليه وسلم- قال « ألا كلكم راع وكلكم مسئول عن رعيته فالأمير الذى على الناس راع ومسئول عن رعيته والرجل راع على أهل بيته وهو مسئول عنهم والمرأة راعية على بيت بعلها وهى مسئولة عنه والعبد راع على مال سيده وهو مسئول عنه ألا فكلكم راع وكلكم مسئول عن رعيته [28]
5.    Riwayat Ahmad ibn Hanbal
·        حدثنا إسماعيل أنا أيوب عن نافع عن بن عمر أن النبي صلى الله عليه و سلم قال : كلكم راع وكلكم مسؤول فالأمير الذي على الناس راع وهو مسؤول عن رعيته والرجل راع على أهل بيته وهو مسؤول والمرأة راعية على بيت زوجها وهي مسئولة والعبد راع على مال سيده وهو مسؤول ألا فكلكم راع وكلكم مسؤول [29]
·        حدثنا يحيى عن عبيد الله أخبرني نافع عن بن عمر قال قال رسول الله صلى الله عليه و سلم : كلكم راع وكلكم مسؤول عن رعيته فالأمير الذي على الناس راع عليهم وهو مسؤول عنهم والرجل راع على أهل بيته وهو مسؤول عنهم والمرأة راعية على بيت بعلها وولده وهى مسئولة عنهم وعبد الرجل راع على بيت سيده وهو مسؤول عنه ألا فكلكم راع وكلكم مسؤول عن رعيته [30]
·        حدثنا مؤمل بن إسماعيل حدثنا سفيان عن عبد الله بن دينار سمعت بن عمر يقول قال رسول الله صلى الله عليه و سلم : كلكم راع وكلكم مسؤل عن رعيته فالأمير راع على رعيته وهو مسؤل عنهم والرجل راع على أهل بيته وهو مسؤل عنهم والعبد راع على مال سيده وهو مسؤل عنه والمرأة راعية على بيت زوجها ومسئولة عنه [31]
·        حدثنا أبو اليمان أنا شعيب عن الزهري أخبرني سالم بن عبد الله عن عبد الله بن عمر أنه سمع النبي صلى الله عليه و سلم يقول : كلكم راع ومسئول عن رعيته الإمام راع وهو مسؤل عن رعيته والرجل في أهله راع وهو مسؤل عن رعيته والمرأة راعية في بيت زوجها وهي مسئولة عن رعيتها والخادم في مال سيده راع وهو مسؤل عن رعيته قال سمعت هؤلاء من النبي صلى الله عليه و سلم وأحسب النبي صلى الله عليه و سلم قال والرجل في مال أبيه راع وهو مسؤل عن رعيته فكلكم راع وكلكم مسؤل عن رعيته. [32]


B. Biografi Perawi al-a'la>
'Abdulla>h ibn 'Umar ibn al-Khat}t}a>b sering juga disebut Ibnu Umar (lahir 612 M atau 10 H - wafat 693/696 M atau 72/73 H) adalah seorang sahabat Nabi dan merupakan periwayat hadis yang terkenal.[33] Ia adalah anak dari 'Umar bin Khat}t}a>b, salah seorang sahabat utama Nabi Muhammad dan al-Khulafa>' al-Ra>syidi>n yang kedua.
Ibnu Umar masuk Islam bersama ayahnya saat ia masih kecil, dan ikut hijrah ke Madinah bersama ayahnya. Pada usia 13 tahun ia ingin menyertai ayahnya dalam Perang Badar, namun Rasulullah menolaknya. Perang pertama yang diikutinya adalah Perang Khandaq. Ia ikut berperang bersama Ja'far bin Abu Thalib dalam Perang Mu'tah, dan turut pula dalam pembebasan kota Makkah (Fath}u Makkah). Setelah Nabi Muhammad meninggal, ia ikut dalam Perang Yarmuk dan dalam penaklukan Mesir serta daerah lainnya di Afrika.[34]
Ibnu Umar adalah seorang yang meriwayatkan hadist terbanyak kedua setelah Abu Hurairah, yaitu sebanyak 2.630 hadits,[35] karena ia selalu mengikuti ke mana Rasulullah pergi. Bahkan Aisyah istri Rasulullah pernah memujinya dan berkata :"Tak seorang pun mengikuti jejak langkah Rasulullah di tempat-tempat pemberhentiannya, seperti yang telah dilakukan Ibnu Umar". Ia bersikap sangat berhati-hati dalam meriwayatkan hadist Nabi. Demikian pula dalam mengeluarkan fatwa, ia senantiasa mengikuti tradisi dan sunnah Rasulullah, karenanya ia tidak mau melakukan ijtihad. Biasanya ia memberi fatwa pada musim haji, atau pada kesempatan lainnya. Di antara para Tabi'in, yang paling banyak meriwayatkan darinya ialah Salim dan hamba sahayanya, Nafi'.[36]
Kesalehan Ibnu Umar sering mendapatkan pujian dari kalangan sahabat Nabi dan kaum muslimin lainnya. Jabir bin Abdullah berkata: " Tidak ada di antara kami disenangi oleh dunia dan dunia senang kepadanya, kecuali Umar dan putranya Abdullah." Abu Salamah bin Abdurrahman mengatakan: "Ibnu Umar meninggal dan keutamaannya sama seperti Umar.[37]
Ia hidup sampai 60 tahun setelah wafatnya Rasulullah. Ia kehilangan pengelihatannya di masa tuanya. Ia wafat dalam usia lebih dari 80 tahun, dan merupakan salah satu sahabat yang paling akhir yang meninggal di kota Makkah.
C. Syarh} al-H{adi>s\ atau Penjelasan Kandungan Hadis
1.    Makna Kosa Kata
Hadis yang dikaji ini membahas tentang masalah kepemimpinan dalam berbagai posisi dan tingkatannya. Namun sebelum lebih jauh mendalami dari kandungan hadis tersebut, penulis ingin memulai dari penjelasan beberapa kosa kata yang ada.
1.      Kata راع merupakan bentuk isim fa>'il dari kata رعى – يرعى. Menurut Mu'jam Maqa>yi>s al-Lugah, kata tersebut memiliki dua makna dasar yaitu memelihara atau mengawasi, dan kembali.[38] Sementara menurut Ra>gib al-As}faha>ni>, pada mulanya kata tersebut berarti memelihara binatang, baik dengan memberikan makanannya maupun dengan melindunginya dari bahaya.[39] Dari akar kata itu terbentuklah berbagai kata dengan bermacam-macam makna, tetapi semuanya mengandung makna memelihara dan mengawasi.[40] Misalnya kata الراعى dapat diartikan dengan penggembala, bisa juga dikonotasikan dengan makna pemimpin, yaitu orang yang mengatur dan memberi pelayanan terhadap apa yang menjadi tanggung jawabnya.[41]
2.      Kata مسؤول merupakan isim maf'ul dari akar kata سأل yang berarti meminta dan memohon.[42] Hanya saja ketika kata tersebut diikuti dengan huruf jar 'an ( عن ) maka maknanya menjadi "menanyakan", sebagai contoh سأل عن حالها "menanyakan tentang keadaannya".[43] Oleh karena kata مسؤول pada hadis di atas berarti "ditanya" atau "dimintai pertanggungjawaban" tentang kepemimpinannya.
3.      Kata الإمام الأعظم di dalam hadis tersebut dimaknai sebagai الإمام الذي على الناس yaitu orang yang diangkat sebagai pemimpin masyarakat. Dengan kata lain الإمام الأعظم adalah orang yang dipercayakan untuk menegakkan atau melaksanakan peraturan/ketentuan (al-h}udu>d) dan menegakkan keadilan di tengan masyarakat.[44]
2.    Pengertian dan Defenisi Pemimpin
Bicara soal “pemimpin”, persepsi yang selama ini memang terbatas hanya pada orang-orang yang memiliki jabatan dalam organisasi/instansi atau lembaga tertentu. Padahal yang disebut pemimpin bukan hanya mereka. Sesungguhnya semua orang adalah pemimpin, sebagaimana ditegaskan dalam hadis di atas. Mulai dari tingkatan pemimpin rakyat (pemerintah) sampai pada tingkatan kepemimpinan di rumah tangga. Bahkan dalam klausa hadis kullukum ra>'in tersirat bahwa kepemimpinan itu berlaku pula dalam setiap individu untuk memimpin, mengarahkan, dan menuntun dirinya pada jalan kebaikan dan kebenaran. Atau setidaknya setiap individu harus mengendalikan hawa nafsu, dan mengontrol perilaku atau anggota badannya, yang kesemuanya itu kelak harus dipertanggungjawabkan kepada Allah SWT.[45]
Apatah lagi memang, setiap manusia diciptakan oleh Allah di dunia telah di-"lantik" sebagai seorang pejabat yang memiliki tugas ganda –sebagaimana disebutkan pada latar belakang di atas- yaitu hamba Allah sekaligus menjadi khalifah-Nya. Hal ini kembali mempertegas bahwa manusia sejak ia dilahirkan sudah menjadi pemimpin yang diakui.
Karena itulah, pemimpin dapat dimaknai sebagai orang yang diberikan amanah dan kepercayaan oleh Allah untuk melaksanakan amanah tersebut dengan sebaik-baiknya yang kelak akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah swt.
Dengan demikian, setiap orang harus berusaha untuk menjadi pemimpin yang paling baik dalam segala tindakannya tanpa didasari kepentingan pribadi atau kepentingan golongan tertentu sesuai dengan makna kata ra>'in dalam hadis tersebut; memelihara, mengawasi, dan atau melayani. Terlebih lagi bagi orang yang sudah dipercayakan untuk menjadi pemimpin dalam sebuah kelompok, organisasi, atau wilayah tertentu.
Hanya saja, kata pemimpin dalam bahasa Arab sering digunakan dalam beberapa term, yaitu:
a.       Term راع
Sebagaimana disebutkan di atas bahwa term al-ra>'in pada dasarnya berarti penggembala yang bertugas memelihara binatang, baik dengan memberikan makanannya maupun dengan melindunginya dari bahaya. Namun dalam perkembangan selanjutnya, kata tersebut juga dimaknai "pemimpin", karena tugas pemimpin sebenarnya hampir sama dengan tugas penggembala yaitu memelihara, mengawasi, dan melindungi orang-orang yang dipimpinnya.[46]
Ini berarti bahwa ketika kata pemimpin disebut dengan term al-ra>'in  maka itu lebih dikonotasikan pada makna tugas dan tanggung jawab pemimpin tersebut. Lebih jauh lagi, term ri'a>yah yang merupakan salah satu bentukan dari akar kata رعى hanya ditemukan satu kali dalam al-Qur'an, yakni pada QS. Al-H{adi>d [57] : 27. Di dalam ayat tersebut, kata ri'a>yah dihubungkan dengan kata ganti/dhamir ها yang merujuk kepada kata رهبانية . menurut al-As}faha>ni>, kata ini berarti takut yang disertai dengan usaha memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti. Sehingga seorang pemimpin dalam menjalankan tugasnya harus memiliki kesadaran akan tanggung jawab tersebut sehingga tugasnya dilaksanakan penuh hati-hati, disertai upaya untuk memperbaiki diri sendiri dan orang yang dipimpinnya.
b.      Term خليفة
Kata khali>fah berasal dari akar kata خلف yang berarti "di belakang". Dari akar kata tersebut, lahir beberapa kata yang lain, seperti خليفة (pengganti), khila>f (خلاف ) "lupa atau keliru", dan khalafa (خلف).
Khusus untuk kata khali>fah, secara kebahasaan berarti "pengganti". Makna ini mengacu kepada arti asal, yaitu "di belakang". Disebut khali>fah karena yang menggantikan selalu berada di belakang atau datang di belakang, sesudah yang digantikan.[47]
Di dalam al-Qur'an sendiri, kata khali>fah disebut pada dua konteks. Pertama, dalam konteks pembicaraan tentang Nabi Adam as.[48] Konteks ayat ini menunjukkan bahwa manusia dijadikan khali>fah di atas bumi ini bertugas memakmurkannya atau membangunnya sesuai dengan konsep yang ditetapkan oleh Allah sebagai yang menugaskannya. Kedua, di dalam konteks pembicaraan tentang Nabi Daud as.[49] Konteks ayat ini menunjukkan bahwa Daud menjadi khali>fah yang diberi tugas untuk mengelola wilayah yang terbatas.
Melihat penggunaan kata khali>fah di dalam kedua ayat tersebut, dapat dipahami bahwa kata ini lebih dikonotasikan pada pemimpin yang diberi kekuasaan untuk mengelola suatu wilayah di bumi. Dalam mengelola wilayah kekuasaan itu, seorang khalifah tidak boleh berbuat sewenang-wenang atau mengikuti hawa nafsunya.[50]


c.       Term أمير
Kata ami>r merupakan bentuk isim fa>'il dari akar kata amara yang berarti "memerintahkan atau menguasai".[51] Namun pada dasarnya kata amara memiliki lima makna pokok, yaitu "antonim kata larangan, tumbuh atau berkembang, urusan, tanda, dan sesuatu yang menakjubkan.[52]
Hanya saja, bila merujuk ke al-Qur'an, kata ami>r tidak pernah ditemukan di sana, yang ada hanya kata ulil amri yang mengarah kepada makna pemimpin, meskipun para ulama berbeda pendapat tentang arti ulil amri tersebut. Ada yang menafsirkan dengan "kepala Negara, pemerintah, dan ulama". Bahkan orang-orang Syi'ah mengartikan ulil amri dengan ima>m-ima>m mereka yang maksum.[53]
Namun, sekalipun di dalam al-Qur'an tidak pernah ditemukan, ternyata kata ami>r itu sendiri sering digunakan dalam beberapa hadis. Misalnya saja, hadis riwayat al-Bukhari dari Abu Hurairah ra.
من أطاعني فقد أطاع الله ومن عصاني فقد عصى الله ومن أطاع أميري فقد أطاعني ومن عصى أميري فقد عصاني
"Barangsiapa yang mentaatiku maka sungguh ia telah taat kepada Allah, dan barangsiapa yang durhaka kepadaku maka sungguh ia telah durhaka kepada Allah. Dan barangsiapa yang taat kepada amir-ku maka sungguh ia telah taat kepadaku, barangsiapa yang durhaka kepada amir-ku maka sungguh ia telah durhaka kepadaku".[54]
Berdasarkan hadis di atas, term umara> atau ami>r dan ulil amri berkonotasi sama, yakni mereka yang mempunyai urusan dalam kepemimpinan karena memegang kendali masyarakatnya.[55] Karena itulah, H.A. Djazuli dalam bukunya Fiqh Siyasah menjelaskan bahwa term ami>r atau ulil amri dari sisi fiqh dustu>ri>[56] adalah ahl al-ha>l wa al-'aqd, yaitu orang yang memegang kekuasaan tertinggi dalam pemerintahan dan atau mempunyai wewenang membuat undang-undang yang mengikat kepada seluruh ummat di dalam hal-hal yang tidak diatur secara tegas oleh al-Qur'an dan hadis.[57]
d.      Term إمام
Kata ima>m merupakan salah bentukan kata dari akar kata أمّ – يأمّ  yang berarti "pergi menuju, bermaksud kepada, dan menyengaja".[58] Akan tetapi menurut Ibn Manz}u>r di dalam Lisa>n al-'Arab, kata ima>m mempunyai beberapa arti. Di antaranya berarti setiap orang yang diikuti oleh suatu kaum, baik untuk menuju jalan yang lurus maupun untuk menuju jalan yang sesat. Sebagaimana firman Allah QS. Al-Isra' [17] : 71, Yauma nad'u> kulla una>sin bi ima>mihim "ingatlah pada suatu hari Kami panggil tiap umat dengan pemimpinnya". Di samping itu, ima>m juga berarti mis\a>l (contoh, teladan). Ima>m juga dapat berarti "benang yang dibentangkan di atas bangunan untuk dibangun dan guna menyamakan bangunan tersebut.[59]
Sedangkan Ibn Fa>ris di dalam Maqa>yi>s al-Lugah menyebutkan bahwa kata ima>m memiliki dua makna dasar, yaitu "setiap orang yang diikuti jejaknya dan didahulukan urusannya", karena itulah Rasulullah saw disebut sebagai ima>m al-aimmah dan khali>fah sebagai pemimpin rakyat sering juga disebut ima>m al-ra'iyyah atau dalam hadis di atas digunakan kata al-ima>m al-a'zam. Di samping itu, menurut Ibn Faris, ima>m juga berarti "benang untuk meluruskan bangunan".[60]
Melihat pengertian di atas, juga dengan penggunaan term ima>m yang dikaitkan dengan ibadah shalat. Di mana, ibadah tersebut melahirkan beberapa makna filosofi, di antaranya kedekatan dengan Tuhan. Dengan kata lain memiliki aspek spiritual. Ibadah tersebut juga mengarah kepada makna jama>'ah yang berarti seorang ima>m haruslah diikuti. Sehingga term ima>m lebih dikonotasikan sebagai orang yang menempati kedudukan/jabatan yang diadakan untuk mengganti tugas kenabian di dalam memelihara agama dan mengendalikan dunia.[61]
3.    Tanggung Jawab Pemimpin
Pemimpin dalam segala aspek, mulai dari yang paling bawah sampai yang paling tinggi, di dalam hadis di atas dikenal dengan istilah الراعى atau penggembala. Karena memang tugas dasar atau tanggung jawab seorang pemimpin tidak jauh berbeda dengan tugas penggembala, yaitu memelihara, mengawasi, dan melindungi gembalaannya.
Oleh karena itu, seorang pemimpin harus betul-betul memperhatikan dan berbuat sesuatu sesuai dengan aspirasi rakyatnya. Sebagaimana diperintahkan oleh Allah swt.
* ¨bÎ) ©!$# ããBù'tƒ ÉAôyèø9$$Î/ Ç`»|¡ômM}$#ur Ç!$tGƒÎ)ur ÏŒ 4n1öà)ø9$# 4sS÷Ztƒur Ç`tã Ïä!$t±ósxÿø9$# ̍x6YßJø9$#ur ÄÓøöt7ø9$#ur 4 öNä3ÝàÏètƒ öNà6¯=yès9 šcr㍩.xs? ÇÒÉÈ
"Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran."[62]
Ulama tafsir memiliki keragaman pendapat dalam memaknai kata al-'adl dan al-ih}sa>n di dalam ayat tersebut. Di antara pendapat tersebut adalah :
1.      Al-'adl bermakna tauhid (la> ila>h illalla>h), sementara al-ih}sa>n adalah melaksanakan kewajiban (al-fara>id}).
2.      Al-'adl bermakna kewajiban, sementara al-ih}sa>n adalah ibadah sunnah.
3.      Al-'adl bermakna keseimbangan antara yang tersembunyi dan yang tampak, sementara al-ih}sa>n  adalah yang tersembunyi jauh lebih baik daripada yang tampak.[63]
Hanya saja, pemaknaan yang paling tepat untuk kedua kata tersebut, hendaknya kembali ke makna bahasanya. Di mana kata al-'adl berarti "perkara yang di tengah-tengah"[64] sehingga ia lebih dikonotasikan pada makna kesimbangan di antara dua sisi. Sedangkan al-ih}sa>n adalah memberikan kebaikan.
Dari pengertian bahasa tersebut, tampak jelas bahwa ayat di atas memerintahkan untuk berbuat adil kepada setiap pemimpin apa saja dan dimana saja. Seorang raja misalnya, harus berusaha untuk berbuat seadil-adilnya dan sebijaksana mungkin sesuai dengan perintah Allah SWT. Dalam meminpin rakyatnya sehingga rakyatnya hidup sejahtera. Sebaliknya, apabila raja berlaku semena-mena, selalu bertindak sesuai kemauannya, bukan didasarkan peraturan yang ada, rakyat akan sengsara. Dengan kata lain, pemimpin harus menciptakan keharmonisan antara dirinya dengan rakyatnya sehingga ada timbal balik diantara keduanya.[65]
Begitu pula para suami, isteri, penggembala dan siapa saja yang memiliki tanggung jawab dalam memimpin harus berusaha untuk berlaku adil dalam kepemimpinannya sehingga ia mendapat kemuliaan sebagaimana janji Allah swt yang diriwayatkan oleh al-Turmuz\i> dari Abu> Sa'i>d ra.
إن أحب الناس إلى الله يوم القيامة وأدناهم منه مجلسا إمام عادل وأبغض الناس إلى الله وأبعدهم منه مجلسا إمام جائر [66]
Hadis di atas menjelaskan bahwa orang yang paling dicintai oleh Allah dan paling dekat kedudukannya dengan-Nya adalah pemimpin yang adil. Akan tetapi orang yang paling dibenci oleh Allah dan paling jauh tempatnya dari-Nya adalah pemimpin yang berlaku aniaya.
Dengan demikian, tugas dan fungsi pemimpin tidaklah mudah bahkan hal tersebut adalah sesuatu yang sangat berat. Seorang pemimpin tidak hanya duduk-duduk di kursi empuk sambil memerintah pada bawahannya, tanpa terlibat langsung dalam pekerjaan tersebut secara baik dan efektif.
Di samping berlaku adil, pemimpin juga harus menyadari amanah yang telah diberikan Allah kepadanya sehingga dengan kesadaran tersebut, ia akan berusaha memberikan pelayanan yang baik dan menaburkan kerahmatan.
Rasulullah saw bersabda:
وإنها أمانة وإنها يوم القيامة خزي وندامة إلا من أخذها بحقها وأدى الذي عليه فيها
"Sesungguhnya kepemimpinan itu adalah amanah, dan sesungguhnya pada hari kiamat akan mendapatkan malu dan penyesalan, kecuali orang yang mengambilnya dengan hak dan melaksanakan tugas kewajibannya dengan baik".[67]
Karena itu, pemimpin harus selalu menyadari dan bersikap mawas diri dalam menanggung beban amanah. Tidaklah wajar jika ada pemimpin yang dipilih dan diangkat oleh rakyat untuk menerima beban amanah, tapi ia tidak mengucapkan tasbih "subh}analla>h" atau kalimat h}auqa>lah "la> h}aula wala> quwwata illa billa>h". Namun, ia justru bersujud syukur dan mengadakan "tasyakkuran" pengangkatannya. Padahal, kepemimpinan bukanlah sesuatu yang patut disyukuri, tetapi ia adalah hal yang wajib dijalankan sebaik-baiknya dengan bimbingan Allah swt dan Rasul-Nya.[68]
Dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawab kepemimpinannya, seorang pemimpin harus dapat memahami, menghayati, dan menyelami kondisi jiwa "gembalaannya" yang berbeda-beda. Rakyat/gembalaan memiliki kapasitas dan kapabilitas tersendiri, sehingga pemimpin harus terus menggali dan mengembangkan kualitas pemahaman terhadap rakyatnya yang beragam tersebut dengan perspektif psikologi Islam atau psikologi kenabian.[69]
Suatu pelajaran yang berharga dari Rasulullah saw. Agar pemimpin memperhatikan orang-orang yang dipimpinnya yang memiliki kondisi berbeda-beda diisyaratkan pada sabda beliau:
إذا صلى أحدكم للناس فليخفف فإنه منهم الضعيف والسقيم والكبير وإذا صلى أحدكم لنفسه فليطول ما شاء
"Apabila salah seorang di antara kalian menjadi imam, hendaklah ia meringankan shalatnya. Karena di antara manusia itu ada yang lemah, ada yang sakit, dan adapula yang tua. Apabila kalian shalat sendiri, hendaklah ia shalat menurut yang ia kehendaki".[70]
Seorang pemimpin hendaknya mempelajari banyak ilmu, selain ilmu psikologi, pemimpin juga hendaknya melengkapi diri dengan pengetahuan sosiologi sebagai ilmu pelengkap untuk dapat menguasai tehnik dan seni memimpin.
Pemimpin yang tidak paham dengan kondisi dan eksistensi jiwa rakyatnya, kemungkinan dapat berbuat di luar batas-batas kemanusiaan dengan bertindak sewenang-wenang di luar batas kesanggupan manusia yang dipimpin itu.
Oleh karena itu, seorang pemimpin hendaknya jangan menganggap dirinya sebagai manusia super yang bebas berbuat dan memerintah apa saja kepada rakyatnya. Akan tetapi sebaliknya, ia harus berusaha memposisikan dirinya sebagai pelayan dan pengayom masyarakat.
Bahkan pemimpin yang tidak mampu memelihara, melindungi, dan mampu memberikan rasa aman terhadap rakyatnya, bukanlah pemimpin sejati yang sejati menurut Islam. Pemimpin yang membuat susah dan sengsara rakyatnya karena tindakan-tindakannya yang sewenang-wenang akan dipersulit dan disengsarakan pula oleh Allah swt. 'Aisyah ra. memberitakan bahwa Rasulullah saw pernah berdoa:
اللهم من ولى من أمر أمتي شيئا فشق عليهم فاشقق عليه ومن ولى من أمر أمتي شيئا فرفق بهم فارفق به
"Ya Allah, siapa yang menguasai sesuatu dari urusan umatku lalu mempersulit mereka, maka persulitlah baginya. Dan siapa yang mengurusi umatku dan berlemah lembut kepada mereka, maka permudahlah baginya".[71]
 Begitu berat dan besar tanggung jawab seorang pemimpin, sehingga Rasulullah dalam sabdanya di atas yang menjadi kajian utama makalah ini, kembali mengulangi kalimat kullukum ra>'in yang diawali dengan huruf peringatan (tanbih) yaitu ألا sebagai bentuk isyarat yang mengingatkan setiap manusia untuk lebih berhati-hati dalam menjalankan kepemimpinannya karena semua itu akan dipertanggungjawabkan dihadapan Allah swt.[72]


BAB III
PENUTUP

A.  Kesimpulan
Berdasarkan penjelasan-penjelasan di atas yang berbicara tentang tanggung jawab pemimpin dalam perspektif hadis Nabi khususnya riwayat kullukum ra>'in, maka dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut:
1.      Hadis yang menjadi kajian utama dalam makalah ini, setidaknya diriwayatkan oleh lima Imam hadis yaitu al-Bukha>ri, Muslim, Abu> Da>ud, al-Turmuz\i>, dan Ah}mad ibn H{anbal. Hanya saja riwayat-riwayat dari masing-masing mukharrij tersebut memiliki perbedaan lafal. sehingga ini berarti hadis tersebut diriwayatkan secara maknawi (al-riwa>yah bi al-ma'na>). akan tetapi terlepas dari perbedaan tersebut, penulis –tanpa merinci lebih jauh alasannya- ingin mempertegas bahwa hadis tersebut berkualitas sahih apatah lagi diriwayatkan oleh al-Bukha>ri> dalam kitab sahihnya yang oleh para ulama diakui keabsahannya (as}ah al-kutub ba'da al-Qur'a>n).
2.       Dari semua jalur hadis yang ada, hadis tersebut hanya diriwayatkan oleh 'Abdulla>h ibn 'Umar 'ibn al-Khat}t}a>b yang merupakan salah satu sahabat Nabi yang mulia, dengan memiliki banyak keutamaan, sehingga para sahabat yang lain demikian pula generasi setelahnya sering memuji dan menyebut-nyebut kelebihannya.
3.      Pemimpin dalam perspektif hadis Nabi secara khusus, bukan semata-mata orang yang memiliki jabatan atau kedudukan pada suatu lembaga, instansi, dan atau organisasi tertentu. Akan tetapi pemimpin adalah setiap individu yang sejak lahirnya memiliki wilayah kepemimpinan sekalipun hanya dalam skala yang kecil. Kepemimpinan tersebut harus dipertanggungjawabkan di hadapan Allah, sehingga seorang pemimpin harus menyadari amanah yang telah dibebankan kepadanya. Dengan kesadaran tersebut, ia akan bersikap adil dan selalu berupaya memelihara, mengawasi, dan melindungi "gembalaannya" sebagaimana kandungan hadis Nabi kullukum ra>'in wa kullukum mas'u>lun 'an ra'iyyatihi.
B.   Rekomendasi
Sebagai manusia biasa yang tidak luput dari kesalahan dan kekurangan, sehingga penulis hanya mengharapkan kritikan dan masukan yang membangun dari semua pihak, termasuk dari pembaca guna memperbaiki dan menyempurnakan tulisan dan pengetahuan penulis. Apatah lagi penulis yakin bahwa makalah ini masih sangat jauh dari standar sebuah karya ilmiah. Bahkan sebuah kebahagiaan besar jika ada pihak yang berusaha meneliti kembali –paling tidak memeriksa referensi yang digunakan- makalah ini sehingga hasil penelitian tersebut dapat lebih valid.
Menyikapi segala bentuk masalah dan keragaman pendapat tentang tanggung jawab pemimpin, baik aspek hukum dan dalilnya –sekiranya hal itu didapatkan- termasuk keragaman bentuk pemikiran dan pendapat hendaknya dijadikan sebuah pegangan terhadap kerahmatan agama Islam.
Inilah hasil usaha dan kerja keras penulis dalam mencari, mempelajari dan menulis tentang apa dan bagaimana konsep hadis tentang tanggung jawab pemimpin. Semoga dengan tulisan ini menjadi ilmu bagi penulis dan pembaca sehingga dapat menuai pahala yang berlipat ganda di sisi Allah SWT. Walla>hu a’lam bi al-s}awa>b.

DAFTAR PUSTAKA
Abu> al-T{ayyi>b, Muh}ammad Syams al-H{aq al-'Az}i>m A>ba>di>. 'Aun al-Ma'bu>d Syarh} Sunan Abi> Da>ud. cet. II. Beirut. Da>r al-Kutub al-'Ilmiyah. 1415 H.
Ahmad, Arifuddin. Paradigma Baru Memahami Hadis Nabi; Refleksi Pemikiran Prof. Dr. Muhammad Syuhudi Ismail. Jakarta. Renaisan. 2005.
Al-As}faha>ni>, Abu> al-Qa>sim al-H{usain ibn Muh}ammad al-Ra>gib. Mufrada>t Gari>b al-Qur'a>n. Beirut. Da>r al-Fikr. t.th.
Al-'Asqala>ni>, Ah}mad ibn 'Ali ibn H{ajar. Fath} al-Ba>ri> Syarh} S{ah}i>h} al-Bukha>ri>. Beirut. Da>r al-Ma'rifah. 1379 H.
Al-Azadi>, Abu> Da>ud Sulaima>n ibn al-Asy'as al-Sajasta>ni>. Sunan Abi> Da>ud, cet. I. Beirut. Da>r ibn H{azm. 1997.
Al-Banjari, Rachmat Ramadhana. Prophetic Leadership. Yogyakarta. DIVA Press. 2008.
Al-Bukha>ri>, Abu> 'Abdilla>h Muh}ammad ibn Isma>'il. al-Ja>mi' al-S{ah}i>h} al-Musnad min H{adi>s\ Rasu>lilla>h S{allalla>hu 'alai>hi wa Sallam wa Sunanihi wa Ayya>mihi. Kairo. al-Mat}ba'ah al-Salafiyyah. 1403 H.
Al-Dimasyqi>, 'Ima>d al-Di>n Abu> al-Fida>' Isma>'il ibn Kas\i>r. Tafsi>r al-Qur'a>n al-Az}i>m. Kairo. Muassasah Qurt}ubah. 2000.
Al-Khat}i>b, Muh}ammad 'Ajja>j. Us}u>l al-H{adi>s\; 'Ulu>muhu wa Mus}t}ala>h}uhu. Beirut. Da>r al-Fikr. 1989.
Al-Mas}ri>, Muh}ammad ibn Mukrim ibn Manz}u>r. Lisa>n al-'Arab. Beirut. Da>r S{a>dir. t.th.
Al-Mawardi>, Abu> H{asan. al-Ah}ka>m al-Sult}a>niyyah wa al-Wila>yah al-Di>niyyah. cet. III. Mesir. Mus}t}afa al-Asabil H{alibi. t.th.
Al-Mizzi>, Jama>l al-Di>n Abu> H{ujja>j Yu>suf. Tahz\i>b al-Kama>l fi> Asma>'i al-Rija>l. Beirut. Mausu>'ah al-Risa>lah. 1985.
Al-Naisa>bu>ri>, Abu> al-H{usain Muslim ibn al-H{ajja>j ibn Muslim al-Qusyairi>. al-Ja>mi' al-S{ah}i>h}. Beirut. Da>r Ihya> al-Tura>s\ al-'Arabi>. t.th.
Al-Syauka>ni>, Muh}ammad ibn 'Ali ibn Muh}ammad. Fath} al-Qadi>r al-Ja>mi' baina Fanni al-Riwa>yah wa al-Dira>yah min 'Ilm al-Tafsi>r. Beirut. Da>r S{a>dir. t.th.
Al-Turmuz\i>, Abu> 'I<sa> Muh}ammad ibn 'I<sa> ibn Saurah. al-Ja>mi' al-S{ah}i>h} wa Huwa Sunan al-Turmuz\i>. cet. I. Riyadh. Maktabah al-Ma'a>rif. 1962.
Ambo Asse, H. Hadis Ahkam; Ibadah, Sosial, & Politik. Makassar. Alauddin University Press. 2009.
Ambo Dalle, H. Abdurrahman. al-Qaul al-S{a>diq fi> Ma'rifah al-Kha>liq. t.d.
Djazuli, H. A. Fiqh Siyasah; Implementasi Kemaslahatan Ummat dalam Rambu-rambu Syariah. Bogor. Kencana. 2003.
Ibn H{anbal, Ah}mad. al-Musnad. Kairo. Da>r al-H{adi>s. 1995.
Ibn Zakariya, Abu> al-H{usain Ah}mad ibn Fa>ris. Mu'jam Maqa>yi>s al-Lugah. Beirut. Da>r al-Fikr. 1979.
Khon, Abdul Majid. Ulumul Hadis. Jakarta. Amzah. 2008.
Munawwir, Ahmad Warson. Kamus al-Munawwir; Arab-Indonesia Terlengkap. cet. XIV. Surabaya. Pustaka Progressif. 1997.
Praja, Juhaya S. Tafsir Hikmah; Seputar Ibadah, Muamalah, Jin, dan Manusia. Bandung. Remaja Rosdakarya. 2000.
Sahabuddin…[et.al.]. Ensklopedi al-Qur'an; Kajian Kosakata. Jakarta. Lentera Hati. 2007.
Tailor, Robert Bogdan dan Steven J. Introduction to Qualitative Research Methods. New York. John Wiley & Sons. 1975.



[1]Rachmat Ramadhana al-Banjari, Prophetic Leadership (Yogyakarta: DIVA Press, 2008), h. 21.
[2]QS. Al-Z|a>riya>t [51] : 56.
[3]Ibadah yang dilakukan oleh seorang hamba kepada Tuhannya, bukanlah semata-mata sebagai wujud penghambaan diri kepada-Nya, tetapi juga sebagai bentuk terima kasih dan rasa syukur atas segala nikmat yang telah Tuhan berikan kepadanya. H. Abdurrahman Ambo Dalle, al-Qaul al-S{a>diq fi> Ma'rifah al-Kha>liq (t.d.), h. 1.
[4]QS. Al-Baqarah [2] : 30.
[5]QS. Al-A'ra>f [7] : 56.
[6]QS. Al-Ahza>b [33] : 72.
[7]'Ima>d al-Di>n Abu> al-Fida>' Isma>'il ibn Kas\i>r al-Dimasyqi>, Tafsi>r al-Qur'a>n al-Az}i>m, jil. XI (Kairo: Muassasah Qurt}ubah, 2000), h. 250.
[8]Kaitannya dengan hal tersebut, Abdullah Yusuf Ali menyatakan bahwa kata-kata langit, bumi, dan gunung-gunung pada ayat tersebut mengandung makna simbolik. Maksudnya, untuk membayangkan bahwa amanah itu sedemikian berat sehingga benda-benda yang sedemikian berat seperti langit, bumi, dan gunung yang cukup kuat serta teguh sekalipun, tidak sanggup menanggung dan memikulnya. Lihat Sahabuddin…[et.al.], Ensklopedi al-Qur'an; Kajian Kosakata, jil. I (Jakarta: Lentera Hati, 2007), h. 83-84.
[9]Abu> 'Abdilla>h Muh}ammad ibn Isma>'il al-Bukha>ri>, al-Ja>mi' al-S{ah}i>h} al-Musnad min H{adi>s\ Rasu>lilla>h S{allalla>hu 'alai>hi wa Sallam wa Sunanihi wa Ayya>mihi, jil. III (Kairo: al-Mat}ba'ah al-Salafiyyah, 1403 H), h. 328.  
[10]Menurut Bogdan dan Tailor, yang dimaksud dengan penelitian kualitatif adalah penelitian yang berusaha untuk mendiskripsikan data berupa: tulisan, kata-kata, atau tingkah laku yang dapat diamati. Robert Bogdan dan Steven J. Tailor, Introduction to Qualitative Research Methods (New York: John Wiley& Sons, 1975), h. 4.
[11]Sebenarnya penyusun kitab al-Mu’jam ini adalah sebuah tim. Dan salah satu dari tim tersebut yang sangat aktif, mulai dari proses penyusunan juz pertama sampai juz terakhir adalah Arnold John Wensinck. Tim tersebut bekerja sama juga dengan Muh}ammad Fua>d ‘Abd al-Ba>qi>. Pencarian hadis melalui kitab al-Mu’jam tersebut berdasarkan petunjuk lafal matn hadis.
[12]Secara etimologi kata "takhri>j" berasal dari kata خرج – يخرج –تخريجا yang berarti menampakkan, mengeluarkan, menerbitkan, menyebutkan, dan menumbuhkan. Maksudnya menampakkan sesuatu yang masih tersembunyi, tidak kelihatan, dan masih samar. Sedangkan secara terminologi, kata ini memiliki banyak definisi, antara lain : 1. menjelaskan hadis pada orang lain dengan menyebutkan para periwayatnya dalam sanad hadis dengan menggunakanperiwayatan yang mereka tempuh. 2. mengeluarkan dan meriwayatkan hadis dari beberapa kitab. 3. menunjukkan asa-usul hadis dan mengemukakan sumber pengambilannya dari berbagai kitab hadis yang disusun oleh para mukharrij-nya dan menisbatkannya dengan cara menyebutkan metode periwayatan dan sanadnya masing-masing. 4. menunjukkan tempat hadis pada sumber-sumber aslinya kemudian menjelaskan derajatnya jika diperlukan. Akan tetapi pengertian takhri>j yang digunakan untuk maksud kegiatan penelitian hadis adalah pengertian yang disebutkan terakhir. Berdasarkan pengertian tersebut, maka ada tiga hal yang mendasar dari pengertian tersebut, yaitu : pertama, kegiatan penelusuran suatu hadis untuk mengetahui tempat atau sumber-sumbersnya. Kedua, sumber-sumber pengambilan hadis itu merupakan sumber-sumber asli. Ketiga, hadis yang termuat dalam sumber-sumber yang asli itu dikemukakan secara lengkap sanad dan matannya. Lihat Arifuddin Ahmad, Paradigma Baru Memahami Hadis Nabi; Refleksi Pemikiran Prof. Dr. Muhammad Syuhudi Ismail (Jakarta; Renaisan' 2005), cet. I, hal. 71.
[13]Lihat Abdul Majid Khon, Ulumul Hadis (Jakarta; Amzah, 2008), cet. I, hal 117-118
[14]A.J. Wensinck, al-Mu'jam al-Mufahras li Alfa>z} al-H{adi>s\ al-Nabawi>, jil. I (London: Maktabah Barel, 1936), h. 103.  
[15] Ibid., jil. II, h. 273.
[16]Ibid.
[17]Ibid.
[18]Ibid., jil. II, h. 383.
[19]Ibid., jil. I, h. 89.
[20]Al-Bukha>ri>, op.cit., jil. II, h. 178.
[21]Ibid., jil. II, h. 222.
[22]Ibid., jil. II, h. 290.
[23]Ibid., jil. III, h. 383.
[24]Ibid., jil. III, h. 389.
[25]Ibid., jil. IV, h. 328.
[26]Abu> al-H{usain Muslim ibn al-H{ajja>j ibn Muslim al-Qusyairi> al-Naisa>bu>ri>, al-Ja>mi' al-S{ah}i>h}, jil. VI, (Beirut: Da>r Ihya> al-Tura>s\ al-'Arabi>, t.th), h. 7-8.
[27]Abu> Da>ud Sulaima>n ibn al-Asy'as al-Sajasta>ni> al-Azadi>, Sunan Abi> Da>ud, cet. I, jil. III (Beirut: Da>r ibn H{azm, 1997), h. 231.
[28]Abu> 'I<sa> Muh}ammad ibn 'I<sa> ibn Saurah al-Turmuz\i>, al-Ja>mi' al-S{ah}i>h} wa Huwa Sunan al-Turmuz\i>, cet. I, jil. IV (Riyadh: Maktabah al-Ma'a>rif, 1962), h. 208.
[29]Ah}mad ibn H{anbal, al-Musnad, jil. II (Kairo; Da>r al-H{adi>s\,1995), h. 283.
[30]Ibid., jil. IV, h. 533.
[31]Ibid., jil. V, h. 296.
[32]Ibid., jil. V, h. 349.
[33]Muh}ammad 'Ajja>j al-Khat}i>b, Us}u>l al-H{adi>s\; 'Ulu>muhu wa Mus}t}ala>h}uhu (Beirut: Dar al-Fikr, 1989), h. 404.
[34]Jama>l al-Di>n Abu> H{ujja>j Yu>suf al-Mizzi>, Tahz\i>b al-Kama>l fi> Asma>'i al-Rija>l, jil. XV (Beirut: Mausu>'ah al-Risa>lah, 1985), h. 339.
[35]Muh}ammad 'Ajja>j al-Khat}i>b, op. cit., h. 404.
[36]Al-Mizzi>, op. cit., jil. XV, h. 339.
[37]Ibid., jil. XV, h. 339.
[38]Abu> al-H{usain Ah}mad ibn Fa>ris ibn Zakariya, Mu'jam Maqa>yi>s al-Lugah, jil. II (Beirut: Da>r al-Fikr, 1979), h. 409.
[39]Abu> al-Qa>sim al-H{usain ibn Muh}ammad al-Ra>gib al-As}faha>ni>, Mufrada>t Gari>b al-Qur'a>n (Beirut: Da>r al-Fikr, t.th), h. 198.
[40]Sahabuddin…[et al.], Ensklopedi al-Qur'an; Kajian Kosa Kata, jil. III (Jakarta: Lentera Hati, 2007), h. 829.
[41]H. Ambo Asse, Hadis Ahkam; Ibadah, Sosial, & Politik (Makassar, Alauddin University Press, 2009), h. 196.
[42]Al-As}faha>ni>, op. cit., h. 250.
[43]Ahmad Warson Munawwir, Kamus al-Munawwir; Arab-Indonesia Terlengkap, cet. XIV (Surabaya: Pustaka Progressif, 1997), h. 600.
[44]Lihat Ah}mad ibn 'Ali ibn H{ajar al-'Asqala>ni>, Fath} al-Ba>ri> Syarh} S{ah}i>h} al-Bukha>ri>, jil. XIII (Beirut: Da>r al-Ma'rifah, 1379 H), h. 113.
[45]Ibid., jil. XIII, h. 113. Lihat pula Muh}ammad Syams al-H{aq al-'Az}i>m A>ba>di> Abu> al-T{ayyi>b, 'Aun al-Ma'bu>d Syarh} Sunan Abi> Da>ud, cet. II, jil. VIII (Beirut: Da>r al-Kutub al-'Ilmiyah, 1415 H), h. 105.  
[46]Sahabuddin, op. cit., jil. III, h. 829.
[47]Sahabuddin, op. cit., jil. II, h. 452.
[48]QS. Al-Baqarah [2] : 30.
[49]QS. Sad [38] : 26.
[50]Lihat QS. Sad [38] : 26, dan QS. Taha [20] : 16.
[51]A.W. Munawwir, op. cit., h. 1466.
[52]Lihat Ibn Fa>ris, op. cit., jil. I, h. 141.
[53]H. A. Djazuli, Fiqh Siyasah; Implementasi Kemaslahatan Ummat dalam Rambu-rambu Syariah (Bogor; Kencana, 2003), h. 91-92.
[54]Al-Bukha>ri>, op. cit., jil. IV, h. 327.
[55]Juhaya S. Praja, Tafsir Hikmah; Seputar Ibadah, Muamalah, Jin, dan Manusia (Bandung; Remaja Rosdakarya, 2000), h. 141.
[56]Fiqh Dustu>ri> adalah salah satu bagian dari fiqh siya>sah (fiqh dustu>ri>, fiqh ma>li, fiqh dauli>, dan fiqh harbi>), yang mengatur hubungan antara warga Negara dengan lembaga Negara yang satu dan warga Negara dengan lembaga Negara yang lain dalam batas-batas administratif suatu Negara.
[57]H. A. Djazuli, op. cit., h. 92 & 118.
[58]A.W. Munawwir, op. cit., h. 39.
[59]Lihat Muh}ammad ibn Mukrim ibn Manz}u>r al-Mas}ri>, Lisa>n al-'Arab, jil. XII (Beirut; Da>r S{a>dir, t.th), h. 22.
[60]Lihat Ibn Fa>ris, op. cit., jil. I, h. 28-29.
[61]Abu> H{asan al-Mawardi>, al-Ah}ka>m al-Sult}a>niyyah wa al-Wila>yah al-Di>niyyah, cet. III (Mesir; Mus}t}afa al-Asabil H{alabi, t.th), h. 5.
[62]QS. Al-Nah}l [16] : 90.
[63]Muh}ammad ibn 'Ali ibn Muh}ammad al-Syauka>ni>, Fath} al-Qadi>r al-Ja>mi' baina Fanni al-Riwa>yah wa al-Dira>yah min 'Ilm al-Tafsi>r, jil. IV (Beirut: Da>r S{a>dir, t.th), h. 255.
[64]A.W. Munawwir, op. cit., 906.
[65]Ibn H{ajar al-'Asqala>ni>, op. cit., jil. XIII, h. 112.
[66]Al-Turmuz\i>, op. cit., jil. III, h. 617.
[67]Muslim al-Qusyairi>, op. cit., jil. III, h. 1457.
[68]QS. Al-Anfa>l [8] : 27.
[69]Rachmat Ramadhana al-Banjari, op. cit., h. 249.
[70]Al-Bukha>ri, op. cit., jil. I, h. 248.
[71]Muslim al-Qusyairi>, op. cit., jil. III, h. 1458.
[72]Lihat Ibn H{ajar al-'Asqala>ni, op. cit., jil. XIII, h. 113.

0 komentar:

Poskan Komentar

apakah anda tidak menemukan yang anda cari??? silahkan tuliskan sesuatu yang anda cari itu....

FACEBOOK COMENT

ARTIKEL SEBELUMNYA

 
Blogger Templates