Kamis, 08 Desember 2011

MANHAJ TAFSIR AL AZHAR


OLEH : FATHULLAH MARZUKI. S.Th.I

BAB I
PENDAHULUAN


A.    Latar Belakang
Kajian tentang tradisi al-Qur’an dan tafsir di Indonesia telah dilakukan oleh beberapa Indonesianis seperti, R. Israeli dan A.H. Johns (Islam in the Malay world: an Explotary survey with the some refences to Quranic exegiesis, 1984), A.H. Johns (Quranic Exegiesis in the Malay world: In search of profile, 1998). P. Riddel (Earlist Quranic Exegetical activity in the malay speaking states, 1998).[1]
Secara singkat, aktivitas seputar al-Qur’an di Indonesia dirintis oleh Abd Rauf Singkel, yang menyusun al-Qur’an ke dalam bahasa Melayu, pada pertengahan abad XVII. Upaya rintisan ini kemudian diikuti oleh Munawar Chalil (Tafsir al-Qur’an Hidayatur rahman), A.Hassan Bandung (Al-Furqan, 1928), Mahmud Yunus (Tafsir Qur’an Indonesia, 1935), Halim Hassan (Tafsir al-Qur’an al-Karim, 1955), Zainuddin Hamidi (Tafsir Al-Quran, 1959), Iskandar Idris (Hibarna), dan Kasim Bakry (Tafsir al-Qur’an al-Hakim, 1960), Hamka (Tafsir Al-Azhar, 1973) Tafsir al-Mishbah karya Quraish Shihab.[2]
Dalam bahasa-bahasa daerah, upaya-upaya ini dilakukan oleh Kemajuan Islam Yogyakarta (Qur’an kejawen dan Qur’an Sandawiyah), Bisyri Mustafa Rembang (al-Ibriz, 1960), R.Muhammad Adnan (al-Qur’an suci basa jawi, 1969) dan Bakry Syahid (Al-Huda, 1972). Sebelumnya pada 1310 H, Kiyai Mohammed Saleh Darat Semarang menulis sebuah tafsir dalam bahasa jawa huruf Arab. AG. Daud Ismail menulis dalam bahasa bugis Tafsire al-Qur’an bahasa Ugi. Bahkan pada 1924, perkumpulan Mardikintoko Kauman Sala menerbitkan terjemah al-Qur’an 30 juz basa Jawi huruf Arab Pegon. Aktivitas lainnya juga dilakukan secara persial, seperti penerbitan terjemah dan tafsir Muhammadiyah, Persis Bandung dan al-Ittihadul Islamiyah [KH.Sanusi Sukabumi], beberapa penerbitan terjemah di Medan, Minangkabau dan serta kawasan lainnya.
Upaya-upaya tersebut di atas, serta tuntutan masyarakat pecinta al-Qur’an, mengundang para cendekia untuk menulis dan menerjemahkan berbagai karya di seputar al-Qur’an. Kepustakaan-kepustakaan tersebut telah terisi dengan karya-karya Hasbi Ash-Shiddieqi (Sejarah dan pengantar ilmu al-Qur’an, 1980), beberapa textbook perguruan tinggi, terjemah karya Manna al-Qattan, serta beberapa karya penulis sendiri. Khusus dalam wacana sejarah al-Qur’an, beberapa karya dan terjemahan telah muncul, seperti Adanan Lubis (Tarikh al-Qur’an, 1941), Abu Bakar Aceh (Sejarah Alquran, 1986), Mustofa (Sejarah Alquran, 1994) dan sebagainya.
Salah satu karya tafsir di Indonesia yang cukup ternama juga sebagai objek penelitian dalam makalah ini adalah Tafsir al-Azhar Karya Prof. Dr. Hamka.
B.    Rumusan Masalah
Dari uraian latar belakang, pemakalah merumuskan permasalahan pokok : Manhaj Hamka dalam Tafsir al-Azhar dengan sub permasalahan yang kemudian dikaji adalah:
1.      Bagaimana proses lahirnya tafsir al-Azhar?
2.      Bagaimana Sistematika dan Pendekatan yang digunakan Hamka?
3.      Apa Metode dan corak tafsir al-Azhar?



BAB II
PEMBAHASAN


A.    Biografi Hamka
Ketika kaum muda Minang sedang gencar-gencarnya melakukan gerakan pembaharuan di Minang Kabua maka ketika itu Haji Abdul Malik Karim Amrullah yang lebih dikenal dengan panggilan Hamka yang merupakan salah satu putra terbaik Minang Kabau, dilahirkan di Tanah Sirah desa Sungai Batang di tepi Danau Maninjau (Sumatra Barat) tepatnya pada tanggal 17 Februari 1908 pada tahun Masehi atau 14 Muharam 1326 H.[3]
Ayahnya Dr. H. Abdul Karim Amrullah yang juga dikenal dengan sebutan Haji Rasul termasuk keturunan Abdul Arif gelar Tuanku Pauh Pariaman Nan Tuo, salah seorang pahlawan paderi yang juga dikenal Haji Abdul Ahmad. Dr. H. Abdul Karim Amrullah juga merupakan salah seorang ulama terkemuka yang termasuk dalam tiga serangkai yaitu Syekh Muhammad Djamil Djambek, Dr. H. Abdullah Ahmad dan Dr. H. Abdul Karim Amrullah sendiri , yang menjadi pelopor gerakan “Kaum Muda” di Minang Kabau.[4]
Keulamaan, predikat yang telah diwarisi oleh Hamka secara geneologis ikut ditanamkan oleh andung (nenek) kepadanya, lewat cerita “sepuluh tahun” menjelang tidur. Cerita “sepuluh tahun” itu serta aktivitas ayahnya sebagai seorang ulama besar di zamannya, telah memasuki alam bawah sadar Hamka. Keulamaan ini pulalah yang dipilih oleh Hamka sebagai kawasan dimana ia memanifestasikan dirinya dalam berbagai ragam aktifitas yakni sebagai sastrawan, budayawan, ilmuwan Islam, Mubaligh, pendidik, bahkan menjadi seorang politisi.
Abdul Malik panggilan Hamka di waktu kecil, mengawali pendidikannya dengan belajar membaca al-Qurán di rumah orang tuanya sampai khatam al-Qur’an, ketika mereka sekeluarga pindah dari Meninjau ke Padang Panjang yang merupakan basis pergerakan kaum muda Minang Kabau pada tahun 1914 M. Sama dengan anak-anak sebayanya, dalam usia tujuh tahun Hamka dimasukkan ke sekolah desa.
Pada tahun 1916, ketika Zainuddin Labai el-Yunusi mendirikan sekolah Diniyah (sore), di Pasar Usang Padang panjang, Hamka dimasukkan oleh ayahnya ke sekolah ini. Pagi hari Hamka pergi belajar ke sekolah desa, sore hari belajar ke sekolah Diniyah, yang baru didirikan itu, dan malam hari belajar mengaji. Seperti itulah aktifitas kesehari dari Hamka di masa kecilnya.
Pada tahun 1918, di saat Abdul Malik, atau yang lebih dikenal dengan panggilan Hamka baru berusia 10 tahun, dan beliau pada waktu itu sudah dikhitan di kampung halamannya Maninjau dan diwaktu yang sama ayahnya Syekh Abdul Karim Amrullah, kembali dari perlawatan pertamanya ke tanah Jawa, surau Jembatan Besi tempat Syekh Abdul Karim Amrullah memberikan pelajaran agama dengan sistem lama, dirobah menjadi madrasah yang kemudian dikenal dengan nama Thawalib School. Dengan harapan agar kelak anaknya menjadi ulama seperti dia, Syekh Abdul Karim Amrullah memasukkan Hamka ke Thawalib School dan berhenti dari sekolah desa.[5]
Meskipun sistem klasikal sudah di berlakukan oleh Thawalib School namun kurikulum dan materi pembelajaran masih menggunakan cara lama. Buku-buku lama dengan keharusan menghafal masih merupakan ciri utama sekolah ini. Hal inilah yang membuat Hamka cepat bosan, meskipun ia tetap naik kelas.
Setelah belajar selama empat tahun sampai ia menduduki bangku kelas empat, mungkin karena sikap kritis dan jiwa pemberontak yang dimilikinya, Hamka tidak lagi tertarik untuk menyelesaikan pendidikan di sekolah yang didirikan oleh ayahnya itu, sementara program pendidikan di sekolah ini dirancang untuk pendidikan selama tujuh tahun.
Keadaan belajar yang diterapkan seperti di Thawalib School itu memang tidaklah menarik, karena keseriusan belajar tidak tumbuh dari dalam, tetapi dipaksakan dari luar, hal ini yang kemudian membuat Hamka melakukan pelarian sesuai dengan kejolak jiwanya yang sedang mencari jatidirinya. Keadaan inilah yang kemudian membawa Hamka menenggelamkan diri di sebuah perpustakaan yang didirikan oleh Zainuddin Labay el-Yunusi dan Bagindo Sinaro, yang diberi nama Perpustakaan Zainaro. Pelarian ini, walaupun kurang disukai oleh ayahnya, ternyata ini merupakan pelarian yang positif . Karena setelah asyik menenggelamkan diri dengan membaca buku-buku cerita dan sejarah di perpustakaan tersebut telah membentuk kegairahan tertentu bagi Hamka dan banyak memberikan andil bagi perkembangan imajinasi dimasa kanak-kanak serta kemampuan bercerita dan menulis di belakang hari.
Pada masa-masa pendidikannya Hamka juga pernah dikirim untuk belajar di sekolah Syekh Ibrahim Mûsâ Parabek, di Parabek Bukit Tinggi, namun ini juga tidak berlansung lama karena pada tahun 1924, Hamka meninggalkan Ranah Minang dan berangkat ke Yogyakarta.
Secara keseluruahan masa pendidikan formal yang pernah di tempuh Hamka hanya sekitar tujuh tahun, yaitu antara tahun 1916 sampai tahun 1924. dimana pada masa-masa itu beliau pernah masuk sekolah desa, juga belajar pendidikan agama pada Diniyah School dan Sumatra Thawalib Padang Panjang dan Surau Inyiak Parabek di Bukit Tinggi, disamping itu Hamka juga sempat belajar dengan ulama-ulam besar seperti ayahnya sendiri, kemudian dengan Engku Mudo Abdul Hamid, Zainuddin Labay el-Yunusi dan Syekh Ibrahim Musa Parabek.[6]
Kunjungan Hamka ke tanah Jawa yang relatif singkat itu, lebih kurang satu tahun, dalam pengakuan Hamka perjalanan beliau itu mampu memberikan semangat baru baginya dalam mempelajari Islam. Rantua (negeri kunjungan) pengembaraan pencarian ilmu ditanah jawa itu, yang beliau mulai dari Yogyakarta dan Pekalongan. Lewat Ja’far Amrullah pamannya, Hamka kemudian mendapat kesempatan mengikuti kursus-kursus yang diselenggarakan oleh Muhammadiyah dan Syarikat Islam.
Dalam kesempatan itu pula Hamka bertemu dengan Ki Bagus Hadikusumo, dan darinya Hamka mendapatkan pelajaran tafsir al-Qur’an. Ia juga bertemu dengan HOS Cokroaminoto dan mendengarkan ceramahnya tentang islam dan Sosialisme. Di samping itu juga berkesempatan bertukar pikiran dengan dengan beberapa tokoh penting lainnya seperti Haji Fakhruddin dan Syamsul Ridjal.[7]
B.    Manhaj Tafsir al-Azhar
Pada sub bab ini, pemakalah akan mengulas seputar kitab berikut manhaj Prof. Dr. Hamka dalam  karyanya tafsir al-Azhar yang meliputi:
1.      Identifikasi Kitab
Kitab yang dijadikan objek pembahasan dalam makalah ini adalah kitab Tafsir karya Prof.Dr.Hamka yang lebih dikenal dengan nama tafsir al-Azhar cetakan PT.Pustaka Panjimas Jakarta tahun 1982. Kitab ini sejumlah 15 jilid disetiap jilidnya terdapat 2 Juz. Untuk lebih jelasnya pemakalah memberikan penjelasan dari Hamka sendiri dalam pendahuluan tafsirnya tentang Petunjuk Untuk Pembaca.[8]






Tafsir ini pada mulanya merupakan rangkaian kajian yang disampaikan pada kuliah subuh oleh Hamka di masjid al-Azhar yang terletak di Kebayoran Baru sejak tahun 1959.
Nama al-Azhar bagi masjid tersebut telah diberikan oleh Syeikh Mahmud Shaltut, Rektor Universitas al-Azhar semasa kunjungan beliau ke Indonesia pada Desember 1960 dengan harapan supaya menjadi kampus al-Azhar di Jakarta. Penamaan tafsir Hamka dengan nama Tafsir al-Azhar berkaitan erat dengan tempat lahirnya tafsir tersebut yaitu Masjid Agung al-Azhar.
Terdapat beberapa faktor yang mendorong Hamka untuk menghasilkan karya tafsir tersebut. Hal ini dinyatakan sendiri oleh Hamka dalam mukadimah kitab tafsirnya. Di antaranya ialah keinginan beliau untuk menanam semangat dan kepercayaan Islam dalam jiwa generasi muda Indonesia yang amat berminat untuk memahami al-Quran tetapi terhalang akibat ketidakmampuan mereka menguasai ilmu Bahasa Arab. Kecenderungan beliau terhadap penulisan tafsir ini juga bertujuan untuk memudahkan pemahaman para muballigh dan para pendakwah serta meningkatkan keberkesanan dalam penyampaian khutbah-khutbah yang diambil daripada sumber-sumber Bahasa Arab Hamka memulai Tafsir Al-Azharnya dari surah al-Mukminun karena beranggapan kemungkinan beliau tidak sempat menyempurnakan ulasan lengkap terhadap tafsir tersebut semasa hidupnya.
Mulai tahun 1962, kajian tafsir yang disampaikan di masjid al-Azhar ini, dimuat di majalah Panji Masyarakat. Kuliah tafsir ini terus berlanjut sampai terjadi kekacauan politik di mana masjid tersebut telah dituduh menjadi sarang “Neo Masyumi” dan “Hamkaisme”. Pada tanggal 12 Rabi’ al-awwal 1383H/27 Januari 1964, Hamka ditangkap oleh penguasa orde lama dengan tuduhan berkhianat pada negara. Penahanan selama dua tahun ini ternyata membawa berkah bagi Hamka karena ia dapat menyelesaikan penulisan tafsirnya.[9]
2.      Sistematika Penyusunan
Prof.Dr. Hamka dalam menyusun Tafsir al-Azhar beliau menggunakan tarti>b us\ma>ni> yaitu menafsirkan ayat secara runtut berdasarkan penyusunan mus}haf us\ma>ni>. Keistimewaan yang didapatkan dari tafsir ini karena mengawali dengan pendahuluan yang berbicara banyak tentang ilmu-ilmu al-Qur’an, seperti definisi al-Qur’an, Makkiyah dan Madaniyah, Nuzu>l al-Qur’an, Pembukuan Mus\haf, I’jaz dan banyak lagi.
Sebuah kemudahan yang didapatkan sebab Hamka menyusun tafsiran ayat demi ayat dengan cara pengelompokan pokok bahasan sebagaimana tafsir Sayyid Qut\b dan atau al-Mara>g\i>. bahkan terkadang beliau memberikan judul terhadap pokok bahasan yang hendak ditafsirkan dalam kelompok ayat tersebut. Misalnya dalam menafsirkan ayat-ayat awal dari surah al-Baqarah. Beliau mengelompokkan ayat 1-5dan memberikan judul “Takwa dan Iman” sebelum member penafsirannya terhadap ayat-ayat tersebut.[10]
Adapun ayat 8-13 serta ayat 14-30 dari surah yang sama, diberi judul “Nifaq I” dan “Nifaq II”.[11]
Tafsir ini juga member perhatian terhadap Muna>sabah (korelasi) antar ayat yang hampir mencakup seluruh ayat yang ditafsirkan. Misalnya pada hal 25, jilid 1, juz2:
“(Yaitu) orang-orang yang apabila menimpa kepada mereka suatu musibah, mereka berkata; Sesungguhnya kita ini dari Allah, dan sesungguhnya kepadaNyalah kita semua akan kembali.” (ayat 156).
Ucapan yang begini mendalam, tidaklah akan keluar dari dalam lubuk hati kalau tidak menempuh latihan.

Khabar kesukaan apakah yang dijanjikan buat mereka?

 “Mereka itu, akan dikaruniakan atas mereka anugerah-anugerah dari Tuhan Mereka, dan rahmat.” (pangkal ayat 157). Inilah khabar kesukaan untuk mereka. Pertama mereka akan diberi karunia anugerah; dalam bahasa aslinya shalawat. Dari kata shalat. Kalau kita makhluk ini yang mengerjakan shalat terhadap Allah, artinya kita telah berdoa dan shalat. Kalau kita mengucapkan shalawat kepada rasul, ialah memohon kepada Allah agar nabi kita Muhammad s.a.w diberi karunia dan kemuliaan. Tetapi kalau Tuhan Allah yang memberikan shalawatNya kepada kita, artinya ialah anugerah perlindunganNya kemudian itu menyusul Rahmat, yaitu kasih saying.”Dan mereka itulah orang-orang yang akan mendapat petunjuk.” (ujung ayat 157).[12]

Muna>sabah antar surah juga dapat terlihat dalam contoh berikut:

Maka apabila kita perhatikan kedua surah ini, ali Imran dan al-Baqarah, nampaklah oleh kita bahwasanya keadaannya sambung-bersambung, lengkap-melengkapi. Misalnya di permulaan surah al-Baqarah bahwa tiang yang penting di dalam menegakkan takwa ialah “percaya kepada apa yang diturunkan kepada engkau dan kepada yang diturunkan sebelum engkau.” (al-Baqarah ayat 3), kelak pada ali Imran ditegaskan bahwa Tuhan menurunkan kepada engkau sebuah Kitab dengan kebenaran yang membenarkan isi kitab yang ada di hadapannya dan Tuhan yang menurunkan Taurat dan Injil.[13]

Dalam hal asba>b al-Nuzu>l, Kitab Tafsir al-Azhar ini secara skala besar menampung banyak riwayat-riwayat tentang asba>b al-Nuzu>l, diantaranya:

Al-Wahidi menulis di dalam kitabnya Asbabun-Nuzul dan as-Tsa’labi di dalam tafsirnya riwayat dari Ali bin Abu Thalib, dia berkata bahwa kitab ini diturunkan di Makkah, dari dalam suatu perbendaharaan di bawah ‘Arsy.[14]

Itulah secara umum sistematika penyusunan yang diterapkan Hamka dalam tafsir al-Azhar.
3.      Pendekatan Tafsir
Pendekatan tafsir yang kami maksud disini juga seringkali menggunakan istilah Sumber Penafsiran, dalam hal ini Prof.Dr.Hamka dalam tafsirnya menggunakan pendekatan tafsir bi al-Ma’s\u>r sebagaimana yang beliau jelaskan sendiri dalam pendahuluan tafsirnya bahwa al-Qur’an terbagi kedalam tiga bagian besar (fiqhi, Aqidah dan Kisah) yang menjadi keharusan (bahkan wajib dalam hal fiqhi dan akidah) untuk disoroti oleh sunnah tiap-tiap ayat yang ditafsirkan tersebut.[15]
Beliau juga berpandangan bahwa ayat yang sudah jelas, terang dan nyata maka merupakan pengecualian ketika sunnah bertentangan dengannya.[16]
Meskipun didominasi oleh riwayat, beliau juga memberikan penjelasan secara ilmiah (ra’yu) apatahlagi terkait masalah ayat-ayat kauniyah.[17]
4.      Metode Penafsiran
Berdasarkan penelusuran pemakalah, tafsir al-Azhar karya Prof.Dr.Hamka menggunakan metode Tahli>li dalam menafsirkan ayat-ayat al-Qur’an. Disamping sistematikanya yang runtut berdasarkan urutan mus\haf sebagaimana yang dijelaskan diatas, juga bisa dilihat dalam contoh tafsiran beliau:
Penafsiran beliau tentang surat al-T{a>riq ayat 11 sebagai berikut:
وَالسَّمَاءِ ذَاتِ الرَّجْعِ
Terjemahnya:
Demi langit yang mengandung hujan
Hamka menafsirkan dengan:

“sekali lagi Allah bersumpah dengan langit sebagai makhluk-Nya: Demi langit yang mengandung hujan. Langit yang dimaksud di sini tentulah yang di atas kita. Sedangkan di dalam mulut kita yang sebelah atas kita namai “langit-langit”, dan tabir sutera warna-warni yang dipasang di sebelah atas singgasana raja atau di atas pelaminan tempat mempelai dua sejoli bersanding dinamai langit-langit jua sebagai alamat bahwa kata-kata langit itu pun dipakai untuk yang di atas. Kadang-kadang diperlambangkan sebagai ketinggian dan kemuliaan Tuhan, lalu kita tadahkan tangan ke langit ketika berdoa. Maka dari langit itulah turunnya hujan. Langitlah yang menyimpan air dan menyediakannya lalu menurunkannya menurut jangka tertentu. Kalau dia tidak turun kekeringanlah kita di bumi ini dan matilah kita. Mengapa raj’i artinya disini jadi “hujan”? sebab hujan itu memang air dari bumi juga, mulanya menguap naik ke langit, jadi awan berkumpul dan turun kembali ke bumi, setelah menguap lagi naik kembali ke langit dan turun kembali ke bumi. Demikian terus-menerus. Naik kembali turun kembali.[18]

5.      Corak Penafsiran
Menurut pemakalah, corak yang mendominasi penafsiran Hamka adalah al-adab al-ijtima’I yang nampak terlihat dari latar belakang Hamka sebagai seorang sastrawan dengan lahirnya novel-novel karya beliau sehingga beliau berupaya agar menafsirkan ayat dengan bahasa yang dipahami semua golongan dan bukan Cuma ditingkat akademisi atau ulama, disamping itu beliau memberikan penjelasan berdasarkan kondisi social yang sedang berlangsung (pemerintahan orde lama) dan situasi politik kala itu. Misalnya:
وَإِنْ كُنْتُمْ عَلَى سَفَرٍ وَلَمْ تَجِدُوا كَاتِبًا فَرِهَانٌ مَقْبُوضَةٌ فَإِنْ أَمِنَ بَعْضُكُمْ بَعْضًا فَلْيُؤَدِّ الَّذِي اؤْتُمِنَ أَمَانَتَهُ وَلْيَتَّقِ اللَّهَ رَبَّهُ وَلا تَكْتُمُوا الشَّهَادَةَ وَمَنْ يَكْتُمْهَا فَإِنَّهُ آثِمٌ قَلْبُهُ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ (٢٨٣)
Terjemahnya:
jika kamu dalam perjalanan (dan bermu'amalah tidak secara tunai) sedang kamu tidak memperoleh seorang penulis, Maka hendaklah ada barang tanggungan yang dipegang[180] (oleh yang berpiutang). akan tetapi jika sebagian kamu mempercayai sebagian yang lain, Maka hendaklah yang dipercayai itu menunaikan amanatnya (hutangnya) dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya; dan janganlah kamu (para saksi) Menyembunyikan persaksian. dan Barangsiapa yang menyembunyikannya, Maka Sesungguhnya ia adalah orang yang berdosa hatinya; dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.
Dalam tafsiran ayat di atas, Hamka menjelaskan bahwa dalam Islam tidak ada pemisahan antara agama dan negara. dan Hamka juga menegaskan bahwasannya agama Islam bukanlah semata-mata mengurus soal ibadah dan puasa saja. Bahkan urusan mu’amalah, atau kegiatan hubungan diantara manusia dengan manusia yang juga dinamai “hukum perdata” sampai begitu jelas disebut dalam ayat al-Qur’an, maka dapatlah kita mengatakan dengan pasti bahwa soal-soal beginipun termasuk agama juga. Dalam Islam tidak ada pemisahan antara agama dan negara. Islam menghendaki hubungan yang harmonis antara keduanya, tidak adanya sutu kerusakan antara satu sama lain. Sebagaimana dijelaskan dalam hadis Rasulullah saw:
Artinya: “tidak merusak dan tidak kerusakan (diantara manusia dengan manusia).[19]
Aspek yang lain juga membuktikan bahwa dalam perkembangannya, Hamka sendiri banyak merujuk pada tafsir al-Mana>r karya Muhammad Abduh, juga mengakui dirinya bahwa Sayyid Qut\b dalam tafsirnya Fi> Z{ila>l al-Qur’a>n sangat banyak mempengaruhi Hamka dalam menulis Tafsir yang notabene bercorak al-adab al-ijtima>’i> dan Haraki>.[20]
Terkait kisah Isra>’iliyat, maka Hamka memberikan penjelasannya bahwa disamping pemahaman umumnya ulama tentang tiga bentuk kisah isra’iliyat, beliau menekankan bahwa isra’iliyat itu adalah sebagai dinding yang menghambat orang dari kebenaran al-Qur’an. Kalau didalam tafsir ini (lanjut Hamka) ada kita bawakan riwayat-riwayat isra’iliyat itu, lain tidak ialahbuat peringatan saja.[21]


BAB III
KESIMPULAN

Berdasarkan uraian singkat diatas, penulis dapat menarik benang merah sebagai kesimpulan :
1.      Tafsir al-Azhar karya Prof.Dr. Hamka merupakan hasil dari pengajian subuh yang dilakukan di mesjid Agung al-Azhar yang kemudian dirampungkan di dalam tahanan selama 2 tahun 4 bulan ketika beliau difitnah oleh pemerintah pada masanya melakukan makar terhadap pemerintahan indonesia.
2.      Pendekatan yang digunakan dalam tafsir al-Azhar adalah tafsir bi al-Ma’s\u>r dengan metode Tahli>li.
3.      Corak yang mendominasi tafsir al-Azhar adalah al-adab al-ijtima>’i> dengan keindahan bahasa Melayu yang disajikan berdasarkan konteks social kemasyarakatan dimasanya.


DAFTAR PUSTAKA

Azra, Azyumardi, Tafsir al-Qur’an di Indonesia, Republika online, 21 Desember 2006 dan dimuat di internet pada tanggal 22 Desember 2006. dikutip tanggal 30 November 2011
Hamka, Tafsir al-Azha>r, Jilid I-XV Juz I-XXX (Jakarta: Pustaka Panjimas, 1982
Karim, Rasul, Hamka dan Tafsir al-Azhar . www.katakarim.blogspot.com, disadur pada tanggal 30 november 2011
Saenong, Farid. F. Arkeologi Pemikiran Tafsir di Indonesia Upaya Perintis, Artikel tertanggal 20 Juli 2006, dikutip dari internet dikutip tanggal 30 November 2011


[1] Farid. F. Saenong, Arkeologi Pemikiran Tafsir di Indonesia Upaya Perintis, (Artikel tertanggal 20 Juli 2006, dikutip dari internet) dikutip tanggal 30 November 2011
[2] Azyumardi Azra, Tafsir al-Qur’an di Indonesia, (Republika online, 21 Desember 2006 dan dimuat di internet pada tanggal 22 Desember 2006). dikutip tanggal 30 November 2011
[3] Rasul Karim, Hamka dan Tafsir al-Azhar (www.katakarim.blogspot.com, disadur pada tanggal 30 november 2011)
[4] Hamka, Tafsir al-Azha>r, Jilid I (Jakarta: Pustaka Panjimas, 1982), h. 1-2
[5] Rasul Karim, Loc.Cit
[6] Ibid
[7] Ibid.
[8] Hamka, Op.cit. h.59-65
[9] Hamka, Op.cit. h. 48-58
[10] Hamka, Op.cit. h. 116-121
[11] Ibid. h. 134-143
[12] Ibid. h. 25
[13] Ibid. Jilid III,  h.98
[14] Op.Cit, h. 68
[15]  Dalam pandangan Hamka, betapapun keahlian kita memahamkan arti dari tiap-tiap kalimat al-Qur’an, kalau kita hendak jujur beragama, tidak dapat tidak, kita mesti memperhatikan bagaimana pendapat Ulama-ulama yang terdahulu, terutama Sunnah rasul, pendapat sahabat sahabat Rasul dan tabi’in dan ulama ikutan kita. Itulah yang dinamai riwayah terutama mengenai ayat-ayat hokum. Ibid. h.25 dan 38
[16] Ibid, h. 26
[17] Ibid. h. 27-28
[18] Hamka, Jilid 15. Juz XXX, h. 116-117
[19] Hamka, Jilid 2. Juz 1, 36
[20] Hamka, Jilid I. h. 41
[21] Ibid, h. 34

1 komentar:

peralatan sekolah mengatakan...

tafsir al azhar salah satu buku referensi di bidang tafsir alquran..

Poskan Komentar

apakah anda tidak menemukan yang anda cari??? silahkan tuliskan sesuatu yang anda cari itu....

FACEBOOK COMENT

ARTIKEL SEBELUMNYA

 
Blogger Templates