Senin, 21 Mei 2012

KISAH ASHAB AL-KAHFI DALAM AL-QUR’AN

Oleh : Muhammad Shadiq Shabry


I. PENDAHULUAN
            Banyak ayat-ayat al-Qur’an yang diturunkan oleh Allah swt kepada Nabi Muhammad saw yang berhubungan dengan kisah umat-umat terdahulu. Penceritaan kisah-kisah tersebut bukan tanpa maksud sama sekali. Allah sebetulnya ingin membuktikan kepada manusia bahwa apa yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw adalah benar merupakan wahyu dari-Nya dan bukan berdasarkan hawa nafsunya. Allah juga untuk konteks ini ingin memberikan pelajaran kepada manusia untuk mengikuti segala kebaikan yang terdapat dalam kisah-kisah itu dan menjauhi segala keburukannya. Dengan penuturan gaya bahasa yang indah dan memukau diharapkan mampu menyentuh perasaan orang-orang yang membacanya maupun yang mendengarkannya.
 Di dalam al-Qur’an peristiwa-peristiwa historis memang banyak dibincangkan. Peristiwa-peristiwa historis ada yang kejadiannya jauh sebelum lahirnya agama Islam. Peristiwa-peristiwa tersebut jelas tidak pernah dialami oleh Nabi Muhammad saw, tetapi beliau mengetahuinya dari wahyu yang diturunkan Allah kepadanya. Sebagian ayat-ayat al-Qur’an tersebut merekam peristiwa kehidupan masyarakat pada waktu sebelum dan ketika al-Qur’an diturunkan. Al-Qur’an telah memberi ruang bagi penceritaan peristiwa tersebut dan menjadikan karakter ayat-ayat yang bersinggungan dengan itu pada posisi sebagai dokumen historis yang eternal.
            Pemaparan al-Qur’an tentang peristiwa-peristiwa historis tidak sama dengan penulisan sejarah yang berlaku di dunia akademik yang tersusun secara runtut dengan pencantuman nama pelaku secara jelas, tempat, waktu, obyek, dan latar belakang dari peristiwa tersebut. Al-Qur’an mencantumkan kisah-kisahnya tidak selalu mencantumkan tempat dari orang-orang secara lengkap, tidak pula urutan-urutan peristiwanya, sebab seperti diketahui al-Qur’an bukan kitab sejarah, melainkan kitab petunjuk (hidayah) yang terkadang menceritakan kisah. Sebagian peristiwa yang temanya sama dimuatnya dalam satu tempat dan sebagian yang lainnya dimuat di tempat yang lain, disesuaikan menurut kesempatan dan ajaran yang diserukan oleh porsi yang dibicarakannya. Bahkan karakteristik seperti itu terkadang diungkapkan secara panjang lebar, namun terkadang hanya garis besarnya saja.
Kisah-kisah al-Qur’an sebenarnya tidak bisa dipisahkan dari proses pewarisan nilai yang terkandung didalamnya. Karena pada fokus itulah esensinya yang sarat menyajikan pesan kemanusiaan pada masa silam yang berguna bagi kehidupan kini maupun di masa mendatang dapat secara transparan menemukan bukan saja eksistensinya melainkan juga relevansinya untuk kehidupan manusia. Dengan begitu kisah yang ingin mengemban misi mentransformasikan nilai-nilai yang terus berkontinuitas dapat menemukan jati dirinya.
           Kisah-kisah  seperti yang ada dalam pengertian di atas telah banyak diungkapkan oleh al-Qur’an. Tidak tanggung-tanggung, jumlah ayat-ayat al-Qur’an yang membicarakan itu, menurut penelitian A.Hanafi,  jumlahnya tidak kurang dari 1600 ayat. Penelitian itu pun hanya ditujukan kepada kisah para Nabi dan Rasul.[1] Kalau jumlah standar ayat yang dipakai adalah kesepakatan ulama yaitu 6236,  maka setidaknya 25,6 % dari kisah para Nabi dan Rasul itu yang menempati al-Qur’an. Belum lagi kisah-kisah yang lain. Dengan demikian nampak bahwa jumlah tersebut memperlihatkan betapa besar perhatian al-Qur’an kepada kisah-kisah itu.

            Salah satu kisah yang diungkapkan oleh al-Qur’an itu adalah kisah Ashab al-Kahfi yang terdapat pada QS. al-Kahfi (18) yang memiliki gaya tersendiri dalam pemaparannya. Selain itu sosok para pemuda yang digambarkan dalam kisah itu kurang jelas siapa nama mereka. Yang terdeteksi adalah bahwa mereka adalah sekelompok pemuda yang menyingkir dari gangguan penguasa zamannya karena tidak setuju dengan keyakinan keagamaan yang dianutnya. Belum lagi dengan kondisi mereka ketika di gua, bagaimana suasana ketika mereka bangun, dan sebagainya. Berbagai masalah seperti itu masih perlu diketengahkan dan agar pembahasannya lebih terarah maka masalah yang  akan di kaji diarahkan pada :
1. Bagaimana alur pemaparan kisah Ashab al-Kahfi dalam al-Qur’an, dan
2. Apa hikmah diungkapkannya kisah Ashab al-Kahfi dalam al-Qur’an?






II. ALUR PEMAPARAN KISAH ASHAB AL-KAHFI.
     1. Dimulai dari Ringkasan Cerita.
            Salah satu elemen penting dan menonjol dalam struktur kisah-kisah al-Qur’an terletak pada alur pemaparannya. Yang dimaksudkan di sini adalah cara yang digunakan untuk mendeskripsikan urutan peristiwa suatu kisah.
            Untuk kasus kisah Ashab al-Kahfi, alur pemaparannya dimulai dengan prolog yang berisi tentang ringkasan cerita, kemudian dikisahkan perincian peristiwanya dari awal hingga akhir. Ringkasan kisah Ashab al-Kahfi itu ditemukan dalam QS. al-Kahfi (18) : 9-12 yang berbunyi :

ôQr& |Mö6Å¡ym ¨br& |=»ysô¹r& É#ôgs3ø9$# ÉOŠÏ%§9$#ur (#qçR%x. ô`ÏB $uZÏF»tƒ#uä $·6pgxå ÇÒÈ øŒÎ) urr& èpu÷FÏÿø9$# n<Î) É#ôgs3ø9$# (#qä9$s)sù !$uZ­/u $uZÏ?#uä `ÏB y7Rà$©! ZptHôqy ø×Ähydur $oYs9 ô`ÏB $tR̍øBr& #Yx©u ÇÊÉÈ $oYö/uŽ|Øsù #n?tã öNÎgÏR#sŒ#uä Îû É#ôgs3ø9$# šúüÏZÅ #YŠytã ÇÊÊÈ ¢OèO öNßg»uZ÷Vyèt/ zOn=÷èuZÏ9 r& Èû÷üt/÷Ïtø:$# 4Ó|Âômr& $yJÏ9 (#þqèWÎ6s9 #YtBr& ÇÊËÈ
Artinya :
 (9). Atau kamu mengira bahwa orang-orang yang mendiami gua dan (yang mempunyai) raqim itu, mereka termasuk tanda-tanda kekuasaan kami yang mengherankan?
 (10). (Ingatlah) tatkala para pemuda itu mencari tempat berlindung ke dalam gua, lalu mereka berdoa: "Wahai Tuhan kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini)."
(11).  Maka kami tutup telinga mereka beberapa tahun dalam gua itu.
(12). Kemudian kami bangunkan mereka, agar kami mengetahui manakah di antara kedua golongan itu yang lebih tepat dalam menghitung berapa lama mereka tinggal (dalam gua itu).

            Ashab al-Kahfi dalam ayat sembilan di atas adalah sekelompok pemuda yang beriman kepada Allah swt yang menyingkir dari gangguan penguasa zamannya karena tidak setuju dengan keyakinan keagamaan yang dianutnya. Ayat tersebut juga  mengindikasikan bahwa peristiwa yang dialami oleh Penghuni Gua adalah luar biasa. Menurut M.Quraish Shihab ungkapan itu memang luar biasa, tetapi menurutnya, apakah peristiwa Penghuni Gua dan yang mempunyai raqim adalah hanya itu yang merupakan tanda-tanda kekuasaan Allah yang mengherankan. Itu bukan satu-satunya peristiwa yang menakjubkan, bukan juga satu-satunya bukti kuasa Allah menghidupkan yang mati, tetapi masih banyak lainnya. Peristiwa yang dialami oleh Penghuni Gua, lanjutnya tidak lebih menakjubkan dari tanda-tanda kekuasaan Allah yang lain. Hanya saja tanda-tanda yang lain telah seringkali disaksikan sehingga keajaiban dan kekaguman terhadapnya menjadi berkurang atau sirna[2]
            Ibnu Asyur lebih lanjut menjelaskan seperti yang dikutip M.Quraish Shihab bahwa peristiwa ini sebenarnya adalah sindiran kepada mereka yang bertanya yaitu para rabbi Yahudi, karena ingin mengetahui keajaiban yang terjadi pada Penghuni Gua, padahal yang bertanya itu lengah terhadap yang lebih aneh dan ajaib, yaitu tentang kematian semua makhluk dan kehancuran alam raya. Sekaligus ini merupakan tuntunan kepada mereka yang hanya memperhatikan sisi-sisi yang aneh pada satu kisah, tanpa mengambil pelajaran dari kisah-kisah itu.[3]
            Lafaz al-raqim dalam ayat sembilan juga diperdebatkan pengertiannya oleh para mufassir. Lafaz al-raqim sendiri secara etimologi berarti tulisan.[4] Dikaitkan dengan konteks ini berarti tulisan-tulisan yang memuat nama-nama pemuda tersebut. Tetapi para mufassir seperti al-Zamakhsyari, al-Qasimi, dan Wahbah al-Zuhayliy, mengartikan al-raqim dengan nama anjing mereka.[5] Walaupun Wahbah menambahkan dengan arti nama desa mereka dan kitab yang memuat nama-nama mereka.
            Pada ayat sepuluh terdapat lafaz fityah yang merupakan bentuk jamak dari kata fata yang berarti pemuda. Kata ini mengisyaratkan bahwa mereka berada dalam usia yang belum berpengalaman, namun demikian keimanan dan idealisme pemuda itu meresap dalam benak dan jiwa, sehingga rela meninggalkan kediaman mereka.[6] Dalam konteks yang lain boleh jadi juga karena dari segi usia mereka tidak bisa dikatakan muda lagi yaitu sekitar 309 tahun tetapi jiwa muda mereka seperti ketika masuk ke gua masih menggelora.
            Dalam ayat sepuluh itu pula terdapat do’a mereka yang bisa menjadi solusi pemecahan masalah bagi seluruh kegiatan positif yang dilakukan yaitu “Wahai Tuhan kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini)." Do’a ini sekaligus mengisyaratkan bahwa para pemuda-pemuda itu berdo’a setelah melakukan upaya meluruskan kesalahan masyarakat dan menyelamatkan aqidah tauhid yang telah disalahpahami oleh masyarakat ketika itu.
            Ayat sebelas merupakan permulaan dari tidur panjang mereka dan merupakan jalan keluar dari kegetiran dan kegelisahan mereka. Telinga mereka ditutup agar mereka tidak dapat mendengar suara apa pun dan dapat tidur dalam gua dengan masa yang berkepanjangan.[7]
            Ayat ke dua belas mengurai tentang dibangunkannya mereka agar mereka mengetahui manakah di antara kedua golongan itu yang lebih tepat di dalam menghitung berapa lamanya mereka tinggal.
            Jika diperhatikan ringkasan kisah di atas nampak bahwa beberapa hal dalam bagian kisah itu belum terjawab. Bahkan dalam rincian kisahnya sekali pun. Diantaranya adalah nama dan pekerjaan mereka, kota tempat mereka tinggal, raja yang berkuasa pada masa itu, agama yang mereka anut, nama anjingnya, atau gua tempat mereka berlindung. Sebetulnya telah banyak sejarawan yang mengemukakan pandangannya mengenai hal-hal tersebut, tetapi menurut Muhammad Abu Syuhbah memperbincangkan masalah ini hanya akan mengantar seseorang sampai kepada cerita-cerita israiliyat yang tidak bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya.[8]
            Beberapa sejarawan, misalnya telah mengemukakan bahwa nama ketujuh pemuda tersebut adalah Maksalmina, Martinus, Kastunus, Bairunus, Danimus, Yathbunus dan Thamlika. Sedang anjingnya mereka bernama Kithmir.[9] Raja yang memerintah ketika itu menurut Tafsir al-Muntakhab adalah Raja Antiogos IV yang bergelar Nabivanes (tahun 176-84 SM.) dan dikenal sangat fanatik kepada peradaban Yunani kuno dan melancarkan serangan terhadap agama Yahudi dan memaksa penganut Yahudi masuk ke agama Yunani Kuno. Raja ini juga memerintahkan pembakaran Kitab Taurat. Kalau ini yang menjadi standar maka bangunnya mereka dari tidur tersebut diperkirakan terjadi pada tahun 126 M (?) atau mungkin 133 M. Walaupun mereka juga mengakui bahwa kemungkinannya juga bisa terjadi pada pemerintahan Hadrianus yang berkuasa tahun 117-138 M, namun nampaknya Raja Antiogos IV lebih mempunyai kaitan dengan peristiwa itu karena penindasan mereka lebih sadis.[10]
            Sementara posisi gua dijelaskan secara gamblang oleh Al-Thabathab’iy dan kitab tafsirnya. Al-Thabatha’iy menduga bahwa setidaknya ada lima tempat yang kemungkinannya merupakan gua Penghuni Gua yaitu[11] (1) Epsus di Turki. Tempat ini juga diakui oleh Muhammad Ahmad Jad al-Mawla, dkk dalam buku mereka Qashash al-Qur’an.[12] (2) Gua di Qasium dekat kota Damaskus, (3) Gua al-Batra’ di Palestina, (4) Gua di Skandinavia, dan (5) Gua Rajib di Amman, Jordania. Gua terakhir ini menurutnya mirip dengan ciri-ciri yang dikemukakan al-Qur’an.
            Satu hal penting lainnya yang patut di telisik dalam ringkasan kisah ini adalah tentang pergantian kata ganti yang digunakan secara berturut-turut. Pada ayat sembilan deskripsi kisahnya menggunakan kata ganti orang kedua yang ditujukan kepada pembaca.[13] Kata ganti orang kedua pada ayat tersebut menunjukkan adanya proses dialog satu arah yaitu antara Allah swt dengan penerima, pendengar atau pembaca kisah. Pada ayat selanjutnya (10) berubah menggunakan kata ganti orang pertama yang netral.[14] Pola ini dijumpai informasi netral tentang perbuatan serta perkataan para pemuda yang menjadi tokoh dalam kisah ini.
Pada ayat 11 dan 12 ayat tersebut tetap menggunakan kata ganti orang pertama. Berdasarkan fakta tekstual dalam deskripsi tersebut dapat difahami bahwa sebetulnya semua adegan dan setting yang ada dalam peristiwa tersebut yaitu menutup telinga dan membangunkan itu adalah Allah sendiri.
     2. Rincian-Rincian Kisah Ashab al-Kahfi.
            a. Latar Belakang Mengapa Mereka Masuk Gua.
            Sebelum masuk kepada perincian di atas Allah lebih dahulu menegaskan bahwa kisah yang akan diceritakan adalah kisah sebenarnya (ayat 13). Hal ini bersamaan dengan akan mulainya diangkat dan ditujukan rincian kisah itu untuk umum. Pada ayat ini sangat terasa bahwa deskripsi perincian peristiwa-peristiwa itu mulai terlihat diucapkan oleh orang pertama sebagai pemegang otoritas lajunya seluruh peristiwa dalam kisah. Bahkan terlihat pula bahwa semua deskripsi kisah itu mulai ditujukan kepada orang kedua. Hal ini dapat dilihat dari adanya ungkapan alayka setelah kata naqushshu.
            Ayat 13 ini pula setidaknya mengandung beberapa petunjuk,[15] yaitu (1) pengabaran tentang kisah ini mengandung manfaat dan merupakan keutamaan dan kebenaran dari Yang Maha Suci, (2) Ajakan untuk percaya kepada versi kisah yang benar dan tidak merujuk kepada sumber lain yang mengandung cerita israiliyat, dan (3) menjadi bukti atas kenabian Rasulullah saw.
            Setelah ini kemudian Allah memerincikan kisah ini setahap demi setahap yang dimulai dari  latar belakang mengapa mereka masuk gua. Ini diwakili oleh ayat 14-16[16] yang berbunyi :

$oYôÜt/uur 4n?tã óOÎgÎ/qè=è% øŒÎ) (#qãB$s% (#qä9$s)sù $uZš/u >u ÏNºuq»yJ¡¡9$# ÇÚöF{$#ur `s9 (#uqããô¯R `ÏB ÿ¾ÏmÏRrߊ $Yg»s9Î) ( ôs)©9 !$oYù=è% #]ŒÎ) $¸ÜsÜx© ÇÊÍÈ ÏäIwàs¯»yd $oYãBöqs% (#räsƒªB$# `ÏB ÿ¾ÏmÏRrߊ ZpygÏ9#uä ( Ÿwöq©9 šcqè?ù'tƒ OÎgøŠn=tæ ¤`»sÜù=Ý¡Î0 &ûÎiüt/ ( ô`yJsù ãNn=øßr& Ç`£JÏB 3uŽtIøù$# n?tã «!$# $\/Éx. ÇÊÎÈ ÏŒÎ)ur öNèdqßJçGø9utIôã$# $tBur šcrßç6÷ètƒ žwÎ) ©!$# (#ÿ¼ãrù'sù n<Î) É#ôgs3ø9$# ÷Žà³^tƒ ö/ä3s9 Nä3š/u `ÏiB ¾ÏmÏGyJôm§ ø×Ähygãƒur /ä3s9 ô`ÏiB /ä.̍øBr& $Z)sùöÏiB ÇÊÏÈ

Artinya :
14.  Dan kami meneguhkan hati mereka diwaktu mereka berdiri, lalu mereka pun berkata, "Tuhan kami adalah Tuhan seluruh langit dan bumi; kami sekali-kali tidak menyeru Tuhan selain Dia, Sesungguhnya kami kalau demikian Telah mengucapkan perkataan yang amat jauh dari kebenaran".
15.  Kaum kami Ini Telah menjadikan selain dia sebagai tuhan-tuhan (untuk disembah). Mengapa mereka tidak mengemukakan alasan yang terang (tentang kepercayaan mereka)? siapakah yang lebih zalim daripada orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah?
16.  Dan apabila kamu meninggalkan mereka dan apa yang mereka sembah selain Allah, Maka carilah tempat berlindung ke dalam gua itu, niscaya Tuhanmu akan melimpahkan sebagian rahmat-Nya kepadamu dan menyediakan sesuatu yang berguna bagimu dalam urusan kamu.
            Pada ayat 14 di atas terlihat bahwa salah satu alasan mereka masuk ke dalam gua adalah untuk mempertahankan eksistensi teologis yang dianut oleh mereka, akibat berhadapan dengan masyarakat dan penguasa yang menindas. Lebih-lebih ketika dalam ayat tersebut terdapat kata iz qāmū, yakni ketika mereka tampil di hadapan kaumnya atau di hadapan penguasa masanya, dengan penuh semangat dan kesungguhan. Penampilan mereka itu dilakukan sebagai bagian dari gerakan mempertahankan dan meneguhkan keyakinan mereka[17] serta untuk mengikrarkan eksistensi Tuhan sebagai Pencipta dan Pemelihara langit dan bumi, tidak menyeru  Tuhan lain kecuali Allah dan menyembah-Nya dengan penuh keyakinan. Menurut mereka penyeruan dan penyembahan selain Allah merupakan kekeliruan dan amat jauh dari kebenaran.
            Memperhatikan ayat ini akan terasa bahwa hati mereka digambarkan penuh dengan keimanan dan petunjuk. Dan karena ada kekhawatiran akan terpengaruh oleh fitnah kaumnya yang kafir maka Allah meneguhkan hati mereka  dan melindungi iman dan hidayah yang ada di dalamnya. Hati seperti ini menurut al-Khalidiy butuh peneguhan sehingga tidak terpengaruh dan hilang.[18] Kondisi ini misalnya mirip seperti yang diungkapkan oleh Allah dalam QS. al-Anfal (8) : 11 :

øŒÎ) ãNä3ŠÏe±tóム}¨$yèZ9$# ZpuZtBr& çm÷YÏiB ãAÍit\ãƒur Nä3øn=tæ z`ÏiB Ïä!$yJ¡¡9$# [ä!$tB Nä.tÎdgsÜãÏj9 ¾ÏmÎ/ |=Ïdõãƒur ö/ä3Ztã tô_Í Ç`»sÜø¤±9$# xÝÎ/÷ŽzÏ9ur 4n?tã öNà6Î/qè=è% |MÎm7sWãƒur ÏmÎ/ tP#yø%F{$# ÇÊÊÈ

Artinya :  (ingatlah), ketika Allah menjadikan kamu mengantuk sebagai suatu penenteraman daripada-Nya, dan Allah menurunkan kepadamu hujan dari langit untuk mensucikan kamu dengan hujan itu dan menghilangkan dari kamu gangguan-gangguan syaitan dan untuk menguatkan hatimu dan mesmperteguh dengannya telapak kaki(mu).
            Deskripsi kisah dalam ayat 14 di atas terlihat mulai berubah sedikit pola struktur teksnya. Tampaknya pengisah menghendaki pembaca merasa bagian atau terlibat dari perjalanan peristiwa antara pengisah dengan orang ketiga yang dikisahkan. Perkataan mereka kali ini seakan-akan diutarakan langsung kepada kita tanpa perantara. Karena itu terasa seakan-akan pula kita berada di tengah-tengah mereka dan mengalami sendiri kejadian ini bersama-sama dengan mereka.[19] Pembaca dalam situasi seperti ini seolah-olah telah menembus tembok pemisah dunianya menuju alam kisah sehingga larut dan terlibat dalam adegan ini. Pembaca kini merasa telah mendengar pembicaraan mereka secara langsung.
Ayat 15 merupakan gambaran kekacauan keyakinan kaum mereka. Mereka adalah penyembah Tuhan selain Allah. Kepercayaan mereka itu tidak dilandasi oleh alasan yang jelas mengenai perbuatan syirik yang dilakukan dalam peribadatannya.[20]
            Penggunaan kata “mereka” dalam alayhim mengindikasikan adanya tiga pihak yang secara intens terlibat dalam adegan dialog tersebut. Karena perkataan tersebut diarahkan kepada pembaca, maka seolah-olah kita lalu menjadi salah satu bagian integral yang mendengar langsung perkataan itu. Pada saat yang sama dialog ini juga ditujukan kepada sesama tokoh kisah. Di sini Tuhan memberitahu pembaca akan esensi peristiwanya. Esensi peristiwa itu, seperti yang terlihat, adalah kepergian mereka dari kaumnya dan dari sembahan mereka.      
Ayat 16 menerangkan bahwa setelah mereka menjelaskan kepercayaan mereka, dan menunjukkan kesalahan kepercayaan syirik mereka, serta setelah mereka menyadari pula bahwa mereka tidak akan mampu menghadapi penguasa yang zalim di tengah masyarakat yang bejat, maka lebih lanjut ayat ini menjelaskan bagaimana sikap pemuda-pemuda itu.
Ayat ini pula menurut M.Quraish Shihab melukiskan bahwa begitu mereka selesai menghadapi kaumnya yang musyrik, salah seorang atau sebagian di antara mereka itu mengusulkan agar mereka meninggalkan masyarakat bejat ini dan tidak lagi kembali bermukim di sini.[21] Setelah tekad itu bulat maka kerja mereka selanjutnya adalah mencari tempat perlindungan yaitu gua guna memelihara keyakinan mereka dan agar mereka dapat beribadah secara ikhlas.[22]
Kata al-kahfi yang berarti gua boleh jadi menunjuk kepada gua tertentu yang sudah mereka kenal, atau gua mana saja.[23] Pada masa lalu, orang-orang yang ingin mempertahankan keyakinannya atau bermaksud mensucikan diri seringkali menjadikan gua sebagai wadahnya. Rasulullah saw sendiri pernah bertahannus di Gua Hira, dan ketika dikejar-kejar oleh kaum kafir Quraish, Nabi dan Abu Bakar bersembunyi di Gua Tsur.
Sementara kata yansyur mengesankan bahwa Allah akan meluaskan dan melimpahkan rahmat-Nya sedemikian membahagiakan,[24] sehingga kesempitan gua dan keterbatasan bergerak tidak terasakan.
Dalam ayat 16 juga mulai terasa bahwa para pemuda itu meninggalkan kaumnya dan mencari tempat perlindungan. Percakapan yang mereka lakukan itu ingin manyatukan pembaca ke dalam ruang internal kisah. Di sini terlihat bahwa Allah sedang berbicara kepada mereka di hadapan kita sebagai penonton dan terjadi pula ucapan yang berlangsung antara sesama tokoh kisah, yaitu para pemuda yang sedang mencari perlindungan di dalam gua.
Setelah mereka masuk ke dalam gua dan memperoleh perlindungan nampak kembali bahwa kisah itu ditujukan kembali kepada pembaca dengan menggunakan kata ganti orang kedua. Bahkan adegan dalam kisah tersebut terasa oleh pembaca sebagai penerima kisah seakan terjadi langsung di depan mata. Suasana dan kesan seperti ini menurut al-Tharawanah diilustrasikan dan dikemas oleh al-Qur’an dengan sangat piawai dalam sebuah ungkapan dialogis yang menjadikan pembaca seolah terlibat langsung sebagai tokoh kisah.

            b. Keadaan Mereka di dalam Gua.
            Bagian ini diulas dalam ayat 17-18 yang berbunyi :

* ts?ur }§ôJ¤±9$# #sŒÎ) Myèn=sÛ âurºt¨? `tã óOÎgÏÿôgx. šV#sŒ ÈûüÏJuø9$# #sŒÎ)ur Mt/{xî öNåkÝÎ̍ø)¨? |N#sŒ ÉA$yJÏe±9$# öNèdur Îû ;ouqôfsù çm÷ZÏiB 4 y7Ï9ºsŒ ô`ÏB ÏM»tƒ#uä «!$# 3 `tB Ïöku ª!$# uqßgsù ÏtGôgßJø9$# ( ÆtBur ö@Î=ôÒム`n=sù yÅgrB ¼çms9 $|Ï9ur #YÏ©óD ÇÊÐÈ öNåkâ:|¡øtrBur $Wß$s)÷ƒr& öNèdur ׊qè%â 4 öNßgç6Ïk=s)çRur |N#sŒ ÈûüÏJuø9$# |N#sŒur ÉA$yJÏe±9$# ( Oßgç6ù=x.ur ÔÝÅ¡»t/ ÏmøŠtã#uÏŒ ϊϹuqø9$$Î/ 4 Èqs9 |M÷èn=©Û$# öNÍköŽn=tã |Mø©9uqs9 óOßg÷YÏB #Y#tÏù |Mø¤Î=ßJs9ur öNåk÷]ÏB $Y6ôãâ ÇÊÑÈ
17.  Dan kamu akan melihat matahari ketika terbit, condong dari gua mereka ke sebelah kanan, dan bila matahari terbenam menjauhi mereka ke sebelah kiri sedang mereka berada dalam tempat yang luas dalam gua itu. itu adalah sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Allah. barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, Maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barangsiapa yang disesatkan-Nya, Maka kamu tidak akan mendapatkan seorang pemimpinpun yang dapat memberi petunjuk kepadanya.
18.  Dan kamu mengira mereka itu bangun, padahal mereka tidur; dan kami balik-balikkan mereka ke kanan dan ke kiri, sedang anjing mereka mengunjurkan kedua lengannya di muka pintu gua. dan jika kamu menyaksikan mereka tentulah kamu akan berpaling dari mereka dengan melarikan diri dan tentulah (hati) kamu akan dipenuhi oleh ketakutan terhadap mereka.

            Kelompok ayat di atas menerangkan tentang posisi gua dan keadaan mereka di dalam gua tersebut. Posisi gua adalah ketika matahari terbit, senantiasa condong dari gua mereka ke sebelah kanan sehingga melalui pintu gua itu cahaya matahari dapat masuk, dan ketika terbenam, maka cahayanya menjauhi mereka, yakni melewatinya ke sebelah kiri sehingga sinarnya yang panas tidak menyengat mereka. Dengan demikian mereka tidak akan merasakan panas, dan dalam waktu yang sama mereka selalu mendapatkan pasokan cahaya dan udara pun dengan leluasa keluar masuk ke dalam gua.
            Al-Syams dalam ayat ini dilukiskan secara imajinatif sebagai benda yang dapat bergerak sendiri. Personifikasi matahari tersebut pada dasarnya mengindikasikan visualisasi yang menghidupkan. Kesan ini selaras dengan naluri manusia yang merasakan matahari beserta benda-benda langit sebagai makhluk dinamis.
            Zāt al-yāmīn-zāt al-syimāl diperselisihi maknanya oleh para ulama. M.Quraish Shihab mengatakan bahwa sebetulnya perselisihan itu muncul  karena ada yang memahami bahwa arah kanan kiri yang dimaksud hendaknya dilihat dari sisi orang yang memasuki gua. Atas dasar itu ada yang memahami gua tersebut berhadapan dengan arah kutub utara dan pintunya berada di arah barat, sedang arah kirinya ke sebelah timur yang disentuh oleh matahari ketika terbenam. Ini karena adanya paham bahwa gua itu berada di Epsus. Tetapi sebenarnya yang dianggap arah kanan dan kiri bukan ditetapkan berdasarkan arah orang yang akan memasukinya, tetapi berdasarkan orang yang keluar darinya.[25]
            Ibnu Katsir sekali lagi menandaskan berdasarkan pandangan sebagian besar mufassir, bahwa matahari tidak menyinari mereka pada saat terbit dan terbenam karena pintu gua itu menghadap ke utara. Alasan lain bahwa kalau pintu gua itu ada di bagian timur mengapa sinar matahari dapat masuk ketika terbenam, dan kalau di bagian barat, mengapa sinarnya masuk ketika terbit, tidak ketika terbenam, padahal bayangan seperti dalam ayat tersebut datang dari kanan, bukan dari kiri.[26]
            Sementara itu al-Zujjaj seperti yang dikutip al-Khalidiy mempunyai pemahaman lain tentang ayat ini bahwa gerak edar matahari merupakan salah satu tanda kebesaran Allah, tanpa harus menghubungkannya dengan letak pintu gua tersebut. Artinya sinar matahari bisa saja masuk ke dalam gua, kalau memang harusnya begitu, tetapi Allah memerintahkannya untuk tidak menyinari mereka, baik waktu pagi maupun sore. Kalau tidak karena perintah Allah, sinar matahari itu, lanjutnya pasti akan masuk ke dalam gua.[27]
            Mengenai kondisi mereka di dalam gua dapat digambarkan dengan :
1. Mereka tertidur.
2. Mereka dibolakbalikkan ke kanan dan ke kiri. Penggunaan fi’il mudhari dalam konteks ini menunjukkan bahwa pembolakbalikkan berlangsung secara intens dan terus menerus. Ini dimaksudkan agar tubuh mereka tidak rusak.
3. Salah satu bentuk perlindungan dan pemeliharaan yang diberikan oleh Allah kepada mereka adalah dengan menjadikan anjing mereka berada di ambang pintu, dimana ia duduk di sana dengan menjulurkan kedua lengannya.
4. Kondisi mereka di dalam gua itu adalah memberikan rasa takut bagi setiap orang yang berfikir untuk mengganggu mereka.
            Sesuatu yang perlu ditelisik dalam ayat 18 di atas adalah penggunaan kata ruqūdun. Kata ini sebetulnya sering dipakai untuk waktu tidur yang singkat. Padahal seperti yang diketahui mereka tertidur dalam waktu yang lama. Agaknya al-Qur’an menggunakannya untuk menunjukkan bahwa waktu yang mereka habiskan untuk tidur sangat singkat sesuai dengan pengakuan mereka pada ayat lain dibanding umur zaman itu. Dengan demikian kata itu tidak berhubungan dengan dimensi waktu tetapi lebih kepada kondisi tidur mereka, pulaskan atau tidak?
            Akhir ayat 18 itu juga perlu dicermati karena adanya bentuk ketakutan  yang sangat luar biasa dari orang yang menyaksikan mereka. Bukankah awalnya para Penghuni Gua yang merasa takut? Hal ini agaknya dimaksudkan sebagai tindakan preventif untuk menjaga keamanan dan kenyamanan mereka di dalam gua seperti yang terlihat dalam ayat 20.

            c. Suasana ketika Mereka Bangun dari Tidur.
            Suasana ketika mereka bangun dari tidur dilukiskan dalam ayat 19-20 yang berbunyi :
y7Ï9ºxŸ2ur óOßg»oY÷Wyèt/ (#qä9uä!$|¡tGuŠÏ9 öNæhuZ÷t/ 4 tA$s% ×@ͬ!$s% öNåk÷]ÏiB öNŸ2 óOçFø[Î6s9 ( (#qä9$s% $uZø[Î7s9 $·Böqtƒ ÷rr& uÙ÷èt/ 5Qöqtƒ 4 (#qä9$s% öNä3š/u ÞOn=ôãr& $yJÎ/ óOçFø[Î6s9 (#þqèWyèö/$$sù Nà2yymr& öNä3Ï%ÍuqÎ/ ÿ¾ÍnÉ»yd n<Î) ÏpoYƒÏyJø9$# öÝàZuŠù=sù !$pkšr& 4x.ør& $YB$yèsÛ Nà6Ï?ù'uŠù=sù 5-ø̍Î/ çm÷YÏiB ô#©Ün=tGuŠø9ur Ÿwur ¨btÏèô±ç öNà6Î/ #´ymr& ÇÊÒÈ öNåk¨XÎ) bÎ) (#rãygôàtƒ ö/ä3øn=tæ óOä.qßJã_ötƒ ÷rr& öNà2rßÏèムÎû öNÎgÏF¯=ÏB `s9ur (#þqßsÎ=øÿè? #¸ŒÎ) #Yt/r& ÇËÉÈ

Artinya :

19.  Dan Demikianlah kami bangunkan mereka agar mereka saling bertanya di antara mereka sendiri. berkatalah salah seorang di antara mereka: sudah berapa lamakah kamu berada (disini?)". mereka menjawab: "Kita berada (disini) sehari atau setengah hari". Berkata (yang lain lagi): "Tuhan kamu lebih mengetahui berapa lamanya kamu berada (di sini). Maka suruhlah salah seorang di antara kamu untuk pergi ke kota dengan membawa uang perakmu ini, dan hendaklah dia lihat manakah makanan yang lebih baik, Maka hendaklah ia membawa makanan itu untukmu, dan hendaklah ia berlaku lemah-lembut dan janganlah sekali-kali menceritakan halmu kepada seorangpun.
20.  Sesungguhnya jika mereka dapat mengetahui tempatmu, niscaya mereka akan melempar kamu dengan batu, atau memaksamu kembali kepada agama mereka, dan jika demikian niscaya kamu tidak akan beruntung selama lamanya".
            Ayat 19 diatas menjelaskan bahwa Allah membangunkan mereka dari tidurnya yang panjang. Tetapi keadaan mereka masih terpelihara apa adanya. Ini adalah mu’jizat Allah yang nyata dan menunjukkan keagungan Allah saw yang mutlak dan kehendak-Nya yang pasti terlaksana.
            Ungkapan liyatasa’aluna menunjukkan keheranan mereka. Dan lamnya merujuk arti mengakibatkan. Artinya keadaan mereka saling bertanya itu merupakan hasil dari dibangunkannya mereka. Mereka heran dan saling bertanya tentang tenggang waktu yang mereka pakai untuk tidur. Dan seperti terlihat tidak ada jawaban pasti yang muncul dari mereka mengenai hal tersebut.  Yang muncul kemudian menurut al-Thabari adalah ucapan yang bukan hanya menunjukkan akhlak dan tata krama terhadap Allah, tetapi ia juga merupakan salah satu hakikat yang berkaitan dengan akidah tauhid yang harus dihayati oleh setiap insan, yaitu ucapan penyerahan pengetahuan mengenai masalah ini  kepada Allah.[28]
            Ketidakberdayaan mereka mengetahui berapa lama waktu mereka tidur, menurut M.Quraish Shihab juga mengindikasikan bahwa manusia tidak dapat mengetahui apa yang berada di luar dirinya. Ia tidak mengetahui kecuali dirinya dan apa yang mengelilinginya, itu pun atas izin Allah. Apa yang diketahui di luar dirinya hanyalah berdasar atas indikator-indikator eksternal dan pengetahuannya pun hanya sebatas apa yang terungkap baginya dari indikator itu, sedang pengetahuan tentang hakikat sesuatu tidak dapat diketahui kecuali oleh Allah swt.[29]
            Di sisi lain, ucapan di atas mengandung anjuran untuk menghentikan diskusi tentang masa keberadaan mereka dalam gua, mengandung makna desakan untuk tidak berfikir sehingga menghabiskan waktu dan energi dalam hal-hal yang tidak terjangkau oleh nalar.
            Salah satu tindakan solutif yang ditawarkan ayat di atas untuk mengetahui kondisi mereka adalah penugasan seseorang untuk membeli makanan, karena itulah yang terpenting dan bermanfaat ketika itu. Dan seperti terlihat bahwa sosok mereka terbuka ketika wariq (uang perak) yang dibawa tidak lagi beredar pada masa itu. Ini mengisyaratkan bahwa betapa pun seseorang mempersiapkan diri untuk menyembunyikan sesuatu, namun terjadinya sesuatu di luar dugaan masih tetap terbuka lebar, karena pikiran manusia sangat terbatas, sedang jumlah kemungkinan sangat banyak, sehingga tidak seluruhnya dapat terjangkau.
            Kata wala yusy’iranna menurut al-Thabari artinya jangan sekali-kali ada manusia lain yang mengetahui keberadaan mereka.[30] Di sini sangat terlihat jelas betapa kehati-hatian mereka itu tercipta. Sekali lagi ini mereka lakukan untuk menyembunyikan identitas agar mereka tidak dikuasai lagi (ayat 20).
           
            d. Sikap Penduduk Kota Setelah Mengetahui Mereka dan Perselisihan
             yang Terjadi Mengenai Jumlah Mereka.
            Pada ayat 21-22 kondisi ini dijelaskan, yaitu :

y7Ï9ºxŸ2ur $tR÷ŽsYôãr& öNÍköŽn=tã (#þqßJn=÷èuÏ9 žcr& yôãur «!$# A,ym ¨br&ur sptã$¡¡9$# Ÿw |=÷ƒu !$ygŠÏù øŒÎ) tbqããt»oYoKtƒ öNæhuZ÷t/ öNèdtøBr& ( (#qä9$s)sù (#qãZö/$# NÍköŽn=tã $YZ»u÷Zç/ ( öNßgš/§ ãMn=ôãr& óOÎgÎ/ 4 tA$s% šúïÏ%©!$# (#qç7n=yñ #n?tã öNÏd̍øBr& žcxÏ­GoYs9 NÍköŽn=tã #YÉfó¡¨B ÇËÊÈ tbqä9qà)uy ×psW»n=rO óOßgãèÎ/#§ óOßgç6ù=x. šcqä9qà)tƒur ×p|¡÷Hs~ öNåkޝϊ$y öNåkâ:ù=x. $RHødu Í=øtóø9$$Î/ ( šcqä9qà)tƒur ×pyèö7y öNåkß]ÏB$rOur öNåkâ:ù=Ÿ2 4 @è% þÎn1§ ãNn=÷ær& NÍkÌE£ÏèÎ/ $¨B öNßgßJn=÷ètƒ žwÎ) ×@Î=s% 3 Ÿxsù Í$yJè? öNÍkŽÏù žwÎ) [ä!#zÉD #\Îg»sß Ÿwur ÏMøÿtGó¡n@ OÎgŠÏù óOßg÷YÏiB #Yymr& ÇËËÈ

Artinya :
21.  Dan demikian (pula) kami mempertemukan (manusia) dengan mereka, agar manusia itu mengetahui, bahwa janji Allah itu benar, dan bahwa kedatangan hari kiamat tidak ada keraguan padanya. ketika orang-orang itu berselisih tentang urusan mereka, orang-orang itu berkata: "Dirikan sebuah bangunan di atas (gua) mereka, Tuhan mereka lebih mengetahui tentang mereka". orang-orang yang berkuasa atas urusan mereka berkata: "Sesungguhnya kami akan mendirikan sebuah rumah peribadatan di atasnya".
22.  Nanti (ada orang yang akan) mengatakan (jumlah mereka) adalah tiga orang yang keempat adalah anjingnya, dan (yang lain) mengatakan: "(jumlah mereka) adalah lima orang yang keenam adalah anjing nya", sebagai terkaan terhadap barang yang gaib; dan (yang lain lagi) mengatakan: "(jumlah mereka) tujuh orang, yang ke delapan adalah anjingnya". Katakanlah: "Tuhanku lebih mengetahui jumlah mereka; tidak ada orang yang mengetahui (bilangan) mereka kecuali sedikit". Karena itu janganlah kamu (Muhammad) bertengkar tentang hal mereka, kecuali pertengkaran lahir saja dan jangan kamu menanyakan tentang mereka (pemuda-pemuda itu) kepada seorangpun di antara mereka.
            Setelah mereka ditemukan oleh penduduk negeri dan bukti yang sangat jelas tentang keniscayaan kebangkitan setelah kematian menjadi sangat jelas pula dengan peristiwa yang dialami oleh Penghuni Gua itu, Allah mematikan mereka. Ketika itu penduduk negeri kemudian berselisih tentang urusan mereka. Lalu penduduk yang berselisih itu sepakat membangun suatu bangunan untuk mengabadikan mereka.[31] Pendirian bangunan yang berfungsi sebagai masjid, memberi isyarat bahwa mereka menghargai dan menghormati Penduduk Gua itu.[32]
            Walaupun ini kemudian diketahui bahwa perbuatan itu merupakan tradisi dalam agama Yahudi dan Nashrani yang menjadikan tempat penguburan orang-orang terhormat sebagai tempat ibadah. Karena itu Nabi pernah bersabda : “ Allah mengutuk orang-orang Yahudi dan Nashrani, mereka menjadikan kubur Nabi-Nabi mereka sebagai masjid”. Hadis ini diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari jalur Abu Hurayrah.
            Pada ayat 22 setidaknya ada tiga pendapat mengenai jumlah Penghuni Gua itu. (1) Tiga dan yang keempat adalah anjingnya; (2) Lima dan yang keenam adalah anjingnya; dan (3) tujuh dan yang kedelapan adalah anjingnya. Ayat itu mengisyaratkan bahwa sebetulnya Tuhan lebih mengetahui jumlah mereka dan tidak ada yang mengetahui kecuali sedikit.
            Tetapi hal ini tidak menyurutkan keingintahuan manusia untuk itu. Karenanya sebagian ulama memperoleh kesan bahwa jumlah mereka itu tujuh. Alasannya karena ucapan ini dipisahkan dengan ucapan sebelumnya dengan kalimat terkaan menyangkut yang ghaib; sedang tujuh tidak disertai dengan kata terkaan. Dan yang terakhir ini mengesankan bahwa mereka bukannya menerka-nerka , tapi ucapan yang didasarkan pengetahuan yang mantap.
           
            e. Lama Waktu Mereka di Gua
            Ini dijelaskan pada ayat 25 yang berbunyi :
(#qèWÎ6s9ur Îû óOÎgÏÿôgx. y]»n=rO 7ps($ÏB šúüÏZÅ (#rߊ#yŠø$#ur $Yèó¡Î@ ÇËÎÈ

Artinya :
25.  Dan mereka tinggal dalam gua mereka tiga ratus tahun dan ditambah sembilan tahun (lagi).
       
            Ayat di atas merupakan pemberitahuan tentang lamanya mereka menetap dalam gua tersebut, atau masa ketika mereka tidur dalam gua dengan ungkapan yang lebih detail, yaitu masa antara mamsuknya mereka sampai terungkapnya keadaan mereka oleh kaum mereka. Pemberitahuan ini menetapkan bahwa masanya adalah selama 309 tahun.          

III. HIKMAH DIUNGKAPKANNYA KISAH ASHAB AL-KAHFI.
            Berbagai hikmah dapat dipetik dari ungkapan kisah Ashab al-Kahfi dalam al-Qur’an di antaranya dapat disebutkan sebagai berikut :

1. Meneguhkaan hati Rasulullah dan hati umat Muhammad atas agama Allah dan memperkuat kepercayaan orang mukmin.
2. Merupakan daya tarik ampuh untuk menggugah perhatian dalam mengambil pelajaran dan menjadi petunjuk bagi kaum yang beriman.
3 Kisah ini menggambarkan adanya pertarungan antara kebaikan dan kejahatan. Didalamnya terdapat petunjuk untuk pemilihan yang baik. Pilihan atas kebaikan akan mendapatkan rahmat Allah swt.

IV. KESIMPULAN
      Dari paparan sebelumnya dapat disimpulkan :
1. Kisah Ashab al-Kahfi memiliki alur pemaparan tersendiri. Pemaparannya dimulai dari ringkasan cerita, seperti yang termaktub dalam ayat 9-12. Setelah itu baru diceritakan perinciannya, yaitu (1) latar belakang mengapa mereka masuk gua (ayat 13-16); (2) keadaan mereka di dalam gua (ayat 17-18); (3) suasana ketika mereka bangun dari tidur (ayat 19-20); (4) sikap penduduk kota setelah mengetahui mereka dan perselisihan yang terjadi mengenai jumlah mereka (ayat 21-22); dan lama waktu mereka di gua (ayat 25).
2. Adapun hikmahnya antara lain adalah (1) meneguhkaan hati Rasulullah dan hati umat Muhammad atas agama Allah dan memperkuat kepercayaan orang mukmin; (2) merupakan daya tarik ampuh untuk menggugah perhatian dalam mengambil pelajaran dan menjadi petunjuk bagi kaum yang beriman; dan (3) kisah ini menggambarkan adanya pertarungan antara kebaikan dan kejahatan. Didalamnya terdapat petunjuk untuk pemilihan yang baik. Pilihan atas kebaikan akan mendapatkan rahmat Allah swt.



DAFTAR PUSTAKA



Al-Qur’an al-Karim

Abu Syuhbah, Muhammad. Al-Israiliyyat wa al-Maudhu’at fiy Kutub al-Tafsir. Al-Qahirah : Al-Haiah al-Ammah  al-Syuuni al-Muthabi’, 1404 H./1984 M.

Ahmad bin Faris. Mu’jam Maqayis al-Lughah. Juz II, Beyrut : Dar al-Fikr, 1399H./1979 M.

al-Ajiliy, Sulayman bin Umar. Al-Futuhat al-Ilahiyyah (Tawdih Tafsir al-Jalalayn). Juz III, Beyrut : Dar al-Fikr, 1415 H./ 1994 M.

A.Hanafi. Segi-segi Kesusastraan pada Kisah-Kisah al-Qur’an. Jakarta : Pustaka al-Husna, 1984

Ibnu Katsir. Tafsir Ibnu Katsir dalam CD al-Maktabah al-Syamilah

[img]http://img.photobucket.com/albums/v367/syazwan2u/0659_resize.jpg[/img]

Jad al-Mawla, Muhammad Ahmad, dkk. Qashash al-Qur’an.    Beyrut Dar al-Fikr, t.th.

al-Khalidiy, Shalah Abd al-Fattah. Ma’a Qashash al-Sabiqin fiy al-Qur’an diterjemahkan oleh Setiawan Budi Utomo dengan judul Kisah-Kisah al-Qur’an : Pelajaran dari Orang-orang Dahulu. Jakarta : Gema Insani Press, 2000.

al-Maraghiy, Ahmad Musthafa. Tafsir al-Maraghiy. Juz XIII,  Beyrut : Dar al-Fikr, t.th.

al-Qasimiy. Mahasin al-Ta’wil. Jilid VII, Beyrut : Dar al-Fikr, 1398 H./ 1978 M.

Quthb, Sayyid. Al-Tashwir al-Fann fiy al-Qur’an. Kairo : Dar al-Ma’arif, 1975.

-------------------------. Tafsir fiy Zilal al-Qur’an. Jilid IV, Jeddah : Dar al-Ilmi, 1406 H./ 1986 M.

Shihab, M.Quraish. Tafsir Al-Misbah. Volume 8, Jakarta : Lentera Hati, 2002.

al-Syaukaniy, Muhammad. Tafsir Fath al-Qadir. Juz III, Mesir : Musthafa al-Bab al-Halabiy wa Auladuh, 1383 H./1963 M.

S.M.Suhufi. Stories from Qur’an diterjemahkan oleh Alwiyah Abdurrahman dengan judul Kisah-Kisah dalam al-Qur’an. Bandung : Mizan, 1995.

Tafsir al-Muntakhab di dalam CD al-Maktabah al-Syamilah.

al-Thabathaba’iy, Muhammad Husayn. Tafsir al-Mizan. Jilid XIII,  Beyrut : Muassasah al-A’lamiy li al-Mathbu’at, 1411 H./1991 M.

al-Tharawanah, Sulayman. Dirasah Nashshiyyah Adabiyyah fi al-Qishshah al-Qur’aniyyah diterjemahkan oleh Agus Faishal Kariem dan Anis Maftukhin dengan judul Rahasia Pilihan Kata dalam al-Qur’an. Jakarta : Qisthi Press, 2004.

al-Thabariy, Muhammad Ibn Jarir. Tafsir al-Thabariy. Juz XV-XVI, Beyrut : Dar al-Fikr, 1408 H./ 1988 M.

al-Zamakhsyari. Tafsir al-Kasysyaf. Juz II, Beyrut : Dar al-Fikr, t.th.

al-Zuhayliy, Wahbah. Tafsir al-Munir. Juz V, Beyrut : Dar al-Fikr, 1411 H./1991 M.



















           
           
           

           



[1]Lihat A.Hanafi, Segi-segi Kesusastraan pada Kisah-Kisah al-Qur’an  (Jakarta : Pustaka al-Husna, 1984), h. 22
[2]Lihat M.Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah, Volume 8 (Jakarta : Lentera Hati, 2002), h. 14

[3]Ibid.

[4]Lihat Ahmad bin Faris, Mu’jam Maqayis al-Lughah, Juz II ( Beyrut : Dar al-Fikr, 1399H./1979 M.), h. 425
[5] Lihat Al-Zamakhsyari, Tafsir al-Kasysyaf, Juz II ( Beyrut : Dar al-Fikr, t.th.), h. 473; Al-Qasimiy, Mahasin al-Ta’wil, Jilid VII (Beyrut : Dar al-Fikr, 1398 H./ 1978 M.), h. 9; Wahbah al-Zuhayliy, Tafsir al-Munir, Juz V (Beyrut : Dar al-Fikr, 1411 H./1991 M.), h. 216

[6]Lihat M.Quraish Shihab, op cit., h. 21

[7]Lihat Muhammad al-Syaukaniy, Tafsir Fath al-Qadir, Juz III (Mesir : Musthafa al-Bab al-Halabiy wa Auladuh, 1383 H./1963 M.), h. 271

[8]Lihat Muhammad Abu Syuhbah, Al-Israiliyyat wa al-Maudhu’at fiy Kutub al-Tafsir (Al-Qahirah : Al-Haiah al-Ammah  al-Syuuni al-Muthabi’, 1404 H./1984 M.), h. 335-337

[9]Disadur dari [img]http://img.photobucket.com/albums/v367/syazwan2u/0659_resize.jpg[/img]

[10]Tafsir al-Muntakhab di dalam CD al-Maktabah al-Syamilah pada penjelasan QS al-Kahfi (18) : 9

[11] Lihat Muhammad Husayn al-Thabathaba’iy, Tafsir al-Mizan, Jilid XIII ( Beyrut : Muassasah al-A’lamiy li al-Mathbu’at, 1411 H./1991 M.), h. 250-251

[12]Muhammad Ahmad Jad al-Mawla, dkk., Qashash al-Qur’an ( Beyrut Dar al-Fikr, t.th.), h. 274

[13] Sulayman al-Tharawanah, Dirasah Nashshiyyah Adabiyyah fi al-Qishshah al-Qur’aniyyah diterjemahkan oleh Agus Faishal Kariem dan Anis Maftukhin dengan judul Rahasia Pilihan Kata dalam al-Qur’an (Jakarta : Qisthi Press, 2004), h. 157
[14]Ibid.

[15]Lihat Shalah Abd al-Fattah al-Khalidiy, Ma’a Qashash al-Sabiqin fiy al-Qur’an diterjemahkan oleh Setiawan Budi Utomo dengan judul Kisah-Kisah al-Qur’an : Pelajaran dari Orang-orang Dahulu (Jakarta : Gema Insani Press, 2000), h. 48-49

[16]Lihat Sayyid Quthb, Al-Tashwir al-Fann fiy al-Qur’an (Kairo : Dar al-Ma’arif, 1975), h. 149
[17]Lihat Sayyid Quthb, Tafsir fiy Zilal al-Qur’an, Jilid IV (Jeddah : Dar al-Ilmi, 1406 H./ 1986 M.), h. 2262

[18]Al-Khalidiy, op cit., h.  52
[19] Lihat Sulaiman al-Tharawanah, op cit., h. 158

[20] Muhammad al-Syaukaniy, op cit., 273
[21]M.Quraish Shihab, op cit.,h. 26

[22]Lihat Ahmad Musthafa al-Maraghiy, Tafsir al-Maraghiy, Juz XIII ( Beyrut : Dar al-Fikr, t.th.), h. 126

[23]M.Quraish Shihab, loc cit.

[24]Sulayman bin Umar al-Ajiliy, Al-Futuhat al-Ilahiyyah (Tawdih Tafsir al-Jalalayn), Juz III ( Beyrut : Dar al-Fikr, 1415 H./ 1994 M.), h. 413
[25] M.Quraih Shihab, op cit., h. 28

[26]Lihat Ibnu Katsir, Tafsir Ibnu Katsir dalam CD al-Maktabah al-Syamilah pada penjelasan ayat 17.

[27] Al-Khalidiy, op cit., h. 65-66
[28] Lihat Muhammad Ibn Jarir al-Thabariy, Tafsir al-Thabariy, Juz XV-XVI ( Beyrut : Dar al-Fikr, 1408 H./ 1988 M.), h. 216

[29]M.Quraish Shihab, op cit., h. 32
[30]Muhammad ibn Jarir al-Thabariy, op cit., h. 224
[31] M.Quraish Shihab, op cit., h. 36

[32]Ibid.

0 komentar:

Poskan Komentar

apakah anda tidak menemukan yang anda cari??? silahkan tuliskan sesuatu yang anda cari itu....

FACEBOOK COMENT

ARTIKEL SEBELUMNYA

 
Blogger Templates