Sabtu, 30 April 2011

QAULAN BALīGAN; pendekatan da'wah


oleh : Muhammad Akbar, S. Th. I

Prolog:
Satu hal yang pastinya sudah disadari oleh para aktivis dakwah dan bahkan segenap umat bahwa keberhasilan sebuah dakwah tidak bisa lepas dari prinsip-prinsip dan metode dakwah yang mapan. Metode dakwah merupakan seperangkat rumusan dan kerangka pikir terhadap pola kerja sebuah dakwah, yang salah satu bagiannya adalah etika berdakwah. Etika berdakwah adalah hasil kajian dari petunjuk ayat al-Qur’an, hadis, dan pesan-pesan ulama shalaf shalih.
Dari al-Qur’an khususnya—sebagai sumber utama, ada banyak redaksi baik secara langsung maupun tidak yang menunjukkan tentang etika tersebut. Salah satu contoh—di antara sekian banyak yang lain—adalah Qaulan Balīga.
Potongan ayat ini—atau lebih layak disebut prase—terdapat dalam surah al-Nisā’ yang meskipun berbicara dalam konteks orang munafik, tapi makna bisa lebih umum jika disangkutpautkan dengan proyek dakwah. Dan dalam artikel ini kita akan melihat lebih jauh bagaimana kerangka kerja Qaulan Balīgan itu dalam posisinya sebagai sebuah etika berdakwah, dengan mencoba menelusuri makna kebahasaan dan pendapat-pendapat para mufassir terhadap ayat tersebut.
a. Makna “Balīg”
Balīg adalah derivasi dari kata “balaga”[1]. Balaga terbentuk dari tiga huruf (ba’, lam, dan gain) bermakna sampai, berakhir, dan selesai.
Orang yang berjalan atau sampai ke suatu tempat tujuan perjalanan mengatakan “ballagtu”.
Anak-anak yang disebut “bulūg” adalah anak-anak yang sudah kedatangan mimpi dan usianya sudah tiba saatnya untuk dikenai taklif. Dan biasanya proses berpikirnya berangsur matang.
Berdakwah dinamakan “tablīg” karena berdakwah adalah proses penyampaian atau menyampaikan berita dan pelajaran kepada orang lain.
Pohon yang buahnya sudah matang dan sudah tiba saatnya untuk dipetik disebut orang arab dengan “bulgun”
Dari kata ini juga muncul kata “balāgah” yang ahlinya disebut “bulagā’’ atau “rajul balīg” karena indahnya ucapan dan tutur katanya dan kefasihan berbicaranya mencapai tingkatan tertinggi dan lisannya sudah diibaratkan hati yang berbicara.
Jadi “balīg’ pada dasarnya bermakna puncak dan akhir dari sesuatu, oleh karena itu dalam kamus bahasa arab kata ini diartikan dengan: sangat, intens, drastis, dan kuat. Kata “balīg” juga sebagai isim fā’il bermakna yang fasih[2].
b. Pendapat para mufassir
Kata ini dalam al-Qur’an hanya tercatat satu kali, yaitu dalam sural al-Nisā’ ayat 63. Dan para mufassir memberikan pemaknaan yang beragam tentang ayat tersebut. Sebenarnya objek pembicaraan ayat ini adalah orang munafik, terkait dengan 3 langkah peringatan; “faa’rid ‘anhum” kemudian ‘’idzhum” dan terakhir “qul lahum fī anfusihim qaulan balīgan”. Secara lebih parsial—untuk menghindari penafsiran ayat ini secara panjang lebar—maka disini kajian akan dikhususkan pada pemaknaan di sekitar kata “qaulan balīgan” saja. Beriku t pandangan para mufassir:
· Al-Thabarī secara sangat ringkas menagatakan: artinya adalah perintahkan mereka untuk bertaqwa kepada Allah dengan membenarkan Allah, rasul-Nya, janji dan ancamannya.[3]
· Ibnu Kașīr berpendapat: artinya nasihatilah orang munafik dengan perkataan yang keras, kuat dan tegas yang seakan menekan dan menghalangi mereka untuk berbuat lebih banyak lagi.[4]
· Al-Qurtubī menafsirkan: cegah, usir, caci, dan rintangi mereka dengan sekuat mungkin, tapi dalam keadaan sepi dan tidak disaksikan orang lain[5].
· Al-Bagawī menafsirkannya dengan menakut-nakuti mereka atas nama Allah, atau mengancam akan membunuh mereka jika tidak mau bertaubat. Katakan kepada mereka “jika kalian menampakkan kemunafikan kalian, maka kalian akan dibunuh karena kalian telah melampaui batas”. Dalam hal ini al-Bagawi mengatakan bahwa sebagian ulama menganggap ayat ini telah dinasakh dengan ayat Perang[6].
· Al-Alūsī: katakanlah perkataan yang keras/tegas sampai tertinggal dan berbekas pada diri mereka kesedihan dan rasa takut tiada tara. Ancam mereka dengan pembunuhan dan pembantaian. Ini bermasud untuk memberikan efek jera sampai mereka bertaubat[7]. Dan penafsiran ini juga terdapat dalam kitab al-Bahr al-Muhit[8], al-Kassyaf[9], dan al-Jalalain[10].
Tapi beliau juga menafsirkan: berbicaralah kepada mereka sesuai kapasitas intelektual mereka dan hargai kelemahan mereka.
· Fath al-Qadīr: peringatan tertinggi agar berdampak pada jiwa mereka. Misalnya dengan mengancam keselamatan jiwa, keluarga, dan harta benda mereka[11].
· Zad al-Masīr: lebih mengaitkannya dengan ‘balāgah’, yaitu menyampaikan pesan makna ke dalam hati mereka dengan kata-kata yang paling cermat dan jitu serta indah. Qaul balīg adalah perkataan yang ringkas tapi padat makna. Perkataan yang maknanya jauh lebih dalam dibanding dhahirnya ucapan lidah. Penafsiran ini sejalan dengan pemaknaan al-Hāzin[12] dan al-Nasafī[13].
Namun al-Nasafī menambahkan: peringatan dan perkataan lisan yang ibarat hakikat hati yang berbicara[14].
· Al-Baidhawī menafsirkan: perintahkan mereka menjauhi dosa dan nasehati mereka dan usaha semaksimal mungkin dalam menyampaikan targib dan tarhib. Ini adalah jalan yang telah ditempuh para nabi Allah karena belas kasih[15].
· Aisar al-Tafasīr: qaul balīg adalah perkataan yang bisa membuat hati mereka mabuk dan jatuh hati karena keindahan tutur kata dan kefasihan berbicara[16].
Kesimpulan:
Berdasarkan tinjauan bahasa dan penafsiran-penafsiran para mufassir yang dikemukakan di atas, maka “Qaulan Balīgan” dimaknai sebagai berikut:
· “Qaulan Balīgan” dalam arti dasarnya adalah: tegas, keras, intens, drastis, dan kuat.
· Penafsiran para ulama pada dasarnya terbagi kepada 2 kecenderungan: kekerasan dan kelembutan. Tapi pada intinya, kedua kecenderungan tersebut masing-masing bermaksud supaya dakwah itu dapat saketika menyentak dan membuat objek dakwah itu terhentak, agar apa yang disampaikan bisa berkesan, berbekas, dan menimbulkan efek bagi jiwa mereka.
· Pilihan antara jalan keras atau cara halus, intinya harus dilakukan sampai batas maksimal. Jika harus memilih cara kekerasan, sebisa mungkin perkataan atau dakwah itu keras dan tegas, jika perlu ancaman terhadap jiwa, keluarga dan harta benda mereka. Sebaliknya, jika harus dengan cara halus dan lembut, maka diusahakan perkataan atau dakwah itu selembut mungkin. Kita harus mempelajari dan menguasai cara-cara orang bijak dalam menyampaikan pesan yang halus, ringkas tapi bermakna, dan mudah mengambil perhatian orang karena sepenuhnya lidah adalah manifestasi dari hati.
Jadi, teori “Qaulan Balīgan” dalam al-Qur’an adalah salah satu etika dalam berdakwah yang penting untuk diperhatikan, dicermati, dan bahkan dialplikasikan dalam realisasi dakwah untuk menjamin berhasilnya sebuah dakwah. Paling tidak prinsip ini adalah perintah langung dari Allah swt. dan ditambah lagi dengan bukti-bukti keberhasilan dakwah pada masa lampau yang memegang teguh prinsip ini.
DAFTAR PUSTAKA
Abu Abdullah Muhammad bin Umar bin Hasan al-Husaini al-Taimimi al-Razi, Mafatih al-Ghaib, (Beirut Lebanon : dar al-Fikr, 1993)
Abu al-Farraj Jamaluddin Abdurrahman bin Ali al-Jauzi, Zada al-Musir fi Ilmi al-Tafsir, Cet I (Beirut Lebanon : Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 1414 H/1994 M)
Abu Hayyan Muhammad bin Yusuf al-Andalusi, Bahru al-Muhith fi al-Tafsir, (Beirut Lebanon : Dar al-Fikr, 1412 H/1992 M
Abu Hayyān, Bahru al-Muhith fi al-Tafsir, (Beirut Lebanon : Dar al-Fikr, 1412 H/1992 M.
Al- Jauzī, Zada al-Musir fi Ilmi al-Tafsir, Cet I (Beirut Lebanon : Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 1414/1994
Al-Alūsī, Rūh al-Ma’ānī, (Idārah al-Tibā’ah al-Muniriyah).
Al-Bagawī, Ma’ālim al-Tanzīl, (Beirut: Dār Thībah, 1997).
Al-Baidhawī, Anwar al-Tanzil wa Asrar al-Ta’wil, (Dar al-Kutub al-Arabiyah, 1330 H).
Al-Hazin, Alauddin bin Muhammad, Tafsir al-Hazin, (Beirut: Dar al-Fikr, 1979).
Al-Nasafi, Hafidzuddin, Madarik al-Tanzil wa Haqaiq al-Ta’wil.
Al-Qurthuby, Abu Abdillah. Tafsir al-Qurthubi. Cairo Mesir: Dar al-Syiab, 1372 H.
Al-Qurtubī, Tafsir al-Qurthubi.( Cairo Mesir: Dar al-Syiab, 1372 H).
Al-syaukani, Ali, Muhamad bin, Fath al-Qadir, (beirut Lebanon : al-Maktabah al-'Isriyah, 1418 H/1997 M
Al-Thabarī, Jāmi’ al-Bayān fī Ta’wīl al-Qur’ān, (Beirut: Muassasah al-Risālah, 2000).
Al-Zamakhsyarī, al-Kassyāf, (Mustafa Muhammad, 1308 H), juz I, h. 426.
Atabik Ali, Zuhdi Muhdlor, Kamus al-‘Ashri, (Yogyakarta: Multi Karya Grafika).
Fath al-Qadīr, Al-syaukani, Ali, Muhamad bin, Fath al-Qadir, (beirut Lebanon : al-Maktabah al-'Isriyah, 1418 H/1997).


[1] Ibnu Mandzūr, Lisān al-Arab, (Beirut; Dār Shādir), juz 4 hlm. 419. Ahmad bin Fāris, Maqāyīs al-Lugah, (Beirut: Ittihād al-Kitāb al-Arab, 2002), juz 1 hlm. 280.
[2] Atabik Ali, Zuhdi Muhdlor, Kamus al-‘Ashri, (Yogyakarta: Multi Karya Grafika), hlm. 355
[3] Al-Thabarī, Jāmi’ al-Bayān fī Ta’wīl al-Qur’ān, (Beirut: Muassasah al-Risālah, 2000), juz VIII, h. 515.
[4] Ibnu Katsīr, Tafsīr al-Qur’ān al-Karīm, (Beirut: Dār Thībah, 1999), juz II, h.
[5] Al-Qurtubī, Tafsir al-Qurthubi.( Cairo Mesir: Dar al-Syiab, 1372 H), juz II, h. 93.
[6] Al-Bagawī, Ma’ālim al-Tanzīl, (Beirut: Dār Thībah, 1997), juz II, h. 244.
[7] Al-Alūsī, Rūh al-Ma’ānī, (Idārah al-Tibā’ah al-Muniriyah), juz IV, h. 135.
[8]Abu Hayyān, Bahru al-Muhith fi al-Tafsir, (Beirut Lebanon : Dar al-Fikr, 1412 H/1992 M, juz IV, h. 192.
[9] Al-Zamakhsyarī, al-Kassyāf, (Mustafa Muhammad, 1308 H), juz I, h. 426.
[10] Jalaluddin al-Mahallī, al-Suyuti, Tafsir al-Jalalain, (Dār Ihyā al-Kutub, 1345 H), juz II, h. 55.
[11] Fath al-Qadīr, Al-syaukani, Ali, Muhamad bin, Fath al-Qadir, (beirut Lebanon : al-Maktabah al-'Isriyah, 1418 H/1997).
[12] Al-Hazin, Alauddin bin Muhammad, Tafsir al-Hazin, (Beirut: Dar al-Fikr, 1979), juz II, h. 124.
[13]Al-Nasafi, Hafidzuddin, Madarik al-Tanzil wa Haqaiq al-Ta’wil, juz I, h. 236.
[14] Al- Jauzī, Zada al-Musir fi Ilmi al-Tafsir, Cet I (Beirut Lebanon : Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 1414/1994
[15] al-Baidhawī, Anwar al-Tanzil wa Asrar al-Ta’wil, (Dar al-Kutub al-Arabiyah, 1330 H), juz I, h.468.
[16] Aisar al-Tafāsīr,

0 komentar:

Poskan Komentar

apakah anda tidak menemukan yang anda cari??? silahkan tuliskan sesuatu yang anda cari itu....

FACEBOOK COMENT

ARTIKEL SEBELUMNYA

 
Blogger Templates