Sabtu, 30 April 2011

TAREKAT SUFI


(Kritik Ibnu Taymiyyah atas Kedudukan Shaikh dan Fungsi Khirqah)
Muhammad Zulkarnain Mubhar*

Abstract
Tasawwuf has become a popular term in the 2nd century later in its development began to enter the period of intuition, Kashf, and dhauq. In this period came the contrast of two groups namely group of sheikhs and tasawwuf darvish where both are considered as a group that eliminates that aspect of experience in tasawwuf embraced and understood by the Sufis earlier. At this time there come a reformer of Islam that was held by Shaikh al-Islam from the descendants of a woman named Taymiyyah, he was Ahmad Ibn Taymiyyah. This article, the writer describes about his criticism of belief and behavior that deviates the adherents of the Sufis t}ari>qah mainly very die spread in his time and is part of jihad in Islam to restore purity. Among the cases that become part of his critique is the position of sheikh in the t}ari>qah which he regarded as part of a cult of the pious, in addition, he also criticized khirqah issues that are part of shi'ar the mystics as a symbol of obedience to the sheikhs and the symbol of obedience someone muri>d in congregations. The second case is in the view of Ibn Taymiyyah is something far from what has been outlined by Allah and taught by the Prophet and pious cleric previous (Salaf al-S}a>leh).
Key Word: T{ari>qah, Shaikh, Khirqah, Ibnu Taimiyyah, critique, Tasawwuf.
Pendahuluan
Kaum mislimin percaya bahwa Allah Swt sejak awal penciptaan telah berkominikasi aktif dengan dan kepada seluruh ciptaan-Nya dalam berbagai bentuk dan cara, diantara cara yang paling banyak digunakan oleh Allah Swt dalam berkomunikasi dengan makhluk-Nya adalah dengan menciptkan berbagai hal dan memenuhi alam semesta ini dengan tanda-tanda ketuhanan dan kebesaran-Nya, bentuk komunikasi Allah Swt yang lebih intim adalah dengan cara memasukkan tanda-tanda ketuhanan-Nya ke dalam setiap jiwa  yang berakal[1] agar jiwa tersebut dapat mersakan dan mengetahui betapa Allah Swt sangat memperhatikan setiap langkah dan tingkah laku mereka. hal ini sejalan dengan firman-Nya:
وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهِ نَفْسُهُ وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ
“Dan Sesungguhnya kami Telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya”.[2]
Para ulama tafsir menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan kalimat “ونحن أقرب إليه من حبل الوريد" adalah bahwa Allah Swt mengetahui segala hal bahkan waswasah atau bisikan-bisikan terselubung dalam jiwa manusia, dimana pengetahuan Allah ini tidak tertutupi oleh sesuatu apapun melainkan mengalir sebagaimana mengalirnya darah pada urat nadi yang terdapat dileher manusi itu sendiri, al-Qurt}uby menyatakan bahwa kalimat tersebut merupakan kalimat tamthi>l yang bermakna bahwa Allah Swt lebih dekat kepada hambanya yang merupakan bagian dari dirinya, dan kedekatan yang dimaksud disini bukan kedekatan dalam arti kedekatan jarak[3].
Ayat di atas – setidaknya – memberikan pengertian bahwa dalam diri manusia terdapat dua perkara yang dalam keadaan tertentu terkadang mengalami pertikaian, dan pada keadaan yang lain mengalami keserasian, kedua wilayah tersebut adalah wilayah esoteris dan eksoteris. Wilayah esoteris adalah wilayah bersemayamnya pengtahuan tentang Tuhan yang senantiasa aktif dalam melakukan interaksi dengannya baik secara ferbal maupun nonferbal, dan wilayah aksoteris adalah wilayah terbentuknya suatu hasil dari segala bentuk bisikan-bisikan esoteris. Bisikan-bisikan esoterik memiliki dua bentuk; pertama, bisikan esoterik positif yaitu bisikan Tuhan yang senantiasa mengarahkan kepada kebaikan untuk dapat menuai kemuliaan diri di dunia dan akhirat; kedua, bisikan esoteris negatif yatu bisikan setan (Waswasah al-Shaya>t}i>n)[4] yang senantiasa mengarahkan kepada kesesatan sehingga mendapatkan kemuliaan diri di dunia dan kehinaan diakhirat. Realisasi eksoterik dari bisikan esoterik positif kemudian disebut dalam istilah al-Qur’an al-‘Amal al-S}a>leh dan realisasi esoterik dari bisikan esoterik negative kemudian menghasilkan al-Sayyia>t wa al-Ithm wa al-Fawa>h}sh, bahkan dalam istilah al-Qur’an mengikuti bisikan esoteris negatif sekalipun tidak terealisasi secara eksoterik sudah tergolong al-Fawa>h}ish al-Ba>t}iniyyah (kekejian abstrak).
Tentang perkara esoterik baik yang positif maupun negatif[5] dalam dunia sufustik menjadi perhatian yang sangat besar, dimana orang yang berhasil membumihanguskan sentra-sentra spiritual keburakan dan berhasil membangun sentra-sentra kebaikan dalam ranah jiwanya, berpeluang untuk mendapatkan pengetahuan sukmawi yang merupakan realitas abstrak dan transenden (al-H{aqi>qah al-Mujjaradah al-Muta’a>liyah), sebab realitas ini adalah realitas termulia dan hanya dapat ditangkap secara baik oleh jiwa yang telah terbebas dari belenggu material, dan Tuhan hanya dapat dirasakan kehadiran-Nya oleh orang yang memiliki pengetahuan sukmawi[6] dengan membelenggu dan menghanguskan segala bentuk bisikan esoterik negatif dan mengaktifkan secara simultan dan berkelanjutan segala bentuk  bisikan-bisikan esoterik positif.
Dari uraian di atas dapat dinyatakan bahwa tasawwuf lebih memberi aksentuasi kepada aspek batin (esoterik) yang merupakan bentuk produk ijtihad tentang ajaran Islam. Ibnu Khaldu>n (w. 1406) menginformasikan bahwa keberadaan tasawwuf secara historis bermula dari generasi salaf dengan cara memusatkan diri dengan konsentrasi sepenuhnya dalam beribadah hanya kepada Allah Swt semata, menjauhi dunia dan segala pesona kelezatannya, berpaling dai harta dan jabatan, melakukan ‘uzlah untuk dapat lebih konsentrasi dalam ibdaha (khalwat), dan senantiasa hidup dalam ibadah. Fenomena ini merupakan fenomena umum dalam kehidupan generasi salaf, kemudian pada abad ke-2 dan sesudahnya para ‘a>bid dan mereka yang menjauhi sikap tamak dari kehidupan duniawai (za>hid) kemudian disebut dengan s}u>fy atau mutas}awwifi>n.[7] Konteks ini menunjukkan bahwa sejak saat itu (abad ke-2 dan sesudahnya) tasawuf memasuki periode intusi, kashf, dan dhauq yang berkembang antara abad ke-3 dan ke-4 Hijriyyah.[8] Perkembangan tasawwuf di atas kemudian membawa alam tasawwuf pada perkembangan ke arah munculnya aliran-aliran atau mazhab-mazhab, berikut kecenderungan dan karakteristik masing-masing[9] yang kemudian disebut dengan Tarekat. Tarekat-tarekat yang berkembang tersebut secara simultan dan berkelanjutan telah berperan dalam melakukan perubahan tasawwuf yang pada awalnya merupakan kegiatan yang bersifat individu menjadi gerakan massa yang melemahkan cita-cita tertinggi golongan sufi klasik.[10]
Dalam catatan Syafiq A. Mughni, menginformasikan bahwa pada abad kegelapan muncul suatu kontras yang tampaknya menunjukkan berbagai penyimpangan dari tradisi sufistik sebelumnya. Kontras ini  tampak pada dua kelompok; pertama, kelompok sheikh yaitu kelompok tasawwuf yang memiliki organisasi yang jelas dan kegiatan-kegiatan mereka berpusat di khanqah yang biasanya terletak di kota-kota; kedua, kelompok yang disebut oleh Syafiq dengan “Dervish­-berkelana” biasanya orang-orang pencuri, petualang, pesulap, dan bahkan pencuri. Mereka ini sering digambarkan sebagai kelompok sufi yang menghilangkan aspek pengalaman sufisme yang dianut oleh para sufi sebelumnya. Kelompok ini memandang bahwa semangat berpetualang merupakan jalan sufi. Sikap semacam itu telah ada sejak adanya tarekat, dan bahkan lebih menampakkan diri secara jelas ketika sufisme melembaga secara mapan ditengah masyarakat.[11]
Kemunculan berbagai bentuk kontras sufistik sebagaimana yang digambarkan oleh Syafiq A. Mughni di atas, kemudian memunculkan sikap para tokoh pada masa itu untuk meluruskan berbagai penyimpangan-penyimpangan tersebut utamanya yang berhubungan dengan Aqidah. Diantara para tokoh yang sangat memberikan perhatian dalam upaya memurnikan kembali aqidah Islam yang bermuara pada al-Qur’an, dan al-Sunnah yang sesuai dengan faham al-Salaf al-S}a>leh adalah Shaikh al-Isla>m Ibnu Taimiyyah –Rahimahullah – dengan kerangka dasar pemikiran bahwa Islam dan pembaharuan Islam memerlukan suatu cara, yaitu jalan tengah (al-Wasat}yyah). Pada kenyataannya, jalan tengah harus dipadukan dengan perkembangan dalam Islam yang bermacam-macam tersebut dengan tetap berpegang pada ajaran pokok Islam yang termaktub dalam al Qur’an dan Sunnah yang murni dan sesuai dengan faham Salaf al-Ummah, yang tidak terkontaminasi oleh budaya-budaya asing.
Pada masa hidupnya Shaikh al-Isla>m Ibnu Taimiyyah –Rahimahullah–banyak melakukan kritikan-kritikan terhadap prilaku menyimpangan paham ke-Islam-an utamanya para pengikut tarekat-tarekat sufi. Jika demikian bagaimana pandangan Ibnu Taimiyyah –Rahimahullah –tentang tarekat? Bagaimana kritikan Ibnu Taimiyyah –Rahimahullah –terhadap kedudukan seorang shaikh dalam Tarekat? Apakah yang dimaksud dengan khirqah menurut Ibnu Taimiyyah? Seluruh pertanyaan ini akan diurai dalam tulisan ini.
Riwayat Singkat Hidup Ibnu Taimiyyah
Ibnu Taimiyyah –Rahimahullah –bernama asli Ah}mad bin ‘Abd al-H}ali>m bin ‘Abd al-Sala>m bin Taimiyyah al-H{arra>ny al-Dimasyqy al-H{anbaly bergelar Shaikh al-Isla>m Taqiyuddi>n dan berlaqab Abu al-‘Abba>s. beliau lahir di kota H{arra>n pada hari Senin 10 Rabi’ al-Awwal Tahun 661 H bertepatan dengan 25 Januari 1262 M, kemudian seluruh keluarganya pindah Damaskus pada saat beliau masih kecil.[12]
Ibnu Taimiyyah –Rahimahullah –hidup pada masa dinasti Mama>li>k dalam lingkungan yang penuh dengan ilmu, dimana keluarga beliau adalah keluarga yang sangat mencintai ilmu dan dikenal sebagai keluarga penuntut ilmu –sebagaimana yang telah diuraikan sebelumnya- selain itu beliau juga tumbuh di kota yang memiliki karakteristik keilmuan dan penuh dengan ulama. Para sejarawan yang merekam perjalanan hidup keluarga Ibnu Taimiyyah –Rahimahullah –utamanya pada saat melarikan diri dari serangan tentara Tatar terhdap kota mereka –H{arra>n- menuju Damaskus pada tahun 667 H / 1268 M[13], mengungkapkan bahwa keluarga ini membawa tumpukan buku di atas dokar mereka dan tidak tampak disana selain buku. Ini menunjukkan perhatian besar dan penghargaan keluarga ini terhadap buku yang memberikan penekanan bahwa keluarga ini adalah keluarga pecinta ilmu.[14]
Kecerdasan Ibnu Taimiyyah –Rahimahullah –telah tampak sejak kecil, beliau sangat terkenal dari sebayanya akan kecerdasan, ketekunan, ketelitian dan kekuatan hafalannya, bahkan telah tersebar dikalangan para ulama masa itu bahwa di tanah Damaskus terdapat seorang anak yang memiliki keitimewaan hafalan. Hal ini mengundang salah seorang ulama dari tanah H}alb ke Damaskus untuk membuktikan kebenaran berita tentang kejeniusan seorang anak yang bernama Ah}mad bin Taimiyyah, setelah bertemu dengan Ibnu Taimiyyah –Rahimahullah –ulama tersebut memintanya untuk menulis di  atas lauh} sebelas hadis beserta sanadnya, kemudian ulama tersebut memintanya untuk menghapus tulisan tersebut dan menyuruhnya untuk membaca kembali melalui hafalan apa yang telah dia tulis sebelumnya, setelah Ibnu Taimiyyah –Rahimahullah –membacakan kembali kesebelas hadis tersebut secara utuh melalui kekuatan hafalan, dengan penuh ttakjub ulama tersebut pun berkata: “Jika anak ini tumbuh dewasa, maka dia adalah seorang ulama besar, karena saya belum menemukan seorang anak yang sama dengannya”.[15]
Pendidikan paling pertama yang didapatkan oleh Ibnu Taimiyyah –Rahimahullah –adalah pendidikan dari ayah dan ibunya, dimana keduanya senantiasa mengajarkan beliau dari masa kecil tentang pentingnya buku dan ilmu. Ayahnya banyak memberikan kepadanya hafalan terhadap hadis, dan mengajarkannya bahasa Arab dan sastranya, hingga beliau telah menghafal banyak syair pada masa dini. Beliau juga belajar pada banyak guru selain dari ayanya, diantara guru-guru beliau adalah Zainab binti Makky dimana beliau mendengarkan hadis darinya, selain hadis dan ilmunya beliau juga mempelajari ilmu-ilmu yang lain, beliau memiliki kekutan hafalan dimana tidaklah sesuatu yang beliau dengarkan kecuali beliau hafal, beliau senantiasa belajar hingga beliau menjadi ulama dalam bidang tafsir dan ilmunya, ahli dibidang fiqhi dan diskursusnya –utamanya fiqhi madhhab H{anbaly-, bahakan dikatakan beliau sangat ahli dalam fiqhi-fiqhi mazhab dari para penganut mazhab tersebut, beliau sangat menguasai us}u>l al-Fiqh, Nah}wu, sastara, kala>m,  filsafat, Tas}awwuf dan ilmu-ilmu lain baik ilmu naqly maupun ‘aqly, beliau telah menguasai seluruh ilmu dan cabang-cabangnya selama 30 tahun.[16]
Pada saat beliau berumur 20 tahun ayahnya mengajarinya cara berfatwa, sehingga beliau berfatwa dihadapn ayahnya, dan ayahnya senantiasa memotivasinya, seluruh fatwanya didiskusikan terus menerus hingga ayahnya merasa tenang dan melepaskan berftwa secara mandiri. Para ulama teman-teman ayahnya terkagum dengan kedalaman ilmu, ketelitian dan ketepatan dalil yang digunakan oleh Ibnu Taimiyyah –Rahimahullah –muda dalam berfatwa.[17]
Sikap ortodoksi Ibnu Taimiyyah –Rahimahullah –utamanya dalam hal debat (al-muna>z}arah wa al-Muja>dalah) telah tampak sejak beliau berusia 20 tahun dimana beliau pernah mendebat seorang ulama yang bersebarangan dengan madhhabnya, seorang ulama yang berumur 50 tahun dan bermadhhab sha>fi’y serta menguasai pendapat-pendapat al-Ash’ary. Ulama tersebut melakukan kesalahan, yang karena sikap ortodiksinya Ibnu Taimiyyah –Rahimahullah –pun mengatakan kepada ulama tersebut : “Yang kamu katakana itu adalah bentuk permusuhan atau karena kebodohan terhadap Sunnah!” pernyataan Ibnu Taimiyyah –Rahimahullah –ini diketahui oleh ayahnya dan diluruskan bahwa hal itu tidak beradab, sehingga beliau harus minta maaf kepada ayahnya dan juga kepada ulama yang didebtanya dan berjanji kepada kedua orangtuanya untuk menjadi anak sebagaimana yang mereka inginkan, senantiasa berpegang teguh pada sunnah, dan berdiskusi secara baik.[18] Sepeninggal ayahnya pada tahun 681 H atau 1282 M, Ibnu Taimiyyah –Rahimahullah –menggantikan kedudukan ayahnya sebagai guru besar Madhhab H{anbaly.[19]
Perjuangan terbesar Ibnu Taimiyyah –Rahimahullah –adalah perjuangan dalam memurnikan Aqidah Isla>miyyah dalam menghadapi para kaum jumud dari kalangan al-Mutas}awwifah, al-Ash’ariyyah, bahkan Fuqaha>’. Sehingga tidak jarang Ibnu Taimiyyah –Rahimahullah –harus mendekam didalam penjara akibat perseteruan ideology dengan para rivalnya baik dari kalangan s}u>fy, ahlu al-kala>m, dan bahkan fuqaha>’. Oleh karenanya al-Syarqa>wy menyebutnya dengan al-Faqi>h al-Mu’adhdhab (seorang ahli fiqhi yang teraniaya), sebab penganiayaan terhadap beliau tidak hanya terjadi semasa beliau hidup bahkan sampai hari ini ketika beliau telah berkalang tanah dan meninggalkan berbagai goresan emas hasil dari buah tangannya pun masih terus teraniaya utamnya dari kalangan pemikir yang berhaluan filsafat atau kalam dan tasawwuf semua disebabkan karena kejumudan para pengiut ideologinya.
Imam Ibnu Taimiyyah –Rahimahullah –dikenal sebagai seorang ulama yang sangat produktif, beliau tidak pernah meninggalkan kertas dan pena, bahkan seluruh bentuk perdebatan beliau dengan kelompok-kelompok Islam lainnya senantiasa beliau dokumentasikan. Beliau wafat pada malam senin 20 Dhulqa’dah 728 H / 1328 M[20] dengan meninggalkan banyak karya yang tidak terhitung jumlahnya. Diantara karya-karya yang telah beliau wariskan adalah; Kita>b al-In, Dar-u Ta’a>rud} al-‘Aqli wa al-Naqli, al-‘Aqi>dah al-Wa>sit}iyyah, Minha>j al-Sunnah al-Nabawiyyah fi> Naqd Kala>m al-Shi>’ah wa al-Qadariyyah, Iqtid}au al-Shira>t al-Mustaqi>m Mukha>lafat As}h}a>b al-Jah}i>m, al-Siya>sah al-Shar’iyyah fi> Is}la>h} al-Ra>’y wa al-Ra’iyyah, al-Jawa>b al-S}ah}i>h li man Baddala di>n al-Masi>h}, ‘Aqi>dah al-Tadmu>riyyah, al-Fata>wa> al-Hamawiyyah, al-Furqa>n baina Auliya>’ al-Rah}ma>n wa Auliya>’ al-Shait}a>n, Muqaddimah fi> Us}u>l al-Tafsi>r, Majmu>’ al-Fata>wa>, Majmu>’ al-Rasa>il wa al-Masa>il, Ma’a>rij al-Wus}u>l, al-Tibya>n fi> Nuzu>l al-Qur’a>n, al-Tafsi>r al-Kabi>r, Qa>’idah fi> al-Mu’jiza>t wa al-Kara>mat, al-Istiqa>mah, dan banyak lagi lainnya.
Tarekat Dalam Pandangan Ibnu Taimiyyah
Untuk mendapatkan pengertian yang utuh tentang term tarekat, secara etimologi term tersebut berasal dari bahasa Arab طريقة yang merupakan bentuk  mashdar (kata benda) dari kata طرق- يطرق- طريقة dimana secara morfologis berakar dari huruf ط، ر،  dan ق yang bermakna dasar الكيفية (jalan, cara), الأسلوب (metode, sistem), المذهب (madzhab, aliran, haluan), dan الحالة (keadaan).[21]
Pengertian ini membentuk dua makna terminologis yaitu metode bagi ilmu jiwa akhlak yang mengatur suluk individu dan kumpulan sistem pelatihan ruh yang berjalan sebagai persahabatan pada kelompok-kelompok persaudaraan Islam.[22] Hanya saja tarekat dalam pembahasan ini bukan sekedar jalan atau metode biasa, tetapi jalan dan metode tersebut penekanannya pada hubungan antara hamba dengan Tuhannya.
Dari pengertian di atas dapat dipahami bahwa tarekat adalah suatu jalan menuju Tuhan (Allah) yang dapat membawanya kepada kebahagiaan dunia akhirat. Jalan tersebut dalam lingkup tasawuf memiliki makna ganda –sebagaimana disebutkan di atas. Pertama, pada abad ke-9 dan ke-10 Masehi atau sekitar abad ke-1 dan ke-2 Hijriah berarti cara pendidikan akhlak dan jiwa bagi mereka yang menempuh hidup sufi. Kedua, sesudah abad ke-11 M atau abad ke-3 H. tarekat mempunyai pengertian sebagai suatu gerakan yang lengkap untuk memberikan latihan-latihan rohani dan jasmani pada segolongan kaum muslimin menurut ajaran dan keyakinan tertentu.[23]
Dalam pengertian pertama, istilah tarekat masih berupa teori[24] yang digunakan untuk memperdalam syariat sampai kepada hakikatnya dengan melalui tingkatan pendidikan tertentu –berupa maqa>ma>t dan ah}wa>l. Dengan kata lain tarekat merupakan usaha pribadi seseorang melewati jalan yang mengantarkannya menuju Allah SWT, jalan yang dimaksud –sesuai penjelasan Muhammad Nawawi al Banta>ny al Ja>wy- adalah melakukan hal-hal yang bersifat wajib dan sunah, meninggalkan sesuatu yang bersifat larangan, menghindarkan diri dari melakukan sesuatu yang boleh secara berlebihan serta berusaha untuk bersikap hati-hati melalui upaya muja>hadah dan riya>d}ah.[25] Sedangkan Haidar Bagir menjelaskan bahwa tarekat dalam arti yang pertama adalah jalan spiritual oleh seorang pejalan (sa>lik) menuju hakikat. Untuk makna ini, ia identik dengan tasawuf.[26]
Dalam pengertian yang kedua, tarekat adalah kelompok-kelompok pengikut ajaran tasawuf yang menekankan praktik-praktik ibadah dan zikir secara kolektif yang diikat oleh aturan-aturan tertentu, di mana aktifitasnya bersifat duniawi dan ukhrawi. Dengan kata lain, ia dapat dipahami sebagai suatu hasil pengalaman dari seorang sufi yang diikuti oleh para murid, menurut aturan/cara tertentu yang bertujuan untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT. Pengalaman sufi berupa tata cara zikir, riya>d}ah, doa-doa yang telah diamalkan dan menurutnya –sang sufi-  telah berhasil mendekatkan diri sang sufi kepada Tuhan, inilah yang disusun sedemikian rupa menjadi aturan atau tata cara yang  baku, yang juga harus diikuti oleh murid-murid tarekat.[27]
Berdasarkan pengertian yang kedua ini, maka dapat dikatakan bahwa fungsi tarekat adalah untuk mengetahui hal-hal yang berkaitan denga nafsu serta sifat-sifatnya untuk kemudian menjauhi yang tercela dan mengamalkan yang terpuji.[28]
Dari pengertian di atas dapat dinyatakan bahwa tarekat dalam pandangan sufi adalah jalan untuk mendapatkan pengetahuan tentang kebaikan dan keburukan, sehingga dengan amalan-amalan tertentu seorang sufi dapat mengetahui jalan kebenaran menuju Allah Swt. yang dengannya dapat sampai kepada suatu ilmu yang disebut dengan ‘ilm al-Muka>shafa>t (ilmu pembuka tabir dan peleburan jiwa dengan Allah Swt). Dengan demikan Tarekat dalam pengertiannya yang umum adalah metode untuk mendapat pengetahuan yang mendalam tentang ilmu agama.
Ibnu Taimiyyah –Rahimahullah –memandang bahwa yang dimaksud dengan tarekat dalam pengertian yang umum adalah sebuah metode untuk mencapai hakikat ilmu dengan menggabungkan antara al-Dala>il al-Khabariyyah (petunjuk-petunjuk al-Qur’an, Al-Sunnah dan al-Athar) dengan al-Dala>il al-‘Aqliyyah (petunjuk-petunjuk akal), atau dengan kata lian bahwa dalam masalah al-T{ari>qah ila> al-‘Ilmi (jalan menuju ilmu) dengan menggunakan sikap al-Wasat}iyyah (meoderat).
Adapun tarekat dalam pengertiannya yang khusus yaitu penisbatan nama tarekat kepada salah seorang sheikh sepertai; Qa>diriyyah, ‘Adawiyyah, Sha>dhiliyyah dan semacamnya, maka dalam pandangan Ibnu Taimiyyah –Rahimahullah –bahwa ini adalah bentuk pemecahan dan pengujian umat dengan apa yang tidak diperintahkan oleh Allah Swt dan Rasul-Nya Saw. Sebab penamaan semacam ini adalah bentuk kebathilan dimana Allah swt tidak memberikan wewenang kepada siapapun termasuk Rasulullah Saw, sebab perkara tersebut tidak terdapat baik di dalam al-Qur’an, al-Sunnah, dan athar dari kaum salaf. Namun yang wajib bagi seorang muslim jika ditanya tentang latar belakang keilmuannya, maka tidak perlu menjawab bahwa saya adalah pengikut tarekat ini dan itu, tetapi cukup menjawab; ‘saya adalah muslim pengikut al-Qur’an dan al-Sunnah’, oleh karenanya janganlah seseorang atau sekelompok diantara kita bersikap loyal (wala>’) dengan nama-nama semacam ini, dan memusuhi yang lain dengannya, karena hamba yang paling mulia disisi Allah Swt adalah yang paling bertakwa dari kelompok manapun ia berasal.[29]
Pandangan Ibnu Taimiyyah –Rahimahullah –di atas menunjukkan bahwa beliau membagi tarekat ke dalam dua bagian:
Pertama, Terekat Mah}mudah (terpuji) atau dalam istilah lain T{ari>qah al-Haqqah yaitu tarekat yang dilalui oleh orang-orang shaleh terdahulu (salaf al-sha>lih}) yang hanya menisbaikan diri sebagai muslim yang mengikuti al-Qur’an, dan Sunnah Rasulullah Saw dan bangga dengannya.
Kedua, Terekat Madhmu>mah (tercela) dalam istilah ekstrimnya T{ari>qah al-Ba>t}lah yaitu tarekat yang dilalui oleh sebagian kaum muslimin dengan menisbatkan diri kepada nama sheikh pendiri tarekat tersebut yang dengannya mereka merasa mulia dan memusuhi mereka yang tidak mengikuti tarekat sheikh mereka.
Sheikh dalam Tarekat dan Kritik Ibnu Taimiyyah
Secara organisasi tarekat-tarekat sufi ini dibangun di atas dasar hubungan intim yang sebelumnya telah memiliki kemapanan antara sheikh dan muri>d. Para sheikh ini memiliki hubungan otoritatif dengan sheikh-sheikh sebelumnya sebagaimana isna>d dalam h}adi>th, dimana silsilah al-masha>yikh (mata rantai guru) dibangun dengan merujuk seluruh jalan mereka hingga sampai ke Rasulullah Saw. Dalam pandangan para pengikut tarekat bahwa silsilah ini adalah sisilah spiritual yang menjadi sumber agama, ajaran, dan praktik sang sheikh, dengan landasan kesalehan, kara>mah, atau kekuatan ajaib yang dimiliki oleh sheikh tersebut. Dengan landasan ini kemudian seorang sheikh sering dianggap sebagai wali Allah (kekasih Tuhan)[30] bahkan tidak jarang diantara tarekat ada mengaggap bahwa para sheikh bagaikan Nabi dalam Tarekatnya dimana tingkatan yang paling tinggi –dalam pandangan mereka- adalah melakukan pendakian melalui lingkungan para Nabi dalam Islam, dari Adam hingga ‘Isa –‘Alaihim al-Sala>m-.[31]
Peran seorang sheikh dalam tarekat sangatlah besar dimana terjadi proses transformasi ilmu di antara keduanya. Murid yang telah sampai pada tingkatan tertinggi diberi ijazah untuk mengadakan dan mengajarkan tarekat tersebut.[32] Untuk masalah proses tranformasi keilmuan ini dapat difahami secara baik sebagaimana yang digambarkan oleh Annemarie Shimmel :
Syeh adalah guru alkimia spiritual…. Dengan demikian ia dapat mengubah jiwa seorang pemula dari bahan dasar menjadi murni. Ia adalah laut kebajikan. Debu dikakinya mampu member penglihatan kepada pemula yang buta, sebagaimana obat mata yang dapat mempertinggi kekuatan penglihatan. Dia adalah tangga menuju sorga, demikian sucinya sehingga segala kebajikan yang ada pada diri nabi seakan tercermin penuh pada dirinya. Disamping itu pun dia menjadi cermin yang didahulukan Tuhan daripada para ulama, dan Tuhan mengajarkan kepadanya perilaku yang benar…[33]
Dari gambaran Schimmel tentang sosok seorang sheikh dalam sebuah kelompok tarekat di atas dapat disimpulkan beberapa hal; 1) Bahwa seorang sheikh dalam sebuah tarekat memiliki rahasia pengajaran yang hanya diajarkan kepada muri>d; 2) Seorang sheikh memiliki nilai magic dalam kelompok tarekat yang dipimpinnya; 3) Seorang Shaikh memiliki tingkat spiritual tinggi; 4) Kedudukannya dimata Tuhan melebihi kedudukan para ulama dan sama dengan Nabi; 5) Dalam dirinya tercermin prilaku Nabi; 6) Cerminan Tuhan ada dalam dirinya.
Merujuk kepada enam poin di atas, maka wajar jika dalam sebuah tarekat sufi seorang sheikh adalah seorang guru spiritual dan uswah (contoh) yang harus diikuti, sehingga para pengikutnya (muri>d) sering kali igin dekat dengannya apakah sekedar untuk mendapat berkah dari ketinggian spiritual (kara>mah) sang shaikh, memperoleh manfaat dari ajarannya, dan atau manfaat dari saran dan nasehatnya.[34]
Sebagaimana yang telah disebutkan pada bagian terdahulu, dimana Ibnu Taimiyyah –Rahimahullah –memandang bahwa sebuah kelompok yang dinisbatkan kepada nama seorang guru adalah bentuk kebatilan, sebab tidak ada keterangan tentang hal tersebut baik dari al-Qur’an, al-Sunnah, dan athar dari para ulama shaleh terdahulu (al-Salaf al-S}a>lih). Ibnu Taimiyyah –Rahimahullah –memandang bahwa penisbatan semacam ini merupakan bentuk sikap yang berlebihan (al-Ghuluw) terhadap sheikh. Beliau berkata:
Barang siapa yang bersikap ghuluw terhadap orang yang masih hidup, atau bersikap ghuluw terhadap orang-orang shaleh seperti ‘Ali bin Abi Thalib atau ‘Ady -bin Musa>fir-, atau yang diyakini memiliki tingkatan spiritual tinggi seperi al-H{alla>j dan al-H{a>kim yang ada di Mesir atau Yunus al-Qaniyyi dan selain mereka, ……… kemudian menyanjung mereka …….. dalam bentuk perkataan atau perbuatan yang didalamnya mengandung rubu>biyyah yang hanya milik Allah Swt, maka ini merupakan bentuk kesyirikan dan kesesatan[35], dan orang yang melakukannya wajib bertaubat, jika tidak, maka halal darahnya. Karena Allah Swt mengutus para Rasul-Nya dengan tujuan agar segala penyembahan hanya kepada-Nya semata dan kita tidak diperbolehkan menjadikan sesembahan selain diri-Nya.[36]
Problematika al-Ghuluw fi> al-S{a>lih}in  ini berpengaruh sangat besar pada sikap patuh terhadap sheikh sampai pada hal-hal yang diharaman dalam Islam sebagaimana pekerjaan para pengikut tarekat Rifa>’iyyah yang dengan sengaja menggantungkan kalung besi di leher mereka, karena merupakan bagian dari aturan sheikh mereka,[37] dengan demikian mereka tidak berbeda dengan orang-orang Nasrani yang musyrik dengan menjadikan rahib-rahib mereka sebagai Tuhan (dalm makna Rubu>biyyah) selain Allah Swt.[38] Untuk menguatkan argument ini Ibnu Taimiyyah –Rahimahullah –menyetir firman Allah Swt:
اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ وَالْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا إِلَهًا وَاحِدًا لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ سُبْحَانَهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ (31) 
 “Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai Tuhan selain Allah dan (juga mereka mempertuhankan) Al masih putera Maryam, padahal mereka Hanya disuruh menyembah Tuhan yang Esa, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.”[39]
Maksud dari ayat di atas  bahwa mereka mematuhi ajaran-ajaran orang-orang alim dan rahib-rahib mereka dengan membabi buta, meskipun orang-orang alim dan rahib-rahib itu menyuruh mereka berbuat maksiat atau mengharamkan yang halal dan menghalalkan yang haram. Sementara para Nabi dan Rasul terdahulu termasuk Rasulullah Saw diperintahkan oleh Allah Swt untuk berkata:
قُلْ لَا أَقُولُ لَكُمْ عِنْدِي خَزَائِنُ اللَّهِ وَلَا أَعْلَمُ الْغَيْبَ وَلَا أَقُولُ لَكُمْ إِنِّي مَلَكٌ إِنْ أَتَّبِعُ إِلَّا مَا يُوحَى إِلَيَّ قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الْأَعْمَى وَالْبَصِيرُ أَفَلَا تَتَفَكَّرُونَ
“Katakanlah: Aku tidak mengatakan kepadamu, bahwa perbendaharaan Allah ada padaku, dan tidak (pula) Aku mengetahui yang ghaib dan tidak (pula) Aku mengatakan kepadamu bahwa Aku seorang malaikat. Aku tidak mengikuti kecuali apa yang diwahyukan kepadaku. Katakanlah: "Apakah sama orang yang buta dengan yang melihat?" Maka apakah kamu tidak memikirkan(nya)?"[40]
Ketika mengomentari tentang sheikh yang layak untuk diteladani, Ibnu Taimiyyah –Rahimahullah –menegaskan bahwa sesungguhnya sheikh saleh yang lebih layak untuk diteladani dalam masalah keagamaan adalah mereka yang mengikuti jalan (tarekat) para nabi dan rasul seperti para al-Sa>biqu>n al-Awwalu>n (sahabat) dari kalangan Muhajiri>n dan Ans}a>r dan yang mengikuti mereka secara baik dan benar, serta mereka yang memiliki kejujuran lisan, dan tarekat mereka adalah menyeru manusia kepada Allah, dan menyeru mereka untuk senantiasa taat kepada Allah dan Rasul-Nya, serta menyeru merka untuk mengikuti Al-Qur’an dan al-Sunnah.[41]
Ibnu Taimiyyah –Rahimahullah –memandang sesatannya para pengikut tarekat yang bersifat ghuluw terhadap sheikh (guru spiritual)nya disebabkan karena para muri>d memandang bahwa sheikh mereka adalah wali Allah yang merupakan cerminan para Nabi dan didahulukan oleh Allah dari para ulama, dan menurut mereka bahwa sebuah tarekat tanpa wali Allah, maka bukanlah tarekat. Untuk memperkuat argument para sufi tentang pentingnya wali dalam sebuah tarekat, mereka menyetir sebuah perkataan yang menurut mereka adalah hadis yaitu:
مامن جماعة يجتمعون إلا وفيهم ولي الله
 “Tidakalah sekolompok manusia berkumpul kecuali diantara mereka terdapat wali Allah”
Perkataan ini – yang mereka anggap sebagai hadis untuk membenarkan pernyataan mereka tentang pentingnya wali Allah dalam sebuah perkumpulan tarekat sufi – menurt Ibnu Taimiyyah –Rahimahullah –adalah sebuah bentuk kedustaan sebab kalimat tersebut tidak terdapat dalam karya-karya ulama Islam.[42]
Ibnu Timiyyah memandang bahwa problem kewalian (al-Wila>yah) sheikh dalam dunia tasawwuf sangatlah serius, sebab memiliki pengaruh yang sangat besar secara langsung terhadap aqidah. Oleh karenanya Ibnu Taimiyyah –Rahimahullah –menyusun karya yang diberi judul al-Furqa>n baina Auliya>’ al-Rah}ma>n wa Auliya>’ al-Shat}a>n (Perbedaan antara wali Allah dengan Wali setan).
Ibnu Taimiyyah –Rahimahullah – dalam pendefinisiannya terhadap kata “Wali” baik yang terdapat dalam al-Qur’an, maupun al-Sunnah beliau menggunakan metode pendefenesian etimologi dan terminology, dimana kata “al-waly” secara etimologi dalam pandangannya merupakan lawan dari kata “al-‘Ada>wah” dimana kata “al-Waly” berkonotasi makna al-Qurbu (kedekatan). sedang al-‘Ada>wah berarti al-Bu’du (jauh). Sehingga dengan demikian, maka yang dimaksud dengan Waly Alla>h secara terminology adalah mereka yang mendapatkan taufiq dari Allah Swt dalam cinta-Nya, Kerid}aan-Nya, dan ia senantias taat atas segala yang diperintahkan oleh Allah Swt kepadanya.[43]
Ibnu Taimiyyah –Rahimahullah – menyimpulkan bahwa para wali Allah yang sesungguhnya adalah mereka yang telah ditetapkan oleh Allah Swt secara Nas} bahwa mereka adalah ahli surga, seperti al-‘asharah al-Mubashshiri>na bi al-Jannah (10 orang yang telah mendapat berita gembira bahwa mereka masuk surga) dan selain mereka, adapun mereka yang memiliki kejujuran dalam perkataan dan iman, maka secara umum dinyatakan bahwa mereka adalah wali dengan syarat kejujuran dalam iman, dan ikhlas dalam amal sesuai dengan apa yang diajarkan oleh Rasulullah Saw.[44]
Dalam tarekat sufi terdapat hirarki otoritas spiritual para wali dimana kekuasaan spiritual tertinggi dipegang oleh para qut}b (kutub, poros) atau ghauth (pertolongan), di kitari oleh tiga nuqaba>’ (pengganti), empat auta>d (tiang-tiang), tujuh abra>r (yang berlaku baik), empat puluh abda>l (pengganti-pengganti), tiga ratus akhya>r (manusia pilihan) dan empat ribu wali tersembunyai.[45]
Tentang pandangan ini Ibnu Taimiyyah –Rahimahullah –mengurai istilah-istilah tersebut dengan kesimpulan bahwa seluruh istilah dalam hirarki spiritual yang diungkapkan oleh kaum sufi dan pengikut tarekatnya tidak terdapat dalam keterangan baik al-Qur’an maupun hadis-hadis s}ah}i>h  dan tidak pula ditemukan penjelasannya dari salah seorang ulama saleh terdahulu (al-Salaf al-S}a>lih}). Jika pun terdapat hadis yang berhubungan dengan hal tersebut, hadis tersebut pun bersifat Munqat}i’ dan tidak dapat dijadikan sebagai landasan agama.[46]
Dari seluruh uraian diatas dapat disimpulkan bahwa seorang sheikh yang layak untuk ditauladani dalam pandangan Ibnu Taimiyyah –Rahimahullah –adalah  mereka yang meniti jalan para Nabi dan Rasul dengan menjadikan al-Qur’an dan al-Sunnah sebagai ikutannya serta menyeru manusia kepada ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya dan tidak kepada dirinya atau mereka yang dianggap wali Allah. Adapun wali Allah adalah mereka yang beriman kepada Allah Swt secara jujur dan benar serta mengikuti apa yang diperintahkan oleh Allah Swt dan menjauhi laranga-Nya sesuai dengan apa yang diajarkan oleh Rasulullah Saw. Para wali Allah yang sesungguhnya adalah mereka yang secara Nas} Shar’y (teks syari’at) telah dijelaskan karakteristiknya baik didalam al-Qur’an dan al-Sunnah al-S}ah}i>h}ah dan mereka tidak memiliki hirarki kekuasaan sebagaimana yang diklaim oleh para sufi dan para pengikut tarekat mereka.
Khirqah dalam Pandangan Ibnu Taimiyyah
Terdapat perbedaan yang menjadi ciri khas dalam satu tarekat tertentu. Pertama, al-Khirqah yaitu semacam jubah berwarna yang dipakai oleh seorang sheikh tarekat dan menjadi cirri khas dari tarekat tertentu. Hanya saja khirqah ini tidak cukup untuk membedakan semua tarekat yang ada karena ada beberapa tarekat yang memiliki khirqah yang sama, misalnya Qa>diriyah, Sadiyah, dan Baha>miyah yang sama-sama menggunakan khirqah yang berwarna hijau. Perbedaan kedua adalah bahwa setiap tarekat memiliki wirid dan h}izb yang berbeda yang diciptakan oleh masing-masing sheikh dari tarekat-tarekat tersebut.[47]
Khirqah atau disebut juga dengan khirqah al-Futuwwah adalah bagian dari shi’a>r kaum sufi yang menunjukkan bahwa seorang muri>d hanya bertarekat sesuai denga tarekat sheikh yang memakaikan kepadanya khirqah tersebut. Jadi seorang sheikh ketika menerima seorang muri>d dan hendak memasaukkannya menjadi bagian dari tarekatnya, maka sheikh tersebut memakaikan kepadanya khirqah tersebut yang menjadi simbol peenyerahan diri sepenuhnya dalam ketaatan kepada sheikh dan tarekatnya.[48]
Khirqah ini selain sebagai symbol ketaatan seorang muri>d kepada shaikhnya juga menjadi symbol silsilah dalam tarekat yang harus dimiliki oleh seorang muri>d agar senantiasa mendapat keberkahan sheikh dalam menjalankan tarekatnya. Dalam pandangan mereka bahwa seorang muri>d yang tidak memiliki khirqah ini, maka dia tidak akan pernah mencapai derajat apapun dalam tasawwuf, bahkan dianggap belum memulai satu derajatpun utamanya derajat yang teah ditetapkan dalam tarekat sang sheikh.[49]
Dalam masalah ini Ibnu Taimiyyah –Rahimahullah –memandang bahwa penggunakan khirqah sebagai syarat agar seseorang dapat mencapai derajat tertentu dalam tarekat dan mendapat berkah darinya adalah sebuah bentuk kebid’ahan dan kebathilan, sebab –menurutnya- syarat tersebut dapat berimplikasi pada pengharaman apa yang dihalalkan oleh Allah Swt dan penghalalan apa yang diharamkan oleh Allah Swt, dan syarat semacam ini tidak terdapat dalam al-Qur’an.[50] Untuk menguatkan pernyataan ini beliau menyebutkan Hadi>th S}ah}i>h yang diriwayatkan oleh al-Bukha>ry:
مَا بَالُ أُنَاسٍ يَشْتَرِطُونَ شُرُوطًا لَيْسَ فِي كِتَابِ اللَّهِ مَنْ اشْتَرَطَ شَرْطًا لَيْسَ فِي كِتَابِ اللَّهِ فَهُوَ بَاطِلٌ وَإِنْ اشْتَرَطَ مِائَةَ شَرْطٍ شَرْطُ اللَّهِ أَحَقُّ وَأَوْثَقُ
“Ada apa dengan manusia yang mensyaratkan beberapa syarat yang tidak terdapat didalam kitab Allah Swt (Al-Qur’an), barang siapa yang mempersyaratkan satu syarat yang tidak terdapat didalam kitab Allah Swt (Al-Qur’an), maka syarat itu adalah batil sekalipun mereka menysun seratus syarat, syarat Allah lebih berhak (untuk ditunaikan) dan lebih kuat (dalam mengikat seorang hamba)”.[51]
Adapun tentang masalah pemakain khirqah dari seorang shaikh kepada muri>d menurut Ibnu Taimiyyah –Rahimahullah –adalah sebuah bentuk kebatilan yang tidak berdasar, dan tidak pula pernah dikerjakan oleh Rasulullah Saw, dan tidak pula oleh para sahabat beliau termasuk ‘Aly bin Abi T}a>lib, dan tidak pula selain mereka dari kalangan ta>bi’i>n.[52]
Sementara itu dalil yang dipergunakan oleh mereka perihal sunnahnya khirqah adalah dalil dengan sanad melalui jalur al-Khali>fah al-Na>s}ir kepada ‘Abd al-Jabba>r, kepada Thuma>mah yang menyatakan bahwa ‘Rasulullah Saw pernah memakaikan kepada ‘Aly bin Abi T}a>lib pakaian Futuwwah , kemudian diperintahkan kepadanya untuk mmemakaikannya kepada siapapun yang dikehendakinya’ adalah dalil dimana otentitas sanadnya tidak dapat dipertanggungjawabkan, dan didalam sanadnya terdapat seseorang yang tidak diketahui (majhu>l) dan tidak layak seorang muslim menyandarkan sesuatu apapun kepada Nabi Saw dari orang yang majhu>l (asal-usul dan latarbelakangnya).[53] kemudian penyandaran hadis bahwa Rasulullah Saw pernah memakaikan hirqah kepada Aly bin Abi T}a>lib adalah sebuah bentuk kedustaan kepada Rasulullah Saw dan kepada Sahabat yang Mulia. Sebab istilah “Futuwwah”  sebagaimana yang terdapat dalam lafadh hadis di atas tidak dikenal pada masa dimana Rasululullah Saw dan para sahabat yang mulia hidup termasuk ‘Aly, dan diperkirakan muncul pada sekitar abad ke-2 sampai ke-4 Miladiyah dimana tasawwuf itu berkembang.
Penutup
Kritik Ibnu Taimiyyah –Rahimahullah –seputar tarekat sangatlah luas dan permasalahan-permasalahannya tersebar dalam berbagai risalah dan fatwanya, namun demikian dapat temukan beberapa perkara diantaranya adalah keritik beliau tentang penamaan satu tarekat dengan penisbatan kepada nama sheikh pendiri tarekat tersebut dimana menurut beliau adalah sebuah bentuk pengkultusan terhadap sheikh (al-Ghuluww fi> al-S}a>lihi>n) dan berimplikasi pada aqidah seseorang, dan merupakan bentuk pemecahan umat Islam, perkara ini merupakan bentuk kebid’ahan yang memiliki kesesatan yang nyata.
Selain itu Ibnu Taimiyyah –Rahimahullah –menyatakan bahwa kedudukan sheikh yang sesungguhnya adalah untuk menyeru manusia kepada Allah, dan ketaatan kepada Allah Swt dan Rasul-Nya serta berpegang tegus terhadap al-Qur’an dan al-Sunnah, sehingga sheikh yang layak untuk diteladani adalah mereka yang secara istiqa>mah mengamalkan al-Qur’an dan al-Sunnah.
Adapun penggunaan khirqah dalam suatu kelompok sebagai persyaratan seorang muri>d yang menjadi symbol ketatan kepada sheikh  dan symbol derajat dalam tarekat sufi menurut Ibnu Taimiyyah –Rahimahullah –adalah bentuk kebid’ahan dan kebatilan sebab mempersyaratkan sesuatu yang tidak memiliki landasan baik dari al-Qur’an maupun al-Sunnah.
Akhirnya, bahwa seluruh bentuk kritikan Ibnu Taimiyyah –Rahimahullah –terhadap perkara-perkara yang terdapat dalam tarekat tasawwuf adalah sebuah bentuk al-Was}iyyat bi al-Haqq (bernasehat dalam kebenaran) karena agama ini sejatinya adalah nasehat (al-Di>n al-Nas}i>h}ah) agar tetap berada dijalan Allah Swt sebagaimana yang dilalui oleh para Nabi dan Rasul, para Sahabat dan para Ta>bi’i>n dan salaf al-Ummah al-S}alih}ah.


REFFERENCES
Al-Qur’a>n al-Kari>m
A. Mughni, Syafiq. Dinamika Inteletual Islam Pada Abad Kegelapan. Surabaya: Lembaga Pengkajian Agama dan Masyarakat (LAPAM), 2002.
al-‘Ari>fy, Muh}ammad bin ‘Abd al-Rah}ma>n. Mauqif Ibnu Taimiyyah –Rahimahullah –min al-S}u>fiyyah. Vol. I. Riya>d}: Maktabah Da>r al-Minha>j, 1430.
As, Asmaran. Pengantar Studi Tasawuf.  Jakarta; RajaGrafindo Persada, 2002.
Bagir, Haidar. Buku Saku Tasawuf.  Bandung; Mizan Pustaka, 2006.
Banna>ny, Ah}mad Muh}ammad. Mauqif al-Ima>m Ibnu Taimiyyah –Rahimahullah –min al-Tas}awwuf wa al-S}u>fiyyah. Arab Saudi: Da>r al-‘Ilmi, 1406 H / 1982 M.
al-Bukha>ry, Muh}ammad bin Isma>’i>l bin Ibra>hi>m. al-Ja>mi’ al-S}ah}i>h. vol. 2. Kairo: al-Mat}ba’ah al-Salafiyyah, 1400 H.
Dimashqiyyah, ‘Abd al-Rah}ma>n. Muna>z}arah Ibnu Taimiyyah –Rahimahullah –li T{a>ifah al-Rifa>’iyyah Kairo: Maktabah Ibnu Taimiyyah, 1989.
al-Dhahaby, Syams al-Di>n Muh}ammad bin Ah}mad bin ‘Uthma>n. Siyar A’la>m al-Nubala>’. Vol. 22.  Beiru>t: Muassasah al-Risa>lah, 1405 H / 1985 M.
Esposito , Jhon L. Islam The Straight Path; Ragam Ekspresi Menuju Jalan Lurus terj.  Arif Maftuhin. Jakarta: Paramadina dan Dian Rakyat, 2010.
al-Fandy, Muhammad Tha>bit. Da>irat al-Ma’a>rif al-Isla>miyah, vol.15. Teheran: Intishira>t Jahannam, T.Th.
H{ilmy, Mus}t}afa.> Ibnu Taimiyyah –Rahimahullah –wa al-Tas}awwuf. Iskandariyyah: Da>r al-Da’wah, T.Th.
Ibnu Khaldu>n. Muqaddimah. Kairo: Mat}ba’ah al-Bahiyyah, T.Th.
Ibnu Taimiyyah,  Ah}mad bin ‘Abd al-H{ali>m. Majmu>’at al-Rasa>il wa al-Masa>il. Beiru>t: Da>r al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1992.
--------------------------.  al-Furqa>n Baina Auliya> al-Rahma>n wa Auliya’ al-Shait}a>n (Beiru>t: Maktabah ‘Aly S}a>bih} wa Aula>dih, 1958
--------------------------. al-Was}iyyah al-Kubra>; Risa>lah Ila> Atba>’i ‘Ady bin Musa>fir al-Umawy. Arab Saudi: Maktabah al-S{iddi>q, 1987.
--------------------------. Qa>’idah fi> al-Mu’jiza>t wa al-Kara>ma>t. Urdun: Maktabah al-Mana>r, 1989.
al-Ja>wy, Muhammad Nawawi. Sharh} Mara>qi al ‘Ubu>diyah ‘ala> Matn Bida>yat al Hida>yah Semarang; Toha Putra, T.Th.
al-Kibby, Zuhair Shafi>q. Fiqh al-Tas}awwuf li Shaikh al-Isla>m Ibnu Taimiyyah. Beiru>t: Da>r al-Fikr, 1993.
Mah}mu>d, ‘Abd al-H{ali>m. al-Munqidh min al-D}ala>l li al-Ghaza>ly ma’a Abh}ath fi> al-Tas}awwuf wa Dira>sa>t ‘an al-Ghaza>ly. Mesir: Da>r al-Kutub al-H{adi>thah, 1394 H.
Masyharuddin.  Pemberontakan Tasawwuf; Kritik Ibnu Taymiyyah atas Rancang Bangun Tasawwuf.   Surabaya: JP Books dan STAIN Kudus Press, 2007.
Mu>sa>, Muh}ammad bin H{asan bin ‘Aqi>l. al-Mukhta>r al-Mas}u>n min A’la>m al-Quru>n. Jeddah: Da>r al-Andalu>s al-Khas}ra>’, T.Th.
Shirazi, Muhyiddin Hariri. Tikai Ego dan Fitrah terj. Eti Triana dan Ali Yahya. Jakarta: Al-Huda, 2010.
Munawwir,Ahmad Warson. Al Munawwir; Kamus Arab-Indonesia. Surabaya: Pustaka Progressif, 1997.
al-Qurt}uby, Abu> ‘Abd Alla>h Muh}ammad bin Ah}mad bin Abi> Bakr. al-Ja>mi’ li Ah}ka>m al-Qur’a>n wa al-Mubayyinu Lima> Tad}ammanahu min al-Sunnah wa An, Vol. 19. Beiru>t: Muassasah al-Risa>h, 1427 H / 2006 M.
Renard, Jhon. Dimensi-dimensi Islam. Diterj. M Khoirul Anam. Jakarta: Insani Press, 2004.
Schimmel, Annemarie. Dimensi Mistik dalam Islam terj. Supardi Djoko Damono. Jakarta: Pustaka Firdaus, 2009.
Siroj, Said Aqil. Tasawwuf Sebagai Kritik Sosial; Mengedepankan Islam sebagai Inspirasi Bukan Aspirasi. Jakarta: Yayasan Khas, 2009.
Suryadilaga, M. Alfatih. dkk. Miftahus Sufi. Yogyakarta; Teras, 2008.
al-S}a’i>dy, ‘Abd al-Muta’a>l. Al-Mujaddidu>na fi> al-Isla>m min al-Qarni al-Awwal ila> al-Ra>bi’ ‘Ashar. Jaha>mi>z: Maktabah al-Adab, T.Th.
al-Sharqa>wy, ‘Abd al-Rah}ma>n. Ibnu Taimiyyah al-Faqi>h al-Mu’adhdhab. Kairo: Da>r al-Shuru>q, 1420 H / 1990 M.
al-Suhrawardy, ‘Abd al-Qa>dir ‘Abd Alla>h. ‘Awa>rif al-Ma’a>rif.  Bairu>t: Da>r al-Kutub al-‘Araby, 1966.
al-Taftaza>ny, Abu al-Wafa>’. Madkhal Ila> al-Tas}awwuf al-Isla>my. Kairo: Da>r al-Thaqa>fah, 1979.


* Mahasiswa S2 Program Pascasarjana IAIN Sunan Ampel Surabaya
[1] Jhon Renard, Dimensi-dimensi Islam  terj. M Khoirul Anam (Jakarta: Insani Press, 2004), 2.
[2] QS. Qa>f : 16.
[3] Abu> ‘Abd Alla>h Muh}ammad bin Ah}mad bin Abi> Bakr al-Qurt}uby, al-Ja>mi’ li Ah}ka>m al-Qur’a>n wa al-Mubayyinu Lima> Tad}ammanahu min al-Sunnah wa An, Vol. 19 (Beiru>t: Muassasah al-Risa>h, 1427 H / 2006 M), 463.
[4]Sebagaimana yang disebutkan oleh Allah Swt di dalam al-Qur’an Surah Al-Na>s : 1-6.
[5]Atau dalam istilah lain sentra-sentra kebaikan spiritual dan sentra-sentra keburukan spiritual. Lihat. Muhyiddin Hariri Shirazi, Tikai Ego dan Fitrah terj. Eti Triana dan Ali Yahya (Jakarta: Al-Huda, 2010), 9-10.
[6] Ibid.
[7] Ibnu Khaldu>n, Muqaddimah (Kairo: Mat}ba’ah al-Bahiyyah, T.Th), 228.
[8] Abu al-Wafa>’ al-Taftaza>ny, Madkhal Ila> al-Tas}awwuf al-Isla>my (Kairo: Da>r al-Thaqa>fah, 1979), 8-9.
[9] Masyharuddin, Pemberontakan Tasawwuf; Kritik Ibnu Taymiyyah atas Rancang Bangun Tasawwuf ( Surabaya: JP Books dan STAIN Kudus Press, 2007), 9.
[10] Annemarie Schimmel, Dimensi Mistik dalam Islam terj. Supardi Djoko Damono (Jakarta: Pustaka Firdaus, 2009), 303.
[11]Syafiq A. Mughni, Dinamika Inteletual Islam Pada Abad Kegelapan (Surabaya: Lembaga Pengkajian Agama dan Masyarakat (LAPAM), 2002), 59.
[12]‘Abd al-Muta’a>l al-S}a’i>dy, Al-Mujaddidu>n fi> al-Isla>m min al-Qarni al-Awwal ila> al-Ra>bi’ ‘Ashar (Jaha>mi>z: Maktabah al-Adab, T.Th), 262. Bandingkan. Ah}mad Muh}ammad Banna>ny, Mauqif al-Ima>m Ibnu Taimiyyah min al-Tas}awwuf wa al-S}u>fiyyah (Arab Saudi: Da>r al-‘Ilmi, 1406 H / 1982 M), 24.
[13] Muh}ammad bin H{asan bin ‘Aqi>l Mu>sa>, al-Mukhta>r al-Mas}u>n min A’la>m al-Quru>n (Jeddah: Da>r al-Andalu>s al-Khas}ra>’, T.Th), 38
[14] Muh}ammad bin ‘Abd al-Rah}ma>n al-‘Ari>fy, Mauqif Ibnu Taimiyyah min al-S}u>fiyyah. Vol. I (Riya>d}: Maktabah Da>r al-Minha>j, 1430), 29.
[15]‘Abd al-Rah}ma>n al-Syarqa>wy, Ibnu Taimiyyah al-Faqi>h al-Mu’adhdhab (Kairi: Da>r al-Shuru>q, 1420 H / 1990 M), 7-8.
[16] al-S}a’i>dy, Al-Mujaddidu>n…., 262.
[17] al-Syarqa>wy, Ibnu Taimiyyah al-Faqi>h…, 10
[18] Ibid., 11.
[19] Syafiq A. Mughni, Dinamika….., 99.
[20] Banna>ny, Mauqif…., 45.
[21]Ahmad Warson Munawwir, Al Munawwir; Kamus Arab-Indonesia (Surabaya: Pustaka Progressif, 1997), 849.
[22]Muhammad Tha>bit al-Fandy, Da>irat al-Ma’a>rif al-Isla>miyah, vol.15 (Teheran: Intishira>t Jahannam, t.th), 172.
[23]Asmaran As, Pengantar Studi Tasawuf  (Jakarta; RajaGrafindo Persada, 2002), 99-100.
[24]Sebenarnya kurang tepat bila dikatakan bahwa tarekat –sekalipun pada masa-masa awal- dipahami sebagai metode yang digunakan untuk memperdalam pengamalan syariat. Namun sekalipun demikian, pemaknaan tersebut ingin mengingatkan bahwa antara syariat dan tarekat tidak dapat dipisahkan karena tarekat merupakan suatu cara yang harus ditempuh, maka tidak dibenarkan meninggalkan syariah. Bahkan melaksanakan tarekat berarti melaksanakan syariah.
[25]Muhammad Nawawi al-Ja>wy, Sharh} Mara>qi al ‘Ubu>diyah ‘ala> Matn Bida>yat al Hida>yah (Semarang; Toha Putra, t.th), 4.
[26]Sekalipun dalam kajian tasawuf, tarekat termasuk salah satu aspek di dalamnya di samping istilah syariat hakikat dan makrifat. Namun dalam pengertian ini Tasawuf dapat diartikan sebagai usaha dalam menguatkan rohani dan mengesampinkan jasmaniah untuk mengenal Tuhan dengan segala kesempurnaannya. Dengan kata lain tasawuf adalah penyucian hati untuk menanamkan karakter dan akhlak mulia, sehingga dipahami bahwa tasawuf pada dasarnya adalah tatanan moralitas. Lihat Haidar Bagir, Buku Saku Tasawuf  (Bandung; Mizan Pustaka, 2006), 14
[27] M. Alfatih Suryadilaga, dkk., Miftahus Sufi (Yogyakarta; Teras, 2008), 230.
[28]Said Aqil Siroj, Tasawwuf Sebagai Kritik Sosial; Mengedepankan Islam sebagai Inspirasi Bukan Aspirasi (Jakarta: Yayasan Khas, 2009), 97.
[29]Ahmad bin ‘Abd al-H{ali>m bin Taimiyyah, al-Was}iyyah al-Kubra>; Risa>lah Ila> Atba>’i ‘Ady bin Musa>fir al-Umawy (Arab Saudi: Maktabah al-S{iddi>q, 1987), 111.
[30]Jhon L. Esposito, Islam The Straight Path; Ragam Ekspresi Menuju Jalan Lurus terj.  Arif Maftuhin (Jakarta: Paramadina dan Dian Rakyat, 2010), 141.
[31]Schimmel, Dimensi…., 300.
[32]Jhon L. Esposito, Islam The Straight Path…., 141.
[33]Schimmel, Dimensi…., 300.
[34]Jhon L. Esposito, Islam The Straight Path…., 141.
[35]Maksudnya adalah bahwa mereka menjadikan para shaikh mereka sebagai perantara untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt dengan zikir-zikir tertentu dimana didalmnya menyebut nama mereka sebagai wasilah.
[36]Ibin Taimiyyah, al-Was}iyyah…., 85.
[37]‘Abd al-Rah}ma>n Dimashqiyyah, Muna>z}arah Ibnu Taimiyyah li T{a>ifah al-Rifa>’iyyah (Kairo: Maktabah Ibnu Taimiyyah, 1989), 14.
[38]Zuhair Shafi>q al-Kibby, Fiqh al-Tas}awwuf li Shaikh al-Isla>m Ibnu Taimiyyah (Beiru>t: Da>r al-Fikr, 1993), 274.
[39] Qs. Al-Taubah (10) : 31.
[40] Qs. Al-An’a>m (06) : 50
[41] Zuhair Shafi>q al-Kibby, Fiqh al-Tas}awwuf….., 273.
[42]Ah}mad bin ‘Abd al-H{ali>m bin Taimiyyah, Majmu>’at al-Rasa>il wa al-Masa>il (Beiru>t: Da>r al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1992), 49.
[43]Ibnu Taimiyyah, Majmu>’at al-Rasa>il…., 50.
[44] Ibid., 52-53.
[45] Schimmel, Dimensi…., 253.
[46] Ah}mad bin ‘Abd al-H{ali>m bin Taimiyyah, al-Furqa>n Baina Auliya> al-Rahma>n wa Auliya’ al-Shait}a>n (Beiru>t: Maktabah ‘Aly S}a>bih} wa Aula>dih, 1958), 31-32. Bandingkan: Ibnu Taimiyyah, Majmu>’at al-Rasa>il…., 57-64. H{ilmy, Ibnu Taimiyyah….., 397.
[47]Suryadilaga, Miftah……, 233-234.
[48]‘Abd al-Qa>dir ‘Abd Alla>h al-Suhrawardy, ‘Awa>rif al-Ma’a>rif (Bairu>t: Da>r al-Kutub al-‘Araby, 1966), 59.
[49]‘Abd al-H{ali>m Mah}mu>d, al-Munqidh min al-D}ala>l li al-Ghaza>ly ma’a Abh}ath fi> al-Tas}awwuf wa Dira>sa>t ‘an al-Ghaza>ly (Mesir: Da>r al-Kutub al-H{adi>thah, 1394 H), 359.
[50] Ibnu Taimiyyah, Majmu>’at al-Rasa>il…., 158-159.
[51]Muh}ammad bin Isma>’i>l bin Ibra>hi>m al-Bukha>ry, al-Ja>mi’ al-S}ah}i>h. vol. 2 (Kairo: al-Mat}ba’ah al-Salafiyyah, 1400 H), 103.
[52]Ibnu Taimiyyah, Majmu>’at al-Rasa>il…., 158-159.
[53] Ibid, 157.

0 komentar:

Poskan Komentar

apakah anda tidak menemukan yang anda cari??? silahkan tuliskan sesuatu yang anda cari itu....

FACEBOOK COMENT

ARTIKEL SEBELUMNYA

 
Blogger Templates