Kamis, 09 Juni 2011

NABI MUHAMMAD SAW SEBAGAI PEMIMPIN AGAMA dan KEPALA NEGARA



BAB I
PENDAHULUAN
A.     Latar Belakang Masalah
Menjelang pertengahan abad keenam sesudah Masehi, dunia berada dalam keadaan gelap dan parah dengan keadaan spiritual yang merusak kehidupan spiritual manusia. Keserakahan dan tirani telah menjarah kesejahteraan moralnya, dan penindasan telah melumpuhkan mayoritas penduduknya. Bangsa-bangsa yang dulunya pernah merdeka dan produktif , peradaban tertua di dunia , seperti Assyria, Phunisia dan Mesir, kini tidak berkutik dibawah ancaman dan cengkraman Serigala Romawi. Sementara peradaban Babilonia yang menderita akibat dominasi Persia yang sama-sama tiranisnya,hanya dibolehkan hidup Marginal (pas-pasan) sementara semua kekayaan negerinya, tanah subur antara dua sungai (Eufrat dan Tigris) disedot untuk memenuhi perbendaharaan para kaisar Persia dan kaki tangannya.
Bangsa Arab yang tanahnya terletak antar Imperium Persia dan Romawi, merupakan sebuah negeri yang menyedihkan. Agama mereka yang sebenarnya merupakan Monoteisme paling murni, yakni Agama Nabi Ibrahim telah diselewengkan oleh generasi demi generasi.
Ketika manusia melupakan sumber mulia kehidupan batinnya dan secara tamak sibuk dengan kehidupan dunia dan kemegahannya, seorang Rasul diutus Oleh Allah untuk menunjukkan kepada jalan yang telah dilupakannya, dan memperingatkan mereka akan ajaran yang telah dilalaikan atau diabaikannya. Tetapi selama jangka waktu yang lama tidak terlihat tanda-tanda dan terdengar firman Allah. Zaman itu menjadi titik nadir (terendah) dalam pemikiran manusia.[1]
Karena banyaknya ramalan tentang kedatangnnya, setiap orang menunggu kedatangan Nabi Muhammad SAW di era kegelapan sejarah manusia, manusia menunggu orang yang akan menghancurkan keingkaran dan akan meniupkan kehidupan baru kedunia ini. Yudaisme dan Kristen, yang aslinya adalah agama samawi (berasal dari Allah), tak bisa menyangkal. Orang-orang mempelajari kitab-kitab lama tanpa prasangka, khususnya Pendeta Bahira sedang menunggu kedatangannya.
Berkata Karlil Mengenai Muhammad : “Kelahiran Muhammad adalah merupakan sumber cahaya yang menerangi kegelapan”.[2]
 Dan berkata Sir Muyer : ”belum ada usaha perbaikan yang lebih sulit dan lebih jauh jangkaunnya dari pada saat munculnya Muhammad. Tapi kita belum melihat suatu keberhasilan dan perbaikan yang sempurna sebagaimana  yang telah ditinggalakan olehnya saat meninggal Dunia”.[3]
Dan berkata Leonardo : “kalau diatas bumi ini ada orang yang benar-benar mengerti tentang Allah, kalau di atas bumi ini ada orang yang berlaku ikhlas terhadapnya dan meninggal dalam berkhidmat  kepadanya dengan tujuan yang mulia, dan dengan dorongan yang besar, maka sesungguhnya orang itu adalah Muhammad. Tanpa ragu lagi , seorang Nabi dari bangsa Arab”. Tersebut dalam ensiklopedia Britania “Sesungguhnya Muhammad mempunyai keberhasilan yang belum pernah dicapai oleh seorang Nabi atau oleh pembangun agama diseluruh jaman”.
Dan berkata Buzurth : “bahwa sesungguhnya Muhammad adalah mutlak pembangun terbesar tanpa ada pertentangan pendapat”.[4]
Adapun  Muhammad dalam pandangan Umat Islam, adalah seorang pahlawan utama. Sedang menurut pandangan para pemikir dari agama-agama lain dia adalah pembangun umat terbesar, diakui mutlak. Oleh karena itu tidak patut kita berbicara tentang kepahlawanan  tanpa mendahulukan tentang kepahlawanan Muhammad Saw.
B.     permasalahan
Berdasarkan latar belakang permasalahan di atas penulis dapat menfokuskan permasalahan sebagai berikut: 
1.      bagaimana kondisi masyarakat jahiliyah sebelum datangnya Islam (lahirnya Nabi Muhammad Saw)?
2.      Sejauh manakah rintangan dan penolakan masyarakat terhadap pelaksanaan dakwah Nabi Muhammad Saw?
3.      Bagaimana strategi dakwah Nabi Muhammad Saw sebagai pemimpin agama?
4.      Bagaimana kedudukan Nabi sebagai kepala Negara?

C.    Tujuan / Kegunaan
Adapun tujuan / kegunaan dalam pembahasan ini adalah sebagai berikut:
1.      Untuk mengetahui kondisi masyarakat jahiliyah sebelum datangnya Islam (lahirnya Nabi Muhammad Saw).
2.      Untuk mengetahui masa sebelum kerasulan.
3.      Untuk mengetahui rintangan dan penolakan masyarakat Quraisy terhadap pelaksanaan dakwah Nabi Muhammad Saw.
4.      Untuk mengetahui strategi dakwah yang dilakukan Nabi Muhammad Saw sebagai pemimpin agama.
5.      Untuk mengetahui bagaimana kedudukan Nabi sebagai Kepala Negara.


BAB II
PEMBAHASAN
A.     Kondisi masyarakat Arab sebelum datangnya Islam
Nabi Muhammad pertama kali muncul pada saat manusia kehilangan pengetahuan mereka yang terbalik menyembah berhala batu, tanah, roti, dan bahkan keju. Pikiran dan moral mereka sangat rusak sehingga mereka akan memotong-motong berhala dan memakannya. Satu-satunya dalil yang mereka nyatakan adalah bahwa mereka mengikuti jejak nenek moyang mereka. Mereka juga mengubur putri mereka hidup-hidup. Wanita dipandang rendah, bukan hanya di Arab pra Islam saja tetapi juga di kawasan Romania dan Sassanid.
Setelah Muhammad dinyatakan kenabiannya, seorang sahabat menceritakan kepadanya apa yang pernah ia lakukan kepada putrinya:
Wahai Rasulullah, dulu saya punya anak perempuan, suatu hari saya meminta pada ibunya untuk didandani sebab saya akan membawanya pada pamannya. Istriku yang malang tahu apa arti hal ini tetapi  tidak dapat berbuat apa-apa kecuali patuh dan menangis. Ia mendandani anak perempuan itu yang sangat gembira karena akan bertemu dengan pamannya. Saya membawanya kebibir sumur dan menyuruhnya untuk melihat kedalam. Saat dia sedang melongok kesumur, saya tendang dia masuk kedalamnya. Saat ia melayang jatuh dia berteriak: ayah..ayah...[5]

Saat dia menceritakan kisah ini, Nabi menangis terisak-isak seolah-olah dia telah kehilangan salah satu kerabat dekatnya. Hati telah mengeras, setiap hari sebuah lubang digali di gunung untuk bayi, mengubur bayi tak berdosa. Manusia lebih brutal dan kejam daripada hiyena (sejenis macan). Yang  kuat menindas yang lemah. Kebrutalan dilakukan atas kemanusiaan, kekejaman, disetujui, haus darah dipuji, pertumpahan darah dianggap kebaikan, dan perzinahan serta perselingkuhan lebih lazim ketimbang perkawinan yang sah. Struktur keluarga dihancurkan.[6]
B.     Kehidupan Rasulullah Saw Sebelum Kenabian
                  Nabi Muhammad dibesarkan dalam pengawasan Allah SWT karena ayahnya Abdullah telah meninggal sebelum beliau lahir yang berarti beliau harus menaruh semua kepercayaan kepada Allah SWT dan tunduk sepenuhnya kepadaNya. Suatu saat beliau berjalan ke kuburan ayahnya di Madinah beberapa tahun kemudian dan beliau menangis dalam hatinya, saat beliau kembali dan berkata “ Aku menangisi ayahku dan memohon agar Allah mengampuninya”.
                  Dengan kematian ayahnya Allah mencabut darinya semua sokongan dan mengarahkannya menuju kesadaran bahwa tidak ada Tuhan yang patut  disembah selain Allah yang tiada sekutu baginya.[7]
                  Dalam usia muda, Muhammad hidup sebagai pengembala kambing keluarganya dan kambing penduduk kota Mekah. Melalui kegiatan pengembalaan ini dia menemukan tempat untuk berpikir dan merenung. Dalam suasana demikian, beliau ingin melihat sesuatu dibalik semuanya. Pemikiran dan perenungan membuatnya jauh  dari nafsu Duniawi sehingga beliau terhindar dari berbagai macam noda yang dapat merusak namanya, karena itu sejak muda beliau dikenal dengan Al-amin, orang terpercaya.
                  Nabi Muhammad ikut untuk pertama kali dalam kafilah dagang Syiria (Syam) dalam usia baru 12 tahun yang ‘Kafilah itu dipimpin oleh Abu Thalib pamannya. Dalam perjalanan ini, di Busrah, sebelah selatan Syiria, ia bertemu dengan seorang pendeta  Kristen bernama Buhaira. Pendeta itu melihat tanda-tanda kenabian pada Muhammad sesuai dengan petunjuk-petunjuk cerita Kristen. Sebagian sumber menceritakan bahwa Pendeta itu menasehatkan Abu Thalib agar jangan terlalu jauh memasuki daerah Syiria, sebab  dikhawatirkan orang-orang Yahudi yang mengetahui tanda-tanda tersebut akan berbuat jahat kepadanya.[8]
                  Jadi Nabi Muhammad memang telah diciptakan sebagai orang besar sebelum diberi wahyu dan sebelum menjadi rasul. Sejak kecil beliau sudah menghindarkan diri dari penyembahan berhala yang dianggap Tuhan oleh Nenek Moyangnya dan merupakn sumber kejayaan di seluruh Jazirah Arabia saat itu. Dan sejak kecil beliau adalah anak yang senantiasa berkata berkata benar dan menunaikan janjinya, dicintai dan dihormati oleh kalangan kaumnya sehingga kaumnya memanggil beliau dengan sebutan “Al-amin” yang berarti dapat dipercaya.
C.     Tantangan dan Penolakan Arab Quraisy Terhadap Seruan Nabi Muhammad Saw
Muhammad telah datang kepada kaumnya dengan membawa suatu ajakan yang apabila diterima maka berubalah semua tatanan hidup mereka. Jadi dakwah Nabi Muhammad itu tidak hanya menyangkut agama mereka semata-mata tapi mencakup keseluruhan lapangan kehidupan. Misalnya ; Kehidupan Politik , Kemasyarakatan, Harta dan Tata Rumah tangga mereka. Adalah tidak dengan secara otomatis dan begitu mudah mereka untuk meninggalkan apa-apa yang mereka dapat dari Nenek Moyang dan apa-apa yang sudah berlaku di negeri mereka. Oleh karena itu, mereka menolak dan menghardik pembawanya agar mau kembali kepada warisan yang telah Nenek Moyang mereka tinggalkan dan mau mengagungkan apa saja yang mereka anggap mulia.[9]
Perhatikanlah kepadanya ketika musuh-musuhnya menyerbu dengan senjata cemoohan yang merupakan senjata paling ampuh untuk membunuh kemauan keras dan paling ampuh mematikan semangat para pejuang. Senjata cemoohan ini lebih menikam daripada siksaan dan peneknan.[10]
Sekali waktu berdirilah Nabi Muhammad di  atas Bukit Shafa sambil berseru kepada orang-orang Quaraisy. Setelah mereka datang semua untuk mendengarkan seruan beliau, lalu beliau pun memberikan peringatan kepada mereka akan adanya hari perhitungan Allah SWT. Mereka seketika meninggalkan Nabi Muhammad dan berlalu pergi, bahkan Paman beliau sendiri Abu Lahab berkat kepadanya; “ Celakalah Kau Hai Muhammad! Hanya untuk inikah kau memanggil kami……?”[11]
Mereka berpesan satu sama lain ; “jangan kamu dengarkan dengan sungguh akan Al-qur’an ini dan buatlah hiruk pikuk terhadapnya supaya kamu dapat mengalahkannya (mereka)”.
Bahwa mereka faham benar bahwa  senjata cemooh sangat ampuh untuk melawan Dakwah daripada penekanan dan penyiksaan, sehingga mereka tidak akan bisa melupakan cemoohan itu. Maka mereka takut, mereka bahkan bertambah congkak. Seorang diantara mereka berkata dan mengejek ; “Hai orang-orang Quraisy, tahukah anda sekalian apa itu pohon Zakum yang disebut Muhammad untuk menakut-nakuti kalian? Zakum itu sebenarnya ialah sejenis kurma Yastrib yang jelek terdapat di Zubdi”.
D.    Strategi Dakwah Nabi Saw Sebagai Pemimpin Negara
Salah satu pelajaran berharga yang harus diambil dari Rasulullah Saw adalah cara Rasulullah mengolah dakwah beliau agar bias diterima oleh seluruh masyarakat.mungkin sebagian orang berpendapat apa susahnya menyampaikan pesan suci kepada masyarakat karena cara menyampaikannya ini tidak ada bedanya dengan cara menyampaikan pesan-pesan yang  lain.[12]
Pada saat Allah SAW menurunkan wahyu pertama kali pada Muhammad Saw di gua hira, maka dengan demikian Allah telah mendeklarasikan beliau sebagai seorang Nabi dan Rasul bagi kaumnya.
Setelah Muhammad Saw secara resmi memperoleh kenabian, maka tugas selanjutnya menyampaikan risalah islamiyah kepada seluruh ummat manusia. Rasulullah diberikan oleh Allah Swt dengan kebijaksanaan, kesabaran, kekuatan jiwa, dan kekuatan menghadapi tantangan. Dengan modal tantangan tersebut rasulullah dipanggil untuk bangkit berhadapan dengan  kaumnya. Sebagaimana firman Allah Swt dalam surah Al-Mudatsir; 1-3:
يَا أَيُّهَا الْمُدَّثِّرُ (1) قُمْ فَأَنْذِرْ (2) وَرَبَّكَ فَكَبِّرْ
Terjemahannya:
Hai orang-orang yang berkemul (berselimut) (1). Bangunlah, lalu berilah peringatan! (2). Dan tuhanmu agungkanlah (3).

Ayat ini mengajak Rasulullah Saw untuk menyampaikan risalahnya itu, beliau tidak langsung dalam kancah masyarakat, tetapi dahulu ditujukan kepada perorangan, terutama pada keluarga terdekat dan hal ini sesuai dengan perintah Allah Swt dalam surah Al-Syua’ara; 214:
وَأَنْذِرْ عَشِيرَتَكَ الْأَقْرَبِينَ
Terjemahannya:
Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat,
Sebagai realisasi dari perintah ayat tersebut, maka rasulullah mualai mengajak saudara masuk islam mereka yang berhasil masuk isalam pertama kali mendapat julukan Assabiqunal Al-Awwalun (mereka mereka yang pertama masuk islam) mereka itu adalah, Sitti khadijah (Istri Nabi), Ali bin Abi Thalib (anak paman Nabi), Said bin Haristah, Abu Bakar As-Shidiq, Utsman bin Affan, Subair bin Awwam, Saad bin Abi Waqqash, Abdurrahman bin Abil Arqam. itulah sejumlah orang-orang pertama-tama masuk islam dan terutama setelah Arqam masuk Islam rumahnya dijadikan sebagai sentrum kegiatan dakwah yang kemudian dikenal dengan Darul Arqam. Kegiatan ditempat ini banyak menarik orang untuk melakukan kebebasan jiwa, maka masuk islamlah hamba sahaya lainnya. Disinilah Rasulullah menanamkan ruh tauhid kedalam jiwa para sahabat, sehingga mereka kelak menjadi pembela dan pejuang-pejuang agama yang tangguh.[13]
Langkah dakwah selanjutnya yang diambil Muhammad adalah menyeruh masyarakat umum. Nabi mulai menyeru segala lapisan masyarakat kepada Islam terang-terangan, baik golongan bangsawan maupun hambah sahaya. Mula-mula ia menyeru penduduk Mekah, kemudian penduduk negeri-negeri lain. Disamping itu, ia juga menyeru  orang-orang yang datang ke Mekah dari berbagai negeri untuk mengerjakan haji. Kegiatan dakwah dijalankannya tanpa mengenal lelah. Dengan usahanya yang gigih hasil yang diharapkan mulai terlihat. Jumlah pengikut nabi yang tadinya hanya belasan orang, makin hari makin bertambah. Mereka terutama terdiri dari kaum wanita, budak, pekerja, dan orang-orang yang tak punya. Meskipun kebanyakan mereka orang-orang yang lemah, namun semangat mereka sungguh membaja.[14]
E.     Posisi Nabi Muhammad sebagai kepala Negara
Di dalam Al-qur’an surat Ali’imran ayat 44 Allah menegaskan bahwa Muhammad Saw adalah seorang Rasul:                                        
 (dan tidaklah Muhammad kecuali seorang rasul).
Sebagai Rasul beliau bertugas sebagai penyampai dan penn-syarah keseluruhan wahyu yang diterimahnya kepada manusia sebagaimana Allah berfirman dalam surat An-Nahal  ayat 44
وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ
Terjemahannya :
(…Dan kami turunkan kepadamu Al-qur’an, agar kamu menerangkan kepada ummat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka supaya mereka memikirkan).

Sebagai pembuat hukum sebagaimana firman Allah dalam Surat An-Nisa ayat 105:
إِنَّا أَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ لِتَحْكُمَ بَيْنَ النَّاسِ بِمَا أَرَاكَ اللَّهُ
Terjemahannya
(Sesungguhnya kami telah menurunkan kitab kepadamu dengan membawa kebenaran, supaya kamu mengadili antara manusia dengan apa yang telah Allah wahyukan kepadamu)
Dan firman Allah dalam Surat Al-A’raf ayat 157:
يَأْمُرُهُمْ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَاهُمْ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُحِلُّ لَهُمُ الطَّيِّبَاتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ الْخَبَائِثَ وَيَضَعُ عَنْهُمْ إِصْرَهُمْ وَالْأَغْلَالَ الَّتِي كَانَتْ عَلَيْهِمْ
Terjemahannya :
(Nabi menyuruh mereka mengerjakan dan menghalalkan yang ma’ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang munkar  dan menghalalkan segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka)

Dan sebagai teladan bagi ummat manusia sebagai firman Allah Swt dalam surat Al-Ahzab ayat 21:
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآَخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا
Terjemahannya :
(Sesungguhnya yang ada pada (diri)Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu yaitu bagi orang yang mengharap rahmat Allah dan (kedatangan) hari kiamat dia banyak menyebut nama Allah).

Dalam ayat-ayat tersebut ditemukan bahwa Muhammad SAW sebagai Rasul, bukan hanya penyampai dan penjelas keseluruhan wahyu Allah, tetapi juga diberi hak legislative atau hak menetapkan hokum bagi manusia dan hak menertibkan kehidupan masyarakat, karenanya, beliau disebut contoh tauladan yang baik bagi manusia dalam kapasitas beliau sebagai pemimpin agama sekaligus kepala Negara.[15]
Dalam sejarah islam peristiwa Bai’at Aqabah dan perjanjian tertulis yang melahirkan piagam madinah, dapat diidentifikasikan sebagai peraktek kontrak social. Karena dalam peristiwa-peristwa itulah Nabi memperoleh kekuasaan politik dan keabsahan untuk mengatur dan memimpin rakyat madinah.
Dengan demikian, kekuasaan politik yang diperoleh Nabi berdasarkan nash dan fakta-fakta historis tersebut, bukan menurut teori kekuatan. Karena kehadirannya di Madinah bukan dengan jalan kekuatan dan penaklukan melainkan diundang oleh gelongan-gelonngan Arab di Kota itu dan atas perintah wahyu. Hak dan kekuasaan politik itu beliau peroleh oleh dari Allah yang dalam teori politi disebut teokratis, juga beliau peroleh melalui perjanjian masyarakat yang disebut kontrak sosial.
Menurut Al-Balqini tugas kepala Negara untuk melaksanakkan fungsi Negara adalah menegakkan hukum yang telah ditetapkan, membbela ummat dari gangguan musuh, melenyapkan penindasan dan meratakan penghasilan Negara bagi rakyat. Bagi Al-Baghdadi, fungsi negara yang harus  dilaksanakan kepala Negara adalah melaksanakan undang-undang dan pengaturan, melaksanakkan hukuman bagi pelanggar  hukum, mengatur militer dan megelolah zakat dan pajak. Selanjutnya Al-Mawardi berpendapat bahwa fungsi Negara yang harus diwujudkan kepala Negara adalah menjamin hak-hak rakyat dan hukum Tuhan, menegakkan keadilan, membangun kekuatan untuk menghadapi musuh, melakukan jihad terhadap orang yang menentang Islam, memungut Pajak dan Zakat, meminta nasihat dan pandangan dari orang-orang terpecaya, dan kepala Negara harus langsung mengatur urusan ummat dan agama, dan meneliti keadaan yang sebenarnya.[16]
Tugas-tugas seperti tersebut di atas juga dilaksanakan oleh Nabi Muhammad Saw. Beliau membuat undang-undang dalam bentuk tertulis, mempersatukan penduduk Madinah untuk mencegah konflik-konflik diantara mereka agar terjamin ketertiban interen, menjamin kkebebasan bagi semua golongan, mengatur militer, memimpin peperangan, melaksanakan hukuman bagi pelanggar hukum, menerima perutusan-perutusan dari luar Madinah, mengirim surat-surat kepada para penguasa di Jazirah Arab, mengadakan perjanjian damai dengan tetangga agar terjamin keamanan eksteren, mengelola zakat dan pajak serta larangan riba dibidang ekonomi dan perdagangan untuk menjembatani jurang pemisah antara golongan kaya dan miskin, dan menunjuk para sahabat untuk menjadi Hakim di daerah-daerah luar Madinah serta mendelegasikan tugas-tugas kepada para sahabat.
Tugas yang dilaksanakan oleh Nabi Muhammad Saw tersebut menunjukkan kesamaan dengan konsep dan teori politik dan kenegaraan tentang tugas kepala Negara dan dengan demikian posisi beliau disamping seorang Rasul juga dapat dikatakan sebagai kepala Negara.
Karena itu, Watt menyebut Nabi Muhammad Saw sebagai seorang negarawan dengan mengemukakan empat alasan, 1. Muhammad Saw memiliki bakat sebagai seorang yang mampu melihat sesuatu sebelum terjadi karena didukung wahyu dan kejeniusannya, 2. Kearifannya sebagai negarawan beliau tunjukkan dalam menerapkan struktur ajaran Al-Qur’an yang global secara kongkrit melalui kebijaksanaannya yang tepat, 3. Reformasi dibidang social yang berwawasan jauh yang ditunjang oleh strategi politik yang akurat, 4. Beliau mempunyai kemampuan sebagai administrator dan arif dalam menunjuk pembantunya untuk melaksanakan tugas-tugas administrator.[17]


BAB III
KESIMPULAN / PENUTUP
Berdasarkan uraian yang telah dikemukakan, Nabi Muhammad Saw sebagai pemimpin agama sekaligus sebagai kepala Negara maka penulis dapat mengambil kesimpulan sebagai berikut:
1)      Kota Mekkah adalah salah satu kota yang penting di Negeri Arab, baik karena tradisinya maupun karena letaknya yang strategis sebagai kota jalur perdagangan juga sebagai kota tempat berziarah bagi penyembah berhala.
2)      Sebelum datangnya Islam masyarakat Arab Quraisy telah mengenal agama samawi yang sudah berkembang baik Nasrani maupun Yahudi yang pada ahirnya diselewengkan.
3)      Muhammad Saw sebelum masa kenabiannya telah memiliki kepribadian yang agung sehingga memungkinkan untuk dapat menerima tanggung jawab dari Allah Swt.
4)      Pada hakekatnya tantangan dan rintangan yang dihadapi oleh nabi Muhammad Saw dalam melaksanakan dakwahnya, tidak terlepas dari persoalan politik, social, budaya dan ekonomi.
5)      Strategi dakwah Nabi di Makkah adalah strategi yang sangat tepat dengan melaksanakan dakwah secara rahasia mengingat kondisi yang tidak memungkinkan untuk misinya. 13 tahun lamanya beliau dengan sabar dan tekun ihlas dan penuh keyakinan dalam bimbingan Allah Swt menyampaikan dakwahnya.
6)      Pola pemerintahan yang diterapkan oleh Rasulullah adalah pola pemerintahan yang sangat sempurna, dimana seluruh jiwa dan raga serta kemampuannya dicurahkan kepada ummat



DAFTAR PUSTAKA
Abdurrahman Azam, Keagungan Nabi Muhammad Saw, Cet III, 1997
Al-Ismail, Tahiya, Sejarah Ringkas Muhammad Saw, Perjuangan dan Peribadatannya      mengembankan Risalah Tauhid,  Cet,2. Penerjemah. A Nasir Budiman ; Jakarta,       PT Raja Grapindo Persada,2001
Al-Ismail, Tahiya, Tarikh Muhammad, Teladan Perilaku Ummat, Cet,2. Penerjemah. A     Nasir Budiman ; Jakarta, PT Raja Grapindo Persada, 1996
Al-Maliki,Alwi. Tanda-Tanda Kenabian Muhammad, Cet 1 diterjemahkan olehIdrus A.   Alkaff; Surabaya, Putra Pelajar, 2001
Azis. Saifullah, Wafatnya Rasulullah Muhammad Saw,  Cet. 1 Surabaya, Putra Pelajar       2002
Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam, Cet XVI; PT Raja Grapindo Persada,2004
Iyad Ibn Musa Al-Yashubi, Keagungan Kekasih Allah Muhammad Saw, Keistimewaan     Personal Keteladanan Berisalah. Cet 1. Penerjemah, Gufron. A. masadi, PT Raja   Grapindo Persada, 2002
J.Suyuti Pulungan, Prinsip-Prinsip Pemerintahan Dalam Piagam Madinah Ditinjau Dari Pandangan Al-Qur’an, Cet.II; PT Raja Grapindo Persada, 1996
M. Fethullah Gulen, Versi Teladan Kehidupan Rasulullah Muhammad Saw. Cet I 2002.
M.Rawas Qal’ah, Menyibak Tabir Kepribadian Agung Rasul Muhammad Saw.      Penerjemah. Dede Koeswara, Jakarta, Mahabbah Pustaka.
Murtadha Mutahharu. Cara Lain  Melihat Sejarah Nabi, Sirah Sang Nabi, penerjemah       salman nano. Jakarta: alhuda. 2006
Rahman,Fazlur, Nabi Muhammad Sebagai Pemimpin Militer, Cet I : Jakarta Sinar Grafika            Ofdset.2002.
Ridho, Muhammad, Muhammad Rasulullah Saw, Beirut; Darul Kutub Ilmiyyah.


[1] Tahia Al-Ismail, Sejarah Ringkas Muhammad Saw, Perjuangan Peribadatannya Mengembangkan Risalah Tauhid (Cet II: Jakarta; PT Rajagrapindo Persada, 1996)h.2 
[2] Abdurrahman ‘Azam, Keagungan Nabi Muhammad Saw,(Cet III;Jakarta,Pedoman Ilmu Jaya, 1997)h.2
[3] Ibid, h.3
[4] Abdurrahman ‘Azam, op. cit,h.3.
[5] M Fethullah Gulen. Prophet Muhammad Aspect of His Life, diterjemahkan oleh Tri Wibowo Budi Santoso dengan judul Versi Teladan Kehidupan Rasulullah Muhammad Saw (Jakarta:PT Raja Grapindo Persada,2002)h.2.  
[6] M.Fethullah Gulen, op.cit.h.3
[7] Ibid,h.4
[8] Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam Dirasah Islamiyah II (Jakarta;PT Raja Grapindo Persada,2004)Cet,16.h17.
[9] Abdurrahman ‘Azam, op.cit,h.12.
[10] Ibid,h 22
[11] Muhammad Ridha, Muhammad Rasulullah Saw, (Beirut: Darul Kutub)h.95
[12] Murtadha Mutahhari. Sire-ye Nabawi, diterjamahkan oleh Salman Nano dengan judul Cara lain Malihat Sirah Sang Nabi. (Jakarta: Alhuda,2006)h.105
[13] Badri Yatim, op.cit.h 19.  
[14] Ibid, h.20
[15] Suyuti Pulungan. Prinsip-Prinsip Pemerintahan Dalam Piagam Madinah Dari Pandangan Al-qur’an (Jakarta: PT Garpindo Persada, 1996) Cet .2.h68-69
[16] Suyuti Pulungan. Op.cit.h77
[17] Suyuti Pulungan. Op.cit. h79

0 komentar:

Poskan Komentar

apakah anda tidak menemukan yang anda cari??? silahkan tuliskan sesuatu yang anda cari itu....

FACEBOOK COMENT

ARTIKEL SEBELUMNYA

 
Blogger Templates