Rabu, 15 Juni 2011

TEORI PENELITIAN TAFSIR






BAB I
PENDAHULUAN
1.  Latar Belakang
Al-Qur’an memotifasi manusia untuk mempergunakan akal, seraya berfikir dan meneliti alam semesta ini yang merupakan salah satu dari tanda-tanda kekuasaaNya.
Al-Qur’an selain sebagai petunjuk bagi umat manusia  , ia juga merupakan salah satu bahan pustaka yang memberikan informasi yang sangat luas terhadap alam semesta ini, bagi setiap orang yang mengkaji secara mendalam kandungan ayat-ayatnya secara obyektif, maka mereka pasti akan tekjub dengan informasi yang digambarkan oleh al-Qur’an, bagaiman tidak, ia adalah kitab yang diturunkan oleh Rabb al-‘a>lami>n (Pengatur, pendidik alam semesta)
Dalam sejarah peradaban dan intlektual manusia al-Qur’an merupakan kitab yang dikaji secara antusius, baik pendukung atau penentangnya, Ia merupakan referensi bagi manusia yang sangat lengkap dan sudah banyak melahirkan karya-karya.
Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dari masa kemasa sudah banyak teori yang dihasilkan oleh manusia untuk menyingkap rahasia-rahasia dibalik tabir ayat-ayat al-Qur’an, setiap metode yang dipakai untuk menafsirkan al-Qur’an akan mempunyai penafsiran tersendiri dan berbeda dengan penafsiran periode sebelumnya tanpa mengurangi atau menambah ayat ayat al-Qur’an, namun demikian belum pernah ditemukan ayat-ayat al-Qur’an yang bertentangan dengan kondisi zaman, hal semakin memperjelas bahwa al-Qur’an adalah sebuah kitab yang sa>lih li kulli zama>n wa maka>n mampu untuk menjawab tantangan setiap zaman yang dilaluinya .

2.  Rumusan Masalah
Berdasarkan dari uraian diatas maka penulis membatasi permasalahan sebagai berikut :
1.      Apa yang dimaksud dengan Ilmu Pengetahuan
2.      Bagaimana Metode Pengetahuan
3.      Apa itu Metode Ilmu dan Teori Kebenaran
4.      Bagaimana Kedudukan al-Qur’an



BAB II
PEMBAHASAN
A.    Teori penelitian Tafsir
Sebelum membahas makalah ini lebih lanjut maka perlu untuk menjelaskan maksud dari judul ini. Adapun judul makalah ini adalah TEORI TEORI PENELITIAN TAFSIR
Teori berarti pendapat yang dikemukakan sebagai suatu keterangan mengenai suatu peristiwa (kejadian); dan berarti pula asas-asas dan hukum-hukum umum yang menjadi dasar suatu kesenian atau ilmu pengetahuan. Selain itu, teori dapat pula berarti pendapat cara-cara, dan aturan-aturan untuk melakukan sesuatu.[1]Teori adalah alat terpenting suatu ilmu pengetahuan, tanpa teori berarti hanya ada serangkaian fakta atau data saja dan tidak ada Ilmu Pengetahuan. Teori itu:
a.       Menyimpulkan generalisasi fakta-fakta
b.      Memberi kerangka orientasi untuk analisis dan klasifikasi fakta-fakta
c.       Meramalkan gejala-gejala baru
d.      Mengisi kekosongan pengetahuan tentang gejala-gejala yang telah ada atau sedang terjadi.[2]
Adapun Penelitian berasal dari kata teliti yang artinya cermat, seksama dan dapat pula berarti Penyelidikan.[3] Selanjutnya istilah penelitian yang dilahirkan oleh dunia ilmu Pengetahuan mengandung implikasi-implikasi yang bersifat ilmiah, oleh karena hal tersebut  merupakan proses penyelidikan yang berjalan sesuai dengan ketetapan-ketetapan dalam Ilmu pengetahuan tentang penelitian atau selanjutnya disebut Methodologi of research.[4]
Sedangkan tafsir berasal dari bahasa arab yaitu fassara yufassiru tafsi>ran , secara bahasa bermakna al-i>d}ah wa al-tabyi>n,[5]yaitu jelas dan terang, adapun tafsir secata terminologi yaitu:
-          Menurut al-Zarqa>ni} Tafsir adalah ilmu yang mempelajari isi kandungan al-Qur’an dari segi dalalahnya dari apa yang dikehendaki oleh Allah swt, sesuai dengan kemampuan manusia.[6]
-          Al-Zarkasyi} mengatakan Tafsir adalah ilmu yang akan mengantarkan seseorang untuk memahami al-Qur’an yang diturnkan kepada Nabi Muhammad saw, dengan cara menjelaskan maknanya serta mengeluarkan hukum dan hikmahnya.[7]
B.     Ilmu dan Pengetahuan
Dari pengertian yang ada sering diketumuka kerancauan pengertian antara Ilmu dengan Pengetahuan,kedua kata tersebut dianggap memiliki kesamaan arti, bahkan ilmudan pengetahuan terkadang dirangkum menjadi kata majemuk yang mengandung arti tersendiri,namun jika kedua kata tersebut berdiri sendiri maka akan nampak perbedaan diantara keduanya.[8]
Pengetahuan dibedakan atas ilmiah dan pengetahuan non ilmiah (biasa). Perbedaan keduanya ditentukan oleh cara menemukan pengetahuan tersebut, Pengetahuan biasa dapat diperoleh melalui penemuan secara kebetulan, tradisional, otoritas, renungan, atau intuitif, sedangkan pengetahuan ilmian diperoleh dengan metodi ilmiyah[9]
Ada dua cara yang pokok bagi manusia untuk mendapatkan pengetahuan yang benar. Yang pertama adalah mendasarkan diri dari rasio, yang kedua mendasarkan diri pada pengalaman, kaum rasionalis mengembangkan paham apa yang kita kenal dengan rasionalisme, sedangkan mereka yang menyandarkan pemikirannya kepada pengalaman pengembangan paham yang disebut dengan impirisme[10]
Kaum rasionalis mempergunakan metode deduktif dalam menyusun pengetahuannya, premis yang dipakai dalam penalarannya didapatkannya dari ide yang menurut anggapannya jelas dan dapat diterima
Kata ilmu dalam al-Qur’an dengan berbagai bentuknya berulang sebanyak 856 kali.[11] Kata kerja تعلمون berulang sebanyak 56 serta kata kerja ستعلمون berulang sebanyak 3 kali,[12] kata تعلموا  berulang sebanyak 9 kali,[13] kata يعلمون berulang 90,[14] kata يعلموا berulang 7 kali,[15] kata علم berulang sebanyak 47, kata عليم baik dalam bentuk ma’rifah atau nakirah sebanyak 140, sedangkan kata عِلم sebanyak 63,[16] demikian halnya dengan bentuk bentuk lainnya yang berulang dalam al-Qur’an, kesemuanya ini menunjukkan bahwa al-Quran sangat memperhatikan Ilmu 
Ilmu berasal dari bahasa arab yaitu ‘alima – ya’lamu-’ilman yang mempunyai arti ‘arafa atau khabara[17], al-Ra>gib al-Asfah>ani mengatakan Ilmu adalah idra>k al-Syai’ bihaki>katih[18] (mengetahuai hakikat segala sesuatu)
Para ahli bahasa berbeda pendapat tentang kata علم dan عرف, Imam al-Zabi>di} dalam Ta>j al-‘aru>s mengatakan bahwa kata علم dan عرف adalah satu makna tidak ada pebedaan diantara keduanya, akan tetapi mayoritas ahli mengatakan kedua kata tersebut berbeda, kata علم lebih tinggi sifatnya,[19] sehingga hanya kata علم  yang cocok dinisbahkan kepada Allah swt, maka tidak diketemukan kata عرف dalam al-Qur’an untuk menggambarkan pengetahuan Allah swt.
   Kemudian al-Zabi>di mengutip defenisi علم dan عرف dari imam al-Asfahani علم sebagaiman disebutkan sebelumnya yaitu idra>k al-Syai’ bihaki>katih (mengetahuai hakikat segala sesuatu) sedangkan عرف adalah Idra>k al-syai bitafakkur wa tadabbur li> as|arih[20] (mengetahui sesuatu dengan cara berfikir dan  merenung terhadap dampaknya ) kata عرف lebih spesifik dibanding kata علم, al-zabi>di} mengatakan perbedaan keduanya terletak pada lafaz dan maknanya. Dari segi lafaz kata عرف membutuhkan pada satu maf’u>l (objek) sedangkan kata علم membutuhkan pada dua objek seperti pada surah al-Mumtahanah ayat 10
فَإِنْ عَلِمْتُمُوهُنَّ مُؤْمِنَات

kalupun ada kata علم yang cukup dengan satu objek seperti pada surah al-Anfa>l ayat 6
لا تعلمونهم الله يعلمهم
maka ia akan bermakna عرف. Sedangkan dari segi maknanya, keduanya mempunyai beberapa perbedaan diantaranya:
1.      Kata عرف berkaitan dengan inti dari pengetahuan, sedangkan kata علم berkaitan dengan kondisi dari ilmu tersebut
2.      Kata عرف pada umumnya tidak ada berkaitan dengan hati, tapi setelah hal tersebut diketahui, maka dikatakan عرفه, berbeda dengan علم yang berkaitan dengan hati
3.      Kebalikan kata dari عرف  adalah نكر , sedangkan kata علم kebalikannya جهل
4.      Kata عرف adalah pengetahuan terhadap inti sesuati yang memberikan perincian kepada selainnya, sedangkan علم terkadang berkaitan dengan sesuatu secara global

C. Metode Ilmu dan Teori Kebenaran
A.    Metode Ilmu
Kata Metode berasal dari bahasa inggris method yang juga bersumber dari bahasa latin methodus, kata latin ini berakar dari kata meta (dibalik) dan  hodus (jalan). Methodus berarti suatu cara atau jalan melakukan sesuatu. Metode ilmu dengan demikian berarti cara memperoleh ilmu.[21]
Dalam hubungannya dengan ilmu Pengetahuan, metode ilmu adalah cara kerja untuk dapat memahami objek yang menjadi sasaran ilmu yang bersangkutan, sebagai suatu sistem, metode ilmu merupakan suatu proses penyelesaian masalah yang bertujuan memperoleh ilmu.[22]
Menurut Prof. Dr. H. Muin Salim ada beberapa isyarat alQur’an yang berkaitan dengan Metode Ilmu, diantaranya:

1.      Wijdan
Al-Quran menggunakan kata wijda>n (penemuan), al-Qur’an dalam berbagai macam bentuk katanya sebanyak 105 kali yang mempunyai arti “menemukan” dan “mengetahui”, al-Qur’an mengisyaratkan dua macam penemuan, yaitu penemuan internal dan penemuan ekternal, yang pertama misalnya  
فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
Artinya:
tidaklah mereka beriman sehingga mereka menjadikan hakim dalam urusan yang terjadi diantara mereka dan tidak menemukan dalam hati mereka rasa keberatan terhadap apa yang engkau telah putuskan dan mereka menerima dengan sepenuh hati.[23]

وَإِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً قَالُوا وَجَدْنَا عَلَيْهَا آَبَاءَنَا وَاللَّهُ أَمَرَنَا بِهَا قُلْ إِنَّ اللَّهَ لَا يَأْمُرُ بِالْفَحْشَاءِ أَتَقُولُونَ عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُون
Artinya:
Dan bila mereka berbuat keji, mereka berkata:Kami menemukan orang orang tua kami atas perbuatan ini dan Allah memerintahkannya kepada kami. [24]

2.      Al-Ihsa>s
Yang dimaksud adalah cara memperoleh pengetahuan dari luar dengan mempergunakan alat indra, makna kata ini dalam kamus bermakna sesuatu yang dapat dirasakan dengan alat indra.[25]
Diantara ayat yang menggunakan kata kata ihsa>s adalah:
فَلَمَّا أَحَسَّ عِيسَى مِنْهُمُ الْكُفْرَ قَالَ مَنْ أَنْصَارِي إِلَى اللَّهِ قَالَ الْحَوَارِيُّونَ نَحْنُ أَنْصَارُ اللَّهِ آمَنَّا بِاللَّهِ وَاشْهَدْ بِأَنَّا مُسْلِمُونَ
Maka tatkala Isa as merasakan kekafiran mereka, maka ia berkata siapakah yang mau menjadi penolongku dijalan Allah,maka Hawariyyun berkata kami yang akan menjadi penolong dijalan Allah, kami beriman kepada Allah, dan saksikanlah bahwa kami termasuk orang orang muslipm.[26]

            Di lain ayat
فَلَمَّا أَحَسُّوا بَأْسَنَا إِذَا هُمْ مِنْهَا يَرْكُضُونَ
            Dan tatkala mereka merasakan azab kami, tiba-tiba mereka melarikan diri.[27]
3.      Taklim
Pengetahuan disini diperoleh dengan melalui proses pemberian informasi yang disebut ajar mengajar, hakikat dari proses pemberian informasi ini adalah penembahan makrifat secara sistematis bertahap, dalam al-Qur’an dinyatakan:
قَالَ لَهُ مُوسَى هَلْ أَتَّبِعُكَ عَلَى أَنْ تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمْتَ رُشْدًا
Musa berkata kepadanya: apakah saya boleh mengikutimu, supaya kamu mengajarkan kepadaku apa-apa yang telah diajarkan kepadamu.[28]
4.      Tafakkur
Metode ini dilakukandengan cara mengkorelasi antara makrifat yang dimiliki. Diantara ayat yang mengandung metodi ini adalah
أَوَلَمْ يَتَفَكَّرُوا فِي أَنْفُسِهِمْ مَا خَلَقَ اللَّهُ السَّمَوَاتِ وَالأرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا إِلا بِالْحَقِّ وَأَجَلٍ مُسَمًّى
Apakah mereka tidak mengetahui bahwa Allah tidak menciptakan langit dan bumi serta apa yang ada diantara keduanya melainkan dengan hak dan dengan masa tertentu.[29]

5.      Nadzar
Makna Nadzar dalam mukjam al-Qur’an adalah melihat dengan mata dan melihat dengan hati (berfikir) atau dengan kata bashir, diantara ayat al-Qur’an mengenai nadzar sebagaimana dalam surah al-Ru>m: 9
 أَوَلَمْ يَسِيرُوا فِي الأرْضِ فَيَنْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ كَانُوا أَشَدَّ مِنْهُمْ قُوَّةً وَأَثَارُوا الأرْضَ وَعَمَرُوهَا أَكْثَرَ مِمَّا عَمَرُوهَا ....
Mengapa mereka tidak berjalan dimuka bumi lalu memperhatikan bagaimana kesudahan nasib orang-orang sebelum mereka, mereka lebih kuat dan telahmemakmurkan bumo melebihi mereka …..[30]

Pada ayat lain terdapat perintahar orang-orang kafir memperhatikan gejala-gejala yang ada disekitar mereka, seperti
أَفَلا يَنْظُرُونَ إِلَى الإبِلِ كَيْفَ خُلِقَتْ , وَإِلَى السَّمَاءِ كَيْفَ رُفِعَتْ , وَإِلَى الْجِبَالِ كَيْفَ نُصِبَتْ , وَإِلَى الأرْضِ كَيْفَ سُطِحَت
Apakah mereka tidak memperhatikan bagaiman unta diciptakan, dan bagaimana langit ditinggikan, dan bagaimana gunung di tegakkan, dan bagaimana bumi di hamparkan.[31]

6.      Ilham
Ilham merupakan cara memperoleh makrifah tanpa melalui rasional, ia masuk kedalamjiwa seketika, dalam al-Qur’an kata ilham hanya satu kali dipergunakan
وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا , فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا
Demi jiwa dan yang menyempurnakannya lalu mengilhamkan kepadanya apa yang menyebabkan kebinasaan dan yang menyebabkan ketakwaannya.[32]
B.     Teori Kebenaran
kebenaran dalam kamus Bahasa Indonesia merupakan bentukan dari kata dasar “benar” yang berarti benar, betul, tidak salah, lurus, atau dapat dipercaya.[33] kata sepadan dengan dengan truth dalam bahasa inggris, veritas dalam bahasa latin, dan aletheia dalam bahasa yunani.[34] Sedangkan dalam bahasa arab kata kebenaran sepadan dengan kata al-haqq, yang berarti s|abata, lazama, yaqana,[35] yang berarti mantap, tidak berubaah atau yakin, sesuatu yang terjangkau oleh akal dan dibenakan olehnya juga bermakna al-haqq walupun sifatnya relatif karena pembenarannya bersumber dari pemilik akal (manusia) yang relatif.[36]
Jadi maksud dari teori kebenaran disini adalah cara-cara mendapatkan sesuatu dengan meyakinkan
             Ada beberapa teori kebenaran yang telah dipaparkan oleh para ahli, paling tidak ada diantaranya:
1.      Teori Korespondensi
Menurut teori ini kebenaran atau keadaan benar itu apabila ada kesesuaian  antara arti yang dimaksud oleh suatu pernyataan atau pendapat dengan objek yang dituju oleh pernyataan atau pendapat tersebut.[37]dengan kata lain bahwa suatu pernyatan dianggap benar apabila terdapat fakta-fakta empiris yang mendukung fakta tersebut, seperti gambaran al-Qur’an terhadap manfaat dari sarang lebah yang bisa menghasilkan madu serta bermanfat bagi manusia
وَأَوْحَى رَبُّكَ إِلَى النَّحْلِ أَنِ اتَّخِذِي مِنَ الْجِبَالِ بُيُوتًا وَمِنَ الشَّجَرِ وَمِمَّا يَعْرِشُونَ (68) ثُمَّ كُلِي مِنْ كُلِّ الثَّمَرَاتِ فَاسْلُكِي سُبُلَ رَبِّكِ ذُلُلا يَخْرُجُ مِنْ بُطُونِهَا شَرَابٌ مُخْتَلِفٌ أَلْوَانُهُ فِيهِ شِفَاءٌ لِلنَّاسِ إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَةً لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُون
Dan tuhanmu mengilhamkan kepada lebah, buatlah sarang di gunung-gunung dan pohon-pohon kayu,kemudian makanlah dari setiap buah kemudian berjalanlah, dijalan tuhanmu yang telah dimudahkan bagimu, dari perut lebah itu itu keluat minuman madu yang bermacam macam warnanya , didalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia, sesungguhnya yang demikianitu adalah atanda-tanda bagi orang-orang yang berfikir.[38]

Disisi lainAllah swt memperingatkan tentang bahaya perzinahan seperti dalam al-Qur’an
وَلا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلا
Dan janganlah mendekati zina sesungguhnya zina itu sesuatu yang keji dan jalan yang buruk.[39]

Ada juga dalam al-Qur’an yang menjelaskan tentang dampak manfaat dan kejelekannya sekaligus, seperti gambaran al-Qur’an terhadap khamar dan judi, bahwa padanya ada sesuatu yang positif dan negatif, tapi dampak negatifnya lebih dominan dibanding dengan positifnya, seperti
يَسْأَلُونَكَ عَنِ الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ قُلْ فِيهِمَا إِثْمٌ كَبِيرٌ وَمَنَافِعُ لِلنَّاسِ وَإِثْمُهُمَا أَكْبَرُ مِنْ نَفْعِهِمَا
Mereka akan bertanya kepadamu tentang khamar dan judi, katakanlah bahwa keduanya merupakan dosa besar dan bermanfaat bagi manusia, tapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya[40]

2.      Teori pragmatisme
Menurut teori ini benar tidaknya suatu ucapan dalil, atau teori semata tergantung dari asas manfaat, sesuatu dianggap benar jika mendatangkan manfaat dan akan dikatakan salah apabila tidak mendatangkan manfaat.[41]

3.      Teori Agama,
Agama dengan karekterstiknya sendiri memberikan jawaban atas segala persoalan asasi yang dipertanyakan manusia, baik tentang alam, manusia ataupun tentang Tuhan, dalam teori agama ini yang dikedepankan adalah wahyu yang bersumber pada Tuhan.[42]oleh benyak  ayat al-Qur’an yang berulangmenyebutkan bahwa al-haqq (kebenaran) itu min rabbikum, min rabbihim atau min rabbik berasal dari tuhan yang disampaikan melalui kitab yang diturunkannya kepada para nabi yang dilembagakan dalam bentu agama
D.  Kedudukan al-Qur’an
Al-Quran mempunyai posisi sangat istimewa dalam persfektif Islam, sebab ia merupakan sumber ajaran islam yang pertama, ia sendiri memperkenalkan dirinya sebagai Hudan li> al-nas (petunjuk bagi seluruh manusia) dilain saat hudan li> al-muttaqi>n (petunjuk hanya kepada orang-orang bertaqwa)
       Diantara kedudukan al-Qur’an adalah:

1.      Manhaj li hayat al-insan
Al-Qur’an menjelaskan bahwa ia turun  tibyan likulli syai sebagai penjelas dari setiap sesuatu sebagaimana gambaran al-Quran
وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً وَبُشْرَى لِلْمُسْلِمِينَ
Dan kamimenurunkan al-Qur’an untuk menjelaskan sehala sesuatu, sebagaipetunjuk dan rahmat serta kabar gembira bagi orang Islam.[43]

Ia merupakan manhaj  terhadap manusia dalam kehidupannya baik sebagai individu atau sebagai anggota masyarakat, iajuga dasar pijakan dan perilaku baik hubungannya dengan manusia, tuhan, alam
2.      Dustur> li al-hukm
Al-Qur’an selain sebagai dasar dalam kehidupan manusia, ia juga sebagaipijakan dalam menetapkan hukum dalam kehidupan masyarakat islami, sebagaiman ayat al-Qur’an menegaskan
  إِنَّا أَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ لِتَحْكُمَ بَيْنَ النَّاسِ
Sesungguhnya kami menurunkan al_Qur’an kepadamu dengan membawa kebenaran, untukmemberikan hukum kepada manusia.[44]

BAB III
PENUTUP
Dari pemaparan diatas maka bias ditarikesimpulan yaitu
1.      Istilah Ilmu dan Pengetahuan, kedua kata tersebut dianggap memiliki kesamaan arti, bahkan keduanya terkadang dirangkum menjadi kata majemuk yang mengandung arti tersendiri, namun jika kedua kata tersebut berdiri sendiri maka akan arti sendiri.
2.      Metode ilmu yaitu
a.       Al-Wijda>n
b.      Al-Ihsa>s
c.       Ta’li>m
d.      Tafakkur
e.       Nadzar
f.        Ilham
3.      Ada beberapa teori kebenaran yang telah dipaparkan oleh para ahli, paling tidak ada diantaranya:
a.       Teori Korespondensi
b.      Teori Pragmatis
c.       Teori Agama
4.      Kedudukan al-Qur’an
a.       Sebagai sumber pijakan dalam kehidupan manusia
b.      Sebagai dasar dari menenutukan hukum islam di masyarakat islam


DAFTAR PUSTAKA
Amsal Bakhtiar,filsafah Ilmu (Jakarta: Raja Grafindo Persada,  2004)
Jujun S. Suriasumantri, Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer (Jakarta, Pustaka Sinar Harapan, Cet XIV 2001)
Qurais Syihab, Membumikan al-Qur’an (Jakarta: Mizan Cet. VII 1994)
H{usain Muh}ammad Fahmi}, Al-Dali>l al-Mufahras li> alfa>z al-Qur’a>n (Kairo:  Da>r al_Sala>m, Cet.I 1998) h.303
Ibn Manz}u>r, Lisa>n al-‘arab (Bairut: Da>r al-Ihya> al-Turas| al-‘Arabi, Juz 9, 1999) h.
Al-Ragib al Asfahani, Mufrada>t al-Qur’an (Bairut: Da>r al-Kutub al- Ilmiyah, 1998)
‘Ummad Murttad}a al-Husini} al-Zab>di}, Ta>j al-‘Aru>s, (Kiwait,al-Muassasah al-Kuwait, jilid 33, Cet.I 2001)
Abd. Muin Salim, Tafsir Pengkajian Ilmiah Modul Pelatihan Tafsir al-Qur’an (disampaikan dalam Diklat penafsiran al-Qur’an) atas kerjasama Majelis Pendidikan Agama Islam) pada tanggal 24-26 Juni 2005.
_________Metodologi Tafsir, sebuah Rekonstruksi Epistemologi (orasi Pengukuhan Guru Besar, tahun 1999)
W.J. Poerwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka, 1991)
Abuddin Nata, Metodologi Studi Islam(Jakarta: PT Raja  Grafindo Persada) Cet. I
Tim penyusub Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, edisi II (Jakarta: Balai Pustaka, Cet.3 1994)
Lorens Bagus, Kamus Filsafah,edisi I (Jakarta: Gramedia, Cet. III, 2002
Ibn Manz}u>r, Lisa>n al-‘arab (Bairut: Da>r al-Ihya> al-Turas| al-‘Arabi, Juz 9, 1999)
Sahabuddin, Ensekopledia al-Qur’an: Kajian Kosakata (Jakarta: Lentera Hati, Cet. I, 2007)
Jujun S. Surisumantri, Filsafah Ilmu sebuah Pengantar Populer (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, Cet. 13,  2000)


[1] W.J. Poerwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka, 1991), Cet. XII, h. 520
[2] Abuddin Nata, Metodologi Studi Islam(Jakarta: PT Raja  Grafindo Persada) Cet. I, h. 199
[3] W.J. Poerwadarminta, op. cit., h. 1039
[4]  Abuddin Nata, h. 166
[5] Muhammad Abd al-‘Azi>m al-Zarqa>ni, Mana>hil al-‘Irfa>n fi> ulu>m al-Qur’a>n (Makkah: Niza>r mus}t}afa> al-Ba>z, Jilid II, 1998) h. 4
[6] Ibid
[7] Badruddin Muh>ammad ‘Abdullah al-Zarkasyi} (Bairut:  Da>r al-Fikr, Jilid I, 1988) h. 33
[8] Amsal Bakhtiar,filsafah Ilmu (Jakarta: Raja Grafindo Persada,  2004) h. 89
[9] Abd. Muin Salim, Metodologi Tafsir, h. 15
[10] Jujun S. Suriasumantri, Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer (Jakarta, Pustaka Sinar Harapan, Cet XIV 2001)h. 50
[11] Qurais Syihab, Membumikan al-Qur’an (Jakarta: Mizan Cet. VII 1994)h. 103
[12] H{usain Muh}ammad Fahmi}, Al-Dali>l al-Mufahras li> alfa>z al-Qur’a>n (Kairo:  Da>r al_Sala>m, Cet.I 1998) h.303
[13] Ibid, h. 303
[14]Ibid, h. 944
[15] Ibid, h. 944
[16] Ibid, h. 503-504
[17] Ibn Manz}u>r, Lisa>n al-‘arab (Bairut: Da>r al-Ihya> al-Turas| al-‘Arabi, Juz 9, 1999) h.
[18] Al-Ragib al Asfahani, Mufrada>t al-Qur’an
[19] ‘Ummad Murttad}a al-Husini} al-Zab>di}, Ta>j al-‘Aru>s, (Kiwait,al-Muassasah al-Kuwait, jilid 33, Cet.I 2001) h. 126
[20] Al-Ra>gib, h 370
[21] Abd. Muin Salim, Tafsir Pengkajian Ilmiah Modul Pelatihan Tafsir al-Qur’an (disampaikan dalam Diklat penafsiran al-Qur’an) atas kerjasama Majelis Pendidikan Agama Islam) pada tanggal 24-26 Juni 2005.
[22] Ibid
[23] QS: Al-Nisa: 65
[24] Abd Muin Salim, Metodologo Tafsir h. 9
[25] Al-Ra>gib al-Asfaha>ni}, h. 130
[26] QS: Ali Imran: 52
[27] QS: al-Anbiya’:12
[28] QS: al-Kahfi: 66
[29] QS: al-Ru>m: 8  
[30] QS: al-Ru>m: 9
[31] QS: al-Ga>syiyah: 17-20
[32] QS: al-Syams: 8
[33] Tim penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, edisi II (Jakarta: Balai Pustaka, Cet.3 1994) h.114
[34] Lorens Bagus, Kamus Filsafah,edisi I (Jakarta: Gramedia, Cet. III, 2002)
[35] Lisa>n al-arab,
[36] Sahabuddin, Ensekopledia al-Qur’an: Kajian Kosakata (Jakarta: Lentera Hati, Cet. I, 2007) h. 286
[37] Jujun SSurisumantri, Filsafah Ilmu sebuah Pengantar Populer (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, Cet. 13,  2000)h. 57
[38] QS: al-Nahl: 68-68
[39] QS: al-Isra: 32
[40] QS: al-Baqarah: 219
[41] Jujun, loc, cit
[42] Amsal Bakhtiar, h. 121
[43] QS: al-Nahl: 89
[44] QS: al-Nisa: 105

0 komentar:

Posting Komentar

apakah anda tidak menemukan yang anda cari??? silahkan tuliskan sesuatu yang anda cari itu....

FACEBOOK COMENT

ARTIKEL SEBELUMNYA

 
Blogger Templates