Senin, 09 Mei 2011

AR-RAZY


BAB I
PENDAHULUAN
      A.    Latar Belakang
Dalam dunia filsafat secara khusus, melahirkan banyak tokoh-tokoh filsafat muslim yang banyak bergelut dengan dunia filsafat, kegiatan ilmu pengetahuan mencakup penerjemahan buku-buku filsafat Yunani yang kemudian dikembangkan tokoh filosofis muslim. Dengan dasar tersebut dapat dipahami adanya keterikatan filsafat Yunani dan filsafat Islam dalam hubungan pemikiran, demikian pula dengan filsafat modern yang ada.[1]
Misalnya filosof Islam Banyak mengambil pemikiran Aristoteles dan mereka banyak tertarik terhadap pemikirannya. Sehingga banyak teori-teori filosof Yunani banyak diambil oleh filosof Islam.[2] Kedatangan filosof Islam yang terpengaruh oleh orang-orang sebelumnya dan berguru pada filosof Yunani. Bahkan kita hidup diabad ini, kita banyak berguru pada Yunani dan Romawi, akan tetapi berguru bukan berarti mengekor dan mengutip sehingga dapat dikatakan bahwa Filsafat Islam hanyalah kutipan dari Aristoteles atau lainnya. Akan tetapi Filsafat Islam telah mampu menampung dan mempertemukan berbagai aliran pemikiran.
Para filosof Islam umumnya hidup dalam lingkungan dan suasana yang berbeda dari apa yang dialami oleh filosof-filosof lain. Sehingga lingkungan sangat berpengaruh terhadap pemikiran mereka. Tidak dapat dipungkiri bahwa dunia Islam berhasil membentuk filsafat yang sesuai prinsip agama dan keadaan masayarakat Islam itu sendiri.
Demikian pula adanya hubungan dengan fase-fase pemikiran manusia dan tidak dapat dipungkiri bahwa pemikiran filsafat Islam merupakan sumber dari pemikiran klasik. Perpaduan pemikiran tersebut diaktualisasikan dalam system dan gambaran sendiri dan memberikannya dengan label Islam.
Keunggulan khusus filsafat Islam dalam masalah pembagian cabangnya adalah mencakup Ilmu Kedokteran, Biologi, Kimia, Musik atau pun Ilmu Falak yang semuanya menjadi cabang filsafat Islam.
Para ulama Islam memikirkan suatu jalan filsafat ada yang lebih berani dan lebih pedas daripada pemikiran mereka yang lebih dikenal dengan nama filosof Islam. Dapat diketahui bahwa pembahasan ilmu Kalam dan Tasawuf banyak terdapat pemikiran dan teori yang tidak kalah telitinya daripada filosof-filosof Islam.
Oleh karena itu al-Razi merupakan filosof Muslim muncul pada abad ke- 10 yang menggemparkan dunia pada masanya dengan filsafat lima kekalnya, serta kritikannya yang mengatakan bahwa tidaklah masuk akal bahwa Tuhan mengutus para nabi  karena mereka banyak melakukan kemudharatan. Setiap bangsa hanya percaya kapada nabinya, dan menolak keras yang lain yang mengakibatkan terjadinya banyak peperangan keagamaan dan kebencian antar bangsa yang memeluk berbagai agama yang berbeda.



B.     Rumusan Masalah
Dengan berpedoman pada latar belakang masalah yang dikemukakan diatas, maka pemakalah mengemukakan permasalahan sebagai bahan acuan pembasan sebagai berikut:
1.      Bagaimana riwayat hidup al-Razi?
2.      Bagaimana karya al-Razi?
3.      Bagaimana filsafat al-Razi?
4.      Bagaimana filsafat Lima Kekal al-Razi?




BAB II
PEMBAHASAN
A.    Riwayat hidup Al-Razy
Abu Bakar Muhammad  Ibnu Zakaria bin Yahya al-Razy  terkenal dengan nama al-Razy atau Rhazes, dilahirkan di kota Rayy dekat Taheran (Iran) pada tangal 1 Sya’ban  251 H/865 M.[3] Pada masa kejayaan Abbasiah . Pendidikannya dimulai dengan mempelajari Ilmu Falaq, Mantiq, Sastra Arab, kemudian  ia menekuni Ilmu Filsafat dan  Kedokteran sehingga ia menjadi terkenal.[4]
Sebenarnya  ayahnya berharap agar al-Razy mengikuti profesinya sebagai pedagang. Oleh karena itu ayahnya telah  membekali diri al-Razy dengan  ilmu-ilmu perdagangan, namun ternyata al-Razy  lebih memilih bidang intelektual daripada perdagangan. Akan tetapi ayahnya tidak tidak pernah menghalangi bakat al-Razy menjadi seorang intelektual. Hal ini juga dapat dijadikan bukti bahwa ayahnya sangat arif terhadap perkembangan ilmu pengetahuan.
Lingkungan al-Razy atau tempat dia berdomisili yaitu Iran sebelumnya terkenal dengan sebutan Persia, sudah terkenal sebelumnya dengan sejarah peradaban manusia. Kota tersebut merupakan tempat pertemuan berbagai peradaban, terutama peradaban Yunani dan Persia. Jadi suasana lingkungan tersebut mendorong bakat al-Razy tampil sebagi seorang intelektual.[5]
Pada masa mudanya ia menjadi tukang intan dan suka pada music (kecapi) pada umur 30 tahun ia sangat respek pada ilmu pengetahuan kimia, sehingga tidak mengherankan apabila kedua matanya buta akibat dari eksperimen yang dilakukannya. Ia sangat rajin belajar dan bekerja siang dan malam hari, ia belajar ilmu kedokteran dan juga belajar ilmu filasafat pada Ali Ibn Rabban al-Thabari yang lahir di  Mery pada tahun 192 H/808 M dan meninggal 240 H/855 M.[6] Minat al-Razy untuk bergelut dalam dunia filsafat agama disebabkan oleh gurunya yang ayahnya adalah pendeta Yahudi yang ahli dalam kitab suci. Jadi dalam hal ini bukan hanya orang Islam yang mempelajari dan mengkaji kitab suci Alquran akan tetatapi juga orang-orang non muslim.
Dengan latar belakang itulah al-Razy dikota kelahirannya dikenal sebagai dokter alkemis, dia tidak suka dialektika, ia hanya mengenal logika. Menurut pendapatnya jiwalah yang mengatur hubungna antar tubuh dan jiwa. Ia menyusun sebuah system pengobatan spiritual bagi jiwa yang tidak sehat.[7] Ia dipercayakan untuk memimpin rumah sakit di Rayyoleh oleh Mansur bin Ishak bin Ahmad bin Asadih ketika beliau menjadi gubernur. Al-Razy menulis suatu buku yang berjudul al-Tibb al-Mansur, buku itu dipersembahkan untuk gubernur (Mansur bin Ishak). Al-Razy pergi ke Baghdad pada masa khalifah Muhtafi tahun (289 H/901-295 H/908 M. Ia juga diserahi untuk memimpin sebuah rumah sakit dan menjabat kepemimpinannya selama 6 tahun. Setelah al-Muhtafi meninggal ia kembali ke Rayy.[8]
Al-Razy dalam tugasnya sebagai dosen dan ilmu kedokteran tidak seorang pun yang dapat menduduki kedudukannnya. Hal ini merupakan sebuah bukti daripada pengarahan dan nasehat-nasehat bagi mahasiswa ilmu kedokteran. Selanjutnya al-Razy mewasiatkan kepada mahasiswanya yaitu wajiblah kalian mengetahui, memikirkan, mengamalakan apa yang telah disepakati oleh para dokter dan telah dibuktikan oleh analogis dan dikuatkan oleh percobaan-percobaan. Mahasiswa kedokteran harus selalu mengunjungi balai pengobatan dan mencurahkan perhatiannya pada para pasien, dan gejala-gajala yang nampak pada mereka serta membandingkan gejala-gejala itu dengan pengetahuan mereka dan mengunjungi para pasien itu dan harus dibimbing oleh seorang dokter ahli (speciaslist).[9]
Sebagai orang yang terkenal, ia mempunyai banyak murid dan belajar kepadanya. Metode penyampainnya adalah bersistem pengembangan daya intelektual. Apabila ada seorang murid yang bertanya maka pertanyaan itu tidak langsung dijawabnya melainkan diberikan kembali kepada murid-murid lainnya yang terbagi kepada beberapa kelompok. Apabila kelompok pertama tidak mampu menjawab dan memecahkannya maka di berikan kepada kelompok kedua, dan begitu seterusnya sehingga pada saat tidak ada yang sanggup untuk menjawabnya maka al-Razy sendiri yang akan menjawabnya. Diantara muridnya yang cerdas adalah Abu Bakar Ibn Qarin al-Razy yang kemudian menjadi seorang dokter. Sebagai seorang dokter dan Ilmuan ia adalah seorang yang bermurah hati, sayang kepada pasien-pasiennya dan, dermawan. Dia memberikan pengobatan secara gratis kepada pasiennya yang tidak mampu dalam hal materi.[10] Jadi dalam hal ini pengobatan secara gratis sudah diterapkan oleh al-Razy sejak dulu yang sampai saat ini menjadi janji-janji politik.
Al-Razy jika tidak bersama murid atau pasiennya, ia selalu menggunakan waktunya untuk belajar dan menulis. Kemungkinan itu adalah indikasi dari kebutaan matanya. Beliau menolak diobati dengan mengatakan bahwa ia sudah terlalu banyak melihat dunia dan telah banyak menikmatinya. Tapi itu merupakan anekdot daripada kenyataan sejarah. Ketika salah seorang muridnya datang dari Tabaristan untuk mengobatinya, ia menolak dan mengatakan bahwa itu akan sia-sia belaka karena sebentar lagi ia akan meninggal dunia. Suasana hatinya ketika ia akan menyongsong kematian dilukiskan dalam beberapa bait puisinya:
Sungguh aku tak tahu, dan kebinasaan
Telah meletakkan tangannya diatas kalbuku
Dan membisikkan bahwa saat itu pun sudah
Mendekat, kalau aku harus pergi
Aku tak tahu kemana aku akan mengembara
Atau dimana ruh yang telah direnggut
Dari rumah daging tubuh tak berharga ini
Akan tinggal sesudah ini, kala aku mati.[11]
Beberapa hari kemudian al-Razy meninggal pada tanggal 5 Sya’ban 313 H/27 Oktober 925 M. Dia wafat di Baghdad dengan meninggalkan jasa yang banyak sekali dan sangat bermanfaat bagi orang-orang yang sesudahnya.[12]
            Al-Razi banyak meninggalkan jasa terutama dalam bidang kedokteran, termasuk karangannya al-Hawi (Enseklopedia kedokteran) yang terdiri dari 20 jilid, yang banyak diterjemahkan dalam bahasa latin dan lainnya, yang dapat dipergunakan oleh orang-orang yang hidup sesudahnya. Jasa terhadap pasiennya yang sangat dermawan memberikan pengobatan gratis serta pemikiran-pemikiran yang sangat rasional.     
B.     Karya-karya al-Razy
Al-Razy termasuk orang yang aktif berkarya. Buku-bukunya sangat banyak bahkan dia sendiri menyiapkan katalog yang kemudian diproduksi oleh  Ibn al-Nadim. Sebagai seorang filosof, al-Razy banyak mengarang buku fisika dibidang ilmu filsafat maupun dibidang ilmiah. Karya ilmiah dan filsafat al-Razy tampaknya sangat banyak, ia sendiri mengaku dalam sebuah karya autobiografis bahwa ia telah menyusun tidak kurang dari 200 karya tentang semua bidang fisika dan metafisika kecuali matematika. Karya medisnya yang paling besar adalah al-Hawi, tersusun lebih dari 20 jilid, yang lebih terkenal dengan sebutan al-jami’ yaitu ikhtisar ilmu kedokteran, yang diterjemahkan ke dalam bahasa latin pada tahun 1279 dengan continens dan beredar luas dilingkungan ilmu kedokteran sampai abad keenam belas.[13] Disamping itu karangannya yang terkenal adalah tentang cacar dan campak, diterjemahkan ke dalam bahasa Eropa dan ditahun 1866 masih dicetak yang keempat puluh.
Disamping itu ada beberapa kumpulan karya logika yang disusun oleh al-Razy seperti Commentary an Aristoteles, Metaphysical View dan the Criterian of Reason bersama dengan sebuah risalah autobiografis yang berjudul al-sirah al-falsafiyah (Jalan Filsafat).[14]
Sedangkan Abu Abi Usaibah, buku al-Razy berjumlah 36 karya tapi ada beberapa yang tidak jelas pengarangnya. Muhammad an-Najmadi dalam bukunya Syarh Muhammad bin Zakariyah yang diterbitkan pada tahun 1318 H menyebutkan 250 judul bukunya. Adapaun buku-buku diantaranya adalah
a.       Al-Tibb al-Ruhani
b.      Al-shirat al-Falsafiyah
c.       Amarat Iqbal al-Daulah
d.      Kitab al-Ladzdzah
e.       Kitab  al-Ibn al-Ilahi
f.       Makalah fi Mabad al-Tabiyah
g.      Al-Syukur ala Proclas.[15]
Penulis pahami bahwa al-Razy adalah penulis yang sangat luar biasa karena beliau mempunyai beberapa keahlian yaitu ahli kimia, fisika, filosof dan bahkan ia juga ahli dalam karya ilmiah.
Oleh karena itu disamping al-Razy punya keahlian yang luar biasa dan karya yang banyak, dia juga punya lawan. Adapun lawan-lawan al-Razy adalah:
1.      Abu al-Qasim al-Balkhi
Dia adalah pimpinan kaum Mu’tazilah di Baghdad tahun 319 H/931 M, yang hidup semasa dengan al-Razy. Ia banyak menulis penolakan terhadap buku-buku al-Razy terutama al-‘Ilm al-Ilahi yang berbeda dengan al-Razy terutama tentang waktu.
2.      Syuhaid Ibn al-Husain al-Balkhi
Dia banyak perbedaan dengan al-Razy, salah satu perbedaannya adalah tentang teori kesenangan.
3.      Abu Hatim al-Razy
Beliau meninggal 322 H/933 M. Ia menulis perbedaannya dengan al-Razy dalam buku A’lam al-Nubuwwah.
4.      Ibn Tammar
Dia menolak tulisan al-Razy al-Tibb Ruhani.
5.      Ahmad Ibn al-Thayyib al-Sarak meninggal 286 H/899 H.[16]



C.    Filsafat al-Razy
Al-Razy adalah seorang rasionalis murni.[17] Ia mempercayai akal dibidang kedokteran, studi klinis yang dilakukan telah menemukan metode yang kuat dengan berpijak kepada observasi dan eksperimen, sebagaimana yang terdapat dalam kitab al-Faraj Ba’ad al-Syaiddah karya al-Tanukhi (wafat 384). Jadi corak pemikiran al-Razy adalah rasional elektis artinya ia selalu mencari kebenaran dengan pangkal tolak kekuatan akal dan elektis artinya selektif. Akal termasuk untuk mengetahui adanya Tuhan.[18]
Pemikiran al-Razy tentang otoritas akal ini dapat kita lihat pada pernyataan-pernyataanya antara lain, Tuhan yang Maha Agung telah mengaruniakan akal pada kita agar kita bisa memperoleh  manfaat baik didunia maupun diakhirat. Dengan akal kita dapat menciptakan dan menggunakan perahu (kapal) yang mengarungi lautan nan luas, menemukan teori-teori kedokteran yang sangat bermanfaat bagi kehidupan manusia untuk kelangsungan hidupnya. Manemukan hal-hal yang tersembunyi walaupun jauh sekalipun mengetahui gugus planet dan antariksa serta gerak dan rotasinya. Sampai akhirnya mengetahui dan meyakini sang Adikodrati. Jika akal sedemikian mulia dan penting kita tidak boleh meremehkannya dan menurunkan derajatnya. Kita tidak boleh menentukan karena ia adalah penentu atau mengendalikannya karena ia pengendali, atau memerintah karena ia adalah pemerintah.[19]
Tuhan memberi kepada manusia akal sebagai anugrah terbesar. Dengan akal kita mengetahui segala apa yang bermanfaat bagi kita dan dapat kita memperbaiki  hidup kita. Berkat akal itu, kita mengetahui hal yang tersembunyi dan apa yang akan terjadi. Dengan akal kita mengenal Tuhan, ilmu tertinggi bagi manusia. Akal itu menghakimi segala-galanya dan tidak boleh dihakimi oleh sesuatu yang lain, kelakuan kita harus ditentukan oleh akal semata.[20]
Oleh karena itu al-Razi sangat mengandalkan akalnya, ia tetap bertuhan tetapi dia tidak mengakui adanya wahyu dan kenabian.[21] Dengan dasar pemikiran dan alasan sebagai berikut:
a.       Bahwa akal sudah memadai untuk membedakan antara yang baik dan yang buruk, yang benar dan yang jahat yang berguna dan yang tidak berguna. Melalui akal manusia dapat mengetahui tuhan dan mengatur kehidupan kita sebaik-baiknya. Kemudian mengapa masih dibutuhkan nabi?
b.      Setiap manusia dilahirkan dengan kecerdasan yang sama, maka tak ada keistimewaan khusus buat seseorang untuk membimbing manusia, baik keistimewaan rasional maupun keistimewaan spiritual. Rendah dan tingginya suatu intelegensi manusia bukan karena pembawaan alamiyah, melainkan karena pengembangan dan pendidikannya.
c.       Para nabi saling bertentangan, apabila mereka berbicara atas nama Tuhan mengapa implementasi mereka terhadap pertentangan. Setelah menolak kenabian al-Razi mengkritik agama secara umum. Ia menjelaskan kontradiksi kaum Yahudi Kristen ataupun Majusi.
            Al-Razi menolak mukjizat al-Qur’an baik karena gayanya ataupun isinya dengan menegaskan adanya kemungkinan kitab-kitab yang lebih baik dan gaya yang lebih baik , disamping itu ia mengatakan bahwa mukjizat kenabian adalah mitos keagamaan atau rayuan dan keahlian yang dimaksudkan untuk menipu dan menyesatkan. Ajaran agama saling kontradiksi karena satu sama lain saling menghancurkan, dan tidak sesuai dengan statemen yang mengatakan bahwa ada realitas permanent. Setiap nabi membatalkan risalah pendahulunya tetapi menyerukan bahwa apa dibawahnya adalah kebenaran bahkan tidak ada kebenaran lain dan manusia bingung tentang pimpinan dan dipimpin, panutan yang dianut.[22] Al-Razi  lebih suka terhadap buku-buku ilmiah daripada kitab suci, sebab buku-buku ilmiah lebih berguna bagi kehidupan manusia daripada kitab suci. Buku kedokteran, astronomi, geometri, logika lebih berguna daripada injil dan al-Qur’an. Penulis ilmunya telah menemukan kenyataan dan kebenaran melalui kecerdasan mereka sendiri tanpa bantuan para nabi.
D.    Falasafat Lima Kekal
Falsafat al-Razy terkenal dengan doktrin lima yang kekal, yaitu Tuhan, jiwa Universal, Materi pertama, Ruang absolute dan zaman absolute.[23] Dua dari lima yang itu kekal hidup dan aktif, yaitu Tuhan dan Roh, satu tidak hidup dan pasif yaitu materi. Sedangkan dua yang lainnya tidak hidup dan tidak aktif yaitu ruang dan waktu.[24]
Berikut ini uraian mengenai lima kekekelan.
1.   Tuhan
            Kebijakan Tuhan itu sempurna, ketidak sengajaan tidak disifatkan  kepadanya. Kehidupan berasal dari-Nya, sebagaimana sinar datang dari matahari. Ia mempunyai kepandaian sempurna dan murni, kehidupan mengalir dari ruh. Tuhan menciptakan segala sesuatu tidak ada yang bisa menandingi-Nya dan sesuatu pun dapat menolak kehendak-Nya. Kalau Allah menghendaki sesuatu maka jadilah sebagaimana QS Yasin (36): 82. “apabila dia menghendaki sesuatu hanyalah  hanyalah berkata kepadanya, jadilah maka terjadilah ia”.[25]
            Tuhan mengetahui sepenuhnya segala sesuatu dan mengetahui bahwa ruh cenderung kepada materi dan membutuhkan kesenangan bendawi, kemudian ruh mengigatkan dirinya pada materi. Tuhan dengan kebijakannya mengatur ikatan tersebut supaya dapat tercapai jalan paling sempurna. Setelah itu tuhan memberikan kepandaian dan kemampuan pengamatan pada ruh.[26]
            Inilah yang menyebabkan kenapa ruh mengingat dunia nyata, dan mengetahui bahwa selama ia berada didunia benda, ia takkan pernah bebas dari rasa sakit, jika ruh mengetahui hal itu dan juga mengetahui bahwa di dunia ini nyata ia akan mempunyai kebahagiaan tanpa rasa sakit, maka ia menghasratkan dunia itu dan begitu ia terpisah dari materi maka ia akan tinggal disana untuk selamanya dengan penuh bahagia.
            Dengan demikian seluruh sikap skiptis kepada kekekalan dunia dan maujud kejahatan dapat dihilangkan. Jika mengalami adanya kebijakan sang pencipta, maka kita harus mengakui pula bahwa dunia ini diciptakan. Apabila orang bertanya kepada dunia ini diciptakan pada saat ini atau itu, maka kita bisa jawab bahwa ruh mengingatkan dirinya pada materi pada saat itu. Tuhan mengetahui bahwa pengingatan ini merupakan sebab kejahatan tetapi setelah hal itu terjadilah Tuhan mengarahkan kejalan yang sebaik mungkin, namun demikian kejahatan tetap ada, sumber dari kejahatan tetap ada, sumber dari kejahatan serta susunan ruh dan materi tidak dapat dimurnikan sama sekali sehingga keadaanya tetap terpengaruh oleh materi.[27]
            Menurut al-Razi Tuhan itu maha bijaksana, ia tidak mengenal istilah lupa pengetahuan. Tuhan itu tidak dibatasi oleh pengalaman, Tuhan itu sifat jiwa yang cenderung bersatu dengan benda dan mencari kelezatan material. Setelah jiwa bergabung dengan tubuh Tuhan  kemudian mengatur hubungan tersebut dengan  harmonis. Yaitu dengan jalan melimpahkan akal kedalam jiwa. Lantaran memiliki akal jiwa menjadi sadar bahwa selagi masih bergandengan dengan tubuh ia masih menderita. Dengan akal, jiwa tahu tempat aslanya. Akal pulalah yang menginsafkan jiwa bahwa kebahagiaan tertinggi hanya akan diperoleh setelah jiwa mampu melepaskan diri dari dukungan tubuh.[28]
2.   Jiwa Universal
           Menurut al-Raz, Tuhan tidak menciptakan dunia lewat desakan apapun, tetapi ia memutuskan untuk menciptakannya setelah pada mulanya tidak berkehendak menciptakannya. Siapakah yang membuatnya untuk melakukan demikian itu mestinya ada keabadian lain yang membuat ia memutuskan.
           Keabadian lain adalah ruh yang hidup tetapi ia bodoh, materi juga kekal. Karena kebodohannya ruh mencintai materi dan membuat bentuk dirinya untuk memperoleh kebahagiaan materi. Tetapi materi menolak, sehingga Tuhan campur tangan membantu ruh. Dengan bantuan inilah Tuhan menciptkan dunia dan menciptakan bentuk-bentuk yang kuat yang didalamnya ruh dapat memperoleh kebahagiaan jasmani. Kemudian Tuhan mencipatakan manusia guna menyadarkan ruh dan menunjukkan kepadanya bahwa dunia ini bukanlah dunia yang sebenarnya dalam arti hakiki.
            Tetapi manusia tidak akan mencapai dunia hakiki ini, kecuali dengan filsafat. Mereka yang mempelajari filsafat dan mengetahui dunia hakiki dan mengatahui dunia hakiki dan memperoleh pengetahuan akan selamat dari keadaan buruknya. Ruh-ruh tetap akan berada didunia ini sampai mereka disadarkan oleh filsafat akan rahasia dirinya kemudian diarahkan kepada dunia sejati.[29]
3.   Materi
            Materi adalah kekal, karena creation ax nihilo (penciptaan dari tiada) merupakan suatu hal yang tidak mungkin. Kalau materi kekal, ruang mesti kekal, karena materi tidak boleh, tidak mesti bertempat dalam ruang. Karena materi mengalami perubahan menandakan zaman, maka zaman mesti kekal pula kalau materi kekal.[30]
            Kemutlakan materi pertama terdiri atas atom-atom. Setiap atom mempunyai volume, kalau tidak maka dengan pengumpulan atom-atom itu tidak dapat dibentuk. Bila dunia ini dihancurkan maka ia juga terpisah-pisah dalam bentuk atom. Dengan demikian materi berasal dari kekekalan karena tidak mungkin menyatakan bahwa sesuatu berasal dari ketiadaan.
            Yang lebih padat menjadi unsur bumi, yang lebih renggang daripada  unsur bumi menjadi unsur air, apalagi yang lebih renggang menjadi unsur udara.
            Al-Razy memberikan bukti untuk memperkuat pendapatnya tentang kekekalan materi. Pertama, penciptaan adalah bukti. Dengan demikian mesti ada penciptanya, apa yang diciptakan itu ialah materi yang terbentuk. Kita membuktikan bahwa pencipta lebih dahulu daripada yang tercipta dan bukan yang diciptakan itu yang terlebih dahulu ada.
            Bukti kedua, berlandaskan ketidak mungkinan pencipta dari ketiadaan. Yang membuat sesuatu dari ketiadaan lebih mudah daripada menyusunnya. Manusia diciptakan oleh Tuhan dalam sekejap lebih mudah daripada menyusun mereka dalam empat puluh tahun . inilah premis pertama. Pencipta yang tidak bijak tidak lebih menghendaki melaksanakan apa yang lebih jauh  dari tujuannya daripada yang lebih dekat, kecuali apabila ia tidak mampu melakukan apa yang lebih mudah dan lebih dekat. Inilah premis kedua. Maka dapat disimpulkan bahwa premis ini adalah  bahwa keberadaan seagala sesuatu pasti disebabkan oleh pencipta dunia lewat ciptaan dan bukan lewat penyusunan. Segala sesuatu di dunia ini dihasilkan oleh penciptaan dan bukan  lewat penyusunan.
4.   Ruang
            Ruang adalah tempat keberadaan materi, al-Razy mengatakan bahwa materi itu kekal dan karena materi menempati ruang maka ruang ada yang kekal.[31] Menurut al-Razy ruang itu terbagi atas dua macam, ruang universal mutlak, dan ruang tertentu atau relative. Ruang universal adalah tidak terbatas dan tidak bergantung kepada dunia dan segala yang ada didalamnya. Sedang ruang relative adalah sebaliknya.
            Suatu kehampaan ada didalam ruang dan karenanya ia berada dalam materi sebagai bukti dari ketidak terbatasan ruang. Al-Razy mengatakan bahwa wujud yang memerlukan ruang tidak dapat mewujud tanpa adanya ruang, meski ruang dapat maujud tanpa adanya wujud tersebut. Ruang tidak lain adalah tempat bagi wujud-wujud yang membutuhkan ruang. Bila tidak ada ruang, maka ia adalah wujud yang terbatas. Jika bukan wujud berarti ia ruang. Karenanya ruang itu tak terbatas, sedang setiap wujud berada didalam ruang maka bagaimanapun ruang meski terbatas. Dan yang terbatas itu adalah kekal, sehingga dengan demikian ruang pun kekal.
5.   Waktu
            Waktu itu kekal, ia subtansi yang mengalir. Sebagaimana ruang, waktu atau zaman juga dibedakan al-Razy antara waktu mutlak (tak terbatas) dan waktu mashur (terbatas). Waktu mutlak adalah keberlangsungan ia kekal dan bergerak. Sedang waktu terbatas adalah gerak lingkungan dan bintang-gemintang. Bila kita berfikir tentang gerak keberlangsungan, maka kita dapat membayangkan waktu mutlak, dan itu kekal. Jika kita bayangkan bola bumi, itulah waktu terbatas.[32]
            Al-Razi sebenarnya filosof muslim yang hidup pada masa pendewaan akal secara berlebihan. Hal ini sebagaimana mu’tazilah yang merupakan aliran theologi Dalam Islam. Apabila ia seorang muslim, maka ia muslim yang tidak sempurna (tidak kaffah), karena tidak mempercayai adanya wahyu dan kenabian. Pada masanya ia dipandang sebagai pemikir ulung  yang tegar dan liberal didalam Islam. Bahkan dalam sejarah ialah satu-satunya pemikir rasional murni yang sangat mempercayai kekuatan akal bebas dari segala prasangka, dan terlalu berani dalam mengemukakan gagasan filisofinya.
            Ia seorang ber-Tuhan, dan mengaku Tuhan Maha Bijak, tetapi ia mengakui wahyu-Nya/ajara-Nya, Sebaliknya mempercayai kemajuan dan pemikiran manusia. Kita dapat mengetahui keberaniannya dalam penggunaan akal sebagai ukuran untuk menilai baik dan buruk, benar dan jahat, atau berguna, atau tidak berguna.
            Sehubungan dengan penolakan terhadap wahyu dan kenabian serta tidak mengetahui adanya semua agama, maka dipandang dari theology Islam adalah belum muslim, karena keimanan yang dipeluknya tidak konsekwen dalam pengertian tidak utuh.



BAB III
KESIMPULAN
1.      Abu Bakar Muhammad Ibn Zakariah Bin Yahya al-Razi adalah merupakan figure filosof muslim yang kelahiran Rayy (Iran) 1 sya’ban 251 H/865 M yang memiliki eksistensi kontropersial ditengah-tengah pemikiran muslim lainnya, ia merupakan ilmuan yang sangat berani dalam mengemukakan teori, begitupula doktrin falsafatnya tentang lima  yang kekal yaitu Tuhan, Jiwa Universal, Materi Pertama, ruang absolute dan waktu absolute. Disamping itu ia juga dikenal sebagai dokter sehingga ia pernah dipercayakan untuk memimpin rumah sakat Rayy.
2.      Al-Razi orang yang aktif berkarya,buku-bukunya sangat banyak, bahkan dia mempersiapkan catalog yang  diproduksi oleh ibnu al-Nadhim. Adapun buku-buku  yang ditulisnya mencakup ilmu kedokteran, ilmu fisika, logika matematika, astronomi, filsafat dan lain-lain.
3.      Pemikirannya sangat bersifat rasional dibandingkan dengan filosof muslim lainnya, meskipun demikian konstribusi pemikirannya banya memberikan aspirasi bagi pemikiran filsafat Islam.
4.      Al-Razi ber-Tuhan tapi tidak mempercayai wahyu dan kenabian dengan dasar sebagai berikut:
1.      Manusia sudah diberi akal, mampu membedakan  yang baik dan buruk, yang hak dan bukan hak, dengan kemampuan akal mempunyai potensi mengetahui Tuhan dan mengatur jalan hidup sebaik-baiknya.
2.      Setiap manusia dilahirkan dengan kecerdasan yang sama, maka tidak ada keistimewaan khusus buat seseorang untuk membimbing manusia.
3.      Para nabi saling bertentangan pada hal mereka berbicara atas nama zati Tuhan.



DAFTAR PUSTAKA
Akhyar Dasoeki, Thawil. Sebuah Kompilasi Filsafat Islam. Cet. I; Semarang: Toha Putra, 1993.
Asy’arie Musa dkk. Filsafat Islam. Cet. I; Yogyakarta: LESFI, 1992.
Arberry. The Spiritual Physik of Rhazez, diterjemahkan Nasrullah dengan judul Pengobatan Rohani. Cet. I; Bandung: Mizan, 1994.
Depag RI. Ensiklopedi Islam di Indonesia. Jilid. III; Jakarta: 1992.
Depag. Alqur’an dan Terjemahannya. Cet. I. Semarang: Toha Putra, 1989.
Madkour Ibrahim. Fi al-Falsafah al-Islamiyah Manhaj wa Tathbigun, Juz I.
Cairo: Daarul Ma’arrif.
Muhammad Amien, Miska. Epistemologi Islam Pengantar Filsafat penegetahuan Islam. Cet. I; Jakarta: UI Press, 1983.
Mustofa, Filsafat Islam. Cet. 311. Bandung: CV Pustaka Setia, 2000.
Mulyadhi Kartenegara, Filsafat Islam. Cet. II; Bandung: Mizan, 2002.
Fakhry, Majid. Filsafat Islam. Cet. II; Bandung: Mizan, 2002.
Ja’far, Muhammadiyah. Tokoh-tokoh Cendekiawan Muslim Sebagai Perintis Ilmu Pengetahuan Modern. Cet. I; Jakarta: Kalam Mulia, 1999.
Nasution, Harun. Falsafah Mistisisme dalam. Cet. IX; Jakarta: PT. Bulan Bintang 1995.
Qadir, C.A.Philosophy and Science in the Islamic Word. Diterjemahkan Hasan Basri dengan judul Filsafat dan Ilmu pengetahuan dalam Islam. Cet. II; Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 1991
Sudarsono. Filsafat Islam. Cet. I; Jakarta: PT. Rineka Cipta, 1991
Sunanto, Musyrifah. Sejarah Islam Klasik. Cet. I; Bogor: Prenada Media, 2003
Syarif, M.M. Para filosof Muslim. Cet. VIII; Bandung: Mizan, 1996.  


[1]  Ibrahim Madkour, Fi al-Falsafah al-Isalmiyah, diterjemahkan oleh Yudian Wahyudi dengan judul Filsafat Islam (Cet. IV; Jakarta: PT. Raja Garpindo persada, 1996), h. 13.  
[2] Musofa, Filsafat Islam (Cet. III; Bandung: Pustaka setia, 2007), h. 20.
[3] Depag, Ensiklopedia Islam di  Indonesia Jilid. III (Jakarta: 1999), h. 996.
[4] Abu Bakar Muhammad Ibn Zakariyah al-Razy, Rasailu Falsafah (Cet. V; Beirut, Dar al-Afaq al-jadidah, 1982 M/1402 H), h.I
[5] Sirajuddin Zar, Filsafat Islam (Cet, I; Jakarta: Raja Grapindo Persada, 2004), h. 114.
[6] M.M. Syarif, Para Filosof Muslim (Cet. VIII;Bandung: 1996), h. 31  
[7] C. A. Qadir, Philosophy and the Islamic World, diterjemahkan Hasan Basri, Filsafat dan Ilmu Penegtahuan dalam Islam (Cet. II; Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 1991), h. 214
[8] Mustopa, Op. Cit, h. 116
[9] Muhammadiyah Ja’far, Tokoh-tokoh Cendekiawan Muslim (Cet. I;Jakarta: Kalam Mulia, 1999), h. 71
[10] Mustopa, Op. Cit, h. 116
[11] Arberry, The Spiritual Physik of Rhazez, diterjemahkan oleh Nasrullah dengan judul Pengobatan Rohani (Cet. I;Bandung: Mizan, 1994), h. 19
[12] M.M. Syarif, Op. Cit, h. 33
[13] Sudarsono, Filsafat Islam (Cet, I;Jakarta: PT. Reneka Cipta, 1997), h. 54
[14] Majid Fakhry, Filsafat Islam (Cet. II; bandung: Mizan, 2002), h. 36
[15] Mustofa, Op. Cit, h. 117
[16] M.M. Syarif, Op. Cit, h. 35
[17] Mulyadhi Kartanegara, Filsafat Islam (Cet. II;Bandung: Mizan, 2002), h. 40
[18]  Miska Muhammad Amin,  Epistemologi Islam Pengetahuan Filsafat Ilmu Pengetahuan Islam (Cet. I;Jakarta: UI Press, 2006), h. 23
[19] Musa, Asy’ary dkk. Filsafat Islam (Cet, I; Yogyakarta: LESFL, 1992), h. 22  
[20] Miska Muhammad Amin, Op. Cit., h. 23
[21] Kamil Muhammad ‘Aridhah, Abu Bakar al-Razy al-Filosof al-Thibb (Cet. I;Beirut: Darul Kitab al-Ilmiyah, 1993 M/1413 H), h. 48
[22] Madkour Ibrahim, Fi al-Falsafah al-Islamiyah Manhaj wa Tathbigun, Juz I (t.Cet. Cairo: Darul Ma’arif, t.th), h. 91  
[23]  Abu Bakar Muhammad Ibn Zakariyah al-Razy, Op. Cit., h. 195
[24] Depag, Ensiklopedi, Op. Cit., h. 997
[25] Depag, Alquran dan Terjemahannya (t.Cet, Jakarta: Toha Putra, 1989), h. 714
[26] Syarif, M.M, Op. Cit., h. 43
[27] Mustofa, Op. Cit., h. 121
[28] Sudarsono, Op. Cit, h. 59
[29] Syarif, Op. Cit., h. 44
[30] Harun Nasution, Filsafat dan mistisisme dalam Islam (Cet. IX; Jakarta: Bulan Bintang, 1995), h. 22
[31] Thawil Akhyar Dasoeki, Sebuah Kompilasi Filsafat Islam (Cet. I; Semarang: Dina Utama, 1993), h.24
[32] Ibid., h. 22

0 komentar:

Poskan Komentar

apakah anda tidak menemukan yang anda cari??? silahkan tuliskan sesuatu yang anda cari itu....

FACEBOOK COMENT

ARTIKEL SEBELUMNYA

 
Blogger Templates