Sabtu, 28 Mei 2011

ILMU DAN PERTIMBANGAN NILAI

BAB I
PENDAHULUAN
A.                Latar Belakang  Masalah
Manusia merupakan makhluk yang berpikir yang selalu memiliki dorongan keingin tahuan, apakah masalah-masalah realitas alam, masalah teologi, dan bahkan manusia memikirkan potensi dirinya.[1] Dari dorongan rasa ingin tahu manusia, maka pada perkembangan terkemudian ia dikenal dengan Filsafat.[2]
Para ahli logika mengatakan bahwa ketika seseorang menanyakan pengertian (hakikat) sesuatu, sesungguhnya ia telah bertanya tentang bermacam-macam perkara. Kadang-kadang seseorang mempertanyakan konseptual sepatah kata. Maksudnya ketika ia bertanya apakah sesuatu itu, ia sebenarnya sedang menanyakan pengertian kata itu sendiri.[3] Dari sinilah manusia mulai merumuskan berbagai teori tentang kebenaran ilmiah terhadap suatu ilmu atau pengetahuan.
Perkembangan filsafat sejak zaman Yunani kuno  sampai sekarang, telah banyak aliran filsafat yang memiliki  ciri khas masing-masing, sesuai dengan metode yang dipergunakan dalam rangka memperoleh kebenaran. kecenderungan aliran filsafat dalam menerapakan metodenya masing dan menganggap bahwa satu-satunya cara yang paling tepat untuk berfilsafat sehingga terkadang menimbulkan pertentangan sengit diantara para penganut  aliran filsafat tersebut. Dalam satu aliran terdapat kelemahan-kelemahan dan ketika muncul aliran sebelumnya dan, bahkan  mengoreksi aliran filsafat tersebut.[4]
Perdebatan filosofis diantara filosof terjadi sekitar pengetahaun manusia yang menduduki pusat permasalahan didalam filsafat, terutama filsafat modern. Pengetahuan manusia adalah titik tolak  kemajuan filsafat,, untuk membina filsafat yang kukuh tentang alam semesta (universe) dan dunia. Jika sumber-sumber pemikiran manusia, kriteria-kriteria, dan nilai-nilainya tidak ditetapkan, tidaklah  mungkin melakukan studi apa pun, bagaimana pun bentuknya.
Salah satu perdebatan besar itu ialah diskusi yang mempersoalkan sumber-sumber dan asal usul ilmu pengetahuan. Hal ini didasari oleh pertanyaan-pertanyaan: Bagaimana ilmu pengetahuan itu muncul dalam diri manusia? Bagaiman kehidupan intelektualnya tercipta, termasuk konsep-konsep (nations) yang muncul sejak dini? Dan apakah sumber yang memberikan manusia arus pemikiran dan pengetahuan?
Setiap manusia  tentu mengetahui berbagai hal dalam kehidupan, dan dalam dirinya terdapat bermacam-macam pemikiran dan pengetahuan. Permasalahannya adalah bagaimana kita “meletakkan tangan kita diatas garis primer” pemikiran dan atas sumber umum pengetahuan pada umumnya.[5]
Dari perkembangan selanjutnya, pengetahuan manusia kemudian dirumuskan menjadi sebuah istilah yang disebut “ilmu”. Istilah ini dalam filsafat menjadi perdebatan panjang antara istilah pengetahuan yang disebut “ilmu” dan “sains”.
Menurut Muliadi Kartanegara, pembahasan tentang epistemology[6] (teori pengetahuan) dimulai dengan penjelasan tentang  definisi “sains” yang biasanya dibedakan dengan pengetahuan (knowledge). Namun, itu dianggap tidak pernah jelas, misalnya, apakah sains (scince) itu sama atau berbeda dengan ilmu (‘ilm). Istilah ini dipandang sama dengan sains , tetapi kadang justru disamakan dengan knowledge atau pengetahuan. Istilah ilmu pengetahuan terkadang dipakai untuk merujuk sains yang dibedakan dengan pengetahuan (knowledge).[7]
Pada awalnya ilmu dan sains mempunyai pengertian yang sama, bahkan juga lingkup yang sama. Namun, kemudian sains membatasi dirinya  pada dunia fisik (dengan segala kompleksitasnya), sedangkan ilmu masih tetap meliputi tidak hanya bidang fisik, tetapi juga bidang matematika dan metafisika.[8]
Dari sekian abad perkembangan ilmu pengetahuan, ilmu merupakan sesuatu yang paling penting bagi manusia, karena dengan Ilmu semua kebutuhan atau keperluan manusia bisa tecapai lebih cepat dan lebih mudah. Dan merupakan kenyataan yang tidak bisa dipungkiri bahwa peradaban manusia sangat berhutang pada ilmu pengetahuan. Ilmu telah banyak merubah wajah dunia seperti hal memberantas penyakit, kelaparan, kemiskinan, dan berbagai wajah kehidupan yang sulit lainnya. Dengan kemajuan iImu juga manusia bisa merasakan kemudahan lainnya seperti transportasi, pemukiman, pendidikan, komunikasi, dan lain sebaginya. Singkatnya ilmu merupakan sarana untuk membantu manusia dalam mencapai tujuan hidupnya.[9]
Kemudian timbul pertanyaan, apakah ilmu merupakan berkah dan penyelamat bagi manusia? Dan memang sudah terbukti dengan kemajuan Ilmu pengetahuan, manusia dapat menciptakan berbagi macam bentuk teknologi. Misalnya, pembuatan bom yang pada awalnya untuk memudahkan kerja manusia, namun kemudian dipergunakan untuk hal-hal yang bersifat negatif. Di sinilah ilmu diletakkan secara proporsional dan memihak pada nilai-nilai kebaikan dan kemanusiaan . Sebab, jika ilmu tidak berpihak pada nilai-nilai, maka yang terjadi adalah bencana dan malapetaka.[10] Di pihak lain perkembangan ilmu pengetahuan seiring dengan perkembangan dan kebutuhan manusia, namun justru sebaliknya manusialah yang akhirnya menyesuaikan diri dengan teknologi.[11]
B.                 Rumusan Masalah    
Dari latar belakang diatas dapat dirumuskan permasalahan yang akan dibahas dalam makalah ini, sebagai berikut :
1.      Pengertian Ilmu?
2.      Sumber dan cara memperoleh ilmu pengetahuan
3.      Ilmu dan perimbangan nilai (aksiologi)?



BAB II
PEMBAHASAN
A.      Pengertian Ilmu
Kata ilmu berasal dari bahasa Arab : ‘alima – ya’lamu – ‘ilman, dengan wazan – fahima yafhamu yang berarti : mengerti, memahami, memahami benar-benar. Asmu’i telah memahaminya dengan bahasa filsafat.[12]
Dalam bahasa Inggris science, dari bahasa latin disebut scientia (Pengetahuan), scire (mengetahui). Sinonim yang paling dekat dengan bahasa Yunani adalah episteme.[13] Sedangkan dalam kamus bahasa Indonesia, pengertian ilmu adalah pengetahuan tentang bidang yang disusun secara bersistem menurut metode-metode tertentu, yang dapat digunakan untuk menerangkan gejala-gejala tertentu di bidang (pengetahuan) itu.[14]
Adapun menurut para ahli, definisi ilmu, antara lain :
1.      Mulyadi Kartanegara[15], ilmu didefinisikan sebagai pengetahuan tentang sesuatu sebagaimana adanya.
2.      Mohammad Hatta : ilmu adalah pengetahuan yang teratur tentang pekerjaan kausal dalam suatu golongan masalah yang sama tabiatnya, maupun menurut tampak dari luar, maupun menurut bagian dari dalam.[16]
Pembahasan tentang ilmu, sumber (asal) dan cara memperoleh ilmu merupakan pembahasan panjang  dan amat penting dalam filsafat. Cabang filsafat yang secara khusus membahas masalah ini adalah epistemologi.
Istilah epistemologi berasal dari bahasa Yunani, terdiri dari dua suku kata, episteme yang berarti pengetahuan (knowledge)[17], logos berarti teori[18], pengetahuan, informasi[19], uraian atau ulasan[20]. Sehingga dapat dikatakan teori tentang pengetahuan, atau pengetahuan tentang pengetahuan. Jhon. M. Echols dan Hassan Sadily, mengartikannya sebagai bagian filsafat yang membahas tentang asal.[21]
Secara terminology, epistemology menurut :
1.      Langeveld : Teori pengetahuan  yang membicarakan tentang hakikat pengetahuan, unsur-unsur pengetahuan dan susunan berbagai jenis pengetahuan, pangkal tumpuannya yang pundamental, metode-metode dan batasan-batasannya.[22]
2.      Jujun S. Sumantri : Pembahasan secara mendalam segenap proses yang terlihat dalam usaha memperoleh ilmu pengetahuan.[23]
3.      Harun Nasution, dalam bukunya Filsafat Agama: ilmu yang membahas apa pengetahuan itu dan bagimana memperolehnya.[24]
4.      Paul Monroe’s: the theory or doctrine of knowledge, more especially, an account of the possibility of true or valid knowledge, of its nature and extent or limits.[25]
Dari pengertian diatas, dapat disimpulkan bahwa pengertian epistemology  adalah teori pengetahuan tentang bagimana memperoleh pengetahuan dengan melalui proses tertentu sehingga apa yang telah didapatkan dapat diterapkan dan diakui bahwa itu adalah suatu ilmu.
B.           Sumber dan Cara pengambilan Ilmu
Dalam hidup dan kehidupannya, manusia melihat masalah, lalu memikirkannya dan melakukan observasi dengan cermat kemudian menghubung-hubungkan hasil pengamatannya itu.
Menurut para ahli ilmu pengetahuan, sumber ilmu pengetahuan didasarkan pada:
1.      Empiric/Indrawi
Empirik berasal dari bahasa Yunani empiria, yang berarti pengalaman[26]. Dari sini memunculkan istilah empirisme yaitu faham yang mengatakan bahwa penginderaan adalah pengetahuan manusia berasal dari pengalaman manusia itu sendiri, melalui dunia luar yang ditangkap oleh panca indera.[27]
Menurut M. Baqir Al-shadr, teori empirical/empirisme berpendapat bahwa satu-satunya yang membekali  akal manusia dengan konsepsi-konsepsi dan gagasan-gagasan, dan (bahwa potensi akal budi) adalah potensi yang tercerminkan dari berbagai persepsi inderawi.[28] Jadi, ketika menginderawi sesuatu, kita dapat memiliki suatu konsepsi tentangnya, yakni from dari sesuatu itu dalam akal budi. Adapun gagasan-gagasan yang tidak terjangkau oleh indera, tidak dapat diciptakan oleh jiwa, tidak pula dapat dibangun secara esensial dan dalam bentuk berdiri sendiri.
Bagi teori empirisme, pengalaman inderawi adalah satu-satunya sumber penjamin kepastian kebenaran pengetahuan. Adapun metode yang digunakan adalah metode verifikasi-induktif.[29]
Tokoh-tokoh  utama empirisme yang paling berpengaruh diantaranya adalah David Hume, Jhon Lucke, dan Bishop Barkeley. Jhon Lucke misalnya adalah penentang utama teori rasionalisme dan merupakan lawan dari Descartes dengan mengatakan bahwa ide bawaan adalah omong kosong.[30]
2.      Rasio/Akal
Rasio atau akal adalah sumber pengetahuan. Oleh sebab itu, dari pahaman ini menimbulkan pemahaman rasionalisme, yaitu paham yang mengemukakan  bahwa sumber pengetahuan manusia adalah pikiran, rasio/akal, dan jiwa.[31] Rasionalisme menekankan akal sebagai sumber utama pengetahuan manusia dan pemegang otoritas terakhir bagi penentuan kebenaran. Manusia dengan akalnya memiliki kemampuan untuk memiliki struktur dasar alam dunia ini secara apriori. Pengetahuan diperoleh tanpa melalui pengalaman inderawi.[32] Singkatnya, kaum rasionalisme mengatakan bahwa sumber pengatahuan manusia adalah akal atau ide. Mereka tidak mendapatkan alasan munculnya sejumlah gagasan dan persepsi dari indera, karena memang ilmu bukan konsepsi-konsepsi inderawi maka ia harus digali secara esensial dari libuk jiwa.[33]     
Tokoh utama dari teori ini adalah Rene Descartes (1596-1650) dan Immanuel Kant (1724-1804).[34] Kedua tokoh ini sangat mendewakan akal budi, sehingga melahirkan paham intelektualisme dalam dunia pendidikan.[35]
Rasionalisme menekankan bahwa sumber satu-satunya dari pengetahuan manusia adalah rasionya. Bagi paham ini, rasio mampu mengetahui kebenaran alam semesta yang tidak mungkin dapat diketahui dengan melalui observasi. Paham ini membantah paham empirisme, yakni pengalaman tidak mungkin dapat menguji kebenaran “hukum sebab akibat”, sebab peristiwa yang banyak tak terhingga itu tidak mungkin dapat diobservasi. Pengalaman hanya sampai menggambarkan, tetapi tidak dapat dibuktikan.[36]
3.      Intuisi/hati
Kata intuisi berasal dari bahasa inggris intuition yang berarti gerak hati[37], langsung melihat.[38] Pentingnya pengetahuan yang diperoleh dengan intuisi adalah bahwa pengetahua itu bukanlah pengetahuan yang berasal dari luar diri kita yang bersifat dangkal, melainkan dari dalam diri kita.[39]
Dari sini melahirkan paham intuisionisme, yaitu paham yang berpendapat bahwa manusia mempunyai kemampuan khusus, yaitu cara khusus untuk mengetahui yang tidak terikat kepada kemampuan indera maupun penalaran.[40]
Pengetahuan  intuitif adalah jenis pengetahuan yang memuat pemahaman secara cepat. Menurut Archie Bahm adalah nama yang kita berikan pada cara pemahaman kesadaran ketika pemahaman itu berwujud penampakan langsung.[41] Ia menegaskan bahwa tidak ada pengintuisian tanpa melibatkan kesadaran, begitu juga sebaliknya. Sedangkan Murtadha Muthahhari mempersamakan intuisi dengan fislsafat akhlak/etika.[42]
4.      Wahyu
Wahyu adalah pengetahuan yang disampaikan oleh Tuhan (Allah) kepada manusia lewat para Nabi dan Rasul-rasul-Nya. Wahyu ini dikondifikasikan dalam tiga buah kitab suci yaitu; Taurat, Injil, dan Al-qur’an.
Wahyu Tuhan (agama) berisikan pengetahuan baik mengenai kehidupan seseorang yang terjangkau oleh empirik  maupun yang mencakup permasalahan yang transcendental, seperti latar belakang dan tujuan penciptaan manusia, dunia dan segenap isinya serta kehidupan diakhirat nanti. Pengetahuan ini berdasarkan kepercayaan atau keimanan kepada Tuhan sebagai sumber pengetahuan.[43]
Menurut Murtadha Muthahhari, semua sumber ilmu pengetahuan telah disampaikan oleh Al-qur’an sebagai wahyun dari Tuhan, baik itu yang empiris, rasio/akal, maupun sesuatu yang melampaui keduanya. Hal ini digambarkan dalam Al-qur’an
وَاللَّهُ أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لَا تَعْلَمُونَ شَيْئًا وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
Terjemahannya:
Dan Allah mengeluarkan dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu apapun, dan Dia member kamu pendengaran, pengelihatan dan hati, agar  kamu bersyukur. (Q.S. an-Nahl: 78)

            Dalam ayat ini Allah SWT telah menganugerahi manusia untuk mengkaji alam dan telah member hati nurani/akal dan daya analisis agar manusia dapat meneliti realitas-realitas segala sesuatu untuk mengetahui segala hukum-hukum yang segala sesuatu itu.[44] Dalam ayat ini, masih menurutnya, pendengaran dan pendengaran adalah dua alat indera yang sangat penting untuk mendapatkan pengetahuan primer yang tidak mendalam. Sedangkan hati/akal secara teknis digambarkan sebagai alat untuk memperoleh pengetahuan yang mendalam dan logis. Dan juga Al-qur’an mengakui ketakwaan dan kesucian jiwa sebagai sarana untuk mendapatkan pengetahuan.[45]
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَتَّقُوا اللَّهَ يَجْعَلْ لَكُمْ فُرْقَانًا وَيُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ
Terjemahannya:
Hai orang-orang beriman, jika kamu bertaqwa kepada Allah, kami akan memberiakan kepadamu Furqan. Dan akan kami jauhkan dirimu dari kesalahan-kesalahanmu dan mengampuni dosa-dosamu. Dan Allah mempunyai karunia besar. (QS: al-Anfal: 29)

C.    Ilmu dan Pertimbangan Nilai (Aksiologi)
Pembahasan tentang nilai sebuah ilmu filsafat dibahas dalam cabang filsafat yang disebut aksiologi. Aksiologi berasal dari perkataan axios (Yunani) yang berarti layak, pantas. Dan logos berarti ilmu, teori.[46] Dalam bahasa inggris axsiology artinya teori umum tentang nilai, norma, martabat.[47]
Adapun beberapa defenisi  aksiologi secara terminilogy sebagai berikut:
Ø Jujun S. Sumantri: teori nilai yang berkaitan dengan kegunaan dari pengetahuan yang diperoleh.[48]
Ø Loren’s Bagus, mencatat beberapa pengertian dalam bukunya Kamus Filsafat  sebagai berikut:
·            Aksiologi merupakan analisis nilai-nilai. Maksudnya ialah membatasi arti, ciri-ciri, asal, tipe, criteria dan status epistemologis dari nilai-nilai itu.
·            Aksiologi merupakan studi yang menyangkut teori umum tentang nilai atau suatu studi yang menyangkut segala yang bernilai.
·            Aksiologi adalah studi filsofis tentang hakikat nilai-nilai. Pertanyaan mengenai hakikat nilai ini dapat dijawab dengan tiga cara: 1) nilai sepenuhnya berhakikat subjektif. Dari sudut pandang ini, nilai-nilai merupakan reaksi-reaksi yang diberikan oleh manusia sebagai pelaku. Pengikut teori idealisme subyektif (positivisme logis, emotivisme analisis linguistic dan etika) menganggap nilai sebagai pengungkap perasaan psikologis, sikap subyektif manusia kepada objek yang dinilainya. 2) nilai-nilai merupakan kenyataan namun tidak terdapat dalam ruang dan waktu. Nilai-nilai merupakan esensi-esensi logis dan dapat diketahui akal. 3) nilai-nilai merupakan unsur-unsur objektif yang menyusun kenyataan.[49]
·         Aksiologi: teori nilai, penyelidikan mengenai kodrat, kriteria dan status metafisik dari nilai dalam pemikiran filsafat Yunani, studi mengenai nilai ini mengedepankan dalam pemikiran Plato mengenai idea tentang kebaikan atau lebih dikenal summum Bonum.[50]
Lapie dalam bukunya Logique de La Volonte dan F. Von Hartman dalam bukunya Grundrider Axiologie.[51] Teori tentang nilai dibagi menjadi: a) nilai etika, b) nilai estetika.
a.               Etika
Istilah etika berasal dari kata ethos (Yunani) yang artinya adat kebiasaan. Dalam istilah lain, para ahli istilah menyebutnya dengan moral. Walaupun antara kedua istilah itu ada perbedaannya, namun para ahli tidak membedakannya secara tegas, bahkan cenderung untuk memberi arti yang sama secara  praktis. [52]
b.               Estetika
Estetika merupakan nilai-nilai yang berhubungan dengan kreasi seni, dengan pengalaman-pengalaman yang berhubungan dengan seni dan kesenian. Kadang-kadang estetika diartikan sebagai filsafat seni, dan kadang-kadang dinyatakan sebagai hakikat keindahan. Tetapi sesungguhnya konsep keindahan hanya satu saja dari sejumlah konsep dalam filsafat seni.[53]
           Problem utama aksiologi berkaitan dengan empat factor penting sebagai berikut:
1.   Kodrat nilai berupa problem mengenai; apakah nilai itu berasal dari keinginan (Voluntarisme: Spinoza), kesenangan (Hedonisme: Epicurus, Bentham, Meinong), kepentingan (Terry), pereferensi (Martniea), keinginan rasio murni (Kant), pemahaman kualitas tersiar (Santanaya), pengalaman sineptik kesatuan kepribadian (Personalisme: Green), berbagai pengalamman yang mendorong semangat (Nieztche), relasi benda-benda sebagai sarana untuk mencapai tujuan, atau konsekuensi yang sungguh amat dijangkau (Pragmatisme: Deway).
2.   Jenis-jenis nilai menyangkut perbedaan pandangan antara nilai intrinsik, ukuran untuk kebijaksanaan nilai itu sendiri. Nilai-nilai instrumental yang menjadi penyebab (baik barang-barang ekonomis atau peristiwa-peristiwa alamiah) mengenai nilai intrinsik.
3.   Kriteria nilai, artinya ukuran untuk menguji nilai yang dipengaruhi sekaligus oleh teori psikologi atau logika. Penganut hedonisme menemukan ukuran bahwa ukuran nilai terletak pada kenikmatan yang dilakukan oleh seseorang atau masyarakat. Penganut institusionis menonjolkan suatu wawasan yang paling akhir dalam keutamaan. Beberapa penganut idealis mengakui system obyektiif norma-norma rasional atau norma-norma ideal sebagai kriteria. Penganut naturalis menemukan keunggulan biologis seukuran standar.
4.    Status metafisika nilai mempersoalkan tentang bagaimana hubungan terhadap fakta-fakta yang diselidiki melalui ilmu-ilmu kealaman, kenyataan terhadap keharusan pengalaman manusia tentang nilai pada realitas kebebasan manusia.[54]
  Dari problem-problem di atas melahirkan tiga jawaban penting yaitu:
Ø  Subyektifitas menganggap bahwa nilai merupakan suatu yang terkait pada pengalaman manusia seperti halnya hedonisme, naturalisme, dan positivisme.
Ø  Obyektifitas logis menganggap bahwa nilai merupakan hakikat atau subsistensi logis yang bebas dari keberadaan yang diketahui. Tanpa status eksistensi atau tindakan dalam realitas
Ø Subyektifitas metafisik menganggap bahwa nilai norma adalah integral, obyektif dan unsur-unsur aktif kenyataan metafisik seperti yang dianut oleh theisme, absolutism, realisme.[55]


BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Ilmu adalah pengetahuan tentang suatu bidang yang disusun secara bersistem menurut metode-metode tertentu, yang dapat digunakan untuk menerangkan gejala-gejala tertentu dibidang (pengetahuan) itu.
Oleh karena itu, memahami ilmu maka secara bertahap akan dikaji melalui permasalahan dari mana sumber dan cara memperoleh ilmu (epistemologi) serta bagaimana pertimbangan nilai suatu ilmu (aksiologi).
Epistemology merupakan cabang filsafat yang membahas tentang teori pengetahuan tentang bagaimana memperoleh pengetahuan dengan melalui proses tertentu sehingga apa yang telah didapatkan dapat diterapkan dan dapat diakui bahwa itu adalah suatu ilmu. Sedangkan aksiologi adalah cabang filsafat yang membahas tentang nilai, baik dan buruk, serta tujuan dan kegunaan dari suatu ilmu. Didalamnya dihubungkan pada etika dan estetika.


DAFTAR PUSTAKA
Ahmad W. Munawwir, Al-Munawwir: Arab-Indonesia, (Yogyakarta: PP. Al-Munawwir Krapyak, 1994)
Amsal Bahtiar, Filasafat Ilmu, (Cet. I; Jakarta: P.T. Raja Grafindo Persada, 2006)
Armai Arief, Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam, (Cet. I; Jakarta: Press, 2002)
Burhanuddin Salam, Logika Material; Filsafat Ilmu Pengetahuan, (Cet. I; Jakarta: Rineka Cipta, 1997)
Darmawati Hanafi, Teori-Teori Epistemologi; Rasionalisme Kritik, Fenomenologi, dan Intutionisme, dalam jurnal Wawasan Keislaman fakultas ushuluddin; Sulasena, Vol. I, 2006
Donny Gahral Adian, Menyoal Obyektivisme Ilmu Pengetahuan: Dari David Hume sampai Thomas Khan, (Cet. I; Jakarta: teraju, 2002)
Jaques Ellul, The Technologica
l Society, (New York: Afired Knof, 1964)
Jhon M. Echols, Hassan Sadliy, Kamus Inggris-Indonesia, (Cet. VIII; Jakarta: Gramedia, 1996)
Juhaya S. Praja, Aliran-Aliran Filsafat Dan Etika, (Cet. II; Jakarta: Kencana, 2005)
Jujun S. Sumantri, Filsafat Ilmu; Sebuah Pengantar Populer, (Cet. I; Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1998)
                                           , ilmu dalam prespektif, (Cet. IX; Jakarta: Yayasan Otor Indonesia, 1991)
Loren’s Bagus, Kamus Filsafat, (Cet. III; Jakarta: Gramedia, 2002)
Mochtar Efendi, Ensiklopedi Agama dan Filsafat, Jilid I (Cet. I; Palembang: Universitas Sriwijaya, 2000)


[1]Lihat Darmawati Hanafi, Teori-Teori Epistemology; Rasionalisme Kritik, Fenomenologi, dan Intutionisme, dalam Jurnal Wawasan Keislaman Fakultas Ushuluddin; Sulasena, Vol.I, 2006, h. 17.
[2]Filsafat dalam arti umum bukan merupakan cabang ilmu, yaitu segalla keingintahuan manusia atau pertanyaan-pertabyaan mendasar yang muncul dan pikiran-pikiran tentang segala yang ada, baik berupa materi maupun non-materi, dunia fisik maupun metafisik.
[3]Murthadha Muthahhari, Filsafat Hikmah; Pengantar  Pemikiran Syadra,diterjemahkan dari beberapa sumber karyanya oleh Tim Penerjemah Mizan, (Cet. I; Bandung: Mizan, 2002), h. 43
[4] Lihat Rizal muntasyir, Filsafat Analistik (Cet. I; Jakarta: Rajawali, 1987), h. 1.
[5] Muhammad Baqir al-Syadr, Falsafatuna; dirasah maudhu’iyah fi Mu’tarak al-Shira’ al-Fiqh al-Qaim baina Mukhtalaf al-Thayaratal-Falsyafiyahwa al-Falsyafah al-Islamiyyah wa al-Maddiyah al-Diyaliktikiyyah (al-Marksiyyah), diterjemahkan oleh M. nur Mufid bin Ali dengan Falsafatuna: Pandangan M. Baqir al-Shadr Terhadap Berbagai Aliran Filsafat Dunia, (Cet. V; Bandung: Mizan, 1998), h. 25
[6]Salah satu cabang filsafat yang secara khusus membahas tentang pengetahuan dan hal yang berkaitan dengannya. Episteme berasal dari bahasa Yunani yang berarti “pengetahuan” sedangkan logos berarti ilmu, teori. Lihat Subari Yanto, Azaz Filsafat Ilmu, (Universitas Negeri Makassar, t.th), h. 10.
[7]Lihat Mulyadi Kartanegara, Menyibak Tirai Kejahilan; Pengantar Epistemologi Islam, (Cet. I; Bandung: Mizan, 2003), h. 1. 
[8]Ibid.
[9]Lihat Amsal Bahtiar, Filsafat Ilmu, (Cet. I; Jakarta: P.T. Raja Garfindo Persada, 2006), h. 162

[10]Ibid.
[11] Jaques Ellul, The Technological Society, (New York: Afired Knof, 1964), h.2.
[12]Ahmad W. Munawwir , Al-Munawwir: Arab Indonesia, (Yogyakarta: PP. Al-Munawwir Krapyak, 1994), h. 1036.
[13]Jujun S. Sumantri, Filsafat Ilmu; Sebuah Pengantar Populer, (Cet. I; Jakarta : Pustaka Sinar Harapan, 1998), h. 324.  
[14]Wihadi Atmojo, et.al. Kamus Bahasa Indonesia, (Cet. I; Jakarta: Balai Pustaka, 1998), h. 324.
[15]Mulyadi merumuskan definisi ilmu setelah mengkaji berbagai perdebatan istilah science dan knowledge. Lihat Muliadi Kartanegara, Loc. Cit.
[16]Lihat Subari Yanto, Loc. Cit., Burhanuddin Salam , Logika Material; Filsafat Ilmu Pengetahuan, (Cet. I; Jakarta: Rineka Cipta, 1997), h. 97. Armai Arief, Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam, (Cet. I: Jakarta: Ciputat Press, 2002), h. 4. 
[17]Armai Arif, Loc. Cit., Burhanuddin Salam, Loc. Cit., Juhaya S. Praja, Aliran-Aliran Filsafat dan Etika, (Cet. II; Jakarta: Kencana, 2005),  h. 87.
[18]Lihat Loren’s Bagus, Kamus Filsafat, (Cet. III; Jakarta: Gramedia, 2002), h. 212.
[19]Lihat Armai Arief, Loc. Cit.
[20]Jhon M. Echols, Hassan Sadily, Kamus Inggris-Indonesia, (Cet. XIII; Jakarta: Gramedia, 1996), h. 217.
[21]Burhanuddin Salam, Loc. Cit.
[22]Lihat jujun S. Sumantri, Ilmu dan Perspektif, (Cet. IX; Jakarta: Yayasan Otor Indonesia, 1991), h. 217.
[23]Armai Arief, Op. Cit.
[24]Lihat Paul Monroe’s, Encyclopedia of Philosophy of Education, Vol. I (New Delhi: Cosmo Publication, 2001), h. 250.
[25]Lihat Donny Gahral Adian, Menyoal Obyektivisme Ilmu Pengetahuan: Dari David Hume Sampai Thomas Khan, (Cet. I: Jakarta: Teraju, 2002), h. 48. 
[26]Lihat Armie Arief, Op. Cit. h. 5.
[27]Lihat M. Baqir al-shadr, Op. Cit., h. 31-32.
[28]Donny Gahral Adian, Op. Cit.
[29]Lihat ibid.
[30]Armai Arief, Loc. Cit.
[31]Donny G. Adian, Op. Cit., h. 43-44.
[32]M. Baqir al-shadr, Op. Cit., h. 29-30.
[33]Lihat ibid.
[34]Burhanuddin Salam, Op. Cit., h. 101
[35]Ibid.
[36]Lihat Darmawati, Op. Cit., h. 25.
[37]Burhanuddin Salam,Op. Cit., h. 102.
[38]Lihat Ibid.
[39]Lihat Ibid.
[40]Subri Yanto, Op. Cit., h. 19.
[41]Burhanuddin Salman, Op. Cit., h. 103.
[42]Murtadha Muthahhari, Falsafah Ahklak, diterjemahkan oleh Faruq bin Dhiya’ dengan filsafat ahklak; Kritik atas konsep Moralitas Barat, (Cet. I; Bandung: Pustaka Hidayah, 1995), h. 89.
[43]Lihat ibid.
[44] Lihat Murtadha Muthahhari, Man and Universe, diterjemahkan oleh Ilyas Hasan dengan judul Manusia dan Alam semesta; Konsepsi Islam tentang Jagad Raya, (Cet. IV; Jakarta: 2006), h. 183-185.
[45]Lihat ibid.
[46] Loreng Bagus, Kamus Filsafat, Op. Cit, h. 33.
[47] Lihat Mochtar Effendi, Ensiklopedi Agama dan Filsafat, Jilid I (Cet. I; Palembang: Universitas Sriwijaya, 2000), h. 145.
[48] Lihat Jujun S. Sumantri, Filsafat Ilmu…, Op. Cit., h. 234
[49] Lihat Loreng Bagus, OP. Cit., h. 33-34.
[50] Lihat Subari Yanto, Op, Cit., h. 20.
[51] Lihat ibid
[52] Ibid
[53] Ibid
[54] Subari Yanto, Op. Cit., h. 20-22
[55] Ibid

0 komentar:

Poskan Komentar

apakah anda tidak menemukan yang anda cari??? silahkan tuliskan sesuatu yang anda cari itu....

FACEBOOK COMENT

ARTIKEL SEBELUMNYA

 
Blogger Templates