Minggu, 22 Mei 2011

ASPEK PENGENALAN DIRI DALAM TASAWUF

oleh : Imam Zarkasyi Mubhar. S. Th. I
Aspek Akal dan Kedudukannya
Kemajuan peradaban manusia pada starata materi telah mencapai puncaknya. Terbentang dari masa lampau akan sederhananya perangkat pergerakan  manusia sampai mata dapat melihat gemerlapnya dunia di atas kecanggihan teknologi saat ini. Kesemuanya itu terjadi diakibatkan oleh bingkai ekspresi dan imajinasi akal yang dimiliki oleh manusia.
Sebagaimana yang disepakati bahwa fungsi akal adalah mendefenisikan segenap materi yang ditangkap melalui penginderaan manusia di alam nyata. Dengan sebab itulah pada saat bersamaan akal pun memiliki desakan untuk mengeksplorasi secara progresif dan kritis terhadap bentuk dan pola hidupnya.
Walaupun dalam kemajuan materi yang sangat tinggi dan kehidupan  dengan finansial berada dalam taraf yang mapan, manusia pada akhirnya tetap lebih banyak yang menemukan kebahagiaan dan ketenangan hidup, padahal mereka sangat membutuhkan hal tersebut. Kenyataan ini telah menjadi telah menjadi pemandangan yang sangat nyata bagi sebuah peradaban moderen yang di ciptakan oleh manusia. Padahal dalam falsafah hidup manusia moderen tingkat kemajuan materi dalam sebuah garus seiring dan sejalan dengan semakin sempurnanya kebahagiaan yang  mereka peroleh, akan tetapi kenyataannya tidak demikian.[1]

 
Memang sangat ironis ketika kita mempermasalahkan tentang kemajuan dunia materi beserta segenap implikasinya sebab dalam kaidah akal hal tersebit adalah merupakan kebutuhan zaman. Namun dengan demikian al-Qur'at telah memngingatkan tentang peringatan Allah yang bermuara pada permasalahan tentang amanah yang kemudian ditafsirkan oleh sebahagian ulama sebagai akal, Allah berfirman :

Terjemahannya: "Sesungguhnya kami Telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, Maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh.[2]
Dalam menafsirkan ayat di atas sebahagoian ulama telahj sepakat bahwa yang dimaksud dengan amanah pada ayat tersebut adalah akal. Ibnu Katsir dalam tafsirnya telah menjelaskan sebagaimana yang dikutip oleh K.H. M. Ali Usman dan kawan-kawan bahwa:
Ketika Adam a.s baru saja diciptakan, maka amanah ditawarkan kepada langit, bumi dan gunung-gunung akan tetapi mereka enggan untuik menerimanya, maka ditawarkannlah amanah tersebut kepada Adam yang pada saat itu dengan kehendak Allah Swt. amanah yang ditawarkan tersebut berwujud berupa batu besar, kemudian Adam a.s mendekatinya, mengoyang-goyangnya dan mencoba untuk mengngkatnya dan ternyata berhasildia pikul. Setelah itu Adam a.s. ingin menurunkannya akan tetapi Allah Swt. Berkata: "Pikullah amanah tersebut sampai anak cucumu juga memikulnya hingga hari kiamat".[3]
Sejak sat itulah amanah yang berupa akal yang meliki oleh manusia terus menerus dia pikul sebagai sebuah amanah dari Allah Swt. dengan resiko yang di kandungnya. Akal yang berada dalam diri manusia telah membawanya pada sebuah kehidupan yang tidak alamiah dan senantiasa berada dalam ketergesahan, kekacauan, ketidak seimbangan, kegelisahan dan kegalauan hidup. Hal ini disebabkan karena substansi keberadaan akan adalah membawa kepada kehancuran. Ini menunjukkan bahwa tidak ada satupun dari hasil eksplorasi akal yang dikembangkan dipandang dari sisi kehidupan kecuali memiliki efek yang sejatinya berifat negatif. Hal ini sesuai dengan apa yang telah digaskan oleh Allah melalui pernyataan-Nya dengan baha "Sesungguhnya manusia itu amat zalim lagi bodoh".
Kenyatan ini sangat berbeda dengan keadaan Rasulullah Saw yang telah diangkat oleh Allah sebagai seorang Rasul, manusia yang paling sempurna dan merupakan rahmat bagi seluruh alam semesta (Rahnatan lil 'alamin), kedudukan ini memang didukung oleh beberapa lasan yang sangat mendasar yang memiliki kekhususan pada diri pribadi Rasulullah Saw. Jadi ketika allah Swt men-generalisir kedudukan manusia sebagai makhluk yang zalim lagi bodoh, ini diakibatkan oleh karena mereka menerima akal sebagai amanah saat itu. Akan tetapi berbeda dengan kedudukan Rasulullah Saw yang walaupun secara lahiriyah beliau adalah termasuk manusia namun beliau diberikan pengecualian dalamperkara ini, krena Nabi Muhammad Saw adalah seorang yang tidak memiliki akal atau ummy (buta huruf) dalam hal in Allah Swt berfirman:

Terjemahannya: Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan hikmah (As Sunnah). dan Sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata.[4]


Sehingga tidak satupun dari tindakan beliau yang mengakibatkan pada kerugian bagi alam, alsan ini pula yang menjadikan Rasulullah dan para sahabatnya menjadi generasi terbaik sepanjang sejarah peradaban manusia.[5]
Aspek Jiwa dan Kedudukannya
Ketika manusia berada pada kondisi senang, gembira ata bersuka ria demikian juga sebaliknya ketika ketika dalam suasan sedih, gelisah, duka dan gundah gulana, semua hal tersebut hanya mampu diukur dengan dengan keadaan jiwa manusia kendatipun demikian berbeda dengan manusia yang mengalami disfungsi kejiwaan.
Sesungguhnya suasana apapun yang dihadapi oleh seorang, maka pada sat yang bersamaan jiwanya pun mampu menangkap makna yang terkandung dalam suasana tersebut. Jiwa manusia merupakan mediator sekaligus detektor yang berfungsi untuk membaca segala hal yang yang terjadi di sekitarnya, baik dari sis internal maupun eksternal.
Fungsi jiwa yang sesungguhnya sangat bergantung pada dua kondisi kecenderungan yaitu:
Pertama : An-Nafus al-Muthmainnah (Jiwa yang tenang); jiwa pada kondisi ini memiliki kecenderungan kepada al-Haq (kebenaran) dan berusaha dengan semaksimal mungkin untuk menetapinya (Istiqamah) dan menjalankanya. Keadaan jiwa yang semacam ini memungknkan untuk dapat menerima dengan mudah segala kebenaran yang datang kepadanya.
Imam al-Gazali mengutip dari nasehat Lukman kepada anaknya: "Wahai anakku, persoalan utama yang aku peringatkan kepadamu adalah nafsumu. Karena setiap nafsu itu memiliki dorongan kesenangan dan keinginan. Jika kamu memberikan keinginan (syahwat) yang sesuai dengan nafsu, maka hinggaplah dia dan akan meraja lela kepada yang lainnya karena syahwat itu berdiam dalam hati laksana api yang bersaiam dalam batu. Seandainya hal itu dipadamkan, maka padamlah. Jika dibiarkan, maka akan meraja lela di dalam".[6]
Kedua: An-Nafsu al-Ammarah (nafsu jahat); jiwa pada kondisi ini akan memiliki kecenderungan pada al-Bathil (kesesatan) sehingga kalau terus menerus larut dalam kondisi ini, maka akan sangat memungkinkan jiwa mengikuti jalan kesesatan dan menetapinya serta melaksanakannya.[7]
Kedua kondisi kejiwaan di atas dapat meghantarkan seseorang pada pilihan yang jelas dalam hidupnya. Manusia yang memilki jiwa yang tenang (an-Nafsu al-Muthmainnah) akan senantiasa berada dalam suasana terkontrol pada mizan al-Haq (timbangan kebenaran), sehingga dalam konsepdi kehidupan yang dijalaninya akan senantiasa diimbangi dengan padangan keseimbangan dalam kehalusan budi dan kecerdasan akhlaq.
Sementara manusia yang memiliki jiwa yang jahat (an-Nafsu al-Ammarah) akan senantiasa berada dalam kondisi dan suasanan kesesatan (al-Bathil) dan cenderung untuk menetapinya dan bahkan melaksanakannya, ironisnya pada kondisi kejiwaan semacam ini manusia terkadanga menganggap kebathilannya yang dijalaninya sebagai sebuah kebenaran. Diantara seabab yang membuat manusia tertipu atas dirinya sendiri dalam kondisi ini adalah :
1.       Akibat dari kekotoran jiwa yang bersumber pada dosa-dosa yang dilakukan secara berulang.
2.       Akibat dari penolakan terhadap al-Haq (kebenaran)
3.       Akibat dari adanya intervensi Syaitan.
Aspek Qalbu dan Kedudukannya
Mengulas tentang qalbu (hati) sama dengan sulitnya dalam membedakan antara air laut dan air tawar secara teori, namun ketika harus membedakannya sehingga nampak jelas perbedaan antara satu dengan yang lainnya, maka harus menggunakan metodologi tes dengan merasai tawar dan asinnya air tersebut.
Demikian halnya dengan hakikat qalbu (hati), untuk membedakan antara satu qalbu dengan lainnya, maka harus dapat dirasakan melalui aspek lain dari dairi manusia, sebab ketika salah dalam mendudukan qalbu, maka manusia dapat menganggapnya sebagai jiwa atau akal manusia padahal keduanya meilki hakikat yang berbeda. Dalam hal ini Rasulullah Saw. bersabda:
اسْتَفْتِ قَلْبَكَ البِرُّ مَا اطْمَأَنَّتْ إِلَيْهِ النَّفْسُ وَاطْمَأَنَّ إِلَيْهِ القَلْبُ وَالِإثْمُ مَا حَاكَ فِي النَّفْسِ وَتَرَدَّدَ فِي الصَّدْرِ وَإِنْ أَفْتَاكَ النَّاسُ وَأَفْتَوْكَ (حديث حسن رويناه في مسندي الإمامين أحمد بن حنبل والدارمي بإسناد حسن)
Terjemahannya: "Mintalah fatwa kepada qalbumu sendiri. Kebaikan adalah apa-apa yang menentramkan jiwa dan qalbu, sedangkan dosa adalah apa-apa yang mengusik jiwa dan meragukan hati, meskipun orang-orang meberi fatwa yang membenarkanmu" (H.R. Ahmad bin Hambal dan ad-Darimy dengan sanad yang hasan)[8] 

Secara khusus sabda bainda Saw sebagaimana yang tersebut di atas menjelaskan bahwa bahwa dalam qalbu seorang manusia terdapat kebenaran yang berfungsi sebagai jawaban ata segala permasalahan yang dihadapi oleh manusia, maka qalbu sebagai penuntun bagi yang tertuntun, pendidik bagi yang terdidik dan pembimbing bagi yang terbimbing.
Meminta fatwa kepada qalbu atas sebuah kebaikan dan kebenaran disebabkan karena ia merupakan tempat dimana ar-Ruh yang telah mengikrarkan perjanjian abadi kepada Allah bersemayam dimana tidak terjadinya sebuah bentuk pengkhianatan atas perjanjian yang telah diikrakan oleh qalbu tersebut. Perjanjian yang dimaksudkan adalah firman Allah dalam Qd. Al-'raf ayat 172:

Terjemahannya: "Bukankah Aku Ini Tuhanmu?" mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuban kami), kami menjadi saksi".[9]

Hikamh yang terkandung pada ayat di atas adalah : Pertama, bahwa Allah Swt mengambil sumpah setia dari kesaksian ar-Ruh untuk hany melakukan pengabdian kepada Allah semata. Kedua, bahwa ar-Ruh adalah benar menyaksikan keberadaan Allah Swt sebagai tempat pengabdian utamanya. Ketiga, bahwa perjanjian Allah Swt dengan ar-Ruh merupakan perjanjian fitrah yang tidak bercacat. Berdasarkan pada empat hikmah tersebut, maka dapat dikatakan bahwa pengabdian yang dipersembahkan oleh ar-Ruh merupakan bentuk pengabdian abadi yang tidak ternodai oleh sesuatu apapun.
Hakikat pengabdian ar-Ruh kepada Allah Swt adalah tugasnya sebagai utusan mendampingi manusia bersama dengan sifat-sifat utama yang dikandungnya yaitu :
1.        الصِّدِّيْقُ artinya : Benar dalam berkata dan tidak pernah berkata bohong walaupun hanya sekali saja.
2.        الأَمَانَةُ artinya : Lurus dan jujur dalam mengambil keputusan terhadap perkara apapun tanpa pamrih
3.        الفَطَانَةُ artinya : Cerdas, tegas dan pintar dalam bertindak dan bersikap dalam keadaan apapun
4.        التَّـبْلِيْغُ  artinya : Menyampaikan sesuatu dengan sebenar-benarnya.
Sifat utama ini pula merupakan sifat Nabi Muhammad Saw,[10] sehingga bagi siapapun yang terbuka perkenalannya dengan ruh, maka sifat-sifat utama tersebut akan tampak secara nayata dalam dirinya.
Dari titik ini gerbang dunia baru telah tampak dan ibnu 'Arabi pun mengatakan: "Sesungguhnya apa yang engakau inderai pada alam materi adalah mikrokosmos, dan apa yang ada dalam dirimu adalah makrokosmos" di dalam sebuah syairnya ia berkata : "Manusia adalah tempat tajalli Tuhan yang paling sempurna". Dalam ungkapan syairnya yang lain menyebutkan :
Jika Tuhan tidak ada dan kita tidak ada,
Maka tidaklah ada semua yang ada
Saya menyembah Tuhan yang sebenarnya
Allah-lah Tuhan kami yang sesungguhnya
Ketahuilah, saya adalah 'ain wujud-Nya
Meskipun saya berkata, saya adalah manusia.[11]



[1] Jecques Ellul, Teknologi Masyarakat, (New York, Knop, 1964). Hal.
[2] Lajnah Pentashih Mushaf Al-Qur'an Departemen Agama RI, Al-Qur'an dan Terjemahan (Edisi Baru, Jakarta, PT. Internusa, 1993) Hal. 680.
[3] K.H. M. Ali Usman, HA. A. Dahlan, Dr. HMD. Dahlan, Hadis Qudsi (Cetakan  Ketujuh, Bandung, CV. Diponegoro, 1984), Hal. 74.
[4]Lajnah Pentashih Mushaf Al-Qur'an Departemen Agama RI, Al-Qur'an dan Terjemahan (Edisi Baru, Jakarta, PT. Internusa, 1993) Hal. 680
[5] Abdullah Nashir Ulwan, Rahsia Keummian Rasulullah, (Cetakan Pertama, Jakarta Timur, Studia Press, 1997). Hal. 119.
[6] Al-Ghazali, Duka Hati Duka Ilahi, (Cetakan Kedua, Jakarta Selatan, Hikmah, 2004), Hal. 172
[7] K.H. M. Ali Usman, HA. A. Dahlan, Dr. HMD. Dahlan, Hadis Qudsi (Cetakan  Ketujuh, Bandung, CV. Diponegoro, 1984), Hal. 24.
[8] Ahmad bin Hanbal, Al-Musnad, Bab; Musnad Wabishah bin Ma'bad, No: 8035 (Cetakan Pertama, Mesir, Muassah Qurtuba, T.Thn), Jilid IV, Hal. 228. dan Abdullah bin Abdurrahman Abu Abdullah ad-Darimy, Sunan ad-Darimy, Bab; Tinggalkan apa yang meragukan kepada apa yang meyakinkan, No: 2533, (Cetakan Pertama, Beirut, Dar al-Kutub al-Araby, 1407 H), Jilid II, Hal. 320. Lihat juga Abdurrahman bin Syihab ad-Din ibnu Rajab al-Hanbaly, Jami' al-Ulum wa al-Hikam, (Cetakan Pertama, Mesir, Dar al-Aqidah, 1422 H / 2002 M), Hal. 336.
[9] Lajnah Pentashih Mushaf Al-Qur'an Departemen Agama RI, Al-Qur'an dan Terjemahan (Edisi Baru, Jakarta, PT. Internusa, 1993) Hal. 250
[10] Syikh H. Datuk Tombak Alam, Kunci Sukses Regenerasi dalam Dakwah, (Cetakan Kedua, Jakarta, Penerbit Rineka Cipta, 1990). Hal. 6.
[11] Dr. Asmaran As, MA, Pengantar Studi Tasawuf, (Cetakan Kedua, Jakarta: PT. Raja Garaphindo, 2002), Hal. 355.

0 komentar:

Poskan Komentar

apakah anda tidak menemukan yang anda cari??? silahkan tuliskan sesuatu yang anda cari itu....

FACEBOOK COMENT

ARTIKEL SEBELUMNYA

 
Blogger Templates