Kamis, 19 Mei 2011

AL FARABI


(Riwayat Hidup, Teori Emanasi, Filsafat Jiwa, Filsafat Kenabian dan Teori Politik al-Madhinah al-Fadhillah)




BAB 1

PENDAHULUAN

A.Latar Belakang Masalah
            Pembicaraan tentang filsafat Islam tidak biasa terlepas dari filsaat secara umum. Berfikir filsafat merupakan hasil usaha manusia yang saling berkesinambungan diseluruh jagad raya ini. Akan tetapi, dalam berfikir filsafat dalam rti berfikir bebas dan mendalam radikal yang tidak dipengaruhi oleh dokmatis dan tradisi, disponsori oleh filosof-filosof Yunani.
            Aristoteles adalah salah satu filosof dan ilmu besar didunia dimasa lampau.dia dilahirkan diota Stagira, Macedonia, pada tahun 384 M. Dia menelopori penyelidikan mengenai logika, memperkaya hampir setiap cabang filsafat dan memberi sejumlah besar sumbangan terhadap ilmu pengetahuan.[1] Buah pikiran banyak membawa pengaruh  pada filosof Islam dan berabad abad lamanya menguasai cara berpikir Barat.
            Dalam abad 1X Morang orang arab mengenal baik sejumlah besar warisan ilmu alam, maupun filsafat alam yunani kuno dan roma kuno. Mereka sangat gemar Akan filsafat Aristoteles dan pengaruh abadi Aristoteles dalam masalah masalah ilmu Alam dan logika.
Pada masa pemerintahan Bani Umayyah, pengaruh kebudayaan yunani dalam dunia Islam belum nampak jelas walaupun orang orang yang duduk di pemerintahan pusat tidak lagi di dominasi oleh kalangan bangsa Arab, melainkan juga terdapat orang Persia  yang banyak berkecinambungan  dengan budaya yunani.
Penerjemahan karya karya filsafat dari berbagai bahasa kebahasa Arab baru mendapat perhatian yang begitu besar oleh Dinasti Abbasiyyah.Usaha tersebut dilakukan pertama kali oleh Al-Mansub dan diteruskan oleh anak cucunya. Sejumlah besar karya logika yunani yang diarabkan disambut dengan penuh gairah negeri berbaasa arab karena beberapa alasan. Pertama, penerjemahan kajian-kajian logika dalam bahasa Arab membuat bahasa ini bias dipakai untuk perbedaan rasional dengan orang-orang non muslm dalam rangka mengajak mereka menganut islam. Kedua, penggunaan bahasa Arab sesuai dangan peroyek penerjemahan berbagai manuskrip ilmiah karena logika dapat menyusun cara berfikir dan ilmu-ilmu alam dengan menyusun penomena alam secara sistematis.[2]
Filsafat klasik Islam bukan sekedar filsafat Yunani yang diberi baju Islam. filsafat yunani.mengalami pengembangan atau Islamisi ditangan para filsuf muslim. Jadi filsafat Islam merupakan bagian dari berbagai implikasi peralanan (sejarah) Islam itu sendiri.
Akan tetapi, apabila dilihat dari sejarah peradaban umat Islam, filsafat dalam dunia Islam merupakan gejala dari perkembangan keilmuan dalam masyarakat Islam itu sendiri. Pengetahuan mengenai metafisika, Tuhan, Jiwa dan manusia  yang pada mulanya diterima begitu saja, kemudian diperluas dan dikembangkan dengan memadukan kebenaran wahyu dan akal. berdasarkan realitas tersebut, maka bermunculan para filosof Islam Arab khususnya dan negeri-negeri Islam pada umumnya, di antaranya al-kindi, al-farabi, Ibnu Sina dan pemikir Islam lainnya.
Di sini mengemukakan emanasi ini tampaknya Al-Farabi ingin menegaskan tentang keesaan Allah, bahkan melebihi Al-Kindi. Allah bukan bukan hanya dinegasikan dalam artian ‘aniah dan mahiah,[3] tetapi juga lebih jauh lagi. Allah adalah Esa sehingga tidak mungkin berhubungan dengan yang tidak esa atau yang banyak. Andaikan alam diciptakan secara langsung oleh Allah, maka mengakibatkan ia berhubungan dengan yang tidak sempurna dan ini akan menodai keesaannya. Oleh sebaba itu, dari hanya Allah timbul satu, yakni akal pertama. Akal pertama ini mengandung arti banyak, bukan banyak jumlah, tetapi merupakan sebab dari pluralitas. Dari itu akal pertama berfungsi sebagai mediator antara yang Esa dan yang banyak sehingga dapat dihindarkan hubungan langsung antara yang Esa dan yang banyak.   
Jika Aristoteles, peletak dasar ilmu logika, dikenal sebagai ‘Guru pertama’ (al-Muallim al-Awwal), maka al-farabi dalam dunia intelektual Islam dinilai sebagai’ Guru Kedua’(al-Muallim al-Tsani). Gelar ini diberikan kepadanya, terutama karena perhatiannya yang sangat besar terhadap logika, serta pemahaman dan komentar-komentarnya yang sangat baik atas kitab-kitab Aristoteles.[4]                           
            Al-Farabi merupakan Filsuf terkemuka pada zamannya. AL-Farabi selalu berpindah tempat dari waktu ke waktu. Dimasa kecil ia dikenal rajin belajar dan memiliki otak yang cerdas. Setelah besar beliau berpindah dari farab ke bagdad. Disana ia memperdalam filsafat, logika, matematika, etika ilmu politik, musik dan lain sebaainya. Diantara karangannya:
1.Magala fi aghradhi ma ba’da al-tabiah. Buku ini menjelaskan tujuan dan metafisika Aristoteles.
2. Ihsha u al-ulum (statistik ilmu)
3. Aljam’u baina ra’yai al-hakimain (mempertemukan pendapat kedua filosof)
4. Ara-u ahl-il madinah al fadlillah (pikiran –pikiran warga Negara kota utama)
5. Uyun al-masail (pokok-pokok persoalan)
6. Tahsil as- sa’adah (mencari kebahagian)
            Dalam makalah ini penulis akan menguraikan Tentang riwayat hidup al-Farabi, pemikirannya tentang emanasi (al-faydh), filsafat al-Nafs, filsafat kenabian dan teori politik (al-Madinah al- fadillah).                          
B. Rumusan Masalah
            Adapun pokok persoalan yang akan dibahas dalam makalah ini adalah:
1.      Bagaimana Riwayat hidup al-farabi?
2.      Teori Emanasi?
3.      Filsafat Jiwa?
4.      Filsafat Kenabian?
5.      Teori Politik?  
 
BAB II
PEMBAHASAN
A. Riwayat Hidup ALfarabi
            Nama lengkap beliau adalah Abu Nashr Muhammad ibnu Muhammad ibnu Tarkhan bin Auzalgh al Farabi.[5] Sebutan AL-Farabi ia dilahirkan di wasij, Distrik Farab, Turkistan pada tahun 257 H/870 M. Ayahnya seorang jenderal berkebangsan Turki.Oleh sebab itu, terkadang ia dikatakan keturunan Persia dan terkadang disebut keturunan Turki dan  diambil dari kota kelahiran beliau, Farab yang juga disebut kampung urtar, dahulu masuk daerah Iran, akan tetapi sekarang menjadi bagian dari Republik Uzbekistan.[6] Dunia Barat mengenal namanya sebagai Alpharabius, dan juga dengan nama Avennaser.[7]
            Kendati ia dipandang sebagai bintang terkemuka dikalangan filsuf muslim, informasi tentang dirinya sangat terbatas. Umumnya para penulis menyatakan bahwa al-Farabi keturunan Turki (Ayah ibunya orang turki). Tapi Ibnu Ushaibiah menyebutkan bahwa ayah al-Farabi yang seorang jenderal adalah Persia.[8] Karena itu berbeda dengan al-Kindi, al-Farabi bukanlah keturunan Arab, melainkan campuran Persia Turki.
            Para sejarawan mengidentifikasikan bahwa masuknya Islam keluarga al-Farabi diperkirakan pada masa kakeknya, Tarkhan. Hal ini dikuatkan oleh kenyataan dengan terjadinya peristiwa penaklukkan dan Islamisasi atas farab oleh dinasti Samaniah pada tahun 839-840 M.[9]
            Pendidikan dasarnya adalah keagamaan dan bahasa. Dia mempelajari fikih, Hadis dan Tafsir Alquran. Dia mempelajari Bahasa Arab, Bahasa Turki dan Persia. Setelah besar al-Farabi pindah ke Bagdad dan tinggal disana sekitar 20 tahun lamanya. Disini ia memuaskan perhatiannya kepada ilmu logika dan beliau belajar antara lain pada Abu Bisyr bin Mattius. Nampaknya pada waktu pertama datang di Bagdad hanya sedikit saja Bahasa Arab yang telah dikuasainya. Ia sendiri mengatakan bahwa ia belajar antara lain pada Abu Bakar al-Saraj sebagai imbalan pelajaran logika yang diberikan oleh al-Farabi kepadanya.[10]
            Sesudah itu ia pindah ke Harran (Iran), salah satu pusat kebudayaan yunani di Asia kecil, untuk berguru logika yunani kepada seorang sarjana keristen, Yuhanna bin Hailan.[11] Tidak lama kemudian, al-Farabi meninggalkan Harran kembali ke Bagdad.
            Selama di Bagdad ia menghabiskan waktunya untuk mengajar dan menulis. Al-Farabi mengarang sejumlah buku tentang logika, Fisik, Ilmu jiwa,  metafisika, kimia ilmu politik, musik dan lain-lain. Tetapi kebanyakan karyanya yang ditulis dalam Bahasa Arab telah hilang dari peredaran. Sekarang diperkirakan hanya tersisa sekitar 30 buah saja.[12] Tidak diketahui apakah al-Farabi sudah mengalami perkembangan pesat dalam studinya di Farab, tetapi tidak diragukan bahwa di Bagdad dia memperoleh kematangan maksimal.
Al-Farabi meninggalkan Bagdad untuk selamanya setelah jenderal Tuzun dari Dailam memasuki Bagdad dan membunuh khalifah Muttaqi pada tahun 940 M.[13] Ia bermukim sebentar di Damaskus hingga pada tahun 330H/942M. dan kemudian beliau pindah ke Halab (Aleppo) karena mendapat undangan dari pemerintah Dinasti Hamdani yang berkuasa ketika itu, yakni Saifuddaulah. Al-Farabi hidup sangat sederhana kendati Amir Saifuddaulah sangat baik kepadanya dan mau menjamin biaya hidupnya dengan uang yang berlimpah.
            Dia mengajar di Aleppo dan berkat permohonannya, murid-muridnya menerima bantuan beasiswa dari sultan.[14] Persahabatannya dengan Amir Saifuddaulah demikian baik sehingga ia ikut mendampingi Amir itu dalam perjalanan ke damaskus pada tahun 950M. Di Damaskus itulah al-Farabi kemudian wafat dalam usia 80 tahun dan dikuburkan di sana.[15] Konon ia pernah juga ke Mesir, yang menurut satu impormasi dilakukannya sebelum ia pergi ke Aleppo. Tetapi menurut impormasi lain dilakukannya lebih kurang satu tahun sebelum wafat.[16]
            Al-Farabi memahami lima bahasa dan mempelajari filsafat, kedokteran, matematika, kimia dan musik. Dia adalah pemain kecapi istimewa.[17] Menurut impormasi Ibnu Khallikan beliau menguasai 70 bahasa. Boleh jadi impormasi itu terlalu berlebihan.[18] Ini hanya sekedar menunjukan bahwa bakat bahasanya sangat menonjol.
            Al-Farabi memperlihatkan dirinya sebagai muslim yang teguh memegang agama, penerus Plato dalam bidang logika, dan fisika dan sebagai pengikut Plotinus dalam bidang metafisika. Beliau dikenal sebagai eksponen Filsafat Neoplatonisme muslim yang dimulai oleh Al- kindi dan dilanjutkan oleh Ibnu Sina. Al-farabi boleh dikatakan sebagai ensiklopedi hidup. George Sarton, seperti yang dikutip oleh Jamil Ahmad mengatakan bahwa Al-Farabi mengenal segenap pemikiran ilmiah pada zamannya.[19]
            Ibnu sina pernah mempelajari buku metafisika karangan Aristoteles empat kali, tetapi belum juga mengerti maksudnya. Setelah ia membaca karangan Al-Farabi yang berjudul Maqala fi Aqhradhi maba’da al-Tabi’ah (inti sari buku metafisika), baru ia mengerti apa yang selama ini sukar.[20]
            Brdasarkan realitas perjalanan hidup beliau maka tidaklah berlebihan bila dikatakan bahwa beliau adalah sang intelektual pada zamannya. Beliau memiliki sifat zuhud namun sangat produktif dalam berfikir. Beliau merupakan sosok yang cukup menginspirasi beberapa kalangan sesudahnya.
                            
B.Pemikiran al arab      
1.Filsfat Emansi(               )
            Emansi berasal dari bahasa inggris: emanation; dari latin e (dari) dan manare (mengalir). Emansi adalah doktrin mengenai terjadinya dunia. Dunia terjadi karena dan oleh proses dimana yang ilahi meleleh.[21]
            Teori ini diperkenalkan oleh plotenus (205-270M), Filosuf yunani. Karena filsafatnya merupakan pengembang dari filsafat plato. Dalam ajaran plotinus, dari yang esa memancar akal. Selanjutnya, dari akal memancar jiwa dunia dan dari jiwa dunia memancar materi dunia.
            Di dunia islam, ajaran emansi ini pertama kali dibawa oleh al-Farabi. Tuhan diyakini sebagai maha esa, tidak berubah, jauh dari materi, jauh dari arti banyak, maha sempurna dan tidak berhajat pada apapun. Karena itu yang keluar daarinya juga satu wujud saja, sebab emansi itu timbul karena Ilmu Tuhan terhadap zatnya yang satu. Seandainya yang keluar dari zat tuhan itu banyak, berarti zat tuhan itu banyak.[22]
            Proses emanasi yang dimaksudkan al-Farabi adalah bahwa Tuhan sebagai ”akal” Berpikir tentang dirinya dan dari pemikiran ini timbul wujud lain, yaitu akal pertama yang sekaligus merupakan wujud kedua karena wujud pertama adalah tuhan itu sendiri. Seterusnya akal pertama atau wujud kedua ini bertapakkur (berfikir) tentang tuhan sehingga dari pemikiran itu memancar akal kedua sekaligus wujud ketiga. Selain bertafakkur tentang tuhan, akal prtama ini juga bertafakkur tentang dirinya sehingga timbul langit pertama Proses berjalan secara berturut-turut lalu terciptalah akal ketiga sampai seterusnya akal X (kesepuluh).[23]
            Mengapa jumlah akal dibataskan kepada bilangan sepuluh? Karena jumlah benda-benda angkasa menurut Aristoteles ada tujuh. Kemudian al farabi menambah dua lagi yaitu benda langit yang terjauh (al-falak al-agsha) dan bintang-bintang tetap (al-kawakib al-tsabitah), yang diambil dari Ptolemy (Caldius Plotemaus)seorang ahli astronomi dan ahli bumi Mesir. Orang yunani kuno berpendapat bahwa segala yang bercorak langit suci, dan segala yang bercorak bumi tidak suci. Ajaran Islam menerangkan bahwa langit merupakan sumber wahyu dan tujuan akhir mikraj. Disini Al- farabi menyesuaikan ajaran agama dan filsafat.
            Untuk memahami pemahaman tentang fungsi masing-masing akal, maka dilihat.melalui bagian berikut ini:
Tuhan (akal murni),
              Memikirkan dirinya     : akal pertama
Akal 1,  memikirkan tuhan       : akal kedua
              Memikirkan dirinya    : langit pertama
Akal 11,memikirkan tuhan       : akal III
            Memikirkan dirinya      : lingkaran langit 11 (bintang-bintang)
Akal 111,memikirkan tuhan     : akal 1V.
            Memikirkan dirinya      : lingkaran langit 111 (Saturnus)
Akal 1V, memikirkan tuhan     : akal V
            Memikirkan dirinya      : lingkaran langit 1V (Yupiter)
Akal V, memikirkan tuhan       : akal V1
            Memikirkan dirinya      : lingkaran langit V (Mars)
Akal V1, memikirkan tuhan     : akal V11
            Memikirkan dirinya       : lingkaran langit V1 (Matahari)
Akal V11, memikirkan tuhan   : akal V111
            Memikirkan dirinya      : lingkaran langit V11(Venus)
Akal V111, memikirkan tuhan : akal 1X
            Memikirkan dirinya      : lingkaran langit V111(Merkurius)
Akal 1X, memikirkan tuhan     : akal X
            Memikirkan dirinya      : lingkaran langit 1X(Bulan)
Akal X, memikirkan tuhan dan dirinya memancarkan Bumi dan jiwa-jiwa yang berada di lingkungan bumi.
Akal 1-X disebut juga al-asyya al-mufarrigah (Sesuatu yang terpisah dari materi atau sesuatu yang immaterial/rohani, yang pada hakekatnya adalah akal-akal dan sekaligus objek-objek pemikiran). Bagi al-farabi, para malaikat itu tidak lain dari akal yang sepuluh itu, sedangkan akal X disebutnya juga akal aktif adalah jibril.[24]
2. Filsafat jiwa
            Jiwa merupakan akhir alam akal menjadi permulaan makhluk-makhluk yang terdapat dalam alam indrawi. Karena itu, ia mempunyai pertalian dengan kedua alam tersebut. Plotinus menganggap setiap kekuatan yang bekerja dalam alam ini adalah jiwa-jiwa menjadi kekuatan pengatur pada bagiannya yang terendah (alam materi) karena ia adalah kekuatan kontemplasi dan perenungan pada bagiannya yang tertinggi (alam rohani).[25]
            Al-farabi tampil sebagai salah satu filosof Islam yang banyak membincangkan tentang jiwa. Al-farabi menerangkan setiap spesies tumbuhnya memiliki jiwa. demikian  pula binatang dan manusia. Jiwa manusia memiliki potensi yang dapat mengaktual menjadi daya-daya mewujudkan perbuatan-perbuatan melalui alat-alat tubuh, seperti yang dimiliki jiwa tumbuhan dan binatang dan mempunyai kelebihan dari jiwa binatang dan tumbuhan yaitu memiliki potensi yang dapat mengaktual menjadi daya untuk berbuat, tapi tidak dengan alat tubuh.dan itulah potensi akal.[26]
            Jiwa sebagai salah satu unsur penting dalam diri manusia, mempunyai banyak daya dan potensi yang berbeda-beda:
a. Daya gerak              : Daya makan, memelihara, mengembangkan jenis.
b. Daya mengetahui    :Daya merasa dan bermajinasi.
c. Daya berfikir           : Akal peraktis dan akal teoritis.
            Daya berfikir yang terdapat pada jiwa, erat kaitannya dengan eksistensi akal bagi manusia. Secara teoritis akal dapat dibagi menjadi 3 tingkatan:
a. Akal potensial, mempunyai potensi berfikir dalam arti melepaskan bentuk-bentuk dari materinya.
b. Akal actual, yang telah dapat melepaskan arti-arti dari materinya dan arti-arti yang dimaksud telah mempunyai wujud dalam akal dengan sebenarnya,bukan lagi dalam bentuk potensi tetapi bentuk actual.
c. Akal mustafad,akal yang telah terlatih sehingga mampu mengetahui. Dan mempunyai kesanggupan mengadakan komunikasi dengan akal X.[27]
Bila akal potensial telah ada secara actual pada jiwa seseorang. Maka berarti ia sudah memiliki kesempurnaan tingkat pertama sebagai manusia. Kesempurnaan tingkat kedua atau tertinggi tercapai bila jiwanya memperoleh akal mustafad.siapa yang berkeinginan mengaktualkan akal mustafad pada jiwanya, haruslah lebih dahulu berupaya keras menjalani hidup zuhud dan berupaya keras menguasai sebanyak mungkin bentuk-bentuk atau arti-arti yang dilepaskan dari materi (ide-ide yang bersifat keilmuan). Bila ini tercapai maka berarti jiwanya sudah berada dalam taraf siap menerima bentuk-bentuk murni (ide-ide yang bersifat keilmuan) atau akal mustafad yang dilimpahkan oleh akal aktif. Mereka yang memperoleh akal mustafad itu disebut dengan filsuf
3. Filsafat kenabian
Pada masa-masa pertama islam kaum muslimin mempercayai sepenuhnya apa yang datang dari tuhan, tanpa membahasnya atau mencari-cari alasannya. Namun keadaan ini tidak lama kemudian dikeruhkan oleh berbagai keraguan, setelah golongan-golongan luar islam dapat memasukkan fikirannya dikalangan kaum muslimin, seperti golongan Mazdak dan manu dari iran, golongan sumniah dari agama Mrahma, orang-orang yahudi dan masehi sebagainya. Sejak saat itu, setiap dasar-dasar agama islam dibahas dan dikeritik.dalam menghadapi mereka, orang-orang muktazilah telah memberikan bagian yang suka dicari bandingannya.Dalam hubungannya ini, serangan Ibnu Rawandi (W.111H) dan Abu Bakar Al-Razi (W. 250H) terhaap kenabian perlu dicatat.[28]
Argument Al-farbi tentang adanya nabi dan rasul adalah kenyataan bahwa pada akal dan potensi-potensi jiwa manusia, terhadap perbedaan keunggulan dalam aktualitas. Dengan demikian tidak mustahil bahwa pada umat manusia terdapat seseorang yang hatinya mampu menerima wahyu, sedangkan orang lain tidak sanggup. Dan dengan keunggulannya itu ia memikul tugas untuk menyampaikan ajaran tuhan yang diwahyukan kepadanya.
Al-farabi menyatakan bahwa kenabian itu suatu yang diperoleh manusia utama, yang disebut nabi, bukan melalui upaya mereka. Nabi adalah manusia yang memiliki daya imajinasi (menerima impormasi mengolahnya kemudian menyampaikan kepada daya pikir) yang luar biasa kemampuannya meskipun tetap menjalankan fungsinya yang lazim, daya luar biasa itu masih memiliki banyak daya untuk berhubungan dengan akal aktif. Al-farabi menyatakan bahwa tidak mustahil bagi seseorang (nabi) bila daya imajinasinya mencapai puncak kesempurnaan aktualitas. Untuk menerima di kala sadar (bukan tidur) dari akal aktif, ide-ide tentang peristiwa-peristiwa yang terjadi sekarang atau pada masa mendatang, dan menerima ide-ide tentang wujud-wujud immateri dan wujud mulia lainnya, serta melihatnya, dan jadilah ide-ide yang diterimanya sebagai nubuat (berita ilahi) tentang hal-hal yang bersifat ilahi. Al-farabi juga menyatakan bahwa nabi memiliki jiwa dengan daya yang kudus (suci) sehingga kepada jiwanya yang kudus itu tunduk daya alam makro seperti tunduknya daya alam mikro (raga seseorang) kepada jiwanya. Dengan daya yang kudus itu, jiwa nabi dapat melakukan peristiwa luar biasa atau mukjizat.
Dengan mengajukan materi tentang nabi dan filsuf yang sama-sama berkomunikasi dngan akal aktif, dapat dipahami bahwa al-farabi telah menunjukkan bahwa sumber ajaran agama yang dibawa nabi dan sumber filsafat yang dihasilkan filsuf adalah sama (akal aktif), karena itu kebenaran keduanya pastilah tidak bertentangan. Dengan menyatakan bahwa nabi memiliki jiwa dengan daya kudus (kendati dengan daya imajinasi) sehingga tidak perlu berlatih atau berupaya keras untuk menguasai ide-ide yang bersifat keilmuan (seperti yang dilakukan calon filsuf) ia juga menunjukkan keistimewaan dan kelebihan nabidaripada filsuf.
4. Teori Politik al-Madinah al-Fadilla  
 Al-Farabi lebih berhasil dalam teori sosialnya, dimana dia menggabungkan wawasan menarik Plato dengan persyaratan Islam. Seperti Plato, Al-farabi juga mengatakan bahwa bagian-bagian suatu negeri sangat erat hubungannya satu sama lain dan saling bekerja sama, laksana anggota badan dimana apabila salah satu menderita maka lain-lainnya anggota pun ikut merasakan pula. Al-farabi merasa bahwa persaudaraan Islam menghendaki agar warga menjadi seperti anggota tubuh organic, agar pekerjaan sesuai dengan kecakapan sedangkan imbalan sesuai dengan prestasi.         
Ia juga menghindari apa yang bertentangan dengannya. Dia menghindari kemuni Plato mengenai suami istri menyadari bahwa pandangan seperti itu akan menimbulkan kutukan kaum muslimin terhadap dirinya.[29]
Walaupun demikian, ada juga beberapa contoh tulisannya meunjukkan bahwa dia mengenal pemikiran aristoteles. Al-farabi berpendapat bahwa “alamiah” bagi manusia untuk hidup berdampingan dengan orang lain. Alasannya, menurut  istilah aristoteles, manusia adalah “Binatang Berpolitik”.[30]
Bahasan tentang politik tidak bisa lepas dan teorinya tentang jiwa manusia karena politik itu haruslah bertujuan terwujudnya jiwa-jiwa yang utama, yang berbahagia baik dalam kehidupan sekarang maupun kehidupan mendatang.
Dalam tulisannya tentang politik al-farabi menjelaskan bahwamanusia adalah makhluk social, tidak bias hidup sendiri-sendiri. Manusia butuh hidup bermasyarakat dan perlu bekerja sama untuk mencapai kebahagian itu disebut masyarakat utama.
“Kesempurnaan manusia”, tilis al-farabi dalam mabadi para Ahl Al-Madhinah sebagaimana yang dikutib oleh majid pakhry, sesuai watak oleh alamiah manusia itu sendiri, tidak akan tercapai tanpa berhubungan dengan manusia-manusia yang lain. Kerja sama itu mempunyai tiga bentuk yaitu kerja sama antar penduduk dunia pada umumnya, kerja sama antar kemunitas (ummah), kerja sama antar sesama penduduk kota.
Menurut al-farabi, “kota” adalah tempat yang terbaik bagi manusia untuk mencapai kesempurnaannya. Kota di dalamnya kebahagian menjadi mudah dicapai karena usaha kooperatif para penduduknya, tak lain adalah “kota utama” yang dicanangkan oleh Al-farabi. Selain “kota utama” ini, yang ada hanya “lawan-lawannya”.[31]
Masyarakat kota sebagai, sebagai satu masyarakat sempurnah dapat diibaratkan seperti satu tubuh manusia dengan anggota-anggota yang lengkap kepala masyarakat menjadi sumber peraturan dan keserasian hidup dalam masyarakat. Ia haruslah bertubuh sehat, kuat, berani, pintar, serta cinta kepada pengetahuan dan keadilan.
Yang paling ideal sebagai kepala adalah orang yang mampu berkomunikasi dengan akal aktif. Itulah nabiatau filsuf.  Orang demikianlah mampu menadi pengajar dan pendidik tehadap anggota masyarakat yang dipimpinnya. Bila tidak ada orang yang paling ideal itu, maka tugas pimpinan diserahkan kepada seseorang yang memiliki sifat-sifat yang dimiliki kepada masyarakat ideal. Jika sifat-sifat itu tidak lengkap tekecuali terdapat pada beberapa orang maka mereka secara bersama haruslah bersatu sebagai kepala masyarakat. Masyarakat kota utama yang dipimpin oleh oleh nabi dan filsuf, daklam pandangan al-farabi, menyerupai segenap alam semesta yang dipinpin dan diatur oleh Tuhan yang maha sempurna.[32]
Al-farabi mnembedakan Negara menadi 5 macam :
a.       Negara utama, yaitu Negara yang penduduknya berada dalam kebahagiaan. Menurut al-farabi, Negara terbaik adalah Negara yang dipimpin oleh rasul dan kemudian oleh para filsuf.
b.      Negara orang-orang bodoh, yaitu negara yang penduduknya tidak mengenal kebahagiaan.
c.       Negara orang-orang fasik, yakni negara penduduknya mengenal kebahagia, Tuhan dan akal fa’al seperti prenduduk utama, akan tetapi tingkah laku mereka sama dengan  penduduk Negeri yang bodoh.
d.      Negara yang berubah-rubah, ialah penduduknya semula mempunyai pikiran dan pendapat seperti yang dimiliki  negara utama, tetapi mengalami kerusakan.
e.       Negara sesat, yaitu negara penduduknya mempunyai konsepsi pemikiran yang salah tentang Tuhan dan akal fa’al, tetapi kepala negaranya beranggapan bahwa dirinya mendapat wahyu dan kemudian menipu orang banyak kemudian ia menipu orang banyak dengan ucapan perbuatannya.[33]
6. Akal
            Telah disebutkan bahwa akal menurut Al-Farabi, ada tiga jenis. Pertama, Allah sebagai akal; kedua, akal-akal dalam filsafat emanasi: satu sampai sepuluh; dan ketiga, akal yang terdapat pada diri mausia. Akal jenis pertama dan kedua tidak berfisik (imateri/rohani) dan tidak menempati fisik, namun diantara keduanya terdapat perbedaan yang sangat tajam. Allah sebagai akal adalah pencipta dan Esa semutlak-mutlaknya, maha sempurna dan tidak mengandung pluralitas. Sebagai zat yang Esa, maka objek ta’aqqul Allah hanya satu, yakni zatnya. Jika diandaikan objek ta’aqqul Allah lebih dari satu, maka pada diri Allah terjadi pluralitas. Hal ini bertentangan dengan perinsip tauhid. Demikian juga Allah maha sempurna tidak berhubungan dengan selain dirinya. Jika dikatakan Allah berhubungan selain dirinya, berarti dia berhubungan dengan yang tidak sempurna.al ini juga merusak citra tauhid. Atas dasar inila Al-Farabi menelaskan bahwa materi asal diciptakan Allah dan sesuatu yang sudah ada  dan diciptakan secara emanasi seak azali, karena sifat khalik Allah ada sejak wujud (bukan berarti Allah didahului dari tiada) dan semenak itu pula ia langsung mencpta.
            Adapun jenis akal kedua, yakni akal-akal pada filsafat emanasi, akal pertama esa pada zatnya, tetapi dalam dirinya mengandung keanekaan potensial. Ia diciptakan oleh Allah sebagai Akal, maka objek ta’aqqul-nya (jua akal-akal lainnya) tidaklah lagi satu,tetapi sudah dua: Allah sebagai wajib al-wujud dan dirinya sebagai mukmin al-wujud. Talah ditemukan ada sepuluh akal dan sembilan pelanet, masing-masing akal mengurus satu planet. Akal sepuluh (akal faal), disamping melimpahkan kebenaran kepada para nabi dan filosof, juga berfungsi mengurusi bumi dan segala isinya. Juga telah disebutkan bahwa pendapat Al-Farabi tentang sembilan planet terpengaruh oleh pendapat astronomi yunani saat itu yang mengatakan sembilan planet.[34]             
           Akal ketiga ialah akal sebagai daya berfikir yang terdapat dalam jiwa manusia. Akal jenis ini juga tidak berfisik, tetapi bertemopat pada materi.akal ini bertingkat-tingkat, yang terdiri dari akal potensial, akal aktual, dan akal mutafad. Akal yang tersebut terakhir ini yang dimiliki para filosof yang dapat menangkap cahaya yang dipancarkan Allah kealam materi melalui akal kesepuluh (akal faal).
            Demikian uraian tentang Al-Farabi, kendati ia terpengaruh oleh filsafat Aristoteles, Plato, dan Plotinus, namun ia telah berhasil mengembangkan dan memperdalam-nya sehingga dapat dikatakan hasil filsafat sendiri. Selain itu, juga menciptakan filsafat sendiri yang belum dibicarakan oleh filosof yunani. Dengan demikian, ia telah berhasil menciptakan filsaat Islam yang mempunyai watak dan ciri khas tersendiri.

BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
1.      Al-Farabi (870-950 M) adalah filosof muslim cerdas yang digelari sebagai guru kedua setelah aristoteles karena penguasaannya logika.
2.      Al-Farabi dengan teori emanasinya mengemukakan bahwa alam ini terjadi karena limpahan yang esa dan wujud pertama, akal pertama pun melimpah sehingga muncul akal kedua, begitu seterusnya sampai pada akal kesepuluh.
3.      Al-Farabi memandang setiap spesies tumbuhan, binatang dan manusia memiliki jiwa dan dapat mengaktual menjadi daya-daya untuk mewujudkan perbuatan-perbuatan melalui alat-alat tubuh dan jiwa manusia memiliki kelebihan yaitu potensi yang dapat mengaktual menjadi daya untuk berbuat tapi tidak dengan alat tubuh dan itulah akal.bila akal potensial telah ada secara actual pada jiwa seseorang maka ia berarti sudah memiliki kesempurnaan pertama sebagai manusia.
4.      Teori kenabian al-farabi mengemukakan bahwa pengetahuan filosof tidak bertentangan dengan pengetahuan nabi karena keduanya bersumber dari akal fa’al yang sama berbeda dengan caranya. Kalau nabi berkomunikasi dengan akal fa’al dengan menggunakan kekuatan imajinasi sedangkan filosof dengan akal mustafad.
5.      Al-Madhibah al-fadhilah bagi al-farabi ibarat tubuh manusia yang sehat semua anggota badannya bekerja sama sesuai dengan tugasnya masng-masing yang berkordinasi secara rapi demi kesempurnaan hidup tubuh.
DAFTAR PUSTAKA
Abu rayyan, Muhammad Ali. Tarikh al-fikr al-falsafy fi al- Islam. Iskandariah: Darr al- Maarif al-Jamiah, 1980
Ahmad, Jamil. Hundred Great Muslim diterjemahkan oleh tim penerjemah pustaka           firdaus dengan judul seratus muslim Terkemuka. Cet. 1V; Jakarta: Pustaka firdaus, 1996
Amin, Miska Muhammad. Epistemologi Islam.Cet.111; Jakarta: UIP Press, 2006
Bagus, Lorens. Kamus filsafat. Cet. 111; Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama,2002
Dasuki, Thawil Akhyar. Sebuah kompilasi filsafat Islam. Cet. 1; Semarang: Toha  Putra,1993
Dewan Redaksi Ensiklopedi Islam. Ensiklopedi IslamCet. V1; Jakarta Ikhtiar Baru Van Hoeve, 1997.
Fakhry, Majid. A Short Introduction To Islamic Philosophy Theology And Mysticism diterjemahkan oleh Zaimul Am dengan Judul Sejarah Filsafat Islam; Sebuah Peta Kronologis. Cet. 11; Bandung: Mizan, 2002
Glasse, Cyril. The Concise Encyclpedia Of Islam diterjemahkan oleh Ghufran Mas’adi dengan judul Ensklopedi Islam Ringkas. Cet.11; Jakarta: PT Raja Grafindo Persada,1999
Hanafi, Ahmad. Filsafat Skolastik.Cet.XI; Jakarta: Pustaka Alhusna, 1998.
………………Pengantar Filsafat Islam. Cet.V; Jakarta: PT Bulan Bintang,1991.
Hart, Michael H. The 100 diterjemahkan oleh tim Penerbit Karismadengan judul 100 Tokoh Palinhg berpengaruh Sepanjang  masa. Batam: Karisma Publishing Group, 2005
Hasyin, Musthafa. Tarikh al-fikr al-falsafy FIal-Islam. Darr al Tsagafah.
Larry, Lois. The Cultural Atlas of Islam diterjemahkan oleh ilyas Hasan dengan Judul Atlas Budaya Islam. Cet. 111; Bandung: Mizan,2001.
Leaman, Oliver. A Blief Introduktioon To Islamic Philosofhy. Cambridge:Polity Perss,1999.


[1] Michael H Hart, The 100 diterjemahkan oleh tim penerbit Karisma dengan judul 100 tokoh paling berpengaruh sepanjang masa (Batam: Karisma Publishing Group, 2005), h. 83
[2] Oliver leaman, A Brief Introduction To Islamic Philisiphy (Cambridge: Polity Prees, 1999), h. 6
[3] Harun Nasution, Filsafat dan misticisme dalam Islam,(Jakarta: Bulan Bintang, 1973), Cet. I, hlm. 13 
[4] Muhammad Ali Abu Rayan, Tarihk al-Fikr  al-Falsafy Fi al-Islam (Iskandariah: Dar al-Maarif al-Jamiah, 1980), h. 356
[5] Mustafa Hasyin, Tarikh al-fikr al-falsafy fi al-Islam (Dar al-0Tsagafah), h. 131
[6] Thawil Akhyar Dasuki, Sebuah Kompilasi filsafat Islam (Cet.1; Semarang: Toha Putra,1993), h. 26
[7] Miska Muhammad Amin, Epistemologi Islam (Cet. 111; Jakarta: UIP Press, 2006), h. 44
[8] Tim Ensiklopedi, Ensiklopedi Temati Dunia Islam Pemikiran Dan Peradaban (Ichtiar Baru Van Hoeve),  h.185
[9] Muhsin Mahdi, “Alfarabi” Dictionary of Scienctic Biography, ed. C.C. Oillispie (New York: 1971), h. 523
[10] Sudarsono, Filsafat Islam (Cet. 1; Jakarta: Rineka Cipta, 1997), h. 30
[11] Ahmad Hanafi, pengantar filsafat Islam ( Cet. V; Jakarta: PT Bulan Bintang, 1991), h. 81
[12] Dewan Redaksi Ensiklopedi Islam, Ensiklopedi Islam ( Cet. V1; Jakarta: Ichtiar Baru Van Hoeve, 1997), h. 331
[13] Ensiklopedi Tematis…,op. cit.
[14] Cyril Glasse, The Concise Encyclopedia OF Islam diterjemahkan oleh Ghufran Mas’adi dngan judul Ensiklopedi Islam Ringkas ( Cet. 11; Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 1999), h. 31
[15] EnsiklopediTematis...,op cit.
[16] Ibid
[17] Lois Larri, The cultural Atlas of Islam diterjemahkan oleh Ilyas Hasan dengan judul Atlas Budaya Islam (Cet. 111; Bandung: Mizan, 2001), h. 340
[18] Lan Richard Netton, Alfarabi and His School (Routledge: London, 1992), h.4
[19] Jamil Ahmad,Hundred Great Muslim diterjemahkan oleh tim penerjemah Pustaka Firdaus dengan judul Seratus Muslim Terkemuka ( Cet. 1V; Jakarta: Pustaka Firdaus,1996), h. 230
[20] Sirajuddin Zar, FilsafaiIslam:Filosof dan Filsafatnya ( Cet. 1;Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2004), h. 67
[21] Lorens Bagus, Kamus Filsafat (Cet. 11; Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2002), h. 193
[22] Ali Mudhafir, Kamus Teori Dan Aliran Dalam Filsafat Dan Tekhnologi (Cet.1; Jakarta: Gadjah Mada University Press, 1996), h. 75
[23] Yamani, Alfarabi Filosof Politik Muslim (Cet. ; Bandung; Mizan, 2005), h. 28
[24] Ensiklopedi Tematis…,op cit.,h. 187
[25] Ahmad Hanafi, Filsafat Skolastik ( Cet.X1; Jakarta: Pustaka Alhusna, 1998), h. 63
[26] Ensiklopedi Tematis…,op cit., h. 189
[27] Harun Nasution, Filsafat Agama (Jakarta: PT Bulan Bintang, 1973), h. 74
[28] Ahmad Hanafi, Pengantar….op cit., h. 103
[29] Lois Larry, The Cultural….op cit.
[30] Lois Marlow, Herarchy And Egalitarianisme In Islamic Thoght diterjemahkan oleh Nana Nurmila dengan judul Masyaraka Egaliter Visi Islam Cet. 1; Bandung: Mizan, 1999), h. 60
[31] Majid Fakhry, A short Intruktion To Islamic Philosophy Theology And Mysticism diterjemahkan oleh Zaimul Am dengan judul Sejarah Filsafat Islam: Sebuah Peta Kronologis (Cet. 11; Bandung: Mizan 2002), h. 53
[32] Ensiklopedi Tematis….op. cit.,h. 192
[33] Ensiklooedi Islam….op.cit., h. 333
[34] Sirajuddin zar Filsafa Islam, Ed, I;Jakarta:PT. Raja Grafindo Persada, h. 88-90.

1 komentar:

rikudou sennin mengatakan...

mantap... puas dengan tampilannya...

Poskan Komentar

apakah anda tidak menemukan yang anda cari??? silahkan tuliskan sesuatu yang anda cari itu....

FACEBOOK COMENT

ARTIKEL SEBELUMNYA

 
Blogger Templates