Minggu, 01 Mei 2011

KONSEP AKHIRAT DALAM AL-QUR'AN

OLEH : muhammad rafi;iy rahim. S. Th. I
BAB I
PENDAHULUAN 
A. Latar belakang
Dalam kaitannya dengan upaya memahami dan mengkaji al-Qur’an, dikenal adanya metode tafsir tahlili, maudhu’i, semantik, semiotik, stilistik, retorik dan lain sebagainya. Semua itu merupakan perangkat pendukung untuk memahami makna-makna yang terkandung dalam teks-teks al-Qur’an. Selain itu, karena alasan bahwa bahasa adalah bentuk pemikiran, sedangkan makna adalah kandungannya, adapun realitas eksternal merupakan rujukan maknanya.[1]
Al-Qur’an juga turun tidak dalam suatu ruang dan waktu yang hampa nilai, melainkan di dalam masyarakat yang sarat dengan berbagai nilai budaya dan religius. Sebagai kitab suci yang menghadapi masyarakat dengan kebudayaan dan peradaban terus berkembang dan maju, di dalamnya terdapat ayat-ayat kealaman (sciences), eskatologi, dan kemasyarakatan. Ayat-ayat ini dapat dijadikan pedoman, motivasi dan etika dalam masyarakat sosial (social engineering) serta rekayasa teknik (technical engineering).
Social engineering adalah penciptaan tatanan kemasyarakatan yang sesuai dengan kondisi objektif setiap komunitas masyarakat dengan tetap bersendi kepada prinsip-prinsip umum yang ditetapkan al-Qur’an. Substansi ajaran al-Qur’an tidak bermaksud menciptakan masyarakat seragam di seluruh belahan bumi di sepanjang masa, tetapi memberikan prinsip-prinsip umum yang memungkinkan terwujudnya pola keseimbangan hidup di dalam masyarakat.
Untuk dapat mengetahui apa yang terkandung dalam al-Qur’an dan yang menjadi substansinya, diperlukan pemahaman mengenai latar belakang dan makna kenapa dan mengapa suatu ayat dalam al-Qur’an itu diturunkan. Sehingga pengetahuan tentang asbab al-nuzul dan eskatologi sangat penting dalam memahami kandungan isi al-Qur’an.
  1.        Rumusan masalah
    1.        Pengertian ilmu eksatologi dalam kaitannya dengan akhirat.
    2.        Kehidupan di akhirat.
    3.       Term yang terkait dengan akhirat.



BAB II
PEMBAHASAN
  1. Pengertian ilmu eksatologi dalam kaitannya dengan akhirat\
Âkhirat (Arab: الآخرة , Âkhiroh) dipakai untuk mengistilahkan kehidupan alam baka (kekal) setelah kematian/ sesudah dunia berakhir. Pernyataan peristiwa alam akhirat sering kali diucapkan secara berulang-ulang pada beberapa ayat di dalam Al Qur'an sebanyak 115 kali[2], yang mengisahkan tentang Yawm al-Qiyâmah dan akhirat juga bagian penting dari eskatologi Islam.
Akhirat dianggap sebagai salah satu dari rukun iman yaitu: Percaya Allah, percaya adanya malaikat, percaya akan kitab-kitab suci, percaya adanya nabi dan rasul dan percaya takdir dan ketetapan. Menurut kepercayaan Islam, Allah akan memainkan peranan, beratnya perbuatan masing-masing individu. Allah akan memutuskan apakah orang tersebut di akhirat akan diletakkan di Jahannam (neraka) atau Jannah (surga). Kepercayaan ini telah disebut sebelumnya sebagai Hari Penghakiman dalam ajaran Islam.
Akhirat adalah dimensi fisik dan hukum-hukum dunia nyata yang terjadi setelah dunia fana berakhir. Bagi mereka yang beragama samawi meyakini bahwa kehidupan akhirat sebagai tempat dimana segala perbuatan seseorang di dalam kehidupan dunia ini akan dibalas. Namun tidak sedikit juga orang yang meragukan akan adanya kehidupan akhirat (kehidupan setelah kematian). Mereka-mereka yang meyakini adanya kehidupan akhirat ada yang menyatakan: 'Mudahnya meyakini adanya kehidupan setelah kematian sama mudahnya dengan meyakini adanya hari esok setelah hari ini, adanya nanti setelah sekarang, adanya memetik setelah menanam'. Dengan meyakini adanya kehidupan akhirat setelah kehidupan didunia ini akan menjaga seseorang dari bertindak sesuka hatinya, karena ia yakin segala hal yang ia perbuat dalam kehidupannya sekarang akan dituainya kemudian di alam setelah kematian.
Gambaran umum mengenai eskatologi al-Qur’an adalah kenikmatan surga dan azab neraka. Surga dan neraka ini sering dinyatakan al-Qur’an sebagai imbalan dan hukuman secara garis besarnya, termasuk “keridhaan dan kemurkaan Allah”. Tetapi ide pokok yang mendasari ajaran al-Qur’an tentang akhirat adalah bahwa akan tiba saat (al-sa’ah) ketika tiap manusia akan mendapat kesadaran unik yang belum pernah dialami sebelumnya.[3]
Adapun surah al-Qur’an yang sangat dominan menyiratkan adanya konsep eskatologi ini adalah surah al-Zalzalah. Surah ini merupakan sebuah representasi yang khas mengenai kejadian-kejadian yang sangat mengerikan pada saat itu. Di samping itu masih banyak surah yang menerangkan tentang hari kiamat, misalnya surah al-Dzariyat, al-Takwir, al-Infithar, al-Insyiqaq, al-Ghasyiyah, al-Qari’ah, al-Takasur, al-‘Adiyat, al-Fajr, al-Nazi’at, al-Naba’, al-Mursalat, al-Qiyamah, al-Ma’arij, al-Haqqah, al-Waqi’ah.[4]
إِذَا زُلْزِلَتِ الأرْضُ زِلْزَالَهَا. وَأَخْرَجَتِ الأرْضُ أَثْقَالَهَا. وَقَالَ الإنْسَانُ مَا لَهَا. يَوْمَئِذٍ تُحَدِّثُ أَخْبَارَهَا. بِأَنَّ رَبَّكَ أَوْحَى لَهَا. يَوْمَئِذٍ يَصْدُرُ النَّاسُ أَشْتَاتًا لِيُرَوْا أَعْمَالَهُمْ. فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ. وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ
Apabila bumi digoncangkan dengan goncangan (yang dahsyat). dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat (yang dikandung)nya, dan manusia bertanya: “Mengapa bumi (menjadi begini)?”, pada hari itu bumi menceritakan beritanya, karena sesungguhnya Tuhanmu telah memerintahkan (yang sedemikian itu) kepadanya. Pada hari itu manusia ke luar dari kuburnya dalam keadaan bermacam-macam, supaya diperlihatkan kepada mereka (balasan) pekerjaan mereka Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula”. [5]
Inilah proses awal kejadian hari akhir, yang kemudian diikuti dengan pembangkitan kembali. Melalui ayat ini, dan ayat-ayat senada lainnya, Allah menjelaskan bahwa seluruh manusia akan dibangkitkan kembali. Sebab itu, hari tersebut dinamai dengan yaum al-bats atau yawm al-qiyamah[6].
Dalam al-Zalzalah terdapat kecenderungan pengulangan ayat. Padahal pengulangan biasanya hanya dalam surah yang panjang. Jika pengulangan terdapat pada keadaan-keadaan singkat, maka itu menunjukkan perhatian dan pengaruh secara psikis. Menurut Bint al-Syathi, pengulangan-pengulangan tersebut merupakan fenomena uslub (gaya bahasa) di dalam al-Qur’an untuk pemantapan, penetapan dan penegasan.[7]
Lafaz-lafaz yang dipilih untuk keadaan hari kiamat sangat berpengaruh dan kuat kesannya; baik karena kekerasannya seperti al-Zalzalah (guncangannya, benturannya, getarannya, kedahsyatannya, kebesaran peristiwanya, cerai-berainya, dll.); maupun karena kehalusannya seperti sebutir zarrah, debu yang berterbangan, bulu yang berhamburan, fatamorgana, asap, dll.[8]
Itulah sebabnya mengapa al-Qur’an terus-menerus menyerukan agar manusia “mengirimkan sesuatu untuk masa mendatang” (59: 18), karena apapun juga yang menimpa manusia adalah hasil perbuatannya yang terdahulu. Sehubungan dengan akhirat secara eksklusif lihat ayat-ayat 2: 95; 62:7; 78: 40. dll. Sesungguhnya esensi “akhirat” adalah akhir kehidupan atau akibat jangka panjang dari amal perbuatan manusia di atas dunia ini.[9]
Sebaliknya “al-dunya” (tujuan-tujuan yang bersifat langsung) bukanlah dunia ini, tetapi nilai-nilai yang rendah atau keinginan-keinginan rendah yang tampaknya sedemikian menggoda sehingga setiap saat dikejar oleh hampir semua manusia dengan mengorbankan tujuan-tujuan yang lebih mulia dan berjangka panjang.
Gambaran tentang kebahagiaan dan penderitaan manusia di akhirat itu tidak hanya bersifat spiritual. Jadi al-Qur’an tidak membenarkan surga dan neraka yang sama sekali bersifat “spiritual”. Dengan demikian yang menjadi subyek kebahagiaan dan siksaan adalah manusia sebagai pribadi. Jika al-Qur’an berulang kali dengan gaya yang sangat indah dan dengan sedemikian tandasnya berbicara mengenai kebahagiaan dan penderitaan fisik di akhirat nanti, maka yang dimaksudkannya bukanlah kiasan-kiasan semata. Gambaran-gambaran yang sangat jelas mengenai api neraka yang menyala-nyala dan taman surga yang indah dimaksudkan untuk menerangkan efek-efek ini sebagai perasaan-perasaan fisik-spiritual yang riil dan yang berbeda dari efek-efek psikologis yang ditimbulkan oleh keterangan-keterangan tersebut.[10]
Al-Zalzalah menurut bahasa berarti “gerakan yang keras dan guncangan yang dahsyat”. Kata ini digunakan pada hal-hal yang dapat dindera. Seperti kata-kata zalzala al-ibila (jika dia menuntun unta dengan keras, maka guncanglah jalannya), tazalzalat al- ardhu (jika bumi berguncang dan bergetar). Kemudian ia digunakan dalam hal-hal yang keras dan menakutkan.
Menurut Bint al-Syathi, kata al-zilzal (keguncangan) digabungkan dengan kata al-ardh (bumi) sejalan dengan spontanitas yang tampak pada ayat sesudahnya, yaitu pengeluaran bumi akan beban-beban dan pembicaraan-pembicaraan tentangnya. Selanjutnya, dengan diaktifkannya kalimat zulzilat al-ardhu (bumi diguncangkan) dan kuatnya efektivitas yang diperoleh secara langsung dari ikhraj (pengeluaran), tahaddus (skenario kejadian) dan al-zalzalah (guncangan) kepada bumi, maka tidak ada alasan bagi perkiraan perantaraan para malaikat untuk menyampaikan “wahyu” kepada bumi yang berguncang dengan guncangannya yang hebat; mengeluarkan kandungannya dan menceritakan berita-beritanya.[11]
Kata yaumaidzin (pada hari itu) diulang-ulang untuk menghubungkan urutan-urutan keadaan, serta mengembalikan perhatian pendengar kepada ayat-ayat sebelumnya, serta mengulangi peringatan-peringatan yang telah mantap di benaknya.
Mayoritas mufasir berpendapat bahwa yashduru al-nas (manusia keluar dari kuburnya) di sini bermakna mereka keluar dari kuburan atau mereka berpaling dari keadaan hisab. Menurut Bint al-Syathi, penafsiran yashduru (mengeluarkan) dengan “keluar” atau “berpaling” kehilangan inspirasi kata di dalam rasa bahasa Arab, yang menggunakan kata al-shadr (keluar) lawan dari al-wird (kembali).[12]
Lafaz Asytat (bercerai-berai) adalah jamak dari syatt. Asytat dan syatt tersebut di dalam bahasa adalah cerai-berai dan perselisihan. Materi tersebut terdapat pada lima tempat dalam al-Qur’an, tiga di antaranya dengan bentuk syatta: (Q.S Thaha :20: 53). (Q.S. Al-Lail 92: 4), dan (Q.S. Al-Hasyr 59:14) dua kali dalam bentuk asytat (Q.S. al-Nur 24: 61 )[13]
Adapun mitsqal adalah sesuatu yang ditimbang. Ia termuat di dalam al-Qur’an delapan kali; dua kali di antaranya digandengkan dengan habbah min khaldal (biji sawi). (Q.S. al-Anbiya’ 21: 47). Dan (Q.S. Luqman 31: 16). Konteks dan struktur dua ayat itu menegaskan bahwa yang dimaksud dengan mitsqal di sini bukanlah ringannya timbangan, tetapi kecilnya ukuran. Sedangkan enam kali lainnya mitsqal_disambung dengan dzarrah (Q.S yunus 10: 61, Q.S. Al-Saba. 34: 3; 22. Q.S. al-Nisa’ 4: 40), dan dua ayat dalam al-zalzalah.[14]
Jelaslah bahwa yang dimaksud dengan dzarrah di dalam kedua ayat tersebut adalah ringannya timbangan. Meskipun banyak mufassir yang berusaha menentukan bahwa kadar dzarrah adalah seperseratus berat biji gandum atau ia adalah atom yang rahasianya baru ditemukan oleh ilmu pengetahuan pada abad kedua puluh ini, namun Bint al-Syathi membantahnya dengan berpendapat bahwa Bahasa Arab memberi makna “dzarr” pada segala sesuatu yang menerangkan kelemahan, kekecilan dan keringanan timbangan.
Selanjutnya, Bint al-Syathi melihat bahwa dengan keadaan dan susunan konteks dari guncangan, ledakan, pecahan dan benturan. Maka mereka mengeluarkan beban-beban dan pergi secara terpisah-pisah dan tercerai-berai menampakkan amal yang baik ataupun yang buruk meskipun sebesar biji sawi.
Demikianlah, semua amal baik kecil maupun besar akan diperlihatkan kepada pelakunya dengan adanya perhitungan dan pembalasan, dengan keadilan, kemuliaan, dan kemurahan-Nya. Allah swt memberi ampun kepada siapa saja yang Dia kehendaki dan menyiksa siapa saja yang Dia kehendaki, dan sesungguhnya Allah swt mampu melakukan apa saja yang Dia kehendaki.
  1. Kehidupan di akhirat.
Kehidupan akhirat dimulai dengan peniupan sangkakala:
وَحُمِلَتِ الْأَرْضُ وَالْجِبَالُ فَدُكَّتَا دَكَّةً وَاحِدَةً . فَيَوْمَئِذٍ وَقَعَتِ الْوَاقِعَةُ . وَانْشَقَّتِ السَّمَاءُ فَهِيَ يَوْمَئِذٍ وَاهِيَةٌ
   Maka apabila sangkakala ditiup sekali tiup, dan diangkatlah bumi dan gunung-gunung, lalu dibenturkan keduanya sekali bentur. Maka hari itu terjadilah hari kiamat, dan terbelahlah langit sehingga hari itu langit menjadi lemah” [15]
Dalam ayat lain dijelaskan bahwa:
وَنُفِخَ فِي الصُّورِ فَصَعِقَ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَمَنْ فِي الْأَرْضِ إِلَّا مَنْ شَاءَ اللَّهُ…
“... dan ditiup sangkakala sehingga matilah siapa (makhluk) yang di langit dan di bumi, kecuali siapa yang dikehendaki Allah.[16]
Yang dikecualikan antara lain  adalah  malaikat  Israfil  yang bertugas  meniup  sangkakala  itu.  Ini  karena masih akan ada peniupan kedua sebagaimana lanjutan ayat di atas:
 ثُمَّ نُفِخَ فِيهِ أُخْرَى فَإِذَا هُمْ قِيَامٌ يَنْظُرُون
   “Kemudian ditiupkan sangkakala itu sekali lagi, maka tiba-tiba mereka (semua yang telah mati) berdiri menunggu (putusan Tuhan terhadap masing-masing)”[17] 
Banyak sekali ayat Al-Quran yang berbicara tentang  kehancuran alam  raya, matahari digulung, bulan terbelah, bintang-bintang pudar cahayanya, gunung dihancurkan sehingga menjadi debu yang beterbangan   bagaikan   kapas,   dan  sebagainya.  Itu  semua merupakan kehancuran total, bukan kehancuran  bagian  tertentu saja dari alam raya ini.[18]
Begitu  manusia  dihidupkan kembali dengan peniupan sangkakala kedua, tiba-tiba:
مُهْطِعِينَ إِلَى الدَّاعِ يَقُولُ الْكَافِرُونَ هَذَا يَوْمٌ عَسِرٌ . كَذَّبَتْ قَبْلَهُمْ قَوْمُ نُوحٍ فَكَذَّبُوا عَبْدَنَا وَقَالُوا مَجْنُونٌ وَازْدُجِرَ   
“Sambil menundukkan pandangan, mereka keluar dari kubur mereka bagaikan belalang yang beterbangan. Mereka datang dengan cepat kepada penyeru itu. Orang-orang kafir -ketika itu- berkata: "Ini adalah hari yang sulit."[19]”.

Ada jarak waktu antara peniupan pertama dan kedua. Hanya Allah yang  mengetahui  kadar  waktu  itu.  Dan ketika semua makhluk telah meninggal, termasuk Israfil, Allah  Swt.  "berseru"  dan "bertanya":
لِمَنِ الْمُلْكُ الْيَوْمَ لِلَّهِ الْوَاحِدِ الْقَهَّارِ 
 "Kepunyaan siapakah kerajaan/kekuasaan hari ini? (Kemudian Allah menjawabnya sendiri): "Kepunyaan Allah yang Maha Esa lagi Maha Mengalahkan"[20].
Saat peniupan kedua, manusia sadar bahwa  kehidupan  di  dunia hanya  sebentar  (QS  Al-Isra'  [17]: 43) bahkan mereka merasa hanya bagaikan boberapa  saat  di  sore  atau  pagi  hari  (QS Al-Nazi'at [79]: 46). [21]
Dari  sana manusia digiring ke mahsyar (tempat berkumpul untuk menghadapi pengadilan Ilahi):
   "Setiap jiwa datang dengan satu penggiring dan satu penyaksi".[22]
Penggiring adalah malaikat dan penyaksi  adalah  diri  manusia sendiri  yang  tidak  dapat  mengelak,  atau amal perbuatannya masing-masing. Begitu penafsiran para ulama.
 Dan ketika itu terjadilah pengadilan agung.
 وَنُفِخَ فِي الصُّورِ ذَلِكَ يَوْمُ الْوَعِيدِ (20) وَجَاءَتْ كُلُّ نَفْسٍ مَعَهَا سَائِقٌ وَشَهِيدٌ
   "Pada hari itu yang menjadi saksi atas mereka adalah lidah, tangan, dan kaki mereka, menyangkut apa yang dahulu mereka lakukan" [23]
Bahkan boleh jadi, mulut mereka  ditutup  dan  yang  berbicara adalah   tangan  mereka  kemudian  kaki  mereka  yang  menjadi saksi-saksinya Sebagaimana ditegaskan dalam surat Ya Sin (36): 65.[24]
Yang   ingin   diinformasikan   oleh  ayat-ayat  di  atas  dan semacamnya adalah bahwa pada hari itu  tidak  ada  yang  dapat mengelak,  tidak ada juga yang dapat menyembunylkan sesuatu di hadapan pengadilan yang maha agung itu.
 يَوْمَ تَشْهَدُ عَلَيْهِمْ أَلْسِنَتُهُمْ وَأَيْدِيهِمْ وَأَرْجُلُهُمْ بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
   Siapa yang mengerjakan (walau) sebesar zarrah (darikebaikan). maka dia akan melihat (ganjarannya)”[25].
Demikian pula sebaliknya (baca surat Al-Zilzal [99]: 8). Pengadilan Ilahi itu akan  diadakan  terhadap  setiap  pribadi mukalaf,
إِنْ كُلُّ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ إِلَّا آتِي الرَّحْمَنِ عَبْدًا . لَقَدْ أَحْصَاهُمْ وَعَدَّهُمْ عَدًّا . وَكُلُّهُمْ آتِيهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَرْدًا
"Tidak ada satupun di langit dan di bumi kecuali akan datang kepada Tuhan Yang Maha Pemurah selaku seorang hamba. Sesungguhnya Tuhan telah menentukan jumlah mereka dan menghitung mereka dengan hitungan yang teliti. Dan tiap-tiap mereka akan datang kepada Allah dengan sendiri-sendiri[26] 
Pengadilan itu menggunakan "timbangan" yang hak sehingga tidak ada  yang  teraniaya  karena walau sebesar biji sawi pun Tuhan akan mendatangkan ganjarannya. (Baca QS Al-Anbiyat [21]:  47). Apakah timbangan itu sesuatu yang bersifat material atau hanya kiasan tentang keadilan mutlak,  tidaklah  banyak  pengaruhnya dalam  akidah, selama diyakini bahwa ketika itu tidak ada lagi sedikit penganiayaan pun[27]. Yang pasti adalah:

“Timbangan pada hari itu adalah kebenaran. Barangsiapa yang berat timbangan (amal salehnya) maka mereka adalah orang-orang beruntung, dan siapa yang ringan timbangan kebaikannya maka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri disebabkan mereka selalu mengingkari ayat-ayat Kami[28]
Hasil  pencatatan  amal  manusia  yang  ditimbang  itu,   akan diserahkan kepada setiap orang:
 فَأَمَّا مَنْ أُوتِيَ كِتَابَهُ بِيَمِينِهِ فَيَقُولُ هَاؤُمُ اقْرَءُوا كِتَابِيَهْ . إِنِّي ظَنَنْتُ أَنِّي مُلَاقٍ حِسَابِيَهْ . فَهُوَ فِي عِيشَةٍ رَاضِيَةٍ . فِي جَنَّةٍ عَالِيَةٍ . قُطُوفُهَا دَانِيَةٌ . كُلُوا وَاشْرَبُوا هَنِيئًا بِمَا أَسْلَفْتُمْ فِي الْأَيَّامِ الْخَالِيَةِ . وَأَمَّا مَنْ أُوتِيَ كِتَابَهُ بِشِمَالِهِ فَيَقُولُ يَا لَيْتَنِي لَمْ أُوتَ كِتَابِيَهْ . وَلَمْ أَدْرِ مَا حِسَابِيَهْ . يَا لَيْتَهَا كَانَتِ الْقَاضِيَةَ . مَا أَغْنَى عَنِّي مَالِيَهْ . هَلَكَ عَنِّي سُلْطَانِيَهْ
   Adapun orang-orang yang diberikan kepadanya kitab (catatan amalnya) dari arah kanannya, maka (dengan gembira) ia berkata: "Inilah, bacalah kitabku ini. Sesungguhnya (sejak dahulu di dunia) aku yakin bahwa sesungguhnya aku akan menemui hisab (perhitungan) atas diriku." Maka orang itu berada dalam kehidupan yang diridhai; dalam surga yang tinggi, buah-buahannya dekat. (Kepada mereka dikatakan): "Makan dan minumlah dengan sedap dikarenakan amal-amal yang telah kamu kerjakan di hari-hari terdahulu (di dunia)." Adapun yang diberikan kepadanya kitabnya dari arah kirinya, maka dia berkata: "Aduhai, alangkah baiknya kiranya tidak diberikan kepadaku kitabku (ini), dan aku tidak mengetahui apa hisab (perhitungan) terhadap diriku. Aduhai, kiranya kematian itulah yang menyelesaikan segala sesuatu. Hartaku sama sekali tidak member manfaat bagiku. Telah hilang kekuasaan dariku"[29]
Dari mahsyar (tempat berkumpul),  manusia  menuju  surga  atau neraka.  Beberapa  ayat  dalam Al-Quran menginformasikan bahwa dalam perjalanan ke sana mereka melalui  apa  yang  dinamai  "shirath" .
 Antarlah mereka (hai malaikat) menuju Shirath Al-Jahim”[30].
Dalam  konteks  pembicaraan  tentang   hari   akhirat,   Allah berfirman:
 وَلَوْ نَشَاءُ لَطَمَسْنَا عَلَى أَعْيُنِهِمْ فَاسْتَبَقُوا الصِّرَاطَ فَأَنَّى يُبْصِرُونَ
   Dan jika Kami menghendaki, pastilah Kami hapuskan penglihatan mata mereka, lalu mereka berlomba-lomba (mencari) ash-shirath (jalan). Maka, bagaimana mereka dapat melihatnya?”[31].
Di sisi lain Allah menegaskan pula bahwa:
 وَإِنْ مِنْكُمْ إِلَّا وَارِدُهَا كَانَ عَلَى رَبِّكَ حَتْمًا مَقْضِيًّا . ثُمَّ نُنَجِّي الَّذِينَ اتَّقَوْا وَنَذَرُ الظَّالِمِينَ فِيهَا جِثِيًّا
   Dan tidak seorang pun di antara kamu kecuali melewatinya (neraka). Hal itu bagi Tuhanmu adalah suatu kemestian yang sudah ditetapkan-Nya. Kemudian Kami menyelamatkan orang-orang yang bertakwa dan membiarkan orang-orang yang zalim, di dalam neraka dalam keadaan berlutut [32]
Berdasar ayat-ayat tersebut, sementara ulama berpendapat bahwa ada yang dinamai "shirath" -berupa jembatan yang harus dilalui setiap orang menuju  surga.  Di  bawah  jalan  (jembatan)  itu terdapat neraka dengan segala tingkatannya. Orang-orang mukmin akan  melewatinya  dengan  kecepatan  sesuai  dengan  kualitas ketakwaan  mereka.  Ada  yang melewatinya bagaikan kilat, atau seperti angin berhembus, atau secepat lajunya  kuda;  dan  ada juga  yang  merangkak,  tetapi  akhirnya  tiba juga. Sedangkan orang-orang kafir akan menelusurinya pula tetapi mereka  jatuh ke neraka di tingkat yang sesuai dengan kedurhakaan mereka.
Konon shirath itu lebih tipis dari rambut dan lebih tajam dari pedang,
 بلغنى أنه ارق من الشعر و احر من السيف
Demikian kata Abu Sa'id sebagaimana diriwayatkan oleh  Bukhari dan Muslim.
Para  ulama khususnya kelompok Mu'tazilah yang sangat rasional menolak keberadaan shirath dalam pengertian material di  atas, lebih-lebih  melukiskannya  "dengan  sehelai  rambut  di belah tujuh".  Memang,  melukiskannya  seperti  itu,  paling  tidak, bertentangan  dengan  pengertian kebahasaan dari kata shirath. Kata tersebut berasal dari kata saratha yang  arti  harfiahnya adalah  "menelan".  Kata  shirath antara lain diartikan "jalan yang lebar", yang karena lebarnya maka seakan-akan ia  menelan setiap yang berjalan di atasnya.[33]
Betapapun,  pada  akhirnya  hanya  ada  dua tempat, surga atau neraka. Pembahasan tentang surga dan neraka,  kita  tangguhkan sampai  dengan  kesempatan lain. Ini disebabkan karena luasnya jangkauan ayat-ayat Al-Quran yang membicarakannya. Bukan  saja uraian  tentang  aneka  kenikmatan dan siksanya, tetapi sampai kepada rincian peristiwa-peristiwa yang  digambarkan  Al-Quran menyangkut perorangan atau kelompok, dan lain sebagainya.[34]
  1. Term-term yang terkait hari akhirat
    1. Hari kematian
Umat manusia hidup di dunia ini sangat terbatas dan tidak bertahan lama, bila dibandingkan dengan eksistensi alam semesta ini. Rata-rata kehidupan di dunia ini selama 63 tahun, sebagaimana usia Rasulullah Saw. Apabila ada orang yang dianugerahi usia lebih dari itu, maka itu merupakan bonus dari Allah Swt. Setiap manusia mesti mengalami akhir kehidupan itu, yang sering disebut dengan kematian. Hal ini dinyatakan secara tegas di dalam al-Quranul Karim pada S. Ali ‘Imran: 185;
كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ
"Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan baru pada hari kiamatlah disempurnakan pahalamu. Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan."[35]
Kematian ini merupakan salah satu bahasan ilmu Eskatologi yang termasuk cabang Teologi. Menurut Eliade, Eskatalogi termasuk bagian dari agama dan filsafat yang menguraikan secara runtut semua persoalan dan pengetahuan tentang akhir zaman, seperti kematian, alam barzah, kehidupan surga dan neraka, hukuman bagi yang berdosa, pahala bagi yang berbuat baik, hari bangkit, pengadilan pada hari itu, dan sebagainya. Secara ringkas Barnhart menjelaskan "Eschatology is a doctrina of the last or final things, specially death, judgment, heaven and hell". Eskatologi ialah ajaran tentang akhir segala sesuatu, khususnya kematian, pembalasan, surga, dan neraka.
Kematian itu sesuatu yang mesti terjadi pada seseorang, walaupun ia berusaha menghindari kematian atau berusaha bersembunyi dan berlindung di tempat yang dikira aman. Seseorang tidak dapat lari dan menjauhi kematian. Hal ini secara tegas dikemukakan oleh Allah Swt. dalam firman-Nya, S. An-Nisa: 78;
أَيْنَمَا تَكُونُوا يُدْرِكْكُمُ الْمَوْتُ وَلَوْ كُنْتُمْ فِي بُرُوجٍ مُشَيَّدَةٍ ...
"Dimana saja kamu berada, kematian akan mendapatkanmu, kendatipun kamu berada di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh."[36]
Agama Islam memang menganjurkan untuk berobat apabila menderita sakit dan melakukan upaya-upaya jangan sampai terjangkit penyakit dengan menjaga kebersihan badan, tempat, dan lingkungan. Rasulullah Saw. juga banyak memberikan petunjuk dan arahan dalam rangka menjaga kesehatan dan menghindari dari terjangkit penyakit, seperti sabda beliau:
"Apabila kalian mendengar ada wabah penyakit di suatu negeri, maka kalian jangan masuk ke negeri itu. Sebaliknya, apabila kalian berada di suatu negeri di mana terjadi wabah penyakit, maka kalian jangan keluar dari negeri itu (maksudnya jangan sampai menularkan penyakit)."
Beliau juga memerintahkan untuk menjauhi orang yang berpenyakit levra sebagaimana menjauhi singa. Bahkan, beliau juga melarang kita buang air di air yang digunakan orang banyak untuk mengambil air wudhu, mandi, atau lain-lainnya, juga buang air di jalan orang banyak dan di bawah naungan mereka.
Namun demikian, kematian tetap akan mengejar kita, betapapun kesehatan yang kita usahakan berhasil. Namun demikian, kita memang tidak boleh menyerah kepada takdir tanpa ikhtiar. Seringkali kita melihat ada seseorang yang benar-benar kelihatan sehat bugar, tiba-tiba meninggal dunia. Jadi, kematian tetap akan menjumpai kita, sebagaimana ditegaskan oleh Allah Swt. dalam S. Al-Jumu'ah: 8;
قُلْ إِنَّ الْمَوْتَ الَّذِي تَفِرُّونَ مِنْهُ فَإِنَّهُ مُلَاقِيكُمْ ثُمَّ تُرَدُّونَ إِلَى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ
"Katakanlah, sesungguhnya kematian yang kamu lari darinya, sungguh akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah) yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu dia memberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan".[37]
Bagaimana sebenarnya pandangan Islam tentang kematian itu? Kematian merupakan sesuatu yang tidak perlu ditakuti, karena kematian itu merupakan jalan kembali kepada Tuhan yang menciptakan kita semua. Dahulu kita berada di sisi Allah kemudian kita diturunkan atau dilahirkan di muka bumi ini menjalani kehidupan sementara, kemudian kita mengakhirinya dengan kematian, yang sebenarnya kita kembali ke sisi Allah lagi. Dengan kata lain, kita dipanggil oleh Yang Maha Kuasa agar kembali kepada-Nya. Karena itu, kita sering mengatakan kepada orang yang meninggal dunia itu "berpulang ke rahmatullah" atau kita mengucapkan Innalillahi wainna ilaihi raji'un, yang artinya "sesungguhnya kita ini milik Allah dan kepada-Nyalah kita kembali".
Pada dasarnya setiap manusia itu mengalami dua kali kematian dan dua kali kehidupan. Kematian yang pertama ialah sebelum kita dihidupkan di muka bumi ini dan kematian kedua waktu kita mengakhiri kehidupan ini. Kehidupan pertama ialah waktu kita hidup di dunia ini yang bersifat sementara dan kehidupan kedua adalah waktu kita dibangkitkan di akhirat nanti. Allah Swt. menjelaskan hal itu dalam S. Al-Baqarah: 28;
كَيْفَ تَكْفُرُونَ بِاللَّهِ وَكُنْتُمْ أَمْوَاتًا فَأَحْيَاكُمْ ثُمَّ يُمِيتُكُمْ ثُمَّ يُحْيِيكُمْ ثُمَّ إِلَيْهِ تُرْجَعُونَ
"Mengapa kamu kafir kepada Allah, padahal kamu tadinya mati, lalu Allah menghidupkan kamu, kemudian kamu dimatikan-Nya, kemudian dihidupkan-Nya kembali, kemudian kepada-Nyalah kamu dikembalikan?".[38]
Dalam ayat tersebut digunakan kata fa artinya "lalu" yang menunjukkan langsung, amwatan fa ahyakum (tadinya mati lalu dihidupkan), dan digunakan kata tsumma artinya "kemudian" yang menunjukkan tidak langsung tetapi ada senggang waktu faahyakum tsumma yumitukum (dihidupkan kemudian dimatikan), yakni setelah beberapa tahun umurnya. Betapa indahnya gaya bahasa al-Qur'an yang sangat tinggi fashahah dan balaghahnya.
Kematian merupakan awal atau pintu gerbang menuju kehidupan abadi sesuai dengan ayat di atas. Oleh karena itu, dalam al-Qur'an disebutkan bahwa sesungguhnya kematian itu sebenarnya kehidupan. Artinya, jika seseorang ingin hidup terus menerus, maka ia harus mengalami kematian terlebih dahulu. Tanpa kematian tidak akan ada kehidupan abadi. Atau dalam istilah al-Qur'an, orang yang mati disebut "Kembali kepada Sang Pencipta".
Dalam perspektif al-Qur'an, hidup dan mati merupakan ajang persaingan amal di antara manusia. Dalam hal ini dikhususkan kepada manusia, karena manusialah yang diberi beban untuk menjalankan segala aturan yang telah ditetapkan kepadanya. Dengan daya nalarnya manusia dapat memilah dan memisahkan antara yang baik dan yang buruk atau yang benar dan yang salah. Dengan begitu, Allah dapat mengevaluasi yang terbaik amalnya di kalangan manusia, sebagaimana ditegaskan Allah dalam S. Al-Mulk: 2 :
الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ
"Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun."[39]
Sementara itu, Rasulullah Saw. menggambarkan kehidupan dunia ini laksana ladang, addunya mazra'atul akhirah, ladang untuk menanam tanaman berdasarkan timbangan nalar manusia tadi. Jika di dunia ini kita menanam mangga, umpamanya, maka di akhirat nanti kita akan mendapatkan buah mangga. Sebaliknya, jika kita menanamkan kopi, maka akan tumbuh buah kopi juga. Apabila seseorang menanam kebaikan, maka akan memperoleh balasan kebaikan pula, yakni surga. Sebaliknya, apabila menanam kejahatan, maka buahnya juga kejahatan, yakni neraka.
Mengingat penting persolan kematian yang berkaitan dengan akhirat, maka al-Qur'an banyak menyebutkan pesan-pesan tentang akhir segala sesuatu. Surat-surat Makiyah umumnya mengandung pesan-pesan ini. Hal ini dimaksudkan agar manusia sebelum mengamalkan ajaran agama, terlebih dahulu mempunyai motivasi untuk melakukannya, karena setiap apa yang dilakukan itu akan diberi balasan. Kemudian, keyakinan kepada hari akhirat menjadi bagian yang sangat esensial dalam beragama. Bahkan, dalam al-Qur'an pernyataan tentang keimanan kepada Allah senantiasa digandengkan dengan hari akhirat. Umpamanya, termaktub dalam S. Al-Baqarah: 62; "Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari kemudian dan beramal shaleh maka mereka akan memperoleh pahala."[40]
    1. hari kebangkitan
Menurut al-Quran, hari kebangkitan adalah sangat penting karena berbagai alasan. Pertama, moral dan keadilan sebagai konstitusi realitas menurut al-Quran adalah kualitas untuk menilai perbuatan manusia, karena keadilan tidak dapat dijamin berdasarkan apa-apa yang terjadi di atas dunia. Kedua, tujuan-tujuan hidup harus dijelaskan dengan seterang-terangnya sehingga manusia dapat melihat apa yang telah diperjuangkannya dan apa tujuan-tujuan yang sesungguhnya dari kehidupan ini. Ketiga, yang sangat erat kaitannya dengan alasan kedua: perbantahan, perbedaan pendapat, dan konflik di antara orientasi-orientasi manusia akhirnya harus diselesaikan.[41]
Sementara itu, menurut Abd. Rahman Dahlan, ada tujuh cara al-Quran ketika memastikan akan datang dan terjadinya hari kebangkitan: Pertama, hari kebangkitan adalah hari pembalasan. Al-Quran menerangkan peristiwa-peristiwa yang akan terjadi pada hari kebangkitan merupakan pembalasan paling sempurna atas semua amal perbuatan manusia. Kedua, Allah bersumpah dengan hari kebangkitan. Allah bersumpah dengan menggunakan hari kebangkitan sebanyak tiga kali, misalnya dalam surat al-Qiyamah ayat1. Ketiga, hari kebangkitan terjadi karena kekuasaan Allah. Kebangkitan kembali seluruh manusia setelah kematian merupakan salah satu bukti kekuasaan Allah. Keempat, hari kebangkitan merupakan perulangan penciptaan manusia. Kelima, membangkitkan manusia adalah merupakan hal mudah bagi Allah. Keenam, siksa yang ditimpakan Allah di dunia merupakan contoh siksa akherat. Ketujuh, mengemukakan contoh tentang cara Allah menghidupkan orang yang telah mati.[42]
Demikian kuat pernyataan Tuhan tentang kepastian akan datangnya hari kebangkitan. Kerasnya pernyataan Tuhan tentang hari kebangkitan yang ditujukan kepada orang Arab Jahiliyah adalah karena sikap keras kepala mereka. Sesungguhnya Tuhan telah mengajukan argumentasi dari berbagai sudut pandang agar mereka bisa mengerti tentang keberadaan hari kebangkitan. Mulai dari penjelasan tentang penciptaan alam, manusia, ibrah dengan kisah-kisah umat terdahulu yang membangkang ajaran nabinya, dan akibat-akibat yang akan dialami manusia pada hari akhirat kelak. Kemudian digambarkan pula tentang kejadian-kejadian dahsyat yang menandai datangnya hari kebangkitan. Sungguh ini adalah peringatan yang sangat keras dari Tuhan.
    1. Balasan di akhirat
Kata jannah secara etimologis berasal dari جَنَّ   (janna) dengan derivasi الجُنَّةُ yang berarti السِّترُ (tutup tabir, penutup atau tertutup)[43].  Dengan demikian jannah yang dimaksud oleh orang muslim sebagai balasan di akhirat masih tertutup (tersembunyi) sampai hari ini. Kata jannah dalam percakapan bangsa Arab (lihat lisanul ‘Arab) hanya dimaksudkan pada sebuah taman penuh dengan pohon kurma dan anggur[44].  Apabila kedua pepohonan ini tidak terdapat dalam suatu tempat, maka secara umum tempat tersebut dinamakan kebun[45], ذات الشجر الحديقة.[] Dari kata janna pula muncul kata جِنَّة  (jinnah, sekelompok jin) dan جنين  (janin) yang keduanya bersifat tersembunyi atau tertutup, demikian pula جن  (jin, mahluk yang tersembunyi), مجنون  (gila, yang tertutup akal sehatnya atau kerasukan jin) dan جُنَّة  (junnah, perisai yang melidungi (menutupi) diri dari serangan lawan), sehingga surga seperti taman yang tersembunyi di balik perisai atau tirai dimana setiap orang bahkan mahluk haluspun tergila-gila padanya[46]. Sedangkan kata surga dalam bahasa Indonesia itu sendiri adalah sebuah tempat di alam akhirat  yang dipercaya oleh para penganut beberapa agama sebagai lokasi berkumpulnya roh-roh manusia yang semasa hidup di dunia berbuat kebajikan sesuai ajaran agamanya. Istilah ini berasal dari bahasa Sansekerta yaitu Svarga. Dalam bahasa Jawa kata tersebut diserap menjadi Swarga[47] Kata jannah dengan seluruh kata yang seakar dengannya terulang sebanyak 208 kali.[48]
Kata jannah sendiri terulang sebanyak 144 kali; 87 kali di surah makkiyah dan 57 kali di surah madaniyah; 68 dalam bentuk mufrad, 7 dalam bentuk mutsanna dan 69 dalam bentuk jamak. Kata jannah dalam al-Quran memiliki  dua arti yaitu kebun dan surga. Jannah yang berarti kebun terulang sebanyak 25 kali pada 20 ayat yang tersebar di 12 surah; 10 surah makkiyah dan 2 surah madaniyah[49]. Ayat-ayat tersebut antara lain terdapat dalam surat Al-Baqarah: 265, Al-An’am: 99, Al-An’am: 141, Ar-Ra’ad: 4, Al-Kahfi: 33, Al-Mu’minun: 16, dan lain-lain. Sementara 119 kata jannah yang lainnya dapat diartikan surga[50], seperti yang telah diungkapkan dalam definisi sebelumnya. Ayat-ayat tersebut terdapat dalam Al-Qur’an Surat Al-Baqarah: 111, Ibrahim: 23, Al-A’raf: 88, dan lain-lain. Makna jannah sebagai kebun lebih banyak digunakan pada surah makkiyah.
 
BAB III
KESIMPULAN
  1. Akhirat adalah dimensi fisik dan hukum-hukum dunia nyata yang terjadi setelah dunia fana berakhir. Bagi mereka yang beragama samawi meyakini bahwa kehidupan akhirat sebagai tempat dimana segala perbuatan seseorang di dalam kehidupan dunia ini akan dibalas. Namun tidak sedikit juga orang yang meragukan akan adanya kehidupan akhirat (kehidupan setelah kematian). Mereka-mereka yang meyakini adanya kehidupan akhirat ada yang menyatakan: 'Mudahnya meyakini adanya kehidupan setelah kematian sama mudahnya dengan meyakini adanya hari esok setelah hari ini, adanya nanti setelah sekarang, adanya memetik setelah menanam'.
  2. Berdasarkan ayat dalam al-Qur’an setelah melalui proses  menuju akhirat maka orang-orang yang diberikan kepadanya kitab (catatan amalnya) dari arah kanannya, maka (dengan gembira) ia berkata: "Inilah, bacalah kitabku ini. Sesungguhnya (sejak dahulu di dunia) aku yakin bahwa sesungguhnya aku akan menemui hisab (perhitungan) atas diriku." Maka orang itu berada dalam kehidupan yang diridhai; dalam surga yang tinggi, buah-buahannya dekat. (Kepada mereka dikatakan): "Makan dan minumlah dengan sedap dikarenakan amal-amal yang telah kamu kerjakan di hari-hari terdahulu (di dunia)." Adapun yang diberikan kepadanya kitabnya dari arah kirinya, maka dia berkata: "Aduhai, alangkah baiknya kiranya tidak diberikan kepadaku kitabku (ini), dan aku tidak mengetahui apa hisab (perhitungan) terhadap diriku. Aduhai, kiranya kematian itulah yang menyelesaikan segala sesuatu. Hartaku sama sekali tidak member manfaat bagiku. Telah hilang kekuasaan dariku.
  3. Terkait dengan hal term akhirat, ada banyak yang harus kita lalui di akhirat. Namun yang jalan yang paling utama seseorang untuk memasuki dunia akhirat adalah harus melalui Kematian kemudian melalui beberapa proses-proses lainnya hingga pada akhirnya hanya 2 tempat kembali yakni surga dan neraka.
 
DAFTRA PUSTAKA
-        Hassan Hanafi, Al-Turats wa al-Tajdid: Mauqifuna min al-Turats al-Qadim, (Kairo: Al-Markaz al-‘Arabi, 1980)
-        attafsi>r wa al baya>n kalima> qur’a>n,mu’ja>m mufahra>s lil kalmia>til Qur’a>n. da>r ibnu katsir{>. Bairut. 2005.
-        Fazlur Rahman, Tema-tema Pokok al-Qur’an, terj. Anas Mahyudin (Bandung: Pustaka, 1996),
-        A’isyah Abdurrahman, al-Tafsir al-Bayan li al-Qur’an al-Karim, (Kairo: Dar al-Ma’arif, 1990), cet-7,
-        M. Quraisy Shihab, dkk. Sejarah dan Ulum al-Qur’an, ed. Azyumardi Azra (Jakarta: Pustaka Firdaus, 2000),
-        M. Qurais shihab “Wawasan Al Qur’an” Mizan, Bandung. 1996.-
-        Fazlur Rahman, Tema Pokok Al-Qur’an, Jakarta: Pustaka, 1983.
-        Abd. Rahman D., Kaidah-Kaidah Penafsiran Al-Qur’an, Bandung: Mizan, 1997.
-        Ahmad Warson Munawwir, Kamus Almunawwir Arab-Indonesia Terlengkap, (Surabaya: Pustaka Progressif, 2002),
-        Ahzami Sami’un Jazuli, Kehidupan dalam Pandangan Al-Qur’an, (Jakarta: Gema Insani, 2006).
-        Muhsin Ahmad, Konsep Jannah (Surga) dalam Al-Qur’an,
-        http://www.scribd.com/doc/ 15745816/KONSEP-SURGA?autodown=docx, diakses pada tanggal 27 Desember 2009.
-        http://id.wikipedia.org/wiki/Surga, diakses pada tanggal 28 Desember 2009.
-        Muhammad Fu’ad ‘Abdu al-Bāqi, al-Mu’jam al-Mufahras Li Alfādz al-Qur’ān al-Karīm, (Bairūt: Dār al-Fikr).


[1] Hassan Hanafi, Al-Turats wa al-Tajdid: Mauqifuna min al-Turats al-Qadim, (Kairo: Al-Markaz al-‘Arabi, 1980), hlm. 87
[2]  Kata âkhirah (آخِرَة) disebut 115 kali di dalam al-Quran. Lihat attafsi>r wa al baya>n kalima> qur’a>n,mu’ja>m mufahra>s lil kalmia>til Qur’a>n. da>r ibnu katsir{>. Bairut. 2005. H. 15
[3] Fazlur Rahman, Tema-tema Pokok al-Qur’an, terj. Anas Mahyudin (Bandung: Pustaka, 1996), hlm. 154
[4] A’isyah Abdurrahman, al-Tafsir al-Bayan li al-Qur’an al-Karim, (Kairo: Dar al-Ma’arif, 1990), cet-7, hlm. 156
[5] Q.S. 99:1-8
[6] M. Quraisy Shihab, dkk. Sejarah dan Ulum al-Qur’an, ed. Azyumardi Azra (Jakarta: Pustaka Firdaus, 2000), hlm. 160
[7] A’isyah Abdurrahman, al-Tafsir al-Bayan li al-Qur’an al-Karim. Op cit . h. 158
[8] Ibid. h. 158
[9] Ibid. h. 158
[10] Fazlur Rahman, Tema-tema Pokok al-Qur’an, Op cit. h. 154
[11] A’isyah Abdurrahman, al-Tafsir al-Bayan li al-Qur’an al-Karim, Op cit. 158
[12] Ibid.
[13] Ibid. 164
[14] Ibid. 166
[15] QS. 69: 13-16
[16] (QS Al-Zumar [39]: 68)
[17] Ibid QS 39 : 68
[18] Qurais shihab “Wawasan Al Qur’an” Mizan, Bandung. 1996. H. 99
[19] (QS Al-Qamar [54]: 7-8)
[20] (QS Mu'min [40]: 16)
[21] Qurais Shihab. Op cit. H. 100
[22] (QS Qaf [50]: 21)
[23] (QS Al-Nur [24]: 24).
[24] Qurais Shihab. Op cit. H. 101
[25]  (QS Az-Zilzal [99]: 7)
[26] (QS Maryam [19]: 93-95)
[27] Qurais Shihab Op cit. h. 101
[28] (QS Al-A'raf [7]: 8-9)
[29]  (QS Al-Haqqah [69]: 19-29).
[30] (QS Al-Shaffat [37]: 23)
[31] (QS Ya Sin [36]: 66)
[32] (QS Maryam [19]: 71-72).
[33] Qurais shihab. Op cit. h. 104
[34] Ibid. h. 104
[35] Qs. 3 : 185
[36] QS. 4 : 78
[37] QS 6 : 8
[38] QS 2 : 28
[39] QS 67 : 2
[40] QS. 2 : 62
[41] Fazlur Rahman, Tema Pokok Al-Qur’an, Jakarta: Pustaka, 1983, hal. 169.
[42] Abd. Rahman D., Kaidah-Kaidah Penafsiran Al-Qur’an, Bandung: Mizan, 1997, hal. 267-270.
[43] Ahmad Warson Munawwir, Kamus Almunawwir Arab-Indonesia Terlengkap, (Surabaya: Pustaka Progressif, 2002), hlm. 215-216.
[44] Ahzami Sami’un Jazuli, Kehidupan dalam Pandangan Al-Qur’an, (Jakarta: Gema Insani, 2006), hlm. 160.
[45] Ahmad Warson Munawwir, Op. Cit., hlm. 216.
[46] Muhsin Ahmad, Konsep Jannah (Surga) dalam Al-Qur’an, http://www.scribd.com/doc/ 15745816/KONSEP-SURGA?autodown=docx, diakses pada tanggal 27 Desember 2009.
[47] http://id.wikipedia.org/wiki/Surga, diakses pada tanggal 28 Desember 2009.
[48] Muhammad Fu’ad ‘Abdu al-Bāqi, al-Mu’jam al-Mufahras Li Alfādz al-Qur’ān al-Karīm, (Bairūt: Dār al-Fikr), hlm. 228 – 232.
[49] Muhsin Ahmad, Op. Cit,, diakses pada tanggal 27 Desember 2009.
[50] Muhsin Ahmad, Ibid., diakses pada tanggal 27 Desember 2009.

0 komentar:

Poskan Komentar

apakah anda tidak menemukan yang anda cari??? silahkan tuliskan sesuatu yang anda cari itu....

FACEBOOK COMENT

ARTIKEL SEBELUMNYA

 
Blogger Templates