Selasa, 03 Mei 2011

SEKILAS TENTANG TASAWUF


oleh : Muh. Rafiiy Rahim S. Th.I

 Tasawuf, Asal-usul, Pengertian dan Dalil-dalilnyaØ
A. Pengertian Tasawuf
Tasawuf atau Sufisme berasal dari bahasa arab: تصوف secara etimologi berasal dari Suf (صوف), yaitu wol, merujuk kepada jubah sederhana yang dikenakan oleh para asetik Muslim. Ada juga yang berpendapat dari Safa (صفا), yang berarti kemurnian. Hal ini menaruh penekanan pada Sufisme pada kemurnian hati dan jiwa. Yang lain mengatakan bahwa tasawuf berasal dari "Ashab al-Suffa" ("Sahabat Beranda") atau "Ahl al-Suffa" ("Orang orang beranda"), yaitu sekelompok muslim pada waktu Nabi Muhammad yang menghabiskan waktu mereka di beranda masjid Nabi, mendedikasikan waktunya untuk berdoa. Namun menurut termenologinya tasawuf adalah ilmu untuk mengetahui bagaimana cara menyucikan jiwa, menjernihan akhlaq, membangun dhahir dan batin, untuk memporoleh kebahagian yang abadi yang pada awalnya hanyalah merupakan gerakan zuhud (menjauhi hal duniawi) dalam Islam.
B. Asal-usul Tasawuf
Sebagian pendapat mengatakan bahwa paham tasawuf merupakam paham yang sudah berkembang sebelum Nabi Muhammad menjadi Rasulullah, khususnya orang-orang Islam di daerah Irak dan Iran sekitar abad 8 M. Mereka sebelumnya merupakan orang-orang yang memeluk agama non Islam atau menganut paham-paham kesahajaan dan menjauhkan diri dari kemewahan dan kesenangan keduniaan.
Sebagian pendapat lagi mengatakan bahwa asal-usul ajaran tasawuf berasal dari zaman Nabi Muhammad. Berasal dari kata "beranda" (suffa), dan pelakunya disebut dengan ahl al-suffa, seperti telah disebutkan di atas. Mereka dianggap sebagai penanam benih paham tasawuf yang berasal dari pengetahuan Nabi Muhammad
C. Dalil-dalil Tasawuf
Para pengkaji tentang tasawuf sepakat bahwasanya tasawuf berazaskan kezuhudan sebagaimana yang diperaktekkan oleh Nabi Saw., sebahagian besar dari kalangan sahabat dan tabi'in. sedangkan dalil-dalilnya al-Qur’annya antara lain:
Artinya: “Barang siapa yang menghendaki keuntungan di akhirat akan kami tambah keuntungan itu baginya dan barang siapa yang menghendaki keuntungan di dunia kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bahagianpun di akhirat”. (Q.S Asy-Syuura: 20).

Dan ayat-ayat lain yang menjadi landasan antara lain terdapat dalam Surah al-Hadid ayat 20 yang menjelaskan tentang hakikat dunia yang penuh dengan tipu daya, Surah al-Thalaq ayat 3 yang menganjurkan untuk bertawakkal, begitu juga yang ada dalam Surah al-Sajadah ayat yang menjelaskan tentang orang-orang yang penuh dengan ketakutan dan pengharapan, Surah al-Isra’ ayat 79 dan Surah al-Insan ayat 25-26 yang menganjurkan orang untuk bangun malam melaksanakan shalat tahajjud.
Sedangkan yang menjadi landasan atau dalil Hadis Nabi tentang tasawuf antara lain:
عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ السَّاعِدِيِّ قَالَ أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلٌ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ دُلَّنِي عَلَى عَمَلٍ إِذَا أَنَا عَمِلْتُهُ أَحَبَّنِي اللَّهُ وَأَحَبَّنِي النَّاسُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ازْهَدْ فِي الدُّنْيَا يُحِبَّكَ اللَّهُ وَازْهَدْ فِيمَا فِي أَيْدِي النَّاسِ يُحِبُّوكَ
Artinya: Dari sahabat Sahal bin Saad as-Sa'idy beliau berkata: datang seseorang kepada Rasulullah Saw dan berkata: 'Wahai Rasulullah ! tunjukkanlah kepadaku sutu amalan, jika aku mengerjakannya maka Allah akan mencintaiku dan juga manusia', Rasulullah Saw bersabda: "berlaku zuhudalah kamu di dunia, maka Allah akan mencintaimu, dan berlaku zuhudlah kamu atas segala apa yang dimiliki oleh manusia, maka mereka (manusia) akan mencintaimu".

Hadis Nabi lainnya yang menjadi pedoman tasawuf antara lain adalah anjuran Nabi untuk tidak menjadikan dunia sebagai tujuan utama, akan tetapi akhiratlah sebagai tujuan utama seperti yang diriwayatkan Imam Bukhari, begitu juga wasiat Rasulullah kepada Abdullah bin Umar sambil menepuk pundaknya.

 Sejarah Pertumbuhan dan Perkembangan TasawufØ
A. Sejarah Pertumbuhan Tasawuf
Tasawuf sebagai sebuah perlawanan terhadap budaya materialisme belum ada, bahkan mungkin tidak dibutuhkan pada masa Nabi, karena Nabi, Sahabat dan para tabi'in pada hakikatnya sudah sufi, yaitu sebuah perilaku yang tidak pernah mengagungkan kehidupan dunia, tapi juga tidak meremehkannya.
Ketika kekuasaan Islam makin meluas dan kehidupan ekonomi dan sosial makin mapan, mulailah orang-orang lalai pada sisi ruhani. Budaya hedonisme pun menjadi fenomena umum. Saat itulah timbul gerakan tasawuf (sekitar pertengahan abad 2 Hijriah). Gerakan yang bertujuan untuk mengingatkan tentang hakikat hidup.
Mayoritas ahli sejarah berpendapat bahwa terma tasawuf dan sufi adalah sebuah tema yang muncul setelah abad II Hijriah. Sebuah terma yang sama sekali baru dalam agama Islam. Pakar sejarah juga sepakat bahwa yang mula-mula menggunakan istilah ini adalah orang-orang yang berada di kota Bagdad-Irak. Sedangkan sebagian lagi mengatakan bahwa paham tasawuf merupakan paham yang sudah berkembang sebelum Nabi Muhammad menjadi Rasulullah.
Menurut cacatan sejarah, dari sahabat Nabi Huzaifah bin al-Yamani inilah pertama-tama mendirikan Madrasah Tasawuf. tetapi pada masa itu belum dikenal dengan istilah tasawuf, kemudian dikembangkan oleh muridnya al-Hasan al-Basry yang terkenal sebagai guru tasawuf pertama dan utama.
Selanjutnya, Tasawuf itu berkembang yang dimulai oleh Madrasah huzaifah bin Al yamani di madinah, kemudian diteruskan Madrasah Al Hasanul basry di basrah dan seterusnya oleh Saad bin Al Mussayib salah seorang ulama besar Tabiin, dan masih banyak lagi tokoh-tokoh ilmu Tasawuf lainnya. Sejak itulah pelajaran Ilmu tasawwuf telah mendapat kedudukan yang tetap dan tidak terlepas lagi dari masyarakat ummat Islam sepanjang masa.
B. Perkembangan dan Peralihan Tasawuf
Benih – benih tasawuf sudah ada sejak dalam kehidupan Nabi saw. Hal ini dapat dilihat dalam perilaku dan peristiwa dalam kehidupan, ibadah dan pribadi Nabi Muhammad saw. Sebelum diangkat menjadi Rasul, berhari –hari ia berkhalwat di gua Hira terutama pada bulan Ramadhan. Disana Nabi banyak berdzikir bertafakur dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah. Pengasingan diri Nabi di gua Hira ini merupakan acuan utama para sufi dalam melakukan khalwat. Begitu juga kehidupan para sahabat Nabi yang berkaitan dengan keteduhan iman, ketaqwaan, kezuhudan dan budi pekerti luhur.
Setelah periode sahabat berlalu, muncul pula periode tabi’in (sekitar abad ke I dan ke II H). Pada masa itu kondisi sosial-politik sudah mulai berubah dari masa sebelumnya. Konflik-konflik sosial politik yang bermula dari masa Usman bin Affan berkepanjangan sampai masa-masa sesudahnya. Konflik politik tersebut ternyata mempunyai dampak terhadap kehidupan beragama, yakni munculnya kelompok kelompok Bani Umayyah,Syiah, Khawarij, dan Murjiah.
Dari perubahan–perubahan kondisi sosial tersebut sebagian masyarakat mulai melihat kembali pada kesederhanaan kehidupan Nabi SAW para sahabatnya dengan merenggangkan diri dari kehidupan mewah. Sejak saat itu kehidupan zuhud menyebar luas dikalangan masyarakat yang pada akhirnya memunculkan madrasah-madrasah tasawuf seperti madrasah Madinah yang mengikuti Abu Ubaidah al-jarrah (w.18 H.), Abu Dzar al-Ghiffari (w. 22H.), Salman al-Farisi (w. 32 H.), Abdullah ibn Mas’ud (w. 33 H.), Hudzaifah ibn Yaman (w. 36 H). kemudian aliran Bashrah yang memiliki corak ketakutan yang berlebih-lebihan, seperti Hasan al-Bashri, Malik bin Dinar, Fadhl al-Raqqasyi, Rabbah ibn ‘Amru al-Qisyi, Shalih al-Murni atau Abdul Wahid ibn Zaid. Lalu aliran Kufah yang didirikan oleh Ar-Rabi’ ibn Khatsim (w. 67 H) pada masa pemerintahan Mu’awiyah, Sa’id ibn Jubair (w. 95 H.), Thawus ibn Kisan (w. 106 H.), Sufyan al-Tsauri (w. 161 H.) dan aliran Mesir yang tokoh-tokoh terkenalnya antara lain adalah Salim ibn ’Atar al-Tajibi, Abdurrahman ibn Hujairah (w. 83 H.) menjabat sebagai hakim agung Mesir tahun 69 H dan al-Laits ibn Sa’ad (w. 175 H.).

 Istilah Syriah, Tarekat, Hakikat dan MakrifahØ
Tasawuf –sebagaimana disebutkan di atas- merupakan sebuah cabang ilmu yang dapat mengantarkan seseorang menuju kehadirat Allah, yang terimplementasi dalam bentuk pengamalan. Karena keberadaan tasawuf seperti itu maka terdapat beberapa istilah khusus kaitannya dengan ilmu tersebut, yaitu ilmu lahir dan ilmu batin. Cara mengamalkannya tentunya harus melalui pula aspek lahhir dan aspek batin. Kedua aspek yang terkandung dalam ilmu itu dibagi ke dalam empat istilah, yaitu ; syariat, tarekat, hakikat dan makrifat.
Banyak defenisi yang diajukan ulama untuk menjelaskan makna dari keempat istilah tersebut. Namun pada dasarnya semua defenisi tersebut dapat disimpulkan dengan mengatakan bahwa :
1. Syariat merupakan amalan-amalan lahir yang diwajibkan dalam agamanya yang biasanya disebut rukun Islam, dan segala yang berhubungan dengan hal tersebut. Oleh karena rasa kenikmatan dalam beribadah itu telah masuk dalam jiwa, maka timbullah amalan sunat yang ditetapkaan cara dan waktu pengamalannya. Dengan demikian, setiap sufi pada hakikatnya adalah orang-orang yang telah atau paling tidak rajin mengamalkan seluruh perintah Allah. Dapat juga dipahami sebagaimana penjelasan Imam Nawawi al Bantani, bahwa syariat adalah semua hokum yang dibebankan agama kepada kita, termasuk yang bersifat wajib, sunnat, haram, makruh dan mubah, dengan kata lain menerima agama Allah serta menegakkan perintah dan larangan-Nya.
2. Tarekat merupakan usaha untuk mengamalkan perintah dan meninggalkan larangan serta mensucikan diri untuk tidak berlebihan dalam memenuhi sesuatu yang mubah dan juga bersikap hati-hati (wara’) dan melatih diri melakukan sesuatu yang tidak disukai oleh nafsu. Dengan kata lain, dalam melaksanakan syariat haruslah berdasarkan tata cara yang telah digariskan dalam agama, dan dilakukan hanya karena penghambaan diri kepada Allah semata. Untuk itu ditetapkanlah ketentuan-ketentuan yang bersifatt batinyah agar pelaksanaan ketentuan lahiriyah dapat mengantarkan seseorang kepada akhir perjalanannya melalui tahap demi tahap.
3. Hakikat secara etimologi berarti sesuatu, sedangkan dalam dunia sufi hakikat diartikan sebagai aspek batiniyah. Dengan demikian dapat diartikan sebagai rahasia yang paling dalam dari segala amal, atau dari syariat dan akhir dari perjalanan yang ditempuh oleh sufi. Hakikat itu diperoleh sebagai hikmah dan anugerah berkat adanya riyadhah (latihan) dan mujahadah (kesungguhan).
4. Makrifat menurut istilah sufi diartikan sebagai pengetahuan mengenai Tuhan melalui hati sanubari. Pengetahuan itu sedemikian lengkap dan jelas sehingga jiwanya merasa satu dengan yang diketahuinya itu. Bisa juga dikatakan, makrifat adalah hasil dari perpaduan ketiga aspek sebelumnya (syariat, tarekat dan hakikat).
Berdasarkan hal tersebut, maka dapat dijadikan pondasi berpikir untuk istilah-itilah tersebut adalah firman Allah SWT :
ان تتقوا الله يجعل لكم فرقانا
“Bila kamu bertakwa kepada Allah maka pasti Dia akan memberikan petunjuk kepadamu”
Maksudnya adalah ketakwaan akan mengantarkan seseorang memperoleh pemahaman dari Allah tanpa melalui perantara seorang guru. Ini juga sesuai dengan firman Allah :
واتقوا الله ويعلمكم الله
“Bertakwalah kepada Allah maka pasti Dia akan mengajarimu”

 Manusia dalam TasawufØ
Berbicara mengenai manusia berarti berbicara mengenai sosok makhluk yang memiliki dua sisi yang namun saling terkait. Sisi itu adalah manusia sebagai makhluk individu karena memiliki keinginan dan kebutuhan yang berbeda antara satu dengan yang lain. Dan manusia sebagai makhluk social karena manusia dalam memenuhi kebutuhuannya pasti membutuhkan bantuan pihak lain. Karena itulah banyak tanggapan cendekiawan dalam mendefenisikan manusia, tergantung dari aspek mana ia memandang.
Namun terlepas dari perbedaan tersebut, sebuah kenyataan manusia dalam ilmu mantik dikenal dengan istilah al hayawan al nathiq (hewan yang berbicara). Sehingga karakter dasar seorang manusia adalah kepandaian berbahasa dan berbicara. Hanya saja manusia juga perlu memperhatikan pembicaraannya agar ia tidak sama dengan binatang lainnya, dalam arti kata manusia berbicara penuh dengan kebijaksanaan dan jiwa spiritual.
Manusia di mana eksistensinya sedemikian “indah”, maka perlu dilihat kembali tujuan penciptannya, keberadaannya sebagai cermin Tuhan dan manusia dilihat dari struktur psikologisnya.
Kaitannya dengan tujuan penciptaannya, maka ada sebuah riwayat yang di kalangan sufi dianggap sebagai hadis dari Nabi –sekalipun dianggap lemah oleh kalangan ulama hadis- yaitu :
لو لا ك لو لا ك يا محمد ما خلقت الدنيا وما فيها
“Sekiranya bukan karena engkau Muhammad, maka Aku tidak akan menciptakan dunia dan segala isinya”
Dari riwayat tersebut dapat dipahami bahwa manusia dari aspek tujuan penciptaannya adalah diciptakannya segala apa yang ada. Tanpa manusia –yang terimplementasi dalam diri Muhammad- maka alam raya ini tidak pernah ada. Ini berarti manusia secara umum mestinya dan seharusnya bersikap dan berjiwa Muhammad, agar keberadaannya diridhai oleh seluruh alam. Apatah lagi –bisa dikatakan demikian- keberadaan alam raya adalah untuk melayani manusia.
Kaitannya dengan manusia sebagai cermin Tuhan, maka ada baiknya bila kajian ini diawali dengan firman Allah :
ثُمَّ سَوَّاهُ وَنَفَخَ فِيهِ مِنْ رُوحِهِ وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ قَلِيلًا مَا تَشْكُرُونَ
Dari ayat di atas terdapat sebuah isyarat bahwa dalam jiwa manusia terdapat unsur Ilahiah, maka seyogyanyalah manusia menyesuaikan sikap dan prilakunya dengan jiwa ketuhanan itu. Bahkan dalam sebuah hadis yang sangat masyhur di kalangan ulama sufi yaitu :
انا كنز مخفيا فأردت ان أعرف فخلقت خلقا وبه عرفواني
“Aku adalah khazanah yang tersembunyi, Aku ingin diketahui maka Aku menciptakan makhluk, agar dengan makhluk itu Aku dapat diketahui”.
Hadis tersebut seakan mengingatkan manusia bahwa mereka diciptakan bukan karena kebutuhan Tuhan melainkan untuk kebaikan manusia sendiri. Memang bahasa yang disebutkan adalah segalanya diciptakan untuk mengenal Tuhan tetapi sebenarnya di balik pengenalan itu ada unsur kerahmatan bagi manusia.
Hal tersebut bisa diuraikan dengan sebuah kalimat “Barangsiapa yang mengenal Allah pasti dia akan dicintai oleh-Nya, dan ketika Allah mencintai seseorang maka pasti Dia akan merahmatinya”. Ini juga berarti bahwa kejadian manusia adalah simbol praktik kasih sayang Tuhan. Kerana kasih sayang-Nya, manusia yang awalnya tidak ada menjadi bernilai. Semuanya bergantung penuh kepada Tuhan, mustahil lepas dari-Nya. Bentuk paling utama pengungkapan rasa syukur manusia adalah menyesuaikan seluruh perilakunya dengan apa-apa yang telah digariskan-Nya. Apatah lagi keberadaan manusia sebagai cermin Tuhan maka semestinya kedudukan setiap cermin adalah sama dan sejajar. Sempurna tidaknya sebuah cermin tergantung sejauh mana ia dapat memantulkan kesempurnaan subjek sesungguhnya, yaitu Tuhan sehingga manusia yang mampu mengoptimalkan cermin tersebut akan memiliki sifat-sifat yang dimiliki oleh Allah swt.
Kaitannya dengan struktur psikologisnya, manusia –sebagaimana disebutkan pada ayat yang disebutkan di atas- Manusia terdiri dari beberapa unsur yaitu jasmani sebagai body, ruh sebagai penggerak sekaligus berfungsi untuk menghubungkan dengan sang pencipta, nafs sebagai target pendidikan Ilahi sehingga bisa baik atau buruk, akal sebagai penimbang atau pengukur, hawa sebagai penggoda immaterial dan syahwat sebagai penggoda material, sementara qalb sebagai penghalau atau filter dan pembisik kebenaran.
Karena unsur dan struktur psikologis manusia yang sedemikian kompleks maka penulis melihat bahwa substansi keberadaan manusia dapat dihimpun dalam sebuah kalimat :
إذا أردت ان تعرف مكانتك عند الله فاعرف مكانة الله في نفسك
“Bila engkau ingin mengetahui kedudukanmu di sisi Allah maka ketahuilah di mana engkau meletakkan Allah di dalam hatimu”.

 Metode SufistikØ
Metode sufistik dalam menempuh jalan spiritual menuju Allah swt. memiliki beberapa metode antara lain:
1. Muraqabah adalah meditasi atau konsentrasi dan fokus. Meditasi adalah meminta dan mencari jalan untuk mencapai apa yang dicari oleh seorang sufi dan merupakan tingkat terakhir dan titik akhir dari spiritualitas yang mampu dicapai seseorang.
2. Mahabbah (rasa cinta), khauf (rasa takut pada Allah) dan khudhu' (rasa rendah dihadapan Allah) dan lain-lain merupakan landasan dalam melakukan ibadah kepada Allah swt.
3. Tazkiyat An-nafs, merupakan cara bagaimana seseorang membersihkan jiwa dan hati, karena jalan sufistik, ukuran pengetahuan yang reliable dan valid adalah pengetahuan yang berasal dari hati yang bersih. Sedangkan cara membersihkan hati bisa dengan dua cara yaitu melalui bisikan hati dan melalui ilham yang baik.
 Maqamat dan AhwalØ
A. Maqamat
Kedudukan seorang pejalan spiritual di hadapan Allah yang diperoleh melalui kerja keras beribadah, bersungguh-sungguh melawan hawa nafsu dan latihan-latihan spiritual sehingga pada akhirnya ia dapat mencapai kesempurnaan. Sedangkan konsep mengenai tingkatan atau macam-macam maqam menurut ahli sufi berbeda antara satu dengan yang lainnya, diantara mereka ada yang menyebutkan bahwa tingkatan tersebut terdiri dari taubat, wara', zuhd, faqr, shabr, tawakkal dan ridha. Salah satu buktinya maqamat adalah taubat seperti ungkapan Dzu al-Nun al-Mishry:
توبة العوام من الذنوب وتوبة الخواص من الغفلة
Adapula yang membuat sistematika maqamat secara berurutan seperti beikru: taubat - sabar - faqir - zuhud - tawakal - mahabah - ma'rifat dan ridha dan sebagainya. Di samping itu, maqamat sifatnya lebih dinamis dan aktif karena merupakan usaha dari para salik sendiri.
B. Ahwal
Ahwal adalah keadaan yang dialami oleh para salik di tengah-tengah perjalanan spiritualnya. Ahwal sifatnya lebih statis, karena ia merupakan anugerah Allah yang timbulnya secara spontan pada diri seorang pejalan menuju Allah tanpa ada usaha terlebih dahulu.
Mengenai macam-macamnya tidak jauh beda dengan macam-macam maqamat. Di antaranya adalah muraqabah (kesadaran diri akan pengawaasan Allah) khauf (rasa takut dan khawatir terhadap Allah), raja' (pengharapan seseorang terhadap Allah), syauq (rasa rindu yang mendalam untuk bertemu dan senantiasa bersama Allah), Mahabbah (rasa cinta yang mendalam kepada Allah), tuma'ninah (rasa ketenangan dan ketentraman dan kekuatan iman yang kuat), musyahadah (melihat Allah dengan mata hati) dan yaqin (kemantapan hati dan kekokohannya untuk tetap dengan Allah) dan yaqin ini merupakan jenis ahwal yang paling tinggi.

 Tarekat Dalam IslamØ
Tarekat yang dimaksud di sini berbeda dengan makna tarekat yang telah dijelaskan di atas, Karena tarekat yang disebutkan di sini merupakan tasawuf yang telah dilembagakan, artinya sebuah ajaran tasawuf telah diformat dalam bentuk kelompok yang di dalamnya ada mursyid, ada murid, ada pemimpin, ada jama’ahnya. Tarekat merupakan kelompok-kelompok pengikut ajaran tasawuf yang menekankan pada praktek-praktek ibadah dan zikir secara kolektif yang diikat oleh aturan-aturan tertentu.
Bentuk dan aturan tersebut lahir dari pengalaman sang mursyid, sehingga ini berarti antara tarekat yang satu dengan yang lain memiliki perbedaan. Karena tentunya setiap orang mempunyai pengalaman sendiri-sendiri. Pengalaman yang diajarkan tersebut adalah tata cara zikir, riyadhah, dan doa-doa yang diamalkan oleh sang sufi yang ia anggap telah berhasil mendekatkan diri kepada Allah.
Tarekat tersebut dimunculkan atau diajarkan oleh sang sufi kepada orang lain (murid-muridnya) karena setiap orang memiliki kemampuan yang berbeda dalam menempuh jalan menuju Tuhan. Ada orang yang menempuh jalan penuh dengan kebahagiaan dan kemudahan tetapi tidak menutup kemungkinan ada orang yang tidak mampu berjalan sendiri. Oleh karena itu, tarekat sangat dibutuhkan untuk menuntun mereka menuju kehadirat Tuhan yang merupakan tujuan akhir perjalanan hidup seseorang.
Pendekatan kepada Tuhan teraplikasi lewat تزكية النفس (mensucikan jiwa) dan استغراب القلب بذكر الله (memunuhi hati dengan zikir kepada Allah). Memang demikianlah yang semestinya, sebagaimana disebutkan di atas bahwa jalan menuju Tuhan akan tertutup bagi orang jiwanya penuh dengan noda dan dosa. Kemudian zikir sangat diperlukan karena ada ungkapan “siapa yang mencintai sesuatu maka ia akan memperbanyak menyebutnya”, bahkan Allah senantiasa mengasihi dan merahmati orang yang selalu mengingatnya. Hal ini pun dibenarkan oleh sebuah riwayat yang menunjukkan bahwa Ali bin Abi Thalib pernah bertanya kepada Rasulullah SAW, katanya “Ya Rasulallah, manakah jalan (tarekat) yang paling dekat untuk sampai kepada Tuhan?” Rasulullah SAW menjawab, “Tidak ada yang lain kecuali zikir kepada Allah”. Dengan demikian jelaslah bahwa dalam menempuh jalan untuk bertemu Allah, orang harus memperbanyak zikir kepada-Nya, di samping melakukan latihan dan perjuangan yang memerlukan keuletan, kesungguhan dan kesabaran.
Jadi sekali lagi, tarekat merupakan upaya pendekatan diri kepada Allah yang teraplikasi lewat zikir yang banyak kepada-Nya. Akan tetapi, tarekat merupakan pengalaman pribadi sehingga aplikasi tersebut terkadang berbeda antara satu dengan yang lain. Itulah sebabnya, dikatakan bahwa tidak ada batasan mengenai jumlah terakat itu, karena setiap manusia mestinya harus mencari dan merintis jalannya sendiri, sesuai dengan bakat dan kemampuan ataupun taraf kebersihan hati mereka masing-masing. Banyak ungkapan ulama sufi dalam menggambarkan jalan-jalan tersebut, di antaranya Abu Thalib al Makki dalam kitabnya Quwwat al Qulub menyebutkan : الطرق إلى اللّه بعدد الخليقة “jalan-jalan menuju Allah sebanyak jumlah makhluk”, ini berarti bahwa setiap orang mesti –sebaiknya- mencari jalan sesuai dengan kemampuannya. Namun di saat dia tidak mampu berjalan sendiri hendaknya mencari guru yang bisa menuntunnya.
واتبع سبيل من أناب الي
“Ikutilah jalan orang-orang yang kembali kepada-Ku”.
Demikian Allah mengingatkan pentingnya berguru dan bertanya kepada orang yang lebih tahu dan telah berhasil melewati jalan kemuliaan itu.
Sebagaimana disebutkan di atas bahwa tarekat lahir dari pengalaman seorang sufi yang memungkinkan adanya perbedaan di antara pelaku-pelaku tarekat itu. Hanya saja dari sekian banyak pengalaman pribadi para sufi tampaknya terdapat beberapa aturan dan cara yang bisa dikategorikan dalam kesepakatan mereka, yaitu; mendalami ilmu yang berkaitan dengan syariah, mengendalikan nafsu untuk menghindari dosa, memperbanyak zikir dan doa tertentu, serta tidak meringankan amaliah-amaliah yang dilakukan.
Dari pengertian di atas terdapat indikasi bahwa substansi dari sebuah tarekat adalah التقرب الى الله (pendekatan diri kepada Allah SWT), hal ini dapat dipahami dari sekian banyak penjelasan ulama –utamanya yang terkait dengan pengertian tarekat.

 Peran MursyidØ
A. Pengertian Mursyid
Mursyid secara etimologi adalah orang yang member petunjuk jalan atau guide sedangkan secara terminologi adalah seorang guru pembimbing dalam ilmu haqiqat atau ilmu thariqat. Hanya saja bentuk ajaran dari masing-masing mursyid yang disampaikan pada kita berbeda-beda, tergantung aliran thariqah-nya. Namun pada dasarnya pelajaran dan tujuan yang diajarkannya adalah sama, yaitu al-wushul ila-Allah.
B. Kriteria Mursyid
Abdul Qadir isa dalam kitabya Haqaiq at-Tashawwuf memberikan empat syarat yang harus dimiliki seorang mursyid antara lain: Pertama; mengetahui semua hukum Fardhu ‘ain. Kedua; memiliki makrifat atau mengenal Allah, baik dengan cita rasa spiritualnya maupun dengan pandagan mata hatinya. Ketiga: mengetahui teknik-teknik pensucian jiwa dan sarana-sarana untuk mendidiknya. Keempat: mendapat izin untuk membimbing murid-murid dari mursyid atau Syaikhnya.
C. Urgensi Mursyid
Dalam tradisi tasawuf, peran seorang Mursyid (pembimbing atau guru ruhani) merupakan syarat mutlak untuk mencapai tahapan-tahapan puncak spiritual, namun sebagian kalangan atau ulama yang anti tasawuf atau mereka yang memahami tasawuf dengan cara-cara individual menolak keberadaan mursyid.
Para ulama besar sufi, yang semula menolak tasawuf, seperti Ibnu Athaillah as-Sakandari, Sulthanul Ulama Izzuddin Ibnu Abdis Salam, Syeikh Abdul Wahab asy-Sya’rani, dan Hujjatul Islam Abu Hamid Al-Ghazali akhirnya harus menyerah pada pengembaraannya sendiri, bahwa dalam proses menuju kepada Allah tetap membutuhkan seorang Mursyid meskipun dengan kehebatan ilmu agamanya. Sebab dunia pengetahuan agama, seluas apa pun, hanyalah “dunia ilmu”, yang hakikatnya lahir dari amaliah.
Di samping itu, tanpa mursyid, seseorang tidak akan mampu membedakan mana hawathif-hawathif (bisikan-bisikan lembut) yang datang dari Allah, dari malaikat atau dari syetan dan bahkan dari jin sehingga dia akan mudah terkena tipu muslihat bisikan orang yang bersifat syaitan.

 DzikirØ
Telah disebutkan di atas bahwa keberadaan tarekat adalah untuk menjadi wadah atau jalan yang bisa diikuti oleh orang awam dalam melakukan pendekatan diri kepada Allah dengan bimbingan guru dan mursyidnya. Pendekatan yang dimaksud adalah تزكية النفس و استغراق القلب بذكر الله . oleh karena itulah, zikir merupakan pembahasan yang paling panjang dalam tarekat.
Kenapa mesti zikir? Inilah mungkin pertanyaan yang bisa mengawali pembahasan ini. Karena memang bila ditelusuri lebih jauh dalil yang ada, baik ayat maupun hadis maka akan ditemukan banyak ayat dan hadis yang membenarkan hal tersebut.
Pertama, manusia hidup di dunia bukan sekedar mencari kesenangan namun lebih dari itu mereka butuh ketenangan. Sementara ketenangan itu tidak lahir dari banyaknya harta, tingginya jabatan, dan atau prestise-pristese keduniaan lainnya, akan tetapi ketenangan itu lahir dari hubungan yang baik antara manusia dengan Tuhannya yang terbukti lewat kekonsistensian seorang hamba mengingat penciptanya. Hal ini dapat dilihat pada firman Allah SWT :
الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
“Yaitu orang-orang yang beriman dan hati mereka selalu tengan dengan zikir kepada Allah, ketahuilah hanya dengan zikir, hati akan tenang”.
Kedua, manusia sebagai seorang hamba yang menyadari hidupnya, tentu akan berusaha mencintai Tuhannya. Orang yang mencintai Tuhannya pasti akan selalu menyebut dan mengingatnya. Hal ini dibenarkan oleh sebuah hadis :
من أحب شيئاً أكثر ذكره
“Barangsiapa yang mencintai sesuatu, tentu ia akan selalu menyebutnya”.
Ketiga, zikir sebagaimana telah disebutkan adalah jalan untuk mendapatkan kasih saying dan rahmat Allah SWT, sebagaimana firman-Nya :
فَاذْكُرُونِى أَذْكُرْكُم
“Ingatlah Aku maka pasti Aku akan mengingatmu”.
Ingatan hamba kepada Tuhannya adalah ibadah, dan ingatan Tuhan kepada hamba-Nya adalah rahmat. Ini berarti orang yang mengingat Allah pasti ia akan dirahmati oleh-Nya.
Hanya saja zikir yang diimplementasikan dalam bentuk tarekat memiliki perbedaan wujud (bentuk dan cara pelaksanaannya) di antara tarekat-tarekat tersebut. Hal ini disebabkan oleh karena tarekat lahir dari sebuah pengalaman, sehingga tentunya pengalaman zikir setiap orang itu berbeda.
Namun sekalipun bentuk dan caranya berbeda, tetapi tujuan yang ingin dicapai tetap sama yaitu الوصول الى الله “sampai kepada Allah SWT”. Karena itulah, perbedaan tersebut adalah sebuah kemestian selama hal itu tidak bertentangan dengan ajaran dan sunnah Rasulullah SAW :
الطرق الى الله كلها مسددة على الخلق الا من اقتضى على اثر رسول الله صلى الله عليه وسلم
“Jalan menuju Allah terbatas bagi semua makhluk kecuali yang sesuai dengan sunnah Rasulullah SAW”.
 Tasawuf Tanpa TarekatØ
Kata tarekat berasal dari bahasa Arab yang berarti jalan sama halnya dengan syari’, sirath, sabil dan manhaj. Sedangkan secara terminology memiliki dua makna. Pertama; tarekat adalah metode atau cara untuk mendekatkan diri dengan Allah swt. Kedua; tarekat adalah sebuah organisasi yang terdiri dari sekumpulan orang yang melatih diri dan menjauhi hidup secara khusus untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah swt.
Tasawuf yang didefenisikan sebagai upaya pendekatan diri kepada Allah, sementara tarekat adalah tasawuf yang dilembagakan. Maka ini berarti seseorang dalam melakukan pendekatan diri kepada Allah tidak selamanya dan tidak mesti terjun dalam dunia tarekat. Karena tarekat itu lahir dari pengalaman seorang sufi, sehingga siapa saja tetap terbuka peluang baginya untuk menemukan pengalaman sendiri.
Memang dalam sejarah tasawuf, ada beberapa ulama sufi yang berhasil merasakan nikmatnya at taqarrub ilallah tanpa memasuki tarekat manapun. Akan tetapi kenyataan tersebut kurang tepat dijadikan alasan untuk membenarkan tasawuf tanpa tarekat.
Oleh karena itu penulis melihat bahwa seseorang dalam menempuh perjalanan menuju Tuhan, sebaiknya memiliki bekal petunjuk dan bimbingan dari seorang guru atau mursyid. Sekalipun hal merupakan pertimbangan afdhaliyah¬-nya namun tampaknya hal tersebut mesti dilalui karena terkadang seseorang memiliki persepsi dan pemahaman yang keliru mengenai metode pendekatan itu.
Dengan adanya bimbingan seorang guru, ini berate seseorang telah memasuki dunia tarekat. Karena guru dan murid adalah bagian sebuah tarekat.

 Disorientasi Manusia ModernØ
Disorentasi adalah kesalahan arah,tujuan, serta maksud. Sementara manusia moderen ialah manusia yang mendewa-dewakan ilmu pengetahuan dan teknologi dan industri.dan masyarakat moderen menurut Ata’ Muzhar, ditandai oleh lima hal, yakni: pertama, berkembnnya mass culture karena pengaru kemajuan mass media sehingga kultur tidak lagi menjadi lokal. Kedua,tumbuhnya sikap lebih mengakui kebebasan betindak manusia menuju perubahan masa depan.Ketiga,tumbuhnya berfikir rasional. keempat,tumbuhnya sikap hidup yang materialistik. Kelima,meningkatnya laju urbanisasi.
Sebagai akibat modernisasi dan industriakisasi, kadang-kadang manusia mengalami degradasi moral yang dapat menjatuhkan harkat dan martabanya,meluncur bagaikan binatang. Bahkan lebih hina daripadanya.
Masyarakat moderen yang mempunyai ciri tersebut, ternyata menyimpan problem hidup yang sulit dipecahkan.Rasionalisasi, sekularisasi, materialime, dan lain sebagainya ternyata tidak menambah kebahagian dan ketentraman hidupnya, akan tetapi sebaliknya menimbulkan kegelisahan hidup.Sebab mereka bergerak menjauh dari pusat, sementara pemahaman yang berdasrkan wahyu mereka tinggalkan hidup dalam sekuler.
Selanjutnya bagaimana zuhud sebagai upaya pembentukan sikap terhadap dunia di masa moderen seperti in. Untuk mengungkap hal ini, maka perlu melihat masyarakat moderen itu .
Masyarakat moderen ialah masyarakat yang cenderung menjadi sekuler. Hubungan antara anggota masyarakat tidak lagi atas dasar perinsip tradisi atau persaudaraan. Masyarakat bebas terhdap kontrol agama dan pandangan dunia metafisis,ciri-cirinya menghilngkan nilai sakral terhdap dunia.Meletakkan hidup manusia dalam konteks kenyataan sejarah, dan penisbian nilai-nilai.
Masyarakat yang demikian adalah masyarakat yang dikatakan the post- industrial society telah kehilangan Visi ilahi.masyarakat demikian telah tumpul penglihatan itlectnrusnya dalam melihat realita hidup dan kehidupan.Kehilangan visi keilahian ini bisa mengakibatkan timbulnya gejala pisikologis, yakni adanya kehampaan spiritual, dan akibatnya akan kita jumpai banyak orang yang stres, resah, bingung, gelisah, gunda gulana dan stimuk penyakit kejiwaan, akibat tidak mempunyai pegangan dalam hidup ini.

0 komentar:

Poskan Komentar

apakah anda tidak menemukan yang anda cari??? silahkan tuliskan sesuatu yang anda cari itu....

FACEBOOK COMENT

ARTIKEL SEBELUMNYA

 
Blogger Templates