Sabtu, 07 Mei 2011

TARTIB AL QUR'AN



OLEH : Abdul Gaffar. S. Th. I
BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Masalah
Al-Qur’an sebagai kitab suci yang diwahyukan Allah kepada Nabi Muhammad saw. Diturunkan secara berangsur-angsur selama kurang lebih 22 tahun lamanya.[1] Hal itu memudahkan bagi mereka untuk mempelajari, memahami, mengamalkan, termasuk menghafal dan menulisnya.
Namun kendala yang muncul kemudian, al-Qur’an tidak terkumpul dalam satu mushaf disebabkan karena al-Qur’an tidak hanya turun dalam lokasi, waktu dan kondisi yang sama. Dengan demikian, al-Qur’an membutuhkan penjagaan yang ekstra dari Rasulullah saw. dan para sahabatnya agar al-Qur’an tidak hilang atau bercampur baur dengan hadis-hadis Nabi.
Rasulullah saw. kemudian membuat beberapa kebijakan, antara lain: perintah menghafal al-Qur’an bagi sahabat tertentu, perintah menulis al-Qur’an, pelarangan menulis selain al-Qur’an dan perintah mengajarkan al-Qur’an.[2]
Oleh karena itu, Rasulullah mengangkat sekretaris untuk menulis semua ayat atau surah al-Qur’an yang turun kepadanya dan ditulis langsung dilokasi turunya atau pasca turunya. [3] Hal itu berdampak pada penulisan al-Qur’an, karena minimnya sarana dan prasarana penulisan. Alat-alat tulis masih sangat terbatas, belum lagi benda-benda yang dapat ditulisi yang juga sangat sulit didapatkan. Akhirnya para sekretaris menulis al-Qur’an dengan menggunakan pelapah kurma, lempengan batu, kulit hewan, dedaunan, pelana dan potongan tulang belulang binatang.[4]      
Walaupun demikian, bukan berarti penulisan al-Qur’an bebas dari masalah dan pertanyaan. al-Qur’an yang dihafal dan ditulis pada masa Rasulullah saw. apakah berurutan ayat-ayat dan surah-surah ataukah al-Qur’an hanya terhafal dan tertulis tanpa ada urutan-urutan? Dan bagaimana dengan beberapa mus}haf sahabat yang satu sama lain berbeda urutan surah-surahnya?
B.       Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, penulis membuat rumusan masalah dalam makalah ini sebagai berikut:
1.      Apa pengertian tarti>b al-Qur’a>n?
2.      Bagaimana proses tarti>b al-Qur’a>n pada masa Rasulullah saw.?
3.      Apa saja bentuk-bentuk tarti>b al-Qur’a>n dalam mush}af sahabat?
4.      Bagaimana komentar ulama seputar penyusunan al-Qur’an?

 
BAB II
PEMBAHASAN
A.  Pengertian Tarti>b al-Qur’a>n
Tarti>b al-Qur’a>n terdiri dari dua kosa kata, yaitu tarti>b dan al-Qur’an. Tarti>b dalam bahasa Arab terdiri dari huruf “ر- ت- ب” memiliki makna sesuatu yang tetap (tidak bergerak).[5] Namun secara terminologi, tarti>b adalah menetapkan sesuatu secara berurutan tanpa bisa diganggu gugat.
Sedangkan kata al-Qur’a>n yang akar katanya terdiri dari hurufق- ر- ى  yang secara etimologi adalah bermakna mengumpulkan atau berkumpul.[6] Oleh karena itu, al-Qur’an diberi nama demikian karena di dalamnya terkumpul hukum-hukum, kisah-kisah dan lain sebagainya. Namun secara terminology, al-Qur’an adalah kalam Allah yang diturunkan terhadap Nabi Muhammad saw. sebagai bacaan ibadah.[7]
Jadi, tarti>b al-Qur’a>n penetapan kalam Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. secara berurutan, baik urutan itu terkait dengan ayat-ayat al-Qur’an maupun surah-surahnya.    
B.   Tarti>b al-Qur’a>n  pada masa Rasulullah saw.
Sebagaimana telah disebutkan, al-Qur’ān sampai kepada Rasulullah saw. selama 22 tahun lebih dengan proses penurunan ayatnya sedikit demi sediki, terkadang satu ayat hingga 10 ayat dan terkadang satu surah semisal surah-surah pendek. Selama itu pula, Rasulullah saw. menjaga al-Qur’ān dengan hafalan dan tulisan. Dari peristiwa di atas, dapat dipahami bahwa Rasulullah adalah penghafal al-Qur’ān pertama dan menjadi contoh terbaik dalam menghafal al-Qur’ān.[8]
Di samping itu, pada masa Rasulullah saw. telah dikenal istilah kātib al-Qur’ān (sekretaris al-Qur’ān) yang diangkat langsung oleh Rasulullah saw. Diantara sahabat-sahabat Nabi yang terkenal sebagai kātib antara lain: Ali Ibn Abi Thalib, Mu’awiyah Ibn Abi Sufyan, Ubai Ibn Ka’ab, dan Zaid Ibn Sabit.[9]
Penulisan al-Qur’ān pada masa Nabi dilakukan sesuai dengan jumlah ayat yang turun dan ditempatkan pada posisi yang diperintahkan oleh Nabi yang dikenal dengan istilah tauqi>fi>.[10]
Oleh karena itu, secara hafalan, al-Qur’an sudah tersusun secara berurutan dari awal hingga akhir dengan terkenalnya beberapa penghafal al-Qur’an pada masa itu seperti Ali Ibn Abi Thalib, Mu’az Ibn Jabal, Ubai Ibn Ka’ab, Zaid Ibn Sabit dan Abdullah Ibn Mas’ud sebagaimana dalam hadis Nabi.[11] Dan secara tulisan, al-Qur’an juga telah tersusun ayat-ayatnya meskipun sarana pembukuannya bercerai-berai pada benda-benda yang bisa ditulisi. Perbedaan urutan-urutannya hanya pada surah-surah al-Qur’an.
Mengenai ungkapan Zaid Ibn Sabit “Rasulullah telah wafat, sedang al-Qur’an belum dikumpulkan sama sekali” maksudnya ayat-ayat dan surah-surah al-Qur’an belum dikumpulkan secara tertib dalam satu mushaf.[12]
C.   Bentuk-bentuk tarti>b al-Qur’an  dalam mush}af sahabat
Ulama memberikan ragam pendapat seputar penyusunan al-Qur’an. sebagian di antara mereka mengatakan bahwa tarti>b al-Qur’an semuanya adalah tauqi>fi> dan bebas dari intervensi.
Di samping itu, Tarti>b al-Qur’an bisa berarti menulis al-Qur’an secara berurutan, baik berurutan berdasarkan turunnya atau berurutan berdasarkan mus}haf dan bisa juga berarti membaca al-Qur’an secara berurutan sesuai dengan yang tertera dalam mus}haf atau berdasarkan hafalan masing-masing.
Berdasarkan penjelasan di atas, tarti>b al-Qur’an dapat dibagi menjadi dua bagian yaitu:
1.      Tarti>b al-tadwi>n (tarti>b al-Qur’an secara tulisan)
Perbedaan penulisan al-Qur’an di kalangan sahabat Nabi mengantarkan pada perbedaan penyusunan mus}haf pada masa sahabat. Secara garis besarnya, bentuk-bentuk susunan al-Qur’an pada tersebut terbagi dalam dua kelompok, yaitu:



a.       Tarti>b al-nuzu>l
Yang dimaksud dengan tarti>b al-nuzu>l adalah penyusunan al-Qur’an dengan mengikuti urutan-urutan ayat atau surah yang turun atau berdasarkan tanggal turunnya al-Qur’an. Penyusunan al-Qur’an secara tarti>b al-nuzul beragam sesuai dengan pengetahuan masing-masing sahabat.[13] Penyusunan tersebut dapat dikelompokkan dalam dua kelompok, yaitu:
1)      Tarti>b secara umum, yaitu mengelompkkan semua surah-surah makkiyah sebelum surah-surah madaniyah tanpa mengurutnya secara berurutan.
2)      Tarti>b secara khusus, yaitu mengurut satu persatu surah-surah al-Qur’an mulai dari yang pertama kali turun hingga yang terakhir, seperti yang dilakukan oleh Ali Ibn Abi> T}a>lib dalam mus}hafnya dengan mendahulukan Iqra’, al-Mudassir, Nu>n, al-Muzammil, dan seterusnya mulai dari awal surah Makkiyah hingga akhir surah Madaniyah.[14]  
b.      Tarti>b al-mus}haf
Sedangkan tarti>b al-mus}haf adalah penyusunan al-Qur’an berdasarkan urutan-urutan yang diajarkan oleh Rasulullah saw. penyusunan dengan model ini dapat dibagi dalam dua bagian yaitu:
1)      Tarti>b mus}haf berdasarkan panjang-pendeknya surah-surah al-Qur’an.[15] Metode ini ditempuh oleh Ubai Ibn Ka’ab dan Abdullah Ibn Mas’u>d dalam mus}hafnya dengan mendahulukan al-Baqarah, al-Nisa>’ dan A>li Imra>n.[16]  
2)      Tarti>b Mus}haf Abu Bakar yaitu penulisan al-Qur’an yang mengurut ayat-ayatnya saja tanpa mengurut surah-surahnya.[17]
3)      Tarti>b mus}haf usma>ni>, yaitu penulisan urutan-urutan surah berdasarkan apa yang tercantum dalam mus}haf Usman Ibn ‘Affan yang dikenal dengan rasm al-usma>ni>.[18] 
Meskipun demikian, para sahabat Rasulullah sepakat dalam menulis urutan ayat-ayat al-Qur’an. perbedaan mereka hanya pada penyusunan surah-surahnya. Hal itu terjadi karena Rasulullah mengajarkan letak setiap ayat yang turun kepada para sahabatnya melalui malaikat Jibril. [19]  



2.      Tartib al-tila>wah (tarti>b al-Qur’an secara bacaan)
Yang dimaksud dengan tarti>b al-Qur’an secara bacaan adalah membaca al-Qur’an secara berurutan, baik itu kosa kata, kalimat, ayat maupun surahnya. Dengan demikian, tarti>b al-tila>wah tersebut dapat dibagi dalam tiga bagian, yaitu:
a.    Tarti>b al-kalima>t, yaitu membaca al-Qur’an sesuai dengan urutan kosa kata dalam satu kalimat atau ayat al-Qur’an. Ulama sepakat wajib membacanya secara berurutan, seperti tidak mendahulukan لله dari pada الحمد dalam surah al-Fa>tih{ah.[20]
b.    Tarti>b al-a>ya>t, yaitu membaca al-Qur’an sesuai dengan urutan ayat-ayat dalam satu surah. Menurut pendapat yang kuat, membaca ayat-ayat secara berurutan hukumnya wajib. Pendapat tersebut diamini oleh Da>ud al-‘At}t}a>r dengan alasan bahwa Rasulullah pada masa hidupnya membaca beberapa surah secara berurutan ayat-ayatnya.[21]
c.    Tarti>b al-suwar, yaitu membaca al-Qur’an sesuai dengan urutan surah-surah dalam mus}haf usmani>. Sedangkan hukum membaca surah secara berurutan tidak wajib, bahkan para pembacanya diperkenankan memilih surah-surah yang ingin dibaca sesuai dengan kemampuannya, karena Rasulullah pernah shalat malam dengan membaca surah al-Baqarah kemudian surah al-Nisa>’ kemudian surah A>li Imra>n.[22]          
D.  Kontroversi seputar penyusunan surah-surah al-Qur’an
Para Ulama Islam, khususnya ulama tafsir berbeda pendapat seputar tarti>b suwar al-Qur’an (urutan surah al-Qur’an) apakah urutan surah itu diajarkan langsung oleh Rasulullah saw. yang dikenal dengan istilah tauqi>fi> ataukah urutan surah itu merupakan ijtihad para sahabat. Sebagian ulama berpendapat bahwa tarti>b suwar al-Qur’an merupakan ijtihad para sahabat seperti yang anut Malik Ibn Anas dan diiyakan oleh Ibnu Faris.[23] Sebagian lagi berpendapat bahwa tarti>b suwar al-Qur’an merupakan tauqi>fi> dari Rasulullah saw., seperti Qa>di> Abu> Bakar Ibn al-Anba>ri, Abu> Ja’far Ibn al-Nuhas, al-Karma>ni>. Sedangkan sebagian lagi men-tafs}i>l-nya dengan mengatakan ada surah yang penyusunannya tauqi>fi> dan sebagian lagi merupakan hasil ijtihad sahabat.[24]
Perbedaan tersebut bukan tanpa alasan atau argumentasi. Pendapat yang mengatakan bahwa tarti>b suwar al-Qur’an merupakan ijtihad para sahabat mendukung pendapatnya dengan beberapa dalil:
1.      Perbedaan susunan surah-surah al-Qur’an> dalam mus}haf tokoh-tokoh sahabat seperti ‘Ali Ibn Abi> T}a>lib, Abdullah Ibn Mas’u>d dan mus}haf Usman Ibn ‘Affa>n.
2.      Perintah Usman memasukkan al-Anfa>l dan al-Taubah dalam kelompok al-sab’u al-t}iwa>l  (7 surah yang panjang) tanpa dipisah oleh basmalah.
Sedangkan argumen yang diajukan oleh ulama yang mengatakan bahwa    tarti>b suwar al-Qur’an merupakan tauqi>fi> adalah:
1.      Setiap tahun pada bulan Ramadan, malaikat Jibril mengajarkan al-Qur’an kepada Nabi Muhammad saw., bahkan di akhir hayat Rasulullah saw. malaikat Jibril membacakan al-Qur’an sebanyak dua kali[25] sesuai dengan urutan al-Qur’an yang ada di lauh al-mahfu>z}.
2.      Semua sahabat Rasulullah saw. sepakat terhadap susunan mus}haf yang ditulis pada masa Usman Ibn ‘Affa>n.[26] 
3.      Sebagian sahabat Rasulullah saw. telah sempurna hafalan al-Qur’annya pada saat Rasulullah saw. masih hidup dan membacakan dihadapan Rasulullah secara berurutan.[27]
4.      Andaikan al-Qur’an disusun berdasarkan ijtihad sahabat, niscaya surah-surah yang sejenis akan tersusun secara berurutan, namun kenyataannya tidak seperti طسم dalam surah al-Syu’ara>’ dan طسم dalam surah al-Qas}as}.[28]
Sementara ulama yang mengambil jalan tengah dengan mengatakan bahwa tarti>b suwar al-Qur’an ada yang tauqi>fi> dan ada pula yang ijtiha>di> berlandaskan beberapa dalil yang kuat adalah:
1.      Terdapat beberapa hadis Nabi yang menunjukkan bahwa sebagian surah-surah al-Qur’an adalah tauqi>fi> sedangkan sebagian yang lain adalah ijtiha>di>.
2.      Keraguan Usman Ibn Affan tentang penempatan surah al-Anfa>l dan Bara’ah.[29]    
Penyusunan dan pengurutan surah-surah dalam al-Qur’an bukanlah sesuatu yang diharuskan atau diwajibkan oleh Allah swt., akan tetapi masalah tersebut kembali pada tujuan dan target yang ingin dicapai. Tujuan penyusunan berdasarkan nuzu>l-nya adalah mengetahui metode dasar atau asas dakwah, cara menyampaikan aqidah, cara memberikan berita gembira dan ancaman dan cara mengobati penyakit masyarakat. Sementara tujuan tarti>b al-mus}haf adalah cara hidup, membangun peradaban, dan undang-undang dunia yang mencakup aspek yang besar maupun yang kecil.[30]         
Oleh karena itu, setiap individu sahabat berhak memiliki tarti>b suwar al-Qur’an sesuai dengan keyakinan, pengetahuannya tentang al-Qur’an dan tujuan yang ingin dicapai. Namun demikian, menurut al-Zarkasyi>, tarti>b suwar al-Qur’an yang paling sempurna adalah mus>haf Usma>ni>.[31]
BAB III
PENUTUP
A.  Kesimpulan
Berdasarkan penjelasan dan ulasan yang telah dipaparkan di atas, dapat ditarik beberapa poin penting untuk dijadikan sebagai kesimpulan, antara lain:  sebagai berikut:
1.      Tarti>b al-Qur’an adalah meneapkan kalam Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. secara berurutan, baik urutan itu terkait dengan ayat-ayat al-Qur’an maupun surah-surahnya. 
2.      Tarti>b al-Qur’an pada masa Rasulullah saw. secara hafalan telah berurutan dari awal hingga akhir meskipun pada sebagian sahabat masih ada yang tidak berurutan, sedangkan secara tulisan, al-Qur’an tidak tertulis secara berurutan dalam satu mushaf akan tetapi bercerai berai dalam beberapa lembaran dan kepingan. Namun telah berurutan ayat-ayatnya.
3.      Bentuk-bentuk tarti>b al-Qur’an dalam mushaf sahabat dapat dikelompokkan dalam dua kelompok. Pertama; tarti>b al-tadwi>n yang meliputi tarti>b al-nuzul seperti mushaf Ali ibn Abi> T}a>lib dan tarti>b al-mushaf tarti>b seperti tarti>b dengan melihat panjang pendeknya surah, tarti>b mushaf Abu> Bakar yang tidak berurutan surahnya dan tarti>b al-mushaf Usman yang berurutan ayat dan surahnya. Kedua; tarti>b al-Tila>wah yang meliputi tarti>b al-kalimat, tarti>b al-a>ya>t yang keduanya wajib dilakukan dan tarti>b al-suwar yang hanya menjadi anjuran untuk mengurutnya sesuai dengan urutan mushaf usmani>.
4.      Para Ulama Islam, khususnya ulama tafsir berbeda pendapat seputar tarti>b suwar al-Qur’an (urutan surah al-Qur’an) dalam tiga kelompok. Pertama; kelompok yang mengatakan tarti>b al-suwar merupakan ijtihad para sahabat. Kedua; Sebagian ulama berpendapat bahwa tarti>b suwar al-Qur’an merupakan tauqi>fi> dari Rasulullah saw. Ketiga; sebagian lagi men-tafs}i>l-nya dengan mengatakan ada surah yang penyusunannya tauqi>fi> dan sebagian lagi merupakan hasil ijtihad sahabat dengan landasan argumen yang kuat.      
B.   Implikasi
Perbedaan penyusunan al-Qur’an yang terjadi pada masa Rasulullah saw. tidak terlepas dari kapasitas kemampuan dan pengetahuan para sahabat yang berbeda-beda serta tujuan yang ingin dicapai.
Mesekipun demikian, mereka tidak saling menyalahkan, bahkan saling bertukar informasi dan pengetahuan terkait dengan al-Qur’an dalam forum musyawarah. Lebih jauh lagi, para sahabat rela dan mengalah untuk membakar atau menyimpan (tidak menyebarkan) mushaf mereka yang berbeda dengan mushaf khalifah demi menjaga keutuhan, persatuan dan kesatuan umat Islam.    
Contoh yang telah diberikan oleh para sahabat, seharusnya menjadi motivasi setiap individu muslim untuk kritis, analisis dan argumentatif dalam memberikan pendapat meskipun mengarah pada perbedaan pendapat (bukan bertengkar). Namun pada saat yang bersamaan, harus tetap menjaga persaudaraan dan persatuan, sehingga jika suatu saat dibutuhkan “harus mengalah” maka harus dilakukan demi menjaga keutuhan umat Islam.
DAFTAR PUSTAKA
Al-Qur’an al-Kari>m.
Abu Syuhbah, Muhammad Muhammad. al-Madkhal lidira>sah al-Qur’an al-Kari>m. Cet. III; al-Riyad}: al-Mamlakah al-‘Arabiyah al-Sa’u>diyah, 1407 H./1987 M.
Al-‘At}t}a>r, Da>ud. Mu>jaz fi> ‘Ulu>m al-Qur’an. Cet. II; Bairut: Muassasah al-A’la> li al-Mat}bu>’ah, 1399 H./1979 M.
Al-Afri>qi>, Muhammad Ibn Mukrim Ibn Manz}u>r. Lisa>n al-‘Arab. Cet. I; Bairut: Da>r S}a>dir, t. th.
Al-Azdi>, Abu> Da>ud Sulaima>n Ibn al-Asy’as|. Sunan Abi> Da>ud. Bairut: Da>r al-Fikr, t. th.
Al-Bukha>ri>, Abu> Abdillah Muhammad ibn Isma>’i>l. S}ah}i>h} al-Bukha>ri>. Cet. III; Bairut: Da>r Ibn Kas|i>r, 1407 H./1987 M.
Al-Qattha>n, Manna’. Maba>his fi> ‘Ulu>m al-Qur’an. Cet. XIX, Bairut: Muassasah al-Risa>lah, 1406 H./1983 M.
Al-Qusyairi>, Abu> al-Husain Muslim Ibn al-Hajja>j. S{ah{i>h{ Muslim. Beirut: Da>r al-Jail, t.th.
Al-Suyu>t}i>, Jalaluddin. al-Itqa>n fi> ‘Ulu>m al-Qur’an. Dikutip dari CD al-Maktabah al-Sya>milah dari webside: http://www.alwarraq.com.
_________, Asra>r Tarti>b al-Qur’an. Cairo: Da>r al-I’tis}a>m, t. th.
al-Zarkasyi>, Abu> Abdillah Muhammad Ibn Baha>dir. al-Burha>n fi> ‘Ulu>m al-Qura’a>n. Bairut: Da>r al-Ma’rifah, 1391 H.
al-Zarqa>ni>, Muhammad Abd ‘Az}i>m. Mana>hil al-‘Irfa>n fi> ‘Ulu>m al-Qur’an. Cet. I; Bairut: Da>r al-Fikr, 1996 M.
al-Zarqa>wi>, Ahmad Ibn Muhammad. Mauqif al-Syauka>ni> fi> Tafsi>rih al-Muna>saba>t. Dikutip dari CD al-Maktabah al-Syamilah  dari www.tafsir.net.
Arqada>n, S}ala>huddin. Mukhtas}ar al-Itqa>n fi>’Ulu>m al-Qur’an li al-Suyut}i>. Cet. II; Bairut: Da>r al-Nafa>is, 1407 H./1987 M.
Ash Shiddieqy, Hasbi. Sejarah dan Pengantar Ilmu al-Qur’an/Tafsir. Cet. XIV; Jakarta: Bulan Bintang, 1992 M.
Hambal, Abu> ‘Abdillah Ahmad Ibn Muhammad Ibn. Musnad Ahmad Ibn Hambal. Cet.I; Bairut: ‘A>lam all-Kutub, 1419 H./1998 M.
Hasan, Sa>mi> ‘At}a>. al-Muna>saba>t bain al-A>ya>t wa al-Suwar. Dikutip dari CD al-Maktabah al-Sya>milah.
Ibn ‘A>syu>r, Muhammad al-T}a>hir Ibn Muhammad Ibn Muhammad. Muqaddimah al-Tahri>r wa al-Tanwi>r. Dikutip dari CD al-Maktabah al-Sya>milah.
Mardan. al-Qur’an Sebauh Pengantar Memahami al-Qur’an Secara Utuh. Cet. I; Jakarta: Pustaka Mapan, 2009 M.
Qism al-Tafsi>r wa Us{u>luh. Makkah: Ja>mi’ah al-Ima>m Muhammad Ibn Sa’u>d al-Isla>miyah. t.th. Dikutip dari CD al-Maktabah al-Sya>milah.
Zakariya>, Abu> al-Husain Ahmad ibn Fa>ris ibn. Mu’jam Maqa>yi>s al-Lugah. Bairut: Da>r al-Fikr, t. th.


[1]Abu> al-Husain Muslim Ibn al-Hajja>j al-Qusyairi>, S{ah{i>h{ Muslim, (Beirut: Da>r al-Jail, t.th.) Jilid 8 h. 229. 
[2]Bukti Rasulullah menjaga al-Qur’an dengan hafalan adalah ayat yang berbunyi:
ولا تعجل بالقرآن من قبل أن يقضى إليك وحيه “Dan janganlah kamu tergesa-gesa membaca al-Qur'a>n sebelum disempurnakan mewahyukannya kepadamu." (QS. T{a>ha: 114). Sedangkan bukti penjagaan al-Qur’an dengan tulisan adalah hadis Nabi: لا تكتبوا عنى ومن كتب عنى غير القرآن فليمحه “Janganlah kalian menulis sesuatu apapun dariku selain al-Qur’an, barangsiapa yang menulisan selain al-Qur’an maka hendaklah dia menghapusnya”. Lihat: Abu> al-Husain Muslim Ibn al-Hajja>j al-Qusyairi>, op.cit., Jilid 8 h. 229. 
[3] Hasbi Ash Shiddieqy, Sejarah dan Pengantar Ilmu al-Qur’an/Tafsir, (Cet. XIV; Jakarta: Bulan Bintang, 1992 M), h. 69. 
[4] Manna’ al-Qattha>n, Maba>his fi> ‘Ulu>m al-Qur’an.  (Cet. XIX, Bairut: Muassasah al-Risa>lah, 1406 H./1983 M.) h. 186.
[5] Muhammad Ibn Mukrim Ibn Manz}u>r al-Afri>qi>, Lisa>n al-‘Arab (Cet. I; Bairut: Da>r S}a>dir, t. th.). Jilid 1 h. 409. 
[6] Abu> al-Husain Ahmad ibn Fa>ris ibn Zakariya>, Mu’jam Maqa>yi>s al-Lugah, (Bairut: Da>r al-Fikr, t. th.), Jilid 5 h. 78-79.
[7] Manna’ al-Qatt}a>n, op.cit. h. 21.
[8] Mardan, al-Qur’an Sebauh Pengantar Memahami al-Qur’an Secara Utuh, (Cet. I; Jakarta: Pustaka Mapan, 2009 M.) h. 65.
[9] Bahkan Hasbi Ash Shiddieqy menambahkan bahwa sekretaris al-Qur’an  antara lain: Abu Bakar, Umar Ibn al-Khattab, Usman Ibn Affan, Amir Ibn Fuhairah, S|a>bit Ibn Qais, Yazid Ibn Abi Sufyan, al-Mughirah Ibn Syu’bah, Zubair Ibn al-‘Awwa>m, Khalid Ibn al-Walid, al-‘Ala al-Had}rami>, ‘Amr Ibn al-‘A>s}, Muhammad Ibn Maslamah, dan lain-lain. Lihat: Hasbi Ash Shiddieqy, op.cit., h. 69. 
[10] Sebagaimana sabdanya: ضع هذه الآية في السورة التي يذكر فيها كذا وكذا " وتنزل عليه الآية والآيتان فيقول مثل ذلك “Letakkan ayat ini dalam surah yang menjelaskan masalah ini dan itu, dan setiap turun satu ayat atau dua ayat, Rasulullah mengatakan demikian. Untuk hadis yang lengkap, lihat: Abu> Da>ud Sulaima>n Ibn al-Asy’as| al-Azdi>, Sunan Abi> Da>ud, Bairut: Da>r al-Fikr, t. th.) Jilid 1 h. 268.
[11]جمع القرآن على عهد النبي صلى الله عليه و سلم أربعة كلهم من الأنصار أبي ومعاذ بن جبل وأبو زيد وزيد بن ثابت, Lihat: Abu> Abdillah Muhammad ibn Isma>’i>l al-Bukha>ri>, S}ah}i>h} al-Bukha>ri> (Cet. III; Bairut: Da>r Ibn Kas|i>r, 1407 H./1987 M.) Jilid 3 h. 1387.
[12] Manna’ al-Qattha>n, op.cit. h. 187.
[13]Muhammad al-T}a>hir Ibn Muhammad Ibn Muhammad Ibn ‘A>syu>r, Muqaddimah al-Tahri>r wa al-Tanwi>r, dikutip dari CD al-Maktabah al-Sya>milah, Jilid 2 h. 125.  
[14]Bahkan Abu> Bakar memberikan beberapa argument, antara lain: Malaikat Jibril yang mengajarkan penempatan surah dan ayat al-Qur’an kepada Rasulullah, kesulitan menempatkan surah al-Fatihah apakah di makkiyah atau di madaniyah, keharusan memisahkan ayat 235-240 surah al-Baqarah di akhir al-Qur’an dan penyusunan al-Qur’an secara berurutan mengandung hikmah-hikmah seperti muna>sabah al-huruf, muna>sabah al-A>ya>t atau muna>sabah al-suwar. Untuk lebih jelasnya, lihat: Abu> Abdillah Muhammad Ibn Baha>dir al-Zarkasyi>, al-Burha>n fi> ‘Ulu>m al-Qura’a>n, Bairut: Da>r al-Ma’rifah, 1391 H.) Jilid 1 h. 259.
[15] Para Ulama membagi al-Qur’an dalam empat kategori, yaitu: al-t}iwa>l (surah-surah pangjang) yang mencakup tujuh surah yaitu al-Baqarah, A>li Imra>n, al-Nisa>’, al-Ma>idah, al-An’a>m, al-A’ra>f dan al-Anfa>l digabung dengan Bara>ah, al-mau>n (surah yang lebih dari seratus ayat), al-mas|a>ni> (surah yang ayatnya mendekati seratus dan al-mufas}s}al (surah-surah pendek). Lihat: S}ala>huddin Arqada>n, Mukhtas}ar al-Itqa>n fi>’Ulu>m al-Qur’an li al-Suyut}i>, (Cet. II; Bairut: Da>r al-Nafa>is, 1407 H./1987 M.) h. 74-75.       
[16]Jalaluddin al-Suyu>t}i>, al-Itqa>n fi> ‘Ulu>m al-Qur’an, dikutip dari CD al-Maktabah al-Sya>milah dari webside: http://www.alwarraq.com.
[17] Lihat: Muhammad Abd ‘Az}i>m al-Zarqa>ni>, Mana>hil al-‘Irfa>n fi> ‘Ulu>m al-Qur’an (Cet. I; Bairut: Da>r al-Fikr, 1996 M.), Jilid 1 h. 182.  
[18]Ibid, Jilid 1 h. 73.
[19]Lihat hadis dalam kitab sunan Abi Daud, op.cit. Jilid 1 h. 268.
[20]Qism al-Tafsi>r wa Us{u>luh, (Makkah: Ja>mi’ah al-Ima>m Muhammad Ibn Sa’u>d al-Isla>miyah. t.th.) Dikutip dari CD al-Maktabah al-Sya>milah, h. 15.  
[21]Hukum tersebut jika ayat-ayat yang dibaca terdapat dalam satu surah, akan tetapi boleh tidak menyelesaikan satu surah, bahkan boleh beralih membaca surah lain asalkan ayatnya dibaca secara berurutan. Hal itu berdasarkan apa yang dilakukan Rasulullah dan menjadi dasar sebagian ulama bahwa tarti>b al-a>ya>t dalam al-Qur’an tauqi>fi> dalam pembukuan dan penulisannya. Lihat: Da>ud al-‘At}t}a>r, Mu>jaz fi> ‘Ulu>m al-Qur’an, Op.Cit. h. 174.
[22]Abu> ‘Abdillah Ahmad Ibn Muhammad Ibn Hambal, Musnad Ahmad Ibn Hambal, (Cet.I; Bairut: ‘A>lam all-Kutub, 1419 H./1998 M.) Jilid 5 h. 400.
[23]Abd Rahman Ibn Abi> Bakar Ibn Muhammad al-Suyut}i>, Asra>r Tarti>b al-Qur’an, (Cairo: Da>r al-I’tis}a>m, t. th.) h. 1.
[24]Da>ud al-‘At}t}a>r, Mu>jaz fi> ‘Ulu>m al-Qur’an, (Cet. II; Bairut: Muassasah al-A’la> li al-Mat}bu>’ah, 1399 H./1979 M.) h. 175-176.
[25]Abu> ‘Abdillah Muhammad Ibn Isma>’i>l al-Bukha>ri>, S}ahi>h al-Bukha>ri>, (Cet. III, Bairut: Da>r Ibn Kas|i>r, 1407 H./1987 M.) Jilid 4 h. 1911.
[26] al-Zarkasyi>, al-Burha>n fi> ‘Ulu>m al-Qura’a>n, Op.Cit. Jilid 1 h. 245.
[27]Ahmad Ibn Muhammad al-Zarqa>wi>, Mauqif al-Syauka>ni> fi> Tafsi>rih al-Muna>saba>t, dikutip dari CD al-Maktabah al-Syamilah  dari www.tafsir.net. h. 35.
[28] Muhammad Muhammad Abu Syuhbah, al-Madkhal lidira>sah al-Qur’an al-Kari>m, (Cet. III; al-Riyad}: al-Mamlakah al-‘Arabiyah al-Sa’u>diyah, 1407 H./1987 M.) h. 329.
[29] Ibid. h. 330.
[30] Sa>mi> ‘At}a> Hasan, al-Muna>saba>t bain al-A>ya>t wa al-Suwar, dikutip dari CD al-Maktabah al-Sya>milah, h. 3.
[31]Al-Zarkasyi>, al-Burha>n fi> ‘Ulu>m al-Qur’an, Op.Cit. Jilid 1 h. 262.

0 komentar:

Poskan Komentar

apakah anda tidak menemukan yang anda cari??? silahkan tuliskan sesuatu yang anda cari itu....

FACEBOOK COMENT

ARTIKEL SEBELUMNYA

 
Blogger Templates