Sabtu, 21 Mei 2011

ISLAM DAN DINAMIKA

oleh : Amrullah, S.Th.I
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
            Dinamika[1] adalah suatu proseses terjadinya perubahan dalam tatanan kehidupan bermasyarakat yang meliputi perubahan sikap,  pola pikir, dan tingkah laku[2]. Dengan dinamika tersebut cenderung berakeses pada terjadinya pergeseran-pergeseran nilai dalam tatanan kehidupan masyarakat, yang berimplikasi pada tercipatanya sebuah tatanan baru dalam kehidupan. Dinamika tersebut merupakan suatu konsekuensi yang dialami dan mesti terjadi dalam suatu kelompok masyarakat bahkan kepada seluruh manusia.
            Masyarakat[3] memiliki kecenderungan selalu berubah dan berkembang, dan perubahan tersebut akan selalu berlaku pada semua masyarakat manusia, setiap saat di manapun mereka hidup dan berada. Kadangkala perubahan itu berlangsung secara tiba-tiba dan serentak, misalnya suatu sistem pemerintahan dihancurkan oleh revolusi dan kemudian digantikan oleh pemerintahan yang berbeda dengan tatanan atau orde sebelumnya. Kadangkala secara lambat gradual yang sukar diterima masyarakat, malahan anggota masyarakat tersebut tak sadar atau tak memperhatikan akan berlakunya perubahan yang telah melanda kehidupan mereka.
            Manusia yang hidup bermasyarkat ialah subyek serta obyek perubahan. Proses perubahan mungkin berlangsung  dalam berbagai jenis kemajuan, yang lambat-sedang dan yang cepat, atau secara evolusi dan revolusi.
            Perubahan dapat menyangkut tentang berbagai hal, perubahan fisikal oleh proses alami dan perubahan kehidupan manusia oleh dinamika kehidupan itu sendiri.[4]
            Apabila ditinjau dalam perspektif Islam, Muhammad sebagai pembawa risalah dengan melakukan berbagai perubahan-perubahan dalam masyarakat Jahiliyah, dari masyarakat yang polities (sebagai penyembah berhala)[5] ke monoteis (menyembah hanya kepada Allah), dan selanjutnya berlanjut dari masa ke masa hingga sekarang. Perjalanan dari waktu ke waktu tersebut dengan proses terjadainya perubahan adalah merupakan sebuah dinamika.
            Perjalanan waktu dengan berbagai peristiwa yang terjadi di dalamnya adalah merupakan dinamika yang secara mutlak akan terjadi dan mengisi kehidupan umat manusia itu sendiri.
            Oleh karena itu, dalam makalah ini, penulis akan mencoba mengkaji suatu pokok masalah yaitu Dinamika Masyarakat Modern dalam Perspektif Islam, dengan sub hahasan; (1) dinamika dalam masyarakat Islam, (2) dinamikan dalam masyarakat modern, dan (3) implikasi kemajuan modern terhadap masyarakat Islam



BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Dinamika Masyarakat.      
Berbicara tentang masyarakat, maka tidak lepas pula kita membicarakan tentang kebudayaan, karena hubungan antara kebudayaan dan masyarakat telah menjadi tersimpul, bahwa masyarakat adalah pendukung kebudayaan[6]. Begitu pula berbicara tentang masyarakat Islam, tidak lepas dengan kebudayaan Islam, karena kebudayaan tidak dibangun atas dinamika masyarakat itu sendiri.
Islam dalam arti agama yang disampaikan oleh Nabi Muhammad saw., lahir bersama dengan turunnya al-Qur'an lima belas abad yang silam. Masyarakat Arab Jahiliyah adalah masyarakat pertama yang bersentuhan dengannya, serta masyarakat pertama pula yang berubah pola pikir, sikap, dan tingkah lakunya sebagaimana dikehendaki oleh Islam.
Dinamika dan perubahan masyarakat adalah sebuah konsekuensi kehidupan, di mana manusia akan mengalaminya. Dinamika tersebut merupakan hukum-hukum sejarah[7], yang pasti akan terjadi selama manusia itu berinteraksi antara satu dengan lainnya.
Perubahan terhadap apa yang sisebut masyarakat Islam[8], dapat dilihat dalam perspektif kewaktuan, yakni dahulu, kini dan masa akan datang. Pada masa-masa awal perkembangan Islam, masyarakat Islam menampilkan diri sebagai masyarakat alternatif yang memberi warna tertentu pada kehidupan kemanusiaan. Karakter paling penting yang ditampilkan oleh masyarakat ketika itu adalah kedamaian dan kasih sayang.
Masyarakat model ini tampil di tengah kehadiran Rasulullah, baik di Mekah maupun di Madinah, yang banyak disebut sejarawan sebagai model masyarakat ideal,[9] dengan sejumlah karakteristik yang diperlihatkan, di antaranya masyarakat memiliki akidah kuat, konsistensi dalam beramal, yang semua itu dipandu oleh kepamimpinan yang penuh wibawa.[10]
Keteladanan Nabi dalam membangun komunitas muslim terlihat jelas terutama saat periode Madinah. Sejumlah langkah yang ditempuh Nabi dalam membangun sebuah komunitas yang beradab, di antaranya sebagai berikut:
1.   Pebangunan masjid Quba sebagai langkah awal simbolis bahwa pengembangan masyarakat Islam harus dimulai dari masjid. Karena masjid bukan semata sebagai tempat sembahyang, melainkan juga sebagai pusat peradaban manusia.
2.   Pembentukan lembaga ukhuwah antara kalangan Muhajirin dan kalangan Anshar, yang mentimbolkan betapa masyarakat Islam membutuhkan basis organisasi yang kukuh dan tangguh demi integritas umat. Ini yang kemudian diambil oleh dunia menejemen modern yang meniscayakan adanya teamwork untuk meraih sesuatu yang jauh lebih besar.
3.   Piagam Madinah mengajarkan bahwa pembinaan masyarakat Islam memerlukan semacam memorandum of agreement sebagai landasan pilitis yang menjamin integritas sosial.
Perjalanan waktu kemudian membawa masyarakat Islam untuk berinteraksi dan berdaptasi dengan kelompok-kelompok masyarakat lainnya. Pertemuan budaya dengan masyarakat lain melahirkan tarik-menarik asimilasi kebudayaan antara masyarakat Islam dan masyarakat lainnya. Hal ini terjadi pada periode Khulafaurrasyidin. Sejarah mencatat, bahwa pada masa ini khususnya pada masa khalifah Usman dan Ali, umat Islam mulai mengalami disintegrasi persatuan dan persaudaraan, nilai-nilai persaudaraan, saling menghormati antar sesama seperti yang diajarkan oleh Nabi mulai dilupakan. Hal tersebut dapat dilihat saat terjadinya perseteruan antara Usman dan kelompok-kelompok yang menentangnya akibat kebijakan-kebijakan yang sektarian memprioritaskan keluarganya menduduki jabatan di pemerintahan sehingga mengakibatkan kematiannya pada tahun 656 oleh gerombolan sekitar 500 orang Arab dari Fustat.[11]
Kemudian Ali bin Abi Thalib menggantikan Usman, pada masa pemerintahan Ali inilah merupakan awal terjadinya perpecahan dan sejarah suram dalam umat Islam. Perang Jamal adalah perang saudara pertama yang terjadi di kalangan umat Islam yaitu antara Ali dan kelompok yang dipimpin oleh Aisyah istri Nabi, Thalhah dan Zubair. Selain itu, kelompok Muawiyah menuntut kepada Ali atas kematian Usman, agar menghukumnya. Karena merasa tidak mendapat respon dari Ali, maka mereka memberontak yang dipimpin langsung oleh Muawiyah sendiri yang dikenal dengan perang Siffin.[12]
Selanjutnya Islam dari masa ke masa berkembang hingga ke puncak kejayaannya khususnya pada masa Bani Abbasiyah yang berpusat di Bagdad sebagai sentral peradaban dunia,[13] kemudian berubah dan menjadi mundur dengan hancurnya Bagdad, sampai sekarang Islam menjadi komunitas yang terkebelakang bila dibandigkan dengan dunia Barat dengan berbagai kemajuan yang dicapai dan sebagai dominasi peradaban dunia khususnya di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi.
B. Dinamikan Masyarakat Modern
Masyarakat modern ialah struktur kehidupan masyarakat yang dinamis, kreatif untuk melahirkan gagasan-gagasan demi kepentingan manusia dalam berbagai sektor kehidupan di mana daya berpikir dan daya cipta semakin berkembang untuk memformulasikan makna kehidupan dalam konteks yang nyata, yang mengakibatkan pergeseran nilai-nilai budaya yang setiap saat berlangsung walaupun secara lamban, maupun pasti[14]
Menurut Emile Dukheim bahwa masyarakat modern merupakan satu kesatuan organis yaitu adanya perbedaan individu (pluralisme) membuat mereka bermasyarakat, saling membantu dan saling membutuhkan satu dengan yang lainnya.
Menurutnya, dalam masyarakat modern, kebebasan individu dan toleransi terhadap keyakinan individu dan caranya mengatur hidupnya semakin menonjol. Saat yang sama, bidang-bidang kehidupan yang dikuasai oleh kesadaran kolektif semakin tersingkir dan menyempit. Masyarakat diandaikan tidak berhak mencampuri urusan-urusan pribadi yang makin meluas.[15]  
Dalam kehidupan yang semakin lama semakin mengglobal, perubahan itu akan dianggap sebagai suatu kebiasaan karena perkembangan teknologi, transportasi dan komunikasi yang cepat.
Menurut Willbert E. Moore, bahwa sifat perubahan sosial merupakan suatu the normality change, walaupun kekacauan kontemporer adalah ciri yang paling menonjol di permukaan abad ini dan menyebabkan perubahan yang cepat dibanding awal abad ke-20.
Terjadinya perubahan sosial dalam dunia modern ini memang tidak dapat di sangkal lagi dan seringkali tidak dapat ditolak, bagi masyarakat atau kebudayaan mana pun. Perubahan terus berlangsung secara cepat[16] baik secara evolusi maupun revolusi.[17]  
Pada awal ke-21 sekarang ini, dunia masih terus mengalamai perubahan-perubahan cepat dan mendasar di berbagai bidang yang pada gilirannya mengakibatkan berlanjutnya proses transformasi global.
Dalam tranformasi global ini, diharapkan akan melahirkan sebuah tatanan baru dalam kehidupan masyarakat dunia yang lebih damai, adil dan sejahtera. Akan tetapi kenyataan menunjukkan lain bahwa masyarakat dunia akan diperhadapkan kepada keadaan dunia yang di samping mencatat kemajuan-kemajuan nyata juga masih sarat dengan konflik dan kemelut, ketidakpastian dan ketidakadilan.[18]
Fenomena yang terjadi dalam kehidupan masyarakat modern dewasa ini dengan sebuah fenomena baru yang mewarnai kehidupan mereka disebut era global, di mana akan diwarnai dengan gaya kehidupan masnusia yang serba modern, baik cara berpakaian, cara makan, cara berbicara, kebebasan belanja, pilihan restoran, pilihan hiburan, tata rambut, tata busana dan sebagainya. Gaya hidup seperti ini merupakan kombinasi dan totalitas dari cara, tata, kebiasaan pilihan serta obyek-obyek yang mendunkungnya.[19]
Salah satu bentuk dominasi dunia modern saat ini adalah dengan kemajuan IPTEK yanag akan membawa perubahan pada sendi-sendi kehidupan, etika dan moralitas masyarakat dunia,[20] bahkan akan membawa fenomena transformasi sosio-kulutral di semua negara, bangsa, semua orang menjadi kosmopolit, dan hampir tidak adal lagi kejadian sekecil apapun di sebuah negara kecuali segera menyebar di pelosok dunia, batas-batas sistem nasional di semua negara hampir hilang, dan orang di seluruh dunia saling mempengaruhi meskipun tidak bertemu muka.[21] Akibat dari hilangnya batas-batas sistem territorial tersebut mengakibatkan terjadinya interaksi yang serba melintasi antar wilayah dan sektor kehidupan secara menyeluruh atau mendunia. Dari perkembangan yang semakin mendunia tersebut akan tampak dalam pola-pola hubungan antar bangsa dan negara yang cenderung menjadi makin bebas, kompetitif dan transparan, bahkan dalam pola-pola kehidupan antara manusia.[22]
Oleh karena itu, salah satu bentuk dan dinamikan kehidupan masyarakat modern, adalah mereka mampu menciptakan kemajuan dengan berbagai metode yang mereka lakukan sehingga mampu merobah pola, tatanan, dan gaya hidup manusia itu sendiri, dengan berbagai kemudahan-kemudahan yang ditawarkan dan mereka ciptakan. Akan tetapi di sisi lain sekaligus juga ancaman bagi kehidupan mereka sendiri.
C. Implikasi Kemajuan Modern Terhadap Masyarakat Islam
Istilah globalisasi adalah sebuah fenomena baru yang terjadi di abad ke-21 saat ini, yaitu ditandai dengan kemajuan IPTEK dan transparansi dalam kehidupan. Proses globalisasi terus mengalir deras dalam kehidupan dunia dengan membawa berbagai implikasi dalam sendi-sendi kehidupan masyarakat dunia yang bersifat mulit-dimensi,[23] dengan sejumlah perwujudan yang telah membawa kepada berbagai perubahan pada kebudayaan manusia.[24]
Bahkan dengan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi yang teradopsi dari kemajuan IPTEK, sejumlah gagasan dari berbagai sudut dunia terutama gagasan berasal dari masyarakat negara-negara maju, bagaikan gelombang besar datang menyerbu kehidupan masyarakat dunia, khususnya masyarakat Islam yang berimplikasi pada terjadinya pergeseran nilai baik itu positif maupun negatif. Salah satu nilai-nalai positif yang bisa dilihat yaitu dengan perpaduan kebudayaan antara kebudayaan Islam dan kebudayaan Barat yang menjadikan Islam semakin kaya akan nilai-nilai kebudayaan, meskipun di lain pihak tidak dapat disangkal yang juga membawa dampak pada merosotnya nilai-nilai moralitas sebagian umat akibat mereka tidak mampu mengimbangi laju perkembangan dan kemajuan tersebut, sehingga mereka cenderung hanya menerima dan mengadopsi  nilai-nilai budaya Barat tanpa filtrasi yang baik yang justru sangat bertolak belakang dengan Islam.
Salah satu dampak yang kita rasakan sekarang ini adalah seperti yang digambarkan oleh John Naisbit dalam Mega Trend 2000 menyebutkan kecenderungan masyarakat dalam 3F: fun (hiburan), food (makanan), fashion (pakaian). Lain halnya dengan Jalaluddin Rahmat yang meramalkan dalam 5F:faith, fear, acts, fiction dan formulatilation.[25]
Baik yang digambarkan oleh John Naisbit maupun Jalaluddin Rahmat tersebut adalah sebuah konsekuensi logis yang akan menjadi warna kehidupan manusia, khususnya kepada masyarakat Islam.
Adalah sebuah realitas yang terjadi saat ini, bahwa apa yang menjadi prediksi John Naisbit, kini telah terjadi. Sejumlah negara-negara maju kini tidak lagi malu-malu mempertontonkan dirinya dengan pakaian ‘seadanya’ bahkan tanpa busana dia tampil di depan orang-orang dengan gaya dan tari yang erotik, (segi fashio), belum segi-segi yang lain yang cukup kontratradiktif dengan nilai-nilai yang diajarkan oleh Islam.
Hal inilah yang perlu diantisipasi bagi generasi muda Islam, agar jangan terjebak dengan kesenangan yang sifatnya sesaat tersebut, tapi bukan berarti, karena sejumlah implikasi negatif tersebut lalu hanya pasif, berpangku tangan dan tidak mau berperan aktif di dalamnya, di samping sebagai subyek harus ada filtrasi yang akan mengakomodir nilai budaya-budaya yang dianggap relevan dengan Islam dan yang kontradiktif dibuang jauh-jauh.
Meskipun dari sejumlah implikasi negatif yang bisa muncul dari kemajuan ilmu pengetahuan modern, akan tetapi juga terdapat sejumlah nilai-nilai positif yang akan memberikan khasanah baru dalam kemajuan dan perkembangan Islam ke depan, dengan sebuah tatanan masyarakat yang berperadaban yang tinngi.


BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Masyarakat Islam adalah masyarakat yang mengedepankan nilai-nilai moralitas, yang menjunjung tinggi nilai-nilai persaudaraan, kebersamaan, dan ketaatan. Masyarakat dalam pandangan Islam merupakan alat atau sarana untuk melaksanakan ajaran-ajaran Islam yang menyangkut kehidupan bersama. Karena itulah masyarakat harus menjadi dasar kerangka kehidupan duniawi bagi kesatuan dan kerja sama umat menuju adanya suatu pertumbuhan manusia yang mewujudkan persamaan dan keadilan.
Dengan kemajuan IPTEK yang telah menjadi nafas kehidupan manusia, diterima atau tidak, ia harus ikut ambil bagian di dalamnya, termasuk Islam, meskipun dengan sejumlah dampak yang akan ditimbulkan kemajuan tersebut, namun tidak ada pilihan lain kecuali harus ikut mengarungi samudera globalisasi dan berkompetisi di dalamnya untuk mengambil nilai-nilai yang dibawa globalisasi tersebut, tentunya nilai-nilai yang relevan dengan kehidupan masyarakat Islam, dengan melakukan filter terhadap nilai-nilai tersebut.     
                        

DAFTAR PUSTAKA
Arsyad, “Problem Dakwah dalam Menghadapi Era Globalisasi” Jurnal Dakwah, Edisi 02/Mei/2000. Fakultas Dakwah IAIN Alauddin Makassar, 2000.
Ali Alatas “Tatanan Politik Dunia Abad 21” dalam Indonesia Abad 21; di Tengah Kepungan Perubahan Global. Cet. I; Jakarta: Kompas, 2000.
A.M. Saefuddin., et al., Deserkularisasi Pemikiran; Landasan Islamisasi. Cet. III; Bandung: Mizan, 1993.
Ira M, Lapidus, Sejarah Sosial Umat Islam, Ed. I Cet. I; Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 1999.
Jalaluddin Rahmat, Islam Aktual. Cet. IX; Bandung: Mizan, 1996.
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi III Cet. III; Jakarta: Balai Pustaka, 2003.
Doyle Paul Johnson, Sociological Theory Classical Founders and Contemporary Perspective, yang dialih bahasakan oleh Robert M.Z. Lawang dengan judul Teori Sosiologi Klasik dan Modern. Cet. I; Jakarta: PT. Gramedia, 1986.
Dr Badri Yatim, M.A., Sejarah Peradaban Islam. Cet. XII; Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 2001.
Drs. Sidi bGAzalba. Masyarakat Islam; Pengantar Sosiologi dan Sosiografi (Cet. II; Jakarta: PT. Bulan Bintang, 1989.
Dra. Nanih Machendrawaty, M.Ag., Agus Ahmad Safei, M.Ag., Pengembangan Masyarakat Islam; Dari Ideologi Strategi Sampai Tradisi. Cet. I; Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2001
Drs. Kaelany HD, M.A.. Islam dan Aspek-aspek Kemasyarakatan Edisi II Cet.
Edy Suandi Hamid, et al., Rekonstruksi Gerakan Muhammadiyah pada Era Multi Peradaban. Cet. I; Yogyakarta: UII Press, 2000.
M. Quraish Shihab, Membumikan al-Qur’an; Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupam Masyarakat Cet. XI; Bandung: Mizan, 1995.
M. Amien Rais, Tauhid Sosial; Formula Menggempur Kesenjangan. Cet. III; Bandung: Mizan, 1998.
Prof. Judistira K. Garna, Ph.D., Teori-teori Perubahan Sosial. Bandung: Program Pascasarjana Universitas Padjajaran Press, 1992.
Ridwan al-Makassary, Kematian Manusia Modern; Nalar dan Kebebasan menurut C. Wright Mills. Cet. I; Yogyakarta: 2000.. 
Yasraf Amir Pialiang, Sebuah Dunia yang Dilipat; Realitas Kebudayaan Menjelang Millenium ketiga dan Matinya Posmodernisme. Cet. II; Bandung: Mizan, 1998.


            [1] Gerak masyarakat secara terus menerus yang menimbulkan perubahan dalam tata hidup masyarakat yang bersangkutan, Lihat Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi III (Cet. III; Jakarta: Balai Pustaka, 2003), h. 265.
            [1] M. Quraish Shihab, Membumikan al-Qur’an; Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupam Masyarakat (Cet. XI; Bandung: Mizan, 1995), h. 245-246..
            [1] Masyarakat adalah sejumlah masnusia dalam arti seluas-luasnya dan terikat oleh suatu kebudayaan yang mereka anggap sama., Ibid., h. 721. Bandingkan  masyarakat adalah sejumlah individu yang terjalin karena adanya interaksi dan saling mempengaruhi, Lihat Doyle Paul Johnson, Sociological Theory Classical Founders and Contemporary Perspective, yang dialih bahasakan oleh Robert M.Z. Lawang dengan judul Teori Sosiologi Klasik dan Modern, (Cet. I; Jakarta: PT. Gramedia, 1986), h. 257-258.
            [1]Prof. Judistira K. Garna, Ph.D., Teori-teori Perubahan Sosial (Bandung: Program Pascasarjana Universitas Padjajaran Press, 1992), h. 1.
            [1] Lihat Dr Badri Yatim, M.A., Sejarah Peradaban Islam (Cet. XII; Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 2001), h. 9.
            [1] Drs. Sidi bGAzalba, Masyarakat Islam; Pengantar Sosiologi dan Sosiografi (Cet. II; Jakarta: PT. Bulan Bintang, 1989), h. 30.
            [1] M. Quraish Shihab, loc. Cit.
            [1]Masyarakat Islam ialah kelompok manusia di mana hidup terjaring kebudayaan Islam yang diamalkan oleh kelompok tersebut sebagai kebudayaan. Lihat Zidi Gazalba op. cit  h. 102.
            [1]Dra. Nanih Machendrawaty, M.Ag., Agus Ahmad Safei, M.Ag., Pengembangan Masyarakat Islam; Dari Ideologi Strategi Sampai Tradisi (Cet. I; Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2001), h. 21. Lihat Drs. Kaelany HD, M.A., Islam dan Aspek-aspek Kemasyarakatan Edisi II, (Cet. I; Jakarta: Bumi Aksara, 2000), h. 165.
            [1]Dra. Nanih Machendrawaty, M.Ag., Agus Ahmad Safei, M.Ag., loc. cit. 
            [1]Lihat Ira M, Lapidus, Sejarah Sosial Umat Islam, Ed. I (Cet. I; Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 1999), h. 82-86.
            [1]Lihat Ibid
            [1]Lihat Ibid, h. 103-122.
            [1]A.M. Saefuddin., et al., Deserkularisasi Pemikiran; Landasan Islamisasi (Cet. III; Bandung: Mizan, 1993), h. 157.
            [1] Lihat Ridwan al-Makassary, Kematian Manusia Modern; Nalar dan Kebebasan menurut C. Wright Mills (Cet. I; Yogyakarta: 2000), h. 40-43. 
            [1]Prof. Judistira K. Garna, Ph.D., op. cit., h. 2
            [1]Ibid., h. 1.
            [1]Ali Alatas “Tatanan Politik Dunia Abad 21” dalam Indonesia Abad 21; di Tengah Kepungan Perubahan Global (Cet. I; Jakarta: Kompas, 2000), h. 3.
            [1]Yasraf Amir Pialiang, Sebuah Dunia yang Dilipat; Realitas Kebudayaan Menjelang Millenium ketiga dan Matinya Posmodernisme (Cet. II; Bandung: Mizan, 1998), h. 209
            [1]M. Amien Rais, Tauhid Sosial; Formula Menggempur Kesenjangan (Cet. III; Bandung: Mizan, 1998), h. 145.
            [1]Abd. Rahim Arsyad, “Problem Dakwah dalam Menghadapi Era Globalisasi” Jurnal Dakwah, Edisi 02/Mei/2000 (Fakultas Dakwah IAIN Alauddin Makassar, 2000), h. 1.
            [1]Edy Suandi Hamid, et al., Rekonstruksi Gerakan Muhammadiyah pada Era Multi Peradaban (Cet. I; Yogyakarta: UII Press, 2000), h. 47.
            [1]Ibid
            [1]Abd. Rahim Arsyad., Ibid.
            [1]Jalaluddin Rahmat, Islam Aktual (Cet. IX; Bandung: Mizan, 1996), h. 71.



                [1] Gerak masyarakat secara terus menerus yang menimbulkan perubahan dalam tata hidup masyarakat yang bersangkutan, Lihat Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi III (Cet. III; Jakarta: Balai Pustaka, 2003), h. 265.
                [2] M. Quraish Shihab, Membumikan al-Qur’an; Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupam Masyarakat (Cet. XI; Bandung: Mizan, 1995), h. 245-246..
                [3] Masyarakat adalah sejumlah masnusia dalam arti seluas-luasnya dan terikat oleh suatu kebudayaan yang mereka anggap sama., Ibid., h. 721. Bandingkan  masyarakat adalah sejumlah individu yang terjalin karena adanya interaksi dan saling mempengaruhi, Lihat Doyle Paul Johnson, Sociological Theory Classical Founders and Contemporary Perspective, yang dialih bahasakan oleh Robert M.Z. Lawang dengan judul Teori Sosiologi Klasik dan Modern, (Cet. I; Jakarta: PT. Gramedia, 1986), h. 257-258.
                [4]Prof. Judistira K. Garna, Ph.D., Teori-teori Perubahan Sosial (Bandung: Program Pascasarjana Universitas Padjajaran Press, 1992), h. 1.
                [5] Lihat Dr Badri Yatim, M.A., Sejarah Peradaban Islam (Cet. XII; Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 2001), h. 9.
                [6] Drs. Sidi Gazalba, Masyarakat Islam; Pengantar Sosiologi dan Sosiografi (Cet. II; Jakarta: PT. Bulan Bintang, 1989), h. 30.
                [7] M. Quraish Shihab, loc. Cit.
                [8]Masyarakat Islam ialah kelompok manusia di mana hidup terjaring kebudayaan Islam yang diamalkan oleh kelompok tersebut sebagai kebudayaan. Lihat Zidi Gazalba op. cit  h. 102.
                [9]Nanih Machendrawaty, M.Ag., Agus Ahmad Safei, M.Ag., Pengembangan Masyarakat Islam; Dari Ideologi Strategi Sampai Tradisi (Cet. I; Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2001), h. 21., lihat Kaelany HD, M.A., Islam dan Aspek-aspek Kemasyarakatan Edisi II, (Cet. I; Jakarta: Bumi Aksara, 2000), h. 165.
                [10]Nanih Machendrawaty, M.Ag., Agus Ahmad Safei, M.Ag., loc. cit. 
                [11]Lihat Ira M, Lapidus, Sejarah Sosial Umat Islam, Ed. I (Cet. I; Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 1999), h. 82-86.
                [12]Lihat Ibid.
                [13]Lihat Ibid, h. 103-122.
                [14]A.M. Saefuddin., et al., Deserkularisasi Pemikiran; Landasan Islamisasi (Cet. III; Bandung: Mizan, 1993), h. 157.
                [15] Lihat Ridwan al-Makassary, Kematian Manusia Modern; Nalar dan Kebebasan menurut C. Wright Mills (Cet. I; Yogyakarta: 2000), h. 40-43. 
                [16]Judistira K. Garna, Ph.D., op. cit., h. 2
                [17]Ibid., h. 1.
                [18]Ali Alatas “Tatanan Politik Dunia Abad 21” dalam Indonesia Abad 21; di Tengah Kepungan Perubahan Global (Cet. I; Jakarta: Kompas, 2000), h. 3.
                [19]Yasraf Amir Pialiang, Sebuah Dunia yang Dilipat; Realitas Kebudayaan Menjelang Millenium ketiga dan Matinya Posmodernisme (Cet. II; Bandung: Mizan, 1998), h. 209
                [20]M. Amien Rais, Tauhid Sosial; Formula Menggempur Kesenjangan (Cet. III; Bandung: Mizan, 1998), h. 145.
                [21]Abd. Rahim Arsyad, “Problem Dakwah dalam Menghadapi Era Globalisasi” Jurnal Dakwah, Edisi 02/Mei/2000 (Fakultas Dakwah IAIN Alauddin Makassar, 2000), h. 1.
                [22]Edy Suandi Hamid, et al., Rekonstruksi Gerakan Muhammadiyah pada Era Multi Peradaban (Cet. I; Yogyakarta: UII Press, 2000), h. 47.
                [23]Ibid .
                [24]Abd. Rahim Arsyad., Ibid.
                [25]Jalaluddin Rahmat, Islam Aktual (Cet. IX; Bandung: Mizan, 1996), h. 71.

0 komentar:

Poskan Komentar

apakah anda tidak menemukan yang anda cari??? silahkan tuliskan sesuatu yang anda cari itu....

FACEBOOK COMENT

ARTIKEL SEBELUMNYA

 
Blogger Templates