Sabtu, 21 Mei 2011

TEORI-TEORI EPISTEMOLOGI


(Fenomenologi dan Intuisionisme)

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
            Secara umum epistemologi dapat dijelaskan sebagai cabang dari filsafat yang membahas ruang lingkup dan batas-batas pengetahuan, epistemologi adalah suatu cabang filsafat yang bersangkut paut dengan teori pengetahuan. Studi ini mencari jalan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan mendasar yang meliputi pengkajian sumber-sumber watak dan kebenaran pengetahuan, yaitu apakah yang diketahui oleh akal manusia? Darimanakah kita memperoleh pengetahuan yang diandalkan atau kita harus puas dengan pendapat-pendapat dan sangkaan? Apakah kemampuan kita terbatas dalam mengetahui fakta pengalaman indera, atau kita dapat mengetahui lebih jauh daripada apa yang diungkapkan oleh indera?
            Sebelum sampai pada pembahasan teori epistemologi fenomenologi dan intuisionalisme, kita klasifikasikan terlebih dahulu persoalan-persoalan dalam bidang epistemologi. Menurut Prof. Dr. Juhaya S.Praja, terdapat tiga persoalan dalam bidang epistemologi, yaitu :
  1. Apakah sumber-sumber pengetahuan itu? Darimana pengetahuan yang benar itu datang, dan bagaimana kita dapat mengetahui? Ini semua adalah problem asal (origin)
  2. apakah watak dari pengetahuan? Apakah dunia yang riil diluar akal itu ada, kalau ada, dapatkah kita mengetahuinya?
  3. apakah pengetahuan kita itu benar (valid)? Bagaimana kita membedakan antara kebenaran dan kekeliruan? Ini adalah problema mencoba kebenaran(verification).[1] 
                  Dalam perkembangan pemikiran tentang persoalan-persoalan epistemologi diatas, telah muncul berbagai teori, dari yang menggunakan rasio, kemampuan inderawi manusia, sampai dengan kekuatan dibalik kemampuan indera manusia.
                  Diantara teori-teori yang telah membuka wawasan kita tentang persoalan epistemologi adalah teori Fenomenologi dan intuisionalisme. Teori ini telah membuka tabir kebenaran pengetahuan dalam filsafat.
B. Rumusan Masalah
Untuk mengenal lebih jauh epistemologi  Fenomenologi dan intuisionalisme, penulis akan membahasnya dalam 2 pokok permasalahan:
1.      Apa pengertian fenomenologi dan bagaimana pandangan tokohnya dalam memperoleh pengetahuan?.
2.      bagaimanakah pandangan intuisionalisme  tentang cara memperoleh pengetahuan?


BAB II
PEMBAHASAN
1. Fenomenologi
            Kata fenomenologi berasal dari kata Yunani,Phenomenon, yaitu sesuatu yang tampak yang terlihat karena berkecakupan, dalam bahasa Indonesia biasa dipakai istilah gejala. Jadi fenomenologi adalah suatu aliran yang membicarakan suatu fenomena atau sesuatu yang menampakkan diri.[2]
            Sedangkan Fenomenon dalam bahasa inggris yang berarti perwujudan, gejala, kejadian natural pada kejadian alam.[3] Jadi fenomenologi adalah suatu aliran yang membicarakan fenomena atau segala sesuatu yang menampakkan diri atau dapat juga dikatakan sesuatu yang sedang menggejala.[4]
            Selanjutnya Hasan Bakti Nasution menjelaskan istilah fenomenologi mengandung tiga pengertian yang saling terkait yaitu yang langsung tampak, sesuatu yang menampakkan diri tapi masih terselubung, dan proses penampakan. Jadi fenomenologi ialah filsafat yang menyatakan bahwa kebenaran merupakan hasil deskripsi intuitif manusia  terhadap suatu obyek sesuai dengan penampakan diri (fenomena) obyek tersebut.[5]
Untuk memudahkan pengertian diatas , kita ambil contoh, penyakit Flu, diantara gejalanya adalah pilek dan batuk. Penyakit flu tidak bisa dikatakan sebagai penyakit flu jika tidak ada gejalanya, yaitu pilek dan batuk.
            Menurut para penganut fenomenologi suatu fenomenon semata harus diamati dengan indera, sebab sebab fenomenon juga dapat dilihat/ditilik secara rohani, tanpa melewati indra. Juga fenomenon tidak perlu suatu pristiwa, karena suatu fenomenon adalah apa yang menampakkan diri dalam dirinya sendiri, apa yang menampakkan diri seperti apa adanya, apa yang jelas dihadapan kita.[6]
            Aliran fenomenologi berusaha untuk mencapai pengertian yang sebenar-benarnya dengan cara menerobos semua fenomena yang menampakkan diri menuju kepada bendanya. Usaha ini menggabungkan antara subyek (manusia) dan obyek (yang diamati) dengan cara pengamatan intuitif.
Dari sekian teori kebenaran tentang pengetahuan, teori fenomenologi termasuk mampu membuktikan dirinya sebagai salah satu sumber befikir yang kritis. Pemikiran fenomenologi demikian besar pengaruhnya di Eropa dan Amerika.
            Tokoh sentral  dari  teori fenomenologi ini adalah Edmund Husserl dan pengikutnya Max Scheler, Husserl yang lahir di Prostejov, Cekoslowakia pada tahun 1859 dan wafat tahun 1939 adalah pendiri fenomenologi, pemikirannya terekam dalam tiga karya pentingnya, yaitu Logiche Untersuchungen (Penyelidikan-penyelidikan logika), ideen zu Eineer Reinen Phanomenologischen philosophie (Gagasan-gagasan untuk suatu fenomenologi murni dan filsafat fenomenologi), dan meditations cartesiennes (Renungan-renungan Kartesien).diantara pemikiran-pemikiran pentingnya ialah:
1)      Teori kebenaran
                 Seperti disinggung diatas, menurut Husserl kebenaran haruslah digabung antara subyek dan obyek. Obyek diberi kesempatan memperkenalkan dirinya kepada subyek yang mengamati, sesuai dengan semboyan zu den schen selbs ( kembali kepada benda-benda itu sendiri). Kembali kepada “benda-benda” dimaksudkan adalah “benda-benda” diberi kesempatan untuk berbicara tentang hakekat dirinya.Pernyataan tentang hakekat “ benda-benda” tidak lagi tergantung kepada orang yang membuat pernyataan, melainkan ditentukan oleh benda-benda itu sendiri.[7]
          Akan tetapi “benda-benda” tidaklah secara langsung memperlihatkan hakekatnya sendiri. Apa yang kita temui pada benda-benda itu dalam pemikiran biasa, bukanlah hakekat. Benda itu ada dibalik  yang kelihatan itu. Karena pemikiran yang pertama(first look) tidak membuka tabir yang menutupi hakekat, maka diperlukan pemikiran kedua (second look). Alat yang digunakan untuk menemukan pada pemikiran kedua ini, adalah intuisi atau wesenchau dari hakekat gejala-gejala.[8]
          Dalam usaha melihat hakekat dengan intuisi, Husserl memperkenalkan pendekatan reduksi. Yang dimaksud dengan reduksi adalah penundaan segala pengetahuan yang ada tentang obyek sebelum pengamatan intuisi dilakukan. Reduksi juga dapat diartikan penyaringan atau pengecilan. Istilah lain yang digunakan Husserl adalah epoche, yang artinya sebagai penempatan sesuatu diantara dua kurung, maksudnya adalah melupakan pengertian pengertian-pengertian obyek untuk sementara dan berusaha melihat obyek secara langsung dengan intuisi tanpa bantuan pengertian-pengertian yang ada sebelumnya. Reduksi ini adalah salah satu prinsip yang mendasari sikap fenomenologis. Untuk mengetahui sesuatu, seorang fenomenolog bersikap netral. Tidak menggunakan teori-teori atau pengertian-pengertian yang telah ada, dalam hal ini obyek diberi kesempatan “berbicara tentang dirinya sendiri”.
2)  Jenis-jenis reduksi
                 Agar intuisi dapat menangkap gejala-gejala secara benar, maka manusia harus melepaskan diri dari pengalaman-pengalaman dan gambaran sebelumnya yang diperoleh dalam kehidupan sehari-hari,dengan cara menggunakan tiga jenis reduksi, yaitu:
a.       Reduksi fenomenologis
                Fenomena apa yang tersebut diatas adalah menampakkan diri. Dalam praktek hidup sehari-hari, kita tidak memperhatikan penampakan itu. Apa yang kita lihat secara spontan sudah cukup meyakinkan kita bahwa obyek yang kita lihat adalah riil atau nyata.
                Kita telah meyakininya sebagai realitas diluar kita. Akan tetapi karena yang dituju fenomenologi adalah realitas dalam arti yang ada diluar dirinya dan ia dapat dicapai dengan mengalami secara intuitif, maka apa yang kita anggap sebagai realitas dalam pandangan biasa itu untuk sementara harus ditinggalkan atau dibuat dalam kurung. Segala subyektifitas disingkirkan, termasuk dalam hal ini teori-teori, kebiasaan-kebiasaan dan pandangan-pandangan yang membentuk pikiran kita dalam memandang sesuatu (fenomena), sehingga yang timbul adalah fenomena itu sendiri.
b.      Reduksi Eiditis
                Eiditis berasal dari kata eido, yaitu intisari.[9] Reduksi eiditis ialah penyaringan atau penempatan didalam kurung. Segala hal yang bukan eidos. Hasil reduksi kedua ini adalah penilikan realitas. Dengan reduksi eiditas semua segi, aspek dan profil fenomena yang hanya kebetulan dikesampingkan, karena aspek dan profil tidak pernah menggambarkan obyek secara utuh. Setiap obyek adalah kompleks, mengandung aspek dan profil yang tiada terhingga.
                Reduksi eiditas menunjukkan bahwa dalam fenomenologi kriteria koherensi berlaku. Artinya, pengamatan-pengamatan yang beruntun terhadap obyek harus dapat disatukan dalam suatu horizon yang konsisten, setiap pengamatan memberi harapan akan tindakan-tindakan yang sesuai dengan yang pertama atau selanjutnya.
                Oleh karena itu dalam reduksi eiditas, yang harus dilakukan adalah jangan dulu mempertimbangkan apa yang sifatnya aksidental atau eksistensial itu. Caranya adalah melalui reduksi eiditas, yakni menunda dalam tanda kurung, sifat-sifat yang eksistensial dari obyek, perhatian kita sepenuhnya diarahkan pada esensinya, eidosnya atau hakekatnya.[10]
c.       Reduksi Transedental
                Di alam reduksi ini yang ditempatkan diantara dua kurung adalah eksistensi dan segala sesuatu yang tidak mempunyai hubungan timbal balik dengan kesadaran murni, agar dari obyek itu akhirnya orang sampai kepada apa yang ada pada subyek sendiri. Reduksi ini dengan sendirinya bukan lagi mengenai obyek. Reduksi ini merupakan pengarahan ke subyek dan mengalami hal-hal yang menampakkan diri dalam kesadaran, jadi yang tinggal adalah kesadaran diri, tetapi bukan kesadaran empiris. Kesadaran yang ditemukan adalah kesadaran yang bersifat murni atau transendental.
Ketiga reduksi ini mempunyai hubungan yang koheren, yang dimulai dari yang pertama, kemudian kedua selanjutnya yang ketiga. Reduksi ketiga tidak diperoleh tanpa dimulai dari reduksi pertama. Dengan demikian reduksi berproses secara dinamis dan linear, sehingga tidak ada loncatan reduksi.[11]
2. Intuisionisme
            Aliran intuisi ini lahir sebagai reaksi kritik terhadap aliran rasionalisme dan empirisme, tokoh aliran ini adalah Henri Bengson (1854-1941).
            Dalam kamus ilmiah dinyatakan bahwa intuisionisme adalah suatu anggapan bahwa ilmu pengetahuan dapat dicapai dengan pemahaman  langsung: anggapan bahwa kewajiban moral tidak dapat disimpulkan sendiri tanpa pertolongan dari tuhan.[12]
            Henri Bengson berpendapat bahwa tidak hanya indra yang terbatas, tetapi akalpun demikian, objek-objek yang kita tangkap itu selalu berubah.[13]
            Dari pendapat diatas dapat dipahami bahwa indra dan akal memiliki keterbatasan dalam memahami suatu objek . indra dan akal dapat memahami suatu objek jika ia mengkonsentrasikan dirinya pada objek tersebut.
            Dengan menyadari keterbatasan indra dan akal, Bengson mengembangkan satu kemampuan tingkat tinggi yang dimiliki manusia, yaitu intuisi. Intuisi merupakan pengetahuan yang didapatkan melalui proses penalaran tertentu. Ini merupakan hasil evolusi pemahaman tertinggi dan intuisi tersebut menangkap objek secara langsung tanpa melalui pemikiran.
            Bagi intuisinisme, terdapat adanya suatu bentuk pengalaman lain (pengalaman bathiniah) disamping pengalaman yang dihayati melalui indra. Tesa yang dikembangkan oleh faham ini ternyata memiliki sisi yang memberatkan diantaranya lahirnya pengetahuan yang intuitif yang hanya dapat dikomunikasikan melalui penerjemahan ke dalam simbol-simbol, sehingga kita akan berbicara mengenai pengetahuan yang sifatnya subyektif.
            Seseorang yang sedang terpusat pemikirannya pada suatu masalah tiba-tiba saja menemukan jawaban atas permalahan tersebut. Tanpa melalui proses berpikir yang berliku, tiba-tiba saja dia sudah sampai pada sebuah kesimpulan. Jawaban atas permasalahan yang dipikirkannya muncul dibenaknya atau intuisi ini bekerja dalam keadaan yang tidak sepenuhnya sadar.
            Suatu masalah yang sedang kita pikirkan yang kemudian kita tunda karena menemui jalan buntu, tiba-tiba muncul di benak kita yang lengkap dengan jawabannya. Kita merasa yakin bahwa memang itulah jawaban yang kita cari namun kita tidak bisa menjelaskan bagaimana caranya kita sampai disana.[14]


BAB III
KESIMPULAN
Berdasarkan uraian yang telah dikemukakan pada bab sebelumnya, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:
  1. Aliran fenomenologi adalah merupakan faham yang konsisten dalam pendiriannya untuk mengungkap kebenaran pengetahuan. Aliran fenomenologi menitik beratkan kepada gejala-gejala yang ada pada obyek yang diamati, kebenaran adalah hasil deskripsi intuitif manusia terhadap suatu obyek sesuai dengan penampilan diri (fenomena) obyek tersebut. Namun Edmund Husserl berpandangan bahwa untuk memperoleh kebenaran haruslah digabung antara subyek dan obyek, semboyannya adalah zu denschen selbs (kembali pada benda-benda itu sendiri). Untuk menyatakan hakekat benda-benda digunakanlah metode reduksi, yaitu penundaan segala pengetahuan yang ada tentang obyek sebelum pengamatan intuisi dilakukan.
  2. Menurut intuisionisme, bukan hanya indra yang memiliki keterbatasan, tetapi akal pun  juga demikian. Obyek-obyek yang kita tangkap itu adalah obyek yang selalu berubah. Dengan menyadari keterbatasan indra dan akal, aliran intuisinisme mengembangkan suatu kemampuan tingkat tinggi yang dimiliki manusia yaitu intuisi. Ini merupakan hasil evolusi pemahaman yang tertinggi. Dan intuisi tersebut menangkap obyek secara langsung tanpa melalui pemikiran.

DAFTAR PUSTAKA
Abidin, Zainal Filsafat Manusia, Bandung: PT Remaja Rosda Karya, 2003
Bartends, K. Filsafat Barat Abad XX, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1981
Drijakara N. S.J., percikan Filsafat, Cet.V; Jakarta: PT. Pembangunan, 1989
Echols, Jhon M. dan Hasan Shadily, kamus bahasa inggris Indonesia, Jakarta:                    Gramedia Pustaka Utama, 1990
Nasution, Hasan Bakti Filsafat Umum Jakarta: Gaya Media Pratama, 2001
Partianto A. dan M. Dahlan al Barry, kamul Ilmiah Populer, Surabaya: Arloka, t.th.
Praja, Juhaya S. Aliran-Aliran Filsafat dan Etika, Cet.II ;Jakarta:kencana, 2005
Sudarsono, Ilmu Filsafat, Jakarta: PT.Rineka Cipta,2001
Sumantri, Jujun S. Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer, Cet.VI; Jakarta: PT    Gelora Aksara Pratama, 1990
Tafsir,Ahmad, Filsafat Umum, Cet.IX ; Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 1999.


                [1] Juhaya S.Praja, Aliran-Aliran Filsafat dan Etika, (Cet.II ;Jakarta:kencana,2005), h. 87
                [2] K.Bartends, Filsafat Barat Abad XX (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1981) h. 109
                [3] Jhon M.Echols dan Hasan Shadily, kamus bahasa inggris Indonesia (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1990) h.42
                [4] N.Drijakara S.J., percikan Filsafat (Cet.V; Jakarta: PT. Pembangunan, 1989) h.117
                [5] Hasan Bakti Nasution, Filsafat Umum (Jakarta: Gaya Media Pratama, 2001) h.186
                [6] Sudarsono, Ilmu Filsafat (Jakarta: PT.Rineka Cipta,2001) h.340
                [7] Hasan Bakti Nasution, op. cit., h. 187
                [8] Juhaya S.Praja, op. cit., h. 180
                [9] Ibid., h.181
                [10] Zainal Abidin, Filsafat Manusia, (Bandung: PT Remaja Rosda Karya, 2003) h.147
                [11] Hasan Bakti Nasution, op. cit., h. 188
                [12] Pius A. Partianto dan M. Dahlan al Barry, kamul Ilmiah Populer ( Surabaya: Arloka, t.th.) h.271
                [13] Ahmad Tafsir, Filsafat Umum, (Cet.IX ; Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 1999), h. 26
                [14] Jujun S.Sumantri, Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer (Cet.VI; Jakarta: PT Gelora Aksara Pratama, 1990), h. 53

0 komentar:

Poskan Komentar

apakah anda tidak menemukan yang anda cari??? silahkan tuliskan sesuatu yang anda cari itu....

FACEBOOK COMENT

ARTIKEL SEBELUMNYA

 
Blogger Templates