Kamis, 05 Mei 2011

SAINS VS AGAMA


(Tinjauan Teori Antara Sains dan Agama dalam Menanggapi Masalah Adanya Tuhan dan Sosiobilitas Masyarakat Islam )

OLEH : ABDUL MUIZ. LC

BAB I
PENDAHULUAN
      A.    Latar Belakang

Berbicara masalah perkembangan kehidupan manusia tentunya tidak lepas dari peranan Time(waktu), hal ini adalah sunnatullah yang sudah di tetapkan oleh Allah kepada seluruh makhluknya, sebagai tolak ukur dalam mengarungi alam semesta ini. Berbicara masalah waktu, waktu itu sendiri di bagi kepada tiga titik ukur, yaitu : masa lampau, masa sekarang, masa yang akan datang. Dilema waktu ini berpengaruh dalam setiap perubahannya, yaitu, perkembangan dan kemunduran, tergantung sejauh mana manusia mampu terus berusaha dan memanfaatkan segala perlengkapan yang telah disiapkan oleh Allah untuk di pergunakan sebaik-baiknya di alam ini. Hal ini dapat dilihat melalui peradaban yang terus dilakukan oleh ummat manusia.
Peranan manusia sangat penting dalam membentuk peradabannya, para ahli sejarah memberikan tolak ukur perkembangan ummat manusia dari segi berkembangan peradaban yang dimilikinya, pada abad mutakhir, hal yang paling membuktikan berkembangnya peradaban manusia dapat dinilai dari laju perkembangan SAINS, peranan sains inilah yang berperan penting dalam membentuk peradabangan perkembangan ummat manusia. Oleh karena para filosof membagi dua masa initi dalam meniai perkembangan manusia, yaitu, masa ke-emasan(kemajuan sains dan agama) dan masa kemunduran.
Seiring lajunya waktu, sains terus berkembang dan berperan penting bagi manusia sebagai alat yang di pergunakan manusia dalam mengarungi kehidupan mereka. Dalam artian, sains adalah alat yang menumbuh kembangkan kehidupan manusia.
Peranan AGAMA tak kalah pentingnya dengan peranan sains, jika sains berperan dalam bentuk jasmani, maka agama berperan dalam membentuk rohaniah manusia, sebab kehidupan manusia dengan agama, tidak bisa terlepas pula dalam pembentukan peradaban yang baik, bagi ummat manusia, sejarah telah membuktikan hal itu, laju perkembangan peradaban manusia tidak terlepas dari peranan agama, bukti akan hal ini adanya peradaban mesir kuno, yunani kuno, dan sebagainya, membuktikan bahwa peranan agama berperan penting dalam pembentukan perkembangan kehidupan manusia.[1]
Namun yang menjadi polemik adalah apakah sains mampu menjawab seluruh tantangan kehidupan manusia tanpa peranan agama?, ataukah sebaliknya?, apakah sains mampu berdiri sendiri sebagai alat untuk membentuk peradaban kehidupan manusia tanpa bantuan agama?, ataukah sebaliknya?, apakah sains mampu membuktikan kebenaran tanpa petunjuk dari agama? ataukah sebaliknya?.
B.     Rumusan Masalah
Setelah melirik latar belakang masalah diatas, maka penulis ingin mencoba untuk merumuskan masalah antara sains dan agama sebagai alat yang paling bereperan penting dalam membentuk peradaban kehidupan manusia menurut tolak ukur filsafat ilmu.
1.   Bagaimana definisi  sains dan agama menurut pandangan filsafat ilmu?
2.   Bagaimana peranan sains dan agama dalam menilai adanya Tuhan?, Akankah sains dan agama berbeda dalam membuktikan adanya Tuhan?
3.  Bagaiman peranan sains dan agama dalam membantuk peradaban kehidupan masyarakat islam?, Mampukah keduanya disatukan ataukah sebaliknya?



BAB II
PEMBAHASAN
A.    Sains Dan Agama Menurut Pandangan Filsat Ilmu
1.      Pengertian Sains
            Sains(Ilmu Pengetahuan) dalam bahasa inggris dan prancis di sebut “Science”, sedangkan dalam bahasa jerman disebut “Wissenschaft, dan dalam bahasa belanda di sebut “Wetenschap.[2]
            Science berasal dari kata “scio”, “Scire” (bahasa latin) yang berarti tahu, begitupun ilmu berasal dari kata ‘alima” (bahasa arab) yang juga berarti tahu. Jadi baik imu atau Science secara etimologis berarti pengetahuan. Namun secara terminologis, ilmu dan science itu semacam pengetahuan yang mempunyai ciri-ciri, tanda-tanda dan syarat-syarat yang khas.[3] Adapun menurut pandangan para ilmuan terkemuka tentang pengertian sains ini, dapat kami paparkan sebagai berikut :
a.      Ralph Ross dan Ernest Van Den Haag :
Science is empirical, rational, general, general ang cumulative; and it is  all four of onece”[4]

(Ilmu ialah yang empiris, yang rasional, yang umum dan bertimbun bersusun; dan keempat-empatnya serentak)


b.      Karl Pearson (1857-1936), pengarang karya terkenal Grammar of Science :
“Science is the complete and consistent description of the fact of experience in the simplest possible terms”[5]

(Ilmu pengetahuan ialah lukisan atauketerangan yang lengkap dan konsistententang fakta pengalaman dengan istilah yang sesederhana/ sesedikit mungkin)
c.       Prof. Dr. A. Baiquni (guru besar pada Universitas Gajah Mada) :
Science merupakan generasi consensus dari masyarakat yang terdiri dari para scientist”[6]
Dari penjelasan diatas kita dapat merumuskan bahwa ilmu pengetahuan (science) adalah semacam pengetahuan yang mempunyai ciri, tanda dan syarat tertentu, yaitu : sistematik, rasional, empiris, umum dan kumulatif (bersusun timbun). jadi ilmu pengetahuan itu merupakan lukisan dan keterangan yang lengkap dan konsistent mengenai hal-hal yang di studinya dalam ruang dan waktus sejauh jangkauan pemikiran dan penginderaan manusia. Atau bisa pula dikatakan bahwa ilmu pengetahuan adalah usaha pemahaman manusia yang di susun dalam satu sistema mengenai kenyataan, struktur, pembagian, bagian-bagian dan hukum-hukum tentang hal ihwal yang di selidiki (alam, manusia dan agama) sejauh yang dapat dijangkau daya pemikiran yang dibantu oleh penginderaan manusia, yang kebenarannya di uji secara empiris, riset dan eksperimental.
Demikianlah yang dapat penulis rumuskan tentang sains menurut pandangan filsafat ilmu.
2.      Pengertian Agama
Agama(indonesia), Religion(inggris), Religie(belanda) dan Ad-Din(arab)[7]. Menurut pandangan etimologi : dalam kamus Al-Munjid dapat kita temukan keterangan tentang arti Ad-Din sebagai berikut : Ad-Din bentuk mufrad dari kata Adyan yang berarti Al-Jaza’ wa Al-Mukafaah, Al-Qadha, Al-Malik wa AL-Muluk sa Al-Sulthan, Al-Thabir, Al-Hisab.[8], dalam bahasa indonesia di terjemahkan menjadi, pahala, ketentuan, kekuasaan, pengelolaan, perhitungan.
Adapun agama menurut arti Terminologinya : sebenarnya tidak ada satu definisi tentang agama yang dapat diterima secara umum. Para filosof, para sosiolog, para psikolog, dan para teolog dan lain-lainnya telah merumuskan definis tentang Religion menurut caranya masing-masing. Namun dapat penulis simpulkan Sebagaimana para ilmuan tersebut beranggapan bahwa Reigion sebagai “penerimaan atas tata aturan dari pada kekuata-kekuatan yang lebih tinggi dari pada manusia itu sendiri”[9]
Ad-Din : menurut Al-Jurjani, beliaun menerangkan persamaan dan perbedaan antara Ad-Din pada satu pihak, dengan Al-Millah dan Al-Madzhab pada lain pihak, menurut beliau ketiga-tiganya bersamaan dalam materinya dan perbedaan terletak pada kesannya, Ad-Din dinisbahkan pada Allah, Al-Millah di nisbahkan kepada Nabi tertentu dan Al-Madzhab dinisbahkan kepada mujtahid tertentu.[10]
Melihat persfektif para ilmuan akan pemahaman mereka tentang agama/religion, penulis hanya mampu mengatakan bahwa defini agama/religion  ini tidak ditemukan secara umum atau global yang mampu merangkum pandangan para ilmuan karena mereka memberi definisi sesuai cara mereka masing-masing. Bahkan didalam Al-Qur’an sendiri kata Ad-Din tidak terbatas penggunaannya hanya kepada islam saja tapi semua agama dalam Al-Qur’an di gunakan dalam bahasa Ad-Din.[11]
Namun walaupun hal ini terjadi seperti demikina penulis hanya ingin memberikan klasifikasi agama, agar tidak membuat kita menjadi plin-plang dalam memahami agama itu sendiri, adapun klasifikasi agama :
a.       Revealed and non Revealed Religions
Revealed Religions (agama wahyu) ialah agama yang menghendaki iman kepada Tuhan, Rasul dan Kitab-kitabnya serta pesannya untuk di sebrkan kepada seluruh ummat manusia. Yang termasuk dalam hal ini menurut Al-Qur’an adalah Yudaisme, Kristen dan Islam.
Non Revealed Religions (agama tanpa wahyu) ialah agama yang tidak memandang esensial penyerahan manusia kepada tata aturan Ilahi. Adapun yang termasuk dalam bagian ini adalah selain yang termasu dalam golongan Revealed Religions.[12]
b.      Agama Missionary dan Agama non Missionary.
Yang termasuk agama Missionary menurut T.W. Arnold adalah Buddhisme, Kristen dan Islam. Sedangkan yang termasuk Non Missionary adalah  Yudaisme, Brahmanisme dan Zoroasterianisme.[13]
c.       Klasifikasi Rasial Geografikal
Dari tinjauan ini agama-agama di dunia di bagi menjadi, : Semitik(yahudi,nasrani dan islam), Arya(hudaisme, jainisme, sikhisme dan zoroasterianisme) dan Monggolian(confusianisme, taoisme dan shintoisme).[14]
d.      Agama Samawi dan Agama bukan Samawi
Yang dimaksud disini dengan agama samawi adalah (agama langit, agama wahyu, agama profetis, revealed religion dan din-samawi). Adapun agama yang bukan samawi adalah agama budaya (agama bumi, agama filsafat,agama ra’yu, non reveaed religion, natural religion, Din At-Thabi’I, dan Din-Al-Ardhi).[15]
Dari uraian-uraian diatas maka penulis dapat simpulkan sebagai berikut:
1)      Agama adalah satu system tata keimanan atau tata keyakinan, atas adanya sesuatu yang mutlak diluar manusia.
2)      Agama juga adalah satu system peribadatan manusia kepada yang dianggapnya mutlak it.
3)      Agama juga adalah satu system norma, kaedah/ aturan-aturan. Yang mengatur hubungan antara manusia sesama manusia, manusia dengan alam lainnya dan manusia dengan yang mutlak(Tuhan).
B.     Peranan Sains dan Agama dalam Menilai Adanya Tuhan dan Pembuktiannya
Untuk mengkaji dan membuktikan akan adanya Tuhan menurut Sains dan Agama maka penulis ingin membandingkan antara konsep sains dan konsep agama dalam masalah adanya Tuhan dan pembuktiannya.
Berbicara masalah adanya Tuhan, maka beberapa hal yg perlu kita kaji, baik dari segi pandangan sains maupun agama, begitupun keduanya :
1.       Asal Mula Alam Semesta
Sains memandang bahwa peristiwa asal mula munculnya alam semesta ini ada dua pendapat diantara kalangan para ilmuan geologi, antara lain :
a.    Teori Evolusi (kebetulan)
150 tahun yang lau, Charles Darwin (1809-1882) seorang ilmuan alam dari inggris, mengajukan sebuah teori yang berdasarkan pada berbagai pengamatan yang ia lakukan selama perjalanan hidupnya, yang di kenal dengan teori evolusi atau teori yang bersandarkan pada penelitian Darwin bahwa alam ini terbentuk dari sebuah kejadian secara kebetulan. Pada intinya teori evolusi Darwin terdiri atas beragam scenario, asumsi dan penyimpulan yang ditemukan olehnya dalam angan-angannya. Menurut teori evolusinya bahwasanya ala mini terbentuk dari zat-zat mati yang bersatu secara kebetulan untuk membangkitkan sel yang pertama. Dalam artian ala mini hanya terbentuk dari sel mati yang kamudian menyatu hingga terbentuklah sel hidup secara kebetulan(tanpa pengaturan yang berencana).[16]
b.    Teori Big-Bang
Pada tahun 1929, astronomer Amerika, Edwin Hubble yang bekerja di observatorium Mount Wilson California, membuat penemuan paling penting dalam sejarah astronomi, yang di sebut teori “Big-Bang”(lekadan besar). Teori ini membahas tentang kejadian alam yang dimulai dengan kejadian Big-Bang (ledakan besar) yang membentuk keseluruhan alam semesta sekitar 15 milyar tahun lalu. Jagat raya tercipta dari suatu ketiadaan sebagai hasil dari ledakan satu titik tunggal. Kalangan ilmuwan modern menyetujui bahwa Big Bang merupakan satu-satunya penjelasan masuk akal dan yang dapat dibuktikan mengenai asal mula alam semesta dan bagaimana alam semesta muncul menjadi ada. Sebelum Big Bang, tak ada yang disebut sebagai materi. Dari kondisi ketiadaan, di mana materi, energi, bahkan waktu belumlah ada, dan yang hanya mampu diartikan secara metafisik, terciptalah materi, energi, dan waktu. Fakta ini, yang baru saja ditemukan ahli fisika modern. Para ilmuan modern dalam membuktikan teori ini, mereka mengadakan peluncuran satelit ruang angkasa COBE yang diluncurkan NASA pada tahun 1992 berhasil menangkap sisa-sisa radiasi ledakan Big Bang. Penemuan ini merupakan bukti terjadinya peristiwa Big- Bang, yang merupakan penjelasan ilmiah bagi fakta bahwa alam semesta diciptakan dari ketiadaan.[17]
c.    Teori Al-Qur’an (Agama)
Dalam hal ini Al-Qur’an hampir sejalan dengan teori Big-Bang, dalam hal ini Al-Qur’an juga mengakui bahwa adanya alam semesta ini yang dulunya tiada kemudian diadakan oleh sang Pencipta Allah swt. Penemuan sains tersebut baru pada abad ke 20, sedangkan 114 abad yang silam Al-Qu’an sudah menyatakan hal ini, ini adalah salah satu bukti kemukjiatan Al-Qur’an, karena pada masa kelahiran Al-Qur’an mustahil dapat mengetahui kehebatan yang sangat luar biasa itu terjadi. Allah swt. Berfirman dalam QS Al-Anbiya’ ayat 30 :
óOs9urr& ttƒ tûïÏ%©!$# (#ÿrãxÿx. ¨br& ÏNºuq»yJ¡¡9$# uÚöF{$#ur $tFtR%Ÿ2 $Z)ø?u $yJßg»oYø)tFxÿsù ( $oYù=yèy_ur z`ÏB Ïä!$yJø9$# ¨@ä. >äóÓx« @cÓyr ( Ÿxsùr& tbqãZÏB÷sムÇÌÉÈ  

Terjemahannya : “Dan Apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka Mengapakah mereka tiada juga beriman? {30}”[18]

Masih banyak lagi ayat Al-Qur’an (QS Al-An’am; 101, Al-Baqarah; 164, Al-Jaatsiyah; 36-37, Qaf; 6-8, dan seterusnya) yang menjelaskan tentang asal mula kejadian alam yang sesuai dengan penemuan para ilmuan sain pada abad mutakhir ini.
Namun permasalahan yang timbul sekarang adalah apakah hasil dari  sebuah ledakan besar dapat beraturan tanpa ada sang pengatur di balik semua ini?. Seumpama sebuah bom yang di ledakan di dalam sabuah gedung, maka apakah hasil ledakan bom yang menghacurkan gedung tersebut mampu hancur baleur secara beraturan?. Jawabannya, hal itu sangat mustahil jika tanpa ada campur tangan pengatur di balik semua ini. Argument inilah yang mematahkan teori big bang yang telah di gagas oleh ilmuan barat tersebut.[19]
Telah penulis paparkan 3 teori yang telah mengkaji tentang asal mula penciptaan alam melalui kajian ilmiah, dua teori diantaranya adalah teori para ilmuan sains pada masa modern/masa keemasan. Sedang satu teori diantaranya adalah teori Al-Qur’an(agama). Teori yang pertama telah di patahkan oleh penemuan teori yang kedua pada abad ke 20. Sedangkan teori yang kedua di koreksi oleh teori yang ketiga. Sedangkan teori yang ketiga muncul jauh berabad-abad sebelum teori yang ke dua lahir. Ini membuktikan bahwa Al-Qur’an sejak turunnya telah mengungkap penemuan-penemuan oleh para ilmuan pada abad keemasan. Ini membuktikan bahwa adanya Tuhan(Allah) sebagai pencipta sekaligus pengatur alam semesta.
2.      Penciptaan Manusia
Dalam pembahasan ini penulis juga akan memberikan bandingan antara teori-teori yang di temukan oleh para ilmuan sains khususnya pada abad keemasan ini dengan teori Al-Qur’an(agama) dalam mengungkap kebenaran tentang adanya sang Pencipta dalam hal ini, Allah swt.
a.       Teori Evolusi
Charles Robert Darwin (1809-1882), adalah penggagas teori ini, beliau adalah penganut faham marxisme (matrealisme), teori evolusi menyatakan bahwa makhluk-makhluk hidup beralihrupa ke spesies-spesies berbeda lewat cara mutasi dan seleksi alam, teori ini menyatakan bahwa manusia adalah bentuk peralihan dari spesies kera, yang kemudian beralihrupa menjadi manusia, dalam artian manusia berasal daari sepsies kera, teori ini dinyatakan oleh darwin melalui penemuan-penemuan fosil yang menjadi tolak ukur atas bukti teorinya. ini menandakan bahwa teori ini menganut faham bahwa alam ini terjadi secara kebetulan dan sama sekali tidak meyakini adanya sang Pencipta yaitu, Allah swt.[20]
b.      Teori Al-Qur’an (Agama)
Teori al-Qur’an (agama) ini, memandang bahwa manusia memiliki permulaan dan keberadaan manusia sama sekali bukan dari unsur kebetulan akan tetapi dari unsur perencenaan yang matang, manusia yang wujudnya dari tidak ada menjadi ada, manusia memiliki permulaan dan juga memiliki akhir. 114 abad yang silam Al-Qur’an telah mengungkap teori proses penciptaan manusia, mulai dari awal hinggal manusia itu kembali kehadapan Allah, manusia yang diciptakan dari sari pati tanah, yang kemudian menjadi sperma, dari sperma inilah, yang kemudian tersalur kedalam opum hingga terjadilah proses pembentukan sel-sel tubuh manusia, dari segumpal darah, kemudian menjadi segumpal daging, kemudian terbentuk menjadi tulang belulang, hingga manusia itu di tiupkan roh atas izin Allah swt.[21]
Hal ini telah di abadikan oleh Allah dalam Al-Qur’an, QS Al-Mu’minun ayat 12-14 :
ôs)s9ur $oYø)n=yz z`»|¡SM}$# `ÏB 7's#»n=ß `ÏiB &ûüÏÛ ÇÊËÈ   §NèO çm»oYù=yèy_ ZpxÿôÜçR Îû 9#ts% &ûüÅ3¨B ÇÊÌÈ   ¢OèO $uZø)n=yz spxÿôÜZ9$# Zps)n=tæ $uZø)n=ysù sps)n=yèø9$# ZptóôÒãB $uZø)n=ysù sptóôÒßJø9$# $VJ»sàÏã $tRöq|¡s3sù zO»sàÏèø9$# $VJøtm: ¢OèO çm»tRù't±Sr& $¸)ù=yz tyz#uä 4 x8u$t7tFsù ª!$# ß`|¡ômr& tûüÉ)Î=»sƒø:$# ÇÊÍÈ  

Terjemahannya : ”Dan Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. {12} kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). {13} kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. kemudian Kami jadikan Dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta yang paling baik. {14}[22]

Proses penciptaan manusia yang telah di jelaskan oleh Al-Qur’an tadi, telah di benarkan oleh para ilmuan sains pada masa keemasan ini. Jadi sungguh tidak masuk akal apabila pernytaan bahwa Al-Qur’an adalah buatan Nabi Muhammad saw. Karena hasil-hasil penelitian yang ada didalam Al-Qur’an sangat ilmiah dan terbukti kebenarannya, yang pada masa turunnya Al-Qur’an belum ada alat canggih apapun yang mampu meneliti hal tersebut.
c.       Bantahan Terhadap Teori Evolusi
Dengan berkembangnya ilmu pengetahuan pada zaman keemasan ini, dan meningkatnya berbagai macam penemuan ilmiah yang di hasilkan oleh observasi-observasi ilmiah, maka dengan sendirinya teori evolosi ini daapat runtuh dan punah.
Dalam bidang sains sangat penting untuk memberikan “bukti”. Jika kamu membuat suatu pernyataan, dan jika kamu ingin orang lain mempercayainya, maka kamu harus menunjukkan bukti. Contohnya, kamu memperkenalkan dirimu kepada seseorang dan berkata, “Namaku Maryam.” Orang itu berkata, “Aku tidak percaya kalau namamu Maryam”. Kalau terjadi seperti ini kamu harus mempunyai bukti bahwa namamu benar-benar Maryam. Apa yang menjadi bukti bagimu? Kartu pelajarmu bisa menjadi bukti, atau akte kelahiranmu, paspormu, atau lain-lainnya. Jika kamu menunjukkan salah satu di antaranya kepada orang itu, dia tidak akan dapat menolak.
Sekarang mari kita ambil contoh yang ilmiah. Ada seorang ilmuwan bernama Newton yang hidup beberapa abad yang lalu dan menyatakan bahwa ada sesuatu yang disebut gravitasi di bumi. Dia memberi tahu siapa saja yang bertanya bagaimana dia mengetahui hal ini. Dia menjawab, “Ketika sebuah apel jatuh dari pohon, dia jatuh ke tanah. Apel itu tidak melayang di udara”. Artinya terdapat suatu kekuatan yang menarik apel ke tanah, dan dia menyebutnya “gravitasi”.
Jadi, para evolusionis harus menunjukkan bukti untuk membuat teorinya dapat dipercaya. Misalnya, teori evolusi menyatakan bahwa nenek moyang manusia adalah kera. Maka kita harus bertanya kepada mereka: Dari mana kamu mendapatkan gagasan ini dan apa buktinya?
Jika nenek moyang manusia adalah kera, kita seharusnya menemukan fosil-fosil dari makhluk separo manusia dan separo kera sebagai bukti. Namun, fosil seperti ini tidak pernah ditemukan sampai hari ini. Kita hanya menemukan fosil manusia dan fosil kera. Artinya, para evolusionis tidak mempunyai bukti apa-apa bahwa kera adalah nenek moyang manusia. Para evolusionis mencoba mengecoh manusia dengan tipuan mereka. Bagaimana caranya?
Berbagai Tipuan Para Evolusionis: Para evolusionis menunjukkan fosil-fosil dari spesies   kera yang telah punah seakan-akan berasal dari makhluk separo manusia dan separo kera.[23]
Setelah kami memaparkan 2 teori inti yang menanggapi tentang proses penciptaan manusia baik dari segi sains maupun dari segi agama, maka jelaslah bahwa penemuan yang dilakukan oleh para ilmuan sains abad 20 ini, sejalan dengan apa yang telah dipaparkan oleh Al-Qur’an 114 abad yang silam, hal ini membuktikan bahwa terjadinya alam semesta ini dan terciptanya manusia dari ketiadaan menjadi ada adalah bukti bahwa ada yang berperan penting dan campur tangan di balik semua ini, dan tentunya mustahil hal ini terjadi secara kebetulan, akan tetapi sebaliknya, Allah lah yang menjadi aktor di balik semua ini.
C.    Peranan Sains Dan Agama Dalam Membantuk Peradaban Kehidupan Masyarakat islam
Dalam pembahaan ini penulis hanya ini menambahkan penjelasan yang tela kami jelaskan pada pembahasan yang lalu, karena pembahasan yang telah kami paparkan diatas, adalah bagian dari penjelasan pada pembahasan ini. Meihat pembahasan lalu penulis telah membahas masalah peranan sains dan agama dalam membuktikan adanya tuhan dan penciptaan manusia, dan pembuktian tersebut sangat berkaitan dengan pembuktian sains dan agama tentang pembentukan peradaban kehidupan manusia.
Pada pembahasan yang lalu penulis juga telah menjelaskan bahwa penemuan mutakhir yang di lakukan oleh para ilmuan sains sangat memiliki korelasi yang amat erat dengan agama dalam membuktikan fenomena munculnya alam semesta yang sangat terkait dengan bukti akan adanya Tuhan.
Dalam dunia islam, dikenal ada dua masa pembentukan peradaban manusia, yaitu; masa kemajuan dan masa kemunduran. Sejarah telah mengukirr dengan jelas bahwa masa kemajuan/keemasan ummat manusia dicapai ketika masa itu terjadi perkembangan sains dan agama dan masa kemunduran terjadi ketika sains dan agama pada masa itu mengalami kemunduran[24]
Pertanyaan yang timbul sekarang adalah, adakah sains dan keimanan(agama) bertolak belkanag dalam membentuk peradaban manusia?, ataukah sains di sisi lain dan keimanan(agama) disisi lain?, ataukah sains saja atau agama saja yang berperan dalam pembentukan peradaban manusia?
Jawabannya adaah keduanya tidak dapat di pisahkan sebagai fungsional dalam membentuk peradaban manusia menuju kemajuan, sebab,
·         Sains memberi kita kekuatan dan pencerahan, sedang keimanan mebeti kita cinta, harapan dan kehangatan.
·         Sains menciptakan teknoogi, dan keimanan menciptakan tujuan.
·         Sains memberi kita momentum, dan keimanan adalah kehendak baik.
·         Sains menunjukkan kepada kita apa yang ada disana, sementara keimanan mengilhami kita tentang apa yang mesti kita kerjakan.
·         Sains adalah revolusi eksternal, dan keimanan adalah revolusi internal
·         Sains menjadikan dunia tampak ramah bagi kita, sedang keimanan mengungkit ruh manusia
·         Sains memperluas manusia secara horizontal, sedang keimanan meningkatkannya secara vertikal
·         Sains membentuk kembali alam, sedang keimanan mencetak manusia.[25]
Dan masih banyak lagi relasi antara sains dan keimanan dalam membentuk peradaban manusia, tanpa korelasi keduanya maka, peradaban akan sangat sulit di capai oleh ummat manusia.
Untuk lebih meyakinkan kita tentang adanya korelasi antara sains dan agama, mari sejenak kita melirik beberapa ayat Al-Qur’an yang berbicara masalah pentingnya sains.
·         Keutamaan ilmu: (QS 2, ayat:247), (2:269), (3:7), (4:162), (12:68), (17:107), (22:54), (27:15), (27:40), (27:52), (28:14), (28:80), (29:41), (29:43), (29:49), (29:64), (30:56), (34:6), (39:9), (55:4), (58:11), (96:4)
·         Kedudukan orang alim: (2:247), (3:18), (4:83), (5:63), (6:105), (7:164), (17:107), (21:7), (22:54), (27:40), (27:52), (28:14), (28:80), (29:41), (29:43), (29:49), (29:64), (35:28), (39:9), (58:11) ش
·         Menuntut ilmu dan mengamalkannya: (2:151), (3:137), (5:63), (7:175), (7:176), (9:122), (17:12), (18:66), (20:114), (62:5)
·         Kebodohan dan akibat orang bodoh: ( 6:119), (6:144).

BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
1.      Sains (Science) atau ilmu pengetahuan adalah menurut pandangan para ilmuan melalui tolak ukur kacamata filsafat ilmu, dapat dipahami bahwa ilmu pengetahuan adalah usaha pemahaman manusia yang disusun dalam satu sistema mengenai kenyataan, struktur, pembagian, bagian-bagian dan hukum-hukum tentang hal ihwal yang diselidiki (alam, manusia dan agama) sejauh yang dapat dijangkau daya pemikiran yang dibantu oleh penginderaan manusia, yang kebenarannya diuji secara empiris, riset dan eksperimental.
Sedang untuk memahami Agama (Religion) menurut tolak ukur pandangan filsafat ilmu ditinjau dari efistimologinya, diperlukan suatu rumusan yang dapat mencakup segala aspek, intinya sains dan agama adalah ibarat jasad dan ruh yang terbentuk pada diri manusia, manusia tanpa jasad maka tidak akan dapat merealisasikan kehidupannya di bumi ini, begitupun manusia tanpa ruh, maka akan mustahil bisa hidup di bumi ini, sains dan agama memiliki keterkaitan yang sangat erat dan saling kokoh mengokohkan.
2.      114 abad yang silam, Al-Qur’an telah membuktikan kemukjizatannya, hal ini baru di sadari oleh para ilmuan terkemuka yang terkemuka, setelah mengadakan eksperiment-ekperiment yang membuktikan adanya Tuhan melalui penelitian asal muasal terciptanya alam raya ini dan penciptaan manusia. Al-Qur’an jauh sebelumnya telah menkaji teori-teori tersebut. Yang pada masa itu, belum ada teori-teori yang lain yang mampu mengungkap apa yang telah di ungkap oleh sains abad ini. Dan penulis yakin bahwa masih banyak teori-teori sains yang terselubung di dalam Al-Qur’an yang sampai hari ini belum terungkap oleh perkembangan ilmu pengetahuin.
3.      Peranan sains daam membentuk peradaban kehidupan manusia khususnya masyarakat islam sangatlah urgent. Namun sejarah telah mengukir bahwa, ternyta pearanan sains dalam mewujudkan hal tersebut bukanlah berdiri sendiri. Akan tetapi ada peran lain yang menjadi penyokong dalam mensukseskan peran sains tersebut, dialah Al-Qur’an/ Keimanan/ Agama. Keduanya saling terkait dan saling membutuhkan dalam membentuk peradaban yang sempurna. “Wallahu A’lam BishShawab”


DAFTAR PUSTAKA
Ahnan. Maftuh, Filsafat Manusia, Cet.I, CV Bintang Pelajar;
Anshari. Endang Saifuddin, Ilmu, Filsafat dan Agama, Cet.VII, Surabaya: PT Bina Ilmu;1987
Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahannya, Bandung: PT Syaamil Cipta Media; 2004
Hoselitz. Bert. F, A Reader’s Guide to The Social, Terj. Achmad Fedyani, Panduan Dasar Ilmu-Ilmu Sosial, Cet.I, Jakarta: Rajawaali Pers; 1988
Muthahhari. Murtadha, Perspektif Al-Qur’an Tentang Manusia dan Agama, Terj. Anggota IKAPI, Cet.VI, Bandung: PT Mizan Pustaka; 1992
Rahman. Afzalur, Qur’anic Science, Terj. Taufik Rahman, Ensiklipediana Ilmu dalam Al-Qur’an, Cet.I, Bandung: PT Mizan Pustaka; 2007
Yahya. Harun, Keajaiban Al-Qur’an. http://www.harrunyahya.com.doc  (Februari 2003)
_____________, Penciptaan Alam Semesta. http://www.harrunyahya.com.doc (Februari 2003)
_____________, Runtuhnya Teori Evolusi, Terj. Aryani, Cet.I, New Delhi: Idara Ishat E-Diniyat; 2003
______________, Manusia dan Alam Semesta. http://www.harrunyahya.com.doc  (Februari 2003)
______________, Kekeliruan Teori Evolusi. http://www.harrunyahya.com.doc (Februari 2003)
______________, Atlas Penciptaan. http://www.harrunyahya.com.pdf  (Februari 2003)
Zainal. Danial, Al-Qur’an For Life Excellence, Terj. Melvi Yendra, Tips-Tips Cemerlang dari Al-Qur’an, Cet.I, Jakarta: PT Mizan Publika; 2008
Zaini. Syahminan, Mengenal Manusia Lewat Al-Qur’an, Surabaya: PT Bina Ilmu; 1984


[1]Murtadha. Muthahhari, Perspektif Al-Qur’an Tentang Manusia dan Agama, Terj. Anggota IKAPI, (Bandung: PT Mizan Pustaka; 1992) h.71-76
[2]Endang Saifuddin Anshari, Ilmu, Filsafat dan Agama, Cet.VII, (Surabaya: PT Bina Ilmu;1987), h.47
[3]Ibid.
[4]Ralp Ross and Ernest Van Den Haag, The fabric of society, (New York: 1957), h.195
[5]George Thomas White Patrick, Introduction to Philosophy, (London: 1958), h.20.
[6]Djuma’in Basalim, Orientalis Terhadap Sciene, (Harian Abadi, 17 maret 1969, 20 Maret 1969.
[7]Endang Saifuddin Anshari, Ilmu, Filsafat dan Agama, Cet.VII, (Surabaya: PT Bina Ilmu;1987), h.199
[8]Louis Ma’luf, Al-Munjid fi Al-Lughah, (Beirut: Al-Matba’ah Al-Katsulikiyah ), h.231
[9]Endang Saifuddin Anshari, Ilmu, Filsafat dan Agama, Cet.VII, (Surabaya: PT Bina Ilmu;1987), h.119-120
[10] Al-Jurjani, At-Ta’rifat, (     ), h.94-95
[11]Endang Saifuddin Anshari, Ilmu, Filsafat dan Agama, Cet.VII, (Surabaya: PT Bina Ilmu;1987), h.121
[12] Ibid, h.126
[13] Ibid
[14] Ibid
[15] Ibid, h.128-129
[16]Harun Yahya, Atlas Penciptaan. http://www.harrunyahya.com.doc (Februari 2003), h.16
[17]Harun Yahya, Penciptaan Alam Semesta, http://www.harrunyahya.com.doc  (Februari 2003)
[18]Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahannya, (Bandung: PT Syaamil Cipta Media; 2004), h.324.
[19] Harun Yahya, Penciptaan Alam Semesta, http://www.harrunyahya.com.doc (Februari 2003), h.34
[20]Harun Yahya, Atlas Penciptaan. http://www.harrunyahya.com.pdf  (Februari 2003), h.637
[21]Harun Yahya, Keajaiban Al-Qur’an. http://www.harrunyahya.com.pdf  (Februari 2003), h.20
[22]Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahannya, (Bandung: PT Syaamil Cipta Media; 2004), h.342
[23]Harun Yahya, Kekeliruan Teori Evolusi. http://www.harrunyahya.com.doc (Februari 2003), h.40-41
[24]Murtadha. Muthahhari, Perspektif Al-Qur’an Tentang Manusia dan Agama, Terj. Anggota IKAPI, (Bandung: PT Mizan Pustaka; 1992), h.73
[25]Ibid, h.74-75

0 komentar:

Poskan Komentar

apakah anda tidak menemukan yang anda cari??? silahkan tuliskan sesuatu yang anda cari itu....

FACEBOOK COMENT

ARTIKEL SEBELUMNYA

 
Blogger Templates