Minggu, 22 Mei 2011

DINASTI MAMLUK


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Mesir dun Syiria tergolong protinsi Timur Tengah yang pertama tereakup dalam wilayah kekhalifahan muslim Arab Kedua wilayah di ditaklukkan pada tahun 641 M. penduduknya dengan cepat mengadopsi bahasa Arab, meskipun meraka cukup lambang menerima Islam. Pada periode khalifah Umayyah dan awal Abbasiyah, Mesir merupakan sebuah profinsi yang kurang penting dalam imperium muslim, tetapi sejak pertengahan abad IX Mesir menunjukkan tanda-tanda awal untuk menjadi sebuah wilayah yang independent. ‘lentara-tentara budak yang diangkat oleh khalifah Abbasiyah mendirikan beberapa dinasti yang berusia pendek. Dinasti Tuluniyah menguasai Mesir pada tahun 868-905 dan dinasti lkhsyidiyah meriguasai Mesir dun tahun 935-969. Pada tahun 969, Fatimiyah menaklukkan negeri mi dan mendirikan sebuab khàlifah baru yang berlangsung hingga tahun 1171 M.[1] Kernudian, sebagai pengganti Fatimiyah muncul dinasti Ayyubiyah dan dinasti mi kemudian ditaklukkan oleh dinasti Mamluk pada tahun 1250-151 7.[2]
Mamluk adalab adalah sebuab dinasti para budak yang berasal dan berbagai ras kemudian membentuk suatu pemerintahan oligarki militeristik di tanah perantauan.[3] Orang-orang dan dinasti mamluk di pada awalnya tidak terdidik, tetapi penghargaan terhadap seni dan arsitektur pada masanya merupakan modal bagi dinasti yang menggantikannya, dan mampu menciptakan Kairo sebagai salah satu kota yang terindah dalam dunia Islam. Sistem pergantian sultan tidak berdasarkan keturunan dengan pengangkatan seorang putra mahkota sebelumnya. Siapapun yang sanggup merebut kekuasan atau mampu mempengaruhi para arnir untuk memilihnya, maka dialafi yang menjadi sultan. Para budak yang kemudian muncul sebagai penguasa kesultanan Mamluk terdiri dan dua golongan besar, yaitu: kelompok Mamluk Hahn dan kelompok Mamluk Burji.
Periode kerajuan mamluk dianggap sebagai zarnan paling cemerlang dan paling makmur dalam sejarah Islam.[4] Dengan berbagai kemajuan dan perkembangan, hal tersebut dapat tercapai berkat kepribadian dan wibawa sultan yang tinggi, solidaritas sesama militer yang kuat dan stabilitas negara yang aman dan gangguan. Akan tetapi ketika faktor-faktor tersebut menghilang, dinasti Mamluk sedikit demi sedikit mengalami kemunduran, terutama setelah kelompok Burji berkuasa. Pada kerajaan iniiah Mesir dapat selamat dan kehancuran akibat serangan-serangan dan bangsa Mongol, baik serangan Kulagu Khan maupun Timunlenk.



B.     Rumusan Masalah
Berdasar latar belakang masalah di atas, maka penulis merumuskan beberapa masalah yang akan inenjadi pembahasan dalam makalah mi, yaitu:
1.      Bagaimana sejarah terbentuknya dinasti Mamluk?
2.      Bagaimana kemajuan yang dicapai oleh dinasti Mamluk?
3.      Apa penyebab kemunduran dan kehancuran dinasti Mamluk?


BAB II
PEMBAHASAN
A.    Sejarah Terbentuknya Dinasti Mamluk
Mamluk adalah sebuah rezim yang dikendalikan oleh pasukan budak, inemerintah Mesir, Suria, Asia kecil tenggara dan A:ab barat (hijaz).[5]
Dinasti Mamluk di Mesir adalah adalah dinasti terakhir di dunia Arab untuk abad pertengahan 1 250-1800 M). Philip K. Hitti menyebutkan bahwa dinasti Mamluk adalah dinasti yang luar biasa karena dinasati di dihimpun dan budak-budak yang berasal dan berbagai ras yang dapat membentuk suatu pemerintahan oligarki di suatu negara yang bukan tumpah darah mereka.[6] Sultan-sultan yang berasal dan budak-budak mi pantas diacungi jempol karena keberhasilannya mendirikan suatu kerajaan yang kokoh dan kuat. Dinasti Mamluk di Mesir rnulai bangkit bersamaan dengan runtuhnya kekuasaan Islam di Bagdad dan pengunduran Islam di Spanyol. Dinasti mi dikenal pula dengan nama Daulat al-Atrak yang pada perkembangan selanjutnya, wilayah kekuasaannya meiiputi Mesir dan Syiria.
Kaum Mamluk adalah para imigran Mesir yang pada awalnya merupakan budak-budak yang datang dan daerah pegunungan Kaukasus dan laut Kaspia. Mereka ditempatkan di barak-barak militer pulau Raudoh di sungai Nil untuk dilatih dan dididik secara baik. Ditempat inilah mereka diajari membaca, menulis dan pengetahuan kemiliteran, bahkan diberi pendidikan agama.[7] Kaum Mamluk yang ditempatkan di sungai Nil disebut Mamluk al-Bahriyun dan kaum Mamluk yang ditempatkan di benteng-benteng istana di kota Kairo disebut Mamluk al-B urjiyun.
Terbentuknya dinasti Mamluk di Mesir tidak dapat dipisahkan dan dinasti Ayyubiyah ketika terjadi perebutan kekuasaan antara al-Malik as-Shalih dan al-Malik al-Kamil. Dalam perebutan kekuasaan ini, para tentara yang berasal dan suku Kurdi memihak kepada al-Malik al-Kamil, sementara para budak yang tergabung dalam Mamluk Bahri mendukung al-Malik as-Shalih. Dalam perebutan kekuasaan ini, al-Malik as-Shalih mampu mengalahkan al-Malik al-Kamil. Sejak saat itulah kaum Mamluk rnempunyai pengaruh yang besar dalam bidang kemiliteran dan pemerintahan. Perhatian al-Malik as-Shalib begitu besar kepada kaum Mamluk sehingga banyak di antara mereka ditempatkan pada kelompok-kelompok elit yang terpisah dan masyarakat atau kelompok meliter lainnya.[8] Perlakuan mi sebenarnya menguntungkan kedua belah pihak karena kehadiran kaum Mamluk memberikan jaminan bagi berlangsungnya kekuasaan al-Malik as-Shalib, sedangkan periakuan yang istimewa terhadap budak-budak itu bisa membenikan kemudahan dalam peningkatan karir mereka dan imbalan-imbalan materil lainnya
Al-Malik as-Shalih rneninggal pada 1429 M setelah menderita sakit dan timbul kekacauan-kekacauan di berbagai daerah. Kematian as-Shalih dirahasiakan oleh isterinya (Syajarat al-Dur), kemudian putera mahkota as-Shalih yang bernama Turansyah memegang tampuk kekuasaan. Namun, kaum Mamluk Bahri menganggap bahwa Turansyah bukan orang yang dekat dengan mereka. Selain itu, Turansyah juga dianggap tidak tepat untuk rnenduduki pucuk kekhalitàhan karena lebih banyak bermukim di Euprat. Oleh karena itu ia dianggap tidak menguasai seluk beluk Mesir secara keseluruhan.[9] Setelah itu diangkatlah Syajarat al-Dur sebagai Sultan mereka. Dan sinilah awal terbentuknya dinasti Mamluk di Mesir yang dipimpin oleh seorang budak dan berakhirlah dinasti Ayyubiyah menguasai Mesir.
Para budak mengangkat Syajarat al-Dur sebagai pemimpin mereka dengan pertimbangan sama-sama berdarah budak dan diharapkan akan membela kepentingannya. Alasan lain pengangkatan Syajarat al-Dur karena adanya pertentangan atau persaingan di kalangan kaum Mamluk itusendiri. Sebenarnya terdapat beberapa orang yang berambisi untuk menjadi sultan, seperti Aybak, Baybar dan Qutuz. Dengan dukungan para Amir Aybak disepakati meijadi wakil al-Dur dalam mengendalikan tugas-tugas pemerintahannya. Namun, dikemudian dan Aybak pun mengawini al-Dur dan bertindak sebagi Sultan dengan gelar al-Muiz al-Din. Tetapi akhirnya Aybak dibunuh di kamar mandi oleh al-Dur karena ia ketahuan ingin menyingkirkan al-Dur sendiri. Kemudian kekuasaan berpindah ke tangan anak Aybak yang bernama Ali bin Aybak dalam usia yang sangat muda, akan tetapi kekuasaannya hanya sekedar mengisi kekosongan karena yang memegang kendali pemerintahan adalah Qutuz yang bertindak sebagai wakil sultan.[10] Akhirnya Ali bin Aybak pun mengundurkan din karena merasa tidak mampu untuk menduduki jabatannya dan secara otomatis Qutuzlah yang menjadi penguSa.
Dimasa pemerintahan Qutuz, dinasti Mamluk mendapat ancaman dan tentara Mongol. Mereka telah menghancurkan Bagdad dan maju ke sungai Euprat menuju Syiria dan selanjutnya melintasi gurun Sinai menuju Mesir. Sebelum menyerbu Mesir, tentara Mongol yang dipimpin Kitbuga meminta kepada Qutuz untuk menyerah kepada Hulagu di Bagdad, akan tetapi Qutuz menolak perrnintaan itu bahkan membunuh utusannya.[11] Tentara Mongol dengan diperkuat oleh Armenia dan Georgia melintasi Yordania menuju Galilea, tentara Mamluk di bawah komando Qutuz dan l3aybar bergerak ke arah teuggara menghadang tentara Mongol sampai kemudian terjadilah perang di Ainjalut yang berakhir dengan kekalahan tentara Mongol. Peristiwa di Ainjalut mi sekaligus menghapus mitos bahwa tentara Mongol tidak dapat dikalahkan. Kemenangan di Ainjalut juga membangkitkan semangat Islam di wilayah-wilayah lain untuk melawan tentara Mongol di sekitarnya. Sejak saat itu, nama dinasti Mamluk membumbung tinggi di mata dunia Islam sehingga penguasa-penguasa di Syiria ketika itu menyatakan kesetiaannya kepada dinasti Mamluk.



Adapun sultan-sultan yang pernah menjadi penguasa dinasti Mamluk adalah sebagai berikut:
A.    Dinasti Mambluk Bahri
No
Thn. Pemerintah dlm Hijriyah
Sultan-Sultan Mamluk
Thn.  Pemerintah dlm Masehi
1
648
Syajar al-Dur
1250
2
648
Muiz Aybak
1250
3
655
Nur Al-Din Ali
1257
4
657
Syaf al-Din Qutuz
1259
5
658
Zahir Bayabars
1260
6
678
Baraka Khan
1277
7
678
Bar al-Din Salamish
1279
8
678
Mansur Qalawun
1279
9
689
Asyraf Khalil
1290
10
693
Nasir al-Din Muhammad
1293
11
984
Zayn al-Din Kitbugh
1294
12
696
Husam al-Din Lajim
1296
13
698
Nasir Muhammad
1298
14
708
Rukh al-Din Baybar
1308
15
709
Nasir Muhammad
1309
16
741
Sayf al-Din Abu Bakar
1340
17
742
Shihab al-Din  Ahmad
1342
18
742
Imad al-Din Ismail
1342
19
746
Sayf al-Din Sya’ban
1345
20
747
Sayf al-Din Hajji
1346
21
748
Nasir al-Din Hassan
1347
22
752
Salah al-Din Shalih
1351
23
755
Nasir Hassan
1354
24
762
Mansur Muhammad
1361
25
764
Ashraf Sya’ban
1363
26
778
‘Ala al-Din Ali
1367
27
783
Salah al-Din Hajji
1381
28
784
Barquq
1382
29
791-792 H
Salah al-Hajji
1389-1309 M




B.     Dinasti Mamluk Burjiy
No
Thn. Pemerintah dlm Hijriyah
Sultan-Sultan Mamluk
Thn.  Pemerintah dlm Masehi
1
784
Sayf al-Din Barquq
1382
2
801
Nasir Faraj
1398
3
808
Mansur Abd. Azis
1405
4
809
Nasir Faraj
1405
5
815
Musta’in
1412
6
815
Muayyad Shaukh
1412
7
824
Muzaffar Ahmad
1421
8
824
Safy al-Din Attar
1421
9
824
Nasir al- Din Muhammad
1421
10
825
Sayf al-Din Barsbay
1422
11
842
Jamal al-Din
1433
12
842
Syaf al-Din Jaqmafy
1433
13

Fakrul al-Din Ahmad
1460
14
857
Sayf al-Din Inal
1453
15
865
Shihab al-Din Ahmad
1460
16
865
Sayf al-Din Khushaq
1461
17
872
Sayf al-Din Bilbey
1468
18
872
Zahir Timurbugha
1468
19
873
Sayf al-Din Qait Bay
1478
20
901
Nasir Muhammad
1495
21
904
Zahir Qansuh
1498
22
905
Asgraf Janbalat
1499
23
905
Qunsuh al-Ghuri
1500
24
922-923
Tuman Bay
1516-1517

B. Kemajuan yang tercapai oleh Dinasti Mamluk.
Setelah Qutuz meninggal, Baybar dinobatkan menjadi sultan Mamluk. Dinasti Mamluk pada masa Baybar mi mencapai puncak kejayaannya sehingga dikatakan bahwa Baybar sebagai pembangun hakiki dinasti Mamluk dan sultan yang terbesar. Di antara kemajuan yang dicapai adalah sebagai berikut:
1.      Bidang Kemiliteran dan Pemerintahan
Dalam rangka menagkis ancaman dan dalam dan luar negeri, Baybar secara sungguh-sungguh melakukan konsolidasi di bidang kemiliteran dan pemerintahan. Kaum elit militer ditempatkan pada kelompok politik elit dan jabatan-jabatan penting dipegang oleb anggota militer yang berprestasi. Ia mengetahui benar bahwa masyarakatnya yang rnayoritas sunni menginginkan kesultanannya mendapat pengesahan keagamaan dan khalifah. Untuk itu, ia melakukan baiat terhadap AlMuntasir,[12] khalifah keturunan Abbas yang berhasil melarikan diri ke Syiria ketika Khulagu menghancurkan Bagdad.
Baiat Bayhar terhadap khalifah ternyata mengundang simpati penguasa Islam lainnya. Selain itu, Baybar juga mengikuti jejak dinasti Ayyubiyah yaitu dengan cara menghidupkan mazhab sunni dan dengan sendirinya ía mendapat simpati masyarakat Mesir yang mayoritas sunni. Dalam pemerintahannya, Baybar menjalin hubungan erat dengan negara-negara tetangga seperti Konstantinopel, Sycilia dan negara-negara Iainnya.
Dalam bidang kemiliteran, Baybar diakui senagai panglima yang tangguh. Dalam kurun waktu 6 tahun ia habiskan waktunya untuk menghancurkan sebagian besar kekuatan salib di sepanjang pantai laut tengah.[13] Pemberontakan kaum Asasin di pegunungan Syiria dapat dilumpuhkan. Nubia dan sepanjang pantai laut merah ditaklukkannya bahkan kapal-kapal Mongol di Anatolia pun dirampasnya.
2.      Bidang Ekonomi
Kemajuan dalam bidang ekonomi yang dicapai o!eh dinasti Mamluk lebih besar diperoleh dan sektor perdagangan dan pertanian. Di sektor perdagangan, pemerintah dinasti Mamluk memperluas hubungan dagang yang telah dibina sejak masa Fatimiyah, misalnya dengan membuka jalur dagang dengan Italia dan Prancis. Setelah jatuhnya Bagdad, Kairo menjadi kota yang penting dan strategis karena jalur perdagangan dan Asia Tengali dan Teluk Persia hampir dipastikan me1ui Bagdad.[14] Keadaan mi menjadikan berlimpahnya devisa negara terutama dan sektor perdagangan.
Untuk mendukung kelancaran sektor ini, dinasti Mamluk memperbaiki sarana transportasi untuk memperlancar perjalanan pedagang-pedagang terutama antara Kairo dan Damaskus. Dalam sektor pertanian, pemerintah mengambil kebijakan pasar bebas kepada petani, artinya petani diberi kebebasan untuk memasarkan sendiri hasil pertaniannya.
3.      Bidang Ilmu Pengetahuan
Ilmu pengetahuan mengalami kemajuan yang sangat besar pada masa dinasti Mamluk. Hal ini disebabkan jatuhnya kota Bagdad yang mengakibatkan sebagian ahli ilmu pengetahuan melarikan diri ke Mesir. Adapun ilmu-ilmu yang banyak berkembang pada saat itu adalah sejarah, kedokteran, astronomi, matematika dan ilmu agama. Dalam ilmu sejarah tercatat nama-nama besar, seperti Ibnu Khalikan, lbnu Tagribirdi, Abu al-Fida dan Ibnu Khaldun. Dalarn bidang astronomi dikenal nama Nasir al-Din al-Tusi seorang ahli observatorium dan Abu al-Faraz al-Gibni dalarn bidang rnaternatika.[15]
Ilmu kedokteran mangalami kemajuan dengan adanya penemuan baru. Ibnu al-Nafis dikenal sebagai penemu susunan dan peredaran darah dalam paru-paru manusia. Dalam karyanya Syarh Tasyrih al-Qanun; di dalamnya Ia memaparkan konsepsi yang jelas tentang fungsi paru-paru sebagai sirkulator darah. Kemudian Abdul Mu’min Dimyati seorang dokter ternama dalam ilmu kedokteran hewan menulis buku Fadl al-Khail (keunggulan pasukan berkuda), psikoterapi yang dirintis oleh al-Razi dikembangkan oleb al-Juma’i di Mesir yang mengarang buku al-Irsyad li Masalih a!Anfas wa al-Ajsad (Petunjuk untuk Kesehatan Jiwa dan Raga), lalu lbnu Abi Mahasin dan Salahuddin beserta lbnu Yusuf mengembangkan ilmu optalmologi (ilmu tentang penyakit mata).[16]
Dalarn bidang ilmu agarna, pada saat itu muncul ulama-uama besar, antara lain Ibnu Taymiyah yang dikenal sebagai reformer pemikiran Islam yang bermazhab Hambali. Selain itu, muncul pula orang-orang ternama seperti as-Suyuti dengan tulisannya al-Itqan fi Ulum al-A qur‘an dan Ibnu Hajar al-Asqalani yang termasyhur dalam bidang penulisan ilmu hadis.[17] Dinasti Mamluk juga berhasil membangun sekolah-sekolah, mesjid-mesjid yang indah sebagai pusat ilmu pengetahuan.
4.      Bidang Arsitektur
Devisa negara yang melimpah pada masa dinasti Mamluk memungkinkan mereka untuk mendirikan bangunan-bangunan yang indah dan megah. Sejak masa pemerintahan Qalawun, sultan-sultan Mamluk telah terbiasa memperindah bangunannya dengan batu-batu benteng, batu kapur dan batu api yang diambil dan dataran tinggi Mesir, terutama dalam bentuk kuburan-kuburan dan kubah-kubah mesjid yang terdiri atas bebatuan tersebut. Hampir semua macam kerajinan yang berkembang saat itu berhubungan erat dengan bangunan, khususnya bangunan yang bercorak religius. Seperti hiasan perunggu pada pintu-pintu mesjid, kotak al-Qur’an yang terbuat dan emas bertabur mutiara, mosaik-mosaik yang indah pada lengkung-lengkung bangunan, karya seni dan kayu pada mimbar yang cukup rumit pembuatannya, yang kesemuanya menunjukkan perkembangan seni dan kerajinan saat itu.[18]
Di antar karya-karya seni terapan itu, yang menjadi ciri Khas Mesir-Mamluk adalab seni dekorasi kitab suci. Bidang kesenian ini mendapatkan kedudukan terhormat karena berhubungan dengan “firman Allah” dan tingkat tingkat kesulitannya juga jauh tebih tinggi.
                        Karakter mewah dan halus dalam berkesenian tidak hanya diterapkan pada objek-objek yang dianggap suci. Berbagai perlengkapan rumah tangga seperti cangkir, mangkok, baki, pedupaan juga rnerupakan gambaran hidup mewah sebagaimana dilukiskan oleh para penulis kronik kontemporer. Di samping yang telah disebutkan tadi, masih banyak karya-karya seni yang lain yang berkembang pada masa dinasti Mamluk.
C.    Penyebab Kemundiran dan Kehancuran Dinasti Mamluk
Seperti halnya dinasti-dinasti yang lain, dinasti Mamluk juga mengalami pasang surut. Setelah mengalami kemajuan dalam berbagai bidang, dinasti ini mengalami masa kemunduran yang pada akhirnya membawa pada masa kehancuran. Faktor-faktor yang menyebabkan dinasti mi mengalarni kemunduran dan kehancuran di antaranya adalah sebagai berikut:
1.      Perebutan Kekuasaan
Pada masa penierintahan Qalawun, sultan Mamluk ke-8 melakukan perubahan dalam pemerintahan, yaitu pergantian sultan secara turun menurun dan tidak lagi memberikan kesempatan kepada pihak meliter untuk memilih sultan sebagai pemimpin mereka. Di samping itu, Qalawun juga telah mengesampingkan kelompok Mamluk Bahri sehingga makin lama pejabat dan Mamluk Bahriy semakin berkurang dan digantikan oleh Mamluk Burjiy.[19] Perpindahan kekuasaan ke tangan Marniuk Burjiy membawa banyak perubahan gaya pernerintahan dalam dinasti ini.
Sistem baru yang diterapkan Qalawun ternyata telah menimbulkan kericuhan dalam pemerintahan. Pada masa ini Qalawun mengalami dua kali turun tahta karena perebutan kekuasaan dengan Kitbuga dan Najim al-Mansur Hisamudin. Pada 1382 M. Barquk al-Dzahir Saef al-Din dan Mamluk Burjiy berhasil merebut kekuasaan dan tangan as-Salih Salahuddin, sultan terakhir dan keturunan Qalawun. Sejak saat itulah mulai periode kekuasaan Mamluk Burjiy.
Meskipun sultan-sultan Mamluk Burjiy menerapkan kembali sistem pemerintahan secara oligarki seperti yang diterapkan Mamluk Bahriy sebelumnya, kekacauan tetap berlanjut sehingga situasi mi dimanfàatkan oleh para amir untuk saling berebut kekuasaan dan memperkuat posisinya di pemerintahan.[20] Di samping itu, sultan yang memerintah dar tahun 1412 sampai 1421 M adalah seorang pemabuk. Sultan inilah yang melakukan berbagai perbuatan yang melampaul batas.
Ada pula seorang sultan yang lain yang tidak dapat berbahasa Arab sama sekali. Adapun sultan yang memerintah pada tahun 1453 adalah orang yang tithk pandai membaca dan menulis. Bahkan ada di antara sultan Mamluk l3urjiy yang bukan saja buta huruf melainkan juga gila. Seorang sultan lainnya yang dibeli seharga linia puluh dinar, telah mengorek mata dan dipotong lidahnya karena gagal mengubah logam rongsokan menjadi emas.[21]
2.      Kemewahan dan Korupsi.
Sejak pemerintahan Qalawun, pola hidup mewah telah menjalar di kalangan penguasa istana, hahkan di kalangan para amir. Hal mi membuat keuangan negara sernakin merosot dan untuk mengatasinya, pendapatan dan sektor pajak dinaikkan sehIngga penderitaan rakyat semakin bertambah. Di samping itu, perdagangan pun semakin sulit, seperti komoditi utama dan Mesir yang selama mi yang selama mi diperjualhelikan bebas oleh para petani, diambil alih oleh sultan-sultan dan keuntungannya digunakan untuk berfoya-foya.[22] Korupsi, baik banyak maupun sedikit tidak hanya dilakukan oleh para sultan, namun para pejabat rendahan pun melakukan hal yang sama.
Situasi ekonomi kerajaan yang sangat buruk diperparah oleh kebijakan politik para sultan yang mementingkan din sendiri. Para sultan menaikkan pajak yang tinggi, baik pada orang-orang muslim maupun non muslim, sebab pajaklah satu-satunya jalan untuk mendapatkan penghasilan yang banyak guna membiayai kegiatan pemerintahan, menggaji pegawai-pegawai, melengkapi istana-istana dengan berbagai kemewahan dan membangun bangunan monumental.
3.      Merosotnya Perekonomian.
Sikap penguasa dinasti Mamluk yang memeras pedagang dan membelenggu kebebasan petani menyebabkan luntumya gairah dan Semangat kerja mereka. Keadaan mi semakin memperburuk musim kemarau panjang dan wabah penyakit yang menjalar di negeri ini.
Menjelang akhir periode Mamluk, faktor-faktor internasional memberikan kontribusi terhadap meluasnya kemisikinan dan kesengsaraan negeri itu. Pada 1498, pelaut Vasco Da Gama dan Portugis menemukan rute perjalanan di sekitar Tanjung Harapan. ini merupakan peristiwa penting dalam sejarah kerajaan Suriah-Mesir. Tidak hanya serangan armada Portugis dan negara Eropa lain semakin semakin sering menimpa kapal-kapal muslim di laut Merab dan perairan India, tetapi juga secara bertahap lalu lintas rempah-rempah dan produk-produk tropis lain dan India dan Arab dialihkan dan pelabuhan-pelabuhan Suniah dan Mesir.[23] Akibatnya, salah satu sumber pendapatan nasional hancur sebab hal ini berdampak besar terhadap pendapatan devisa negara yang selanjutnya melemahkan perekonomian.
4. Serangan dan Turki Utsmani.
Penyebab Iangsung runtuhnya dinasti Mamluk adalab terjadinya peperangan dengan tentara Turki Utsmani yang terjadi dua kali.[24] Pada tahun 1516 M, terjadilah peperangan di Aleppo yang berakhir dengan kekalahan total tentara Mamluk. Setelah menang di Aleppo, tentara Turki (Jasmani malanjutkan perjalanannya untuk masuk ke daerah Mesir yang dalam perjalanan mi terjadi lagi pertempuran yang sengit antara tentara Turki Utsmani dengan tentara Mamluk.
            Pertempuran mi terjadi ketika Mamluk diperintah oleh Tuman Bay II (al-Asyrof) yang merupakan sultan terakhir dinasti Mamluk. Dengan demikian, berakhirlah kekuasaan dinasti Mamluk di Mesir yang berlangsung cukup lama dan sebagai akibatnya tampuk pemerintahan kekhalifahan dipindahkan dan Kairo ke Istambul. Kairo yang sebelumnya menjadi ibi kota kerajaan, sekarang tidak lebih dan sebuah kota protinsi dan kesultanan Turki Utsmani.




BAB III
KESIMPULAN
Dan pembahasan tadi, maka penulis menarik beberapa kesimpulan sebagai berikut:
1.      Dinasti Mamluk adalah sebuah dinasti yang didirikan oleh para budak yang berasal dan Turki yang dijadikan tentara oleh Malik as-Shalih Najamuddin Ayyub sebagai pengawal kerajaan, akan tetapi mereka diberi kebebasan dan kesempatan yang luas untuk mencapai kedudukan dalam jajaran militer. Mereka akhimya mendirikan suatu kelompok militer yang terorganisir lalu kemudian merebut kekuasaan, sehingga menjadikan Syajar al-Dur sebagai orang pertama yang memegang jabatan sultan pada dinasti Mamluk.
2.      Pada masa dinasti Mamluk berkuasa (Mamluk Bahriy) benyak kemajuan yang dicapai, hal tersebut memberikan sumbangan yang besar bagi perkembangan dunia Islam. Adapun kemajuan yang dicapai pada saat itu adalah di bidang politik, ekonomi, ilmu pengetahuan dan seni arsitektur. Pada masa itulah banyak sekali ilmuan handal yang lahir dan memberi sumbangan pemikiran yang begitu besar terhadap peradaban Islam.
3.      Kemunduran dan kehancuran dinasti Mamluk utamanya disebakan ketika sultan Mamluk Burjiy berkuasa yang ditandai dengan adanya kegoncangan dalam maupun luar negeri. Misalnya, korupsi, hidup mewah sehingga keuanganlekonomi negara menjadi merosot, membebani rakyat dengan pajak yang sangat tinggi. Rapuhnya sistem pertahanan militer karena gaji mereka tidak lagi mendapatkan perhatian sehingga pada gilirannya ketika diserang oleh pasukan Ustmani dan Turki, mereka tidak dapat bertahan dan akhirnya mengalami kehancuran sehingga berakhirlah masa kekuasan dinasti Mamluk ke tangan dinasti Ustmani.




DAF TAR PUSTAKA
Ajid Thohir, Perkembangan Feradaban di Kawasan Dunia Islam Cet. I; Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2004.
Au Mufradi, Islam di Kawasan Budaya Arab Cet. I; Jakarta: Logos, 1977.
Badri Yatim, Sejarah Peradahan Islam Cet. VII; Jakarta: PT. Raja Gratindo Persada,, 1998.
________Sejarah Peradahan Islam Cet. X; Jakarta: PT. Raja Grafmdo Persada., 2000.
Carl Brockelman, Tarikh al-Syu ‘ub al-Islamiyah, Beirut: Dar Jim li al-Malayin, 1974.
C.E. Bosworth, The islamic Dinasties. Diterjernahkan oleh Ilyas Hasan dengan judul “Dinasti-dinasti Islam” Cet. I; Bandung: Mizan, 1993.
Dewan Redaksi Ensikiopedi Islam, Ensikiopedi Islam Cet. I; Jakarta: PT’. Ikhtiyar Baru Van Hoeve, 1993.
Hassan Ibrahim Hassan, Islamic History and Culture From 632-1968. Diterjemahkan oleh Djahdan Human dengan judul “Sejarah dan Kebudayaan Islam 632-1968”, Edisi I Cet. I; Yogyakarta: Kota Kembang, 1989
Ira M. Lapidus, A History of Islamic Societies. Diterjemahkan oleh Ghufron A. Mas’udi dalam Sejarah Sosial Ummat Islam. Bagian I dan II Cet. I; Jakarta: RajaGrafindo Persada, 1999.
Joesoef Souyb, Sejarah Daulah Abbasiyah III Cet. I; Jakarta: Bulan Bintang, 1978.
Musyrifah Sunanto, Sejarah Islam Klasik Cet. I; Bogor: Kencana, 2003.
Philip K. Hitti, History of the Arabs Cet. I; Jakarta: PT. Serambi ilmu Semesta, 2008.
_________The Arab Short a History. Diterjemahkan oleh Ushuluddin Hutagalung dan O.D.P. Sihombing dengan judul “Dunia Arab Sejarah Singkat” Bandung: Sumut, 1970.
Tim Penyusun Teks Books, Sejarah Kebudayaan Islam. Jilid 11, (Ujung Pandang Proyek Dirjen Pendidikan Islam RI, Proyek Pembinaan dan Perguruan Tinggi Agama lAIN Alauddin, 1982/1983


[1] Ira M. Lapidus, A Hisory of Islamic Societies. Diterjernahkan oleh Ghufron A. Mas’udi dalarn Sejarab Sosial Ummat Islam, Bagian I dan II (Cet. I; Jakarta: RajaGrafindo Persada, 1999), II. 532.
[2] Ali Muftadi, Islam di Kawasan Budaya Arab (CeL 1; Jakarta: Logos, 1977),  II. 117.
[3] Tim Penyusun Teks Books, Sejarah Kebudayaan Islam. Jilid II, (Ujung Pandang Proyek Dirjen Pendidikan Islam RI, Proyek Pembinaan dan Perguruan Tinggi Agama IA[N Alauddin, 1982/1983), It 1
[4] Hassan Ibrahim Hassan, Islamic History and Culture From 632-196 & Diterjemahkan oleh Djahdan Human dengan judut “Sejarah dan Kebudayaan Islam 632-1968”, Edisi I (Cet. I; Yogyakarta: Kota Kembang, 1989). h. 313.
[5] Dewan Redaksi Ensikiopedi Islam, Ensiklopedi Islam (Cet. I; Jakarta: PT. Ikhtiyar Baru Van floeve, 1993),  h. 339
[6] Philip K. Hitti, History of the Arabs (Cet. I; Jakarta: PT. Serambi Ilmu Semesta, 2008), h. 859.
[7] Ajid Thohir, Perkembangan Peradaban di Kawasan Dunia Islam (Cet. I; Jakarta: Graha Gratindo Persada, 2004), 124.
[8] Ibid. h. 125
[9] Badri Yatini, Sejarah Peradaban Islam (Cet. VII; Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 1998), h. 125
[10] Musyrifah Sunaiito, Sejarah Islam Klasik (Cet. I; Bogor: Kencana, 2003),h. 210.
[11] C.E. Boswortli, The Islamic Dinasties. Diterjemahkan oleh Ilyas Hasan dengan judul “Dinasti-diasti Islam (Cet. I; Bandung: Mizan, 1993), h. 91.
[12] Ajid Thohir, op.cil., II. 128.
[13] Joesoef  Souyb. Sejarah Daulah Abbasi ah III (Cet. I; Jakarta: Bulan Bintang, 1978), h. 311.
[14] Philip K. Hitti, The Arab Short a History. Diterjemahkan oleh Ushuluddin Kutagalung dan O.D.P. Sihombing denganjudul “Dunia Arab Sejarah Singkat” (Bandung: Surnut, 1970), h. 679.
[15] Badri Yatim, Sejarah Peradaban lslam (Cet. X; Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2000), h. 123.
[16] Philip K. Hitti, The Arab Short a History, op.cit., h. 283.
[17] Carl Broekelman, Tarikh al-Syu‘ub al-Islamiyah, (Beirut: Dar tim Ilm al-Malayin, 1974), h. 369.
[18] Philip K. Hitti, History of the Arabs, op.cit., h. 886.
[19] Tim Penyusun Teks Books, Sejarah Kebudayaan Islam, op. cit., h. 9.
[20] Ajid Ihohir, Op.cil, h. 130.
[21] Philip K. Hitti, History of theArabs, op.cit, h. 891.
[22] Philip K. Hitti, History of theArabs, op.cit, h. 695.
[23] Philip K. Hitti, History of the Arabs, op.cit., h. 891

[24] C.E. Bosworth. op.cit.. h. 92.

0 komentar:

Poskan Komentar

apakah anda tidak menemukan yang anda cari??? silahkan tuliskan sesuatu yang anda cari itu....

FACEBOOK COMENT

ARTIKEL SEBELUMNYA

 
Blogger Templates